Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 171 - Pesan dalam Ukiran Kayu


Xue Zhan dan Xiang Yi Bai memutuskan untuk meninggalkan Kekaisaran Diqiu. Memulai perjalanan yang sebenarnya demi menemukan kebenaran. Setelah melakukan persiapan dan membeli persediaan, Xue Zhan dan Xiang Yi Bai mulai bergerak saat dini hari ketika semua orang masih terlelap.


Hal itu membuat Xue Zhan teringat dengan perjalanan lima tahun yang lalu, dia begitu kesulitan menyeimbangi kecepatan berlarinya dengan orang lain. Dengan teknik Langkah Memintas Awan yang sekarang dia miliki dari sebuah kitab, kecepatan berlarinya lima kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya.


Dalam waktu cepat mereka melewati berbagai tempat, Xue Zhan sekali-kali mengukur sampai batas mana Xiang Yi Bai bisa menambah kecepatannya. Tapi kelihatannya laki-laki itu sudah berada jauh di atasnya, hanya saja Xiang Yi Bai tidak menunjukkannya sama sekali. Lelaki itu malah terlihat sangat santai berbicara sambil berlari dalam kecepatan tinggi.


Cuaca juga sangat dingin saat mereka melewati perbatasan kota, udara di tempat itu tak bersahabat sama sekali, mereka harus berhenti sejenak dari angin yang kencang yang menghambat perjalanan dan memutuskan untuk singgah di sebuah penginapan, mereka tiba di sebuah desa yang ramai dan berisik. Xiang Yi Bai dan Xue Zhan hanya singgah semalam sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan


Semakin cepat mereka bergerak, semakin kecil kemungkinan tertinggal dari langkah musuh.


Dua hari berlalu begitu cepat, keduanya melewati lembah yang indah dan sungai yang mengalir. Setelah beberapa jam berjalan kaki, mereka tiba di sebuah desa kecil di mana mereka dapat melihat pemandangan indah di depannya. Sebuah istana raksasa berdiri menjulang menantang langit, puncaknya diselimuti oleh awan berkabut dan burung.


Xue Zhan terpesona sesaat, itu adalah Istana Kekaisaran Feng. Mereka memperhatikan dari daerah pinggiran Kekaisaran Diqiu. Meski pernah datang ke tempatnya langsung, Xue Zhan tak percaya istana itu juga sangat indah ketika dilihat dari kejauhan.


"Kau pernah bilang Batu Angin hampir dicuri, itu ulah Taring Merah juga?"


Xiang Yi Bai bertanya, Xue Zhan mengangguk sebagai jawaban. "Benar, Guru. Mereka membantai satu desa tanpa ampun, berita itu mengguncang keempat Kekaisaran waktu itu."


"Aku baru teringat belum menceritakan ini padamu ..." Xiang Yi Bai menahan bicaranya sejenak agar bisa memalingkan muka menatap muridnya. Xue Zhan teralihkan dari pemandangan di depannya, memandang Xiang Yi Bai penasaran.


"Ada apa, Guru?"


"Tentang Pusaka Matahari itu, dibutuhkan sebuah wadah besar yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dibangkitkan sebelum dapat menyerap kekuatan. Kurasa sekarang waktunya wadah itu bangkit dan mulai mengumpulkan kekuatan, mereka sedang mencari makanan untuk benda itu. Mungkin saja Batu Elemen Penguasa Bumi adalah makanan yang dimaksud, untuk mengaktifkan kekuatan Pusaka Matahari."


Xue Zhan menyatukan alis. "Jika benar, kita tidak punya waktu banyak. Kita harus segera mengejar mereka sebelum Pusaka Matahari itu bangkit."


Xiang Yi Bai terjun bebas dari ketinggian sambil berkata, "sebelum bicara mengejar musuh, bagaimana kalau pertama-tama mengejar langkahku dulu?" oloknya dengan suara menantang. Xiang Yi Bai menghilang secepat kilat dari pandangan.


"A-apa?! Guruu! Aku belum siap, kenapa begitu tiba-tiba!" Xue Zhan mengoceh pun laki-laki itu tak mendengarnya, dia memutuskan untuk langsung mengejar tanpa protes.


Sepertinya kejadian lima tahun lalu kembali terulang, kali ini kecepatan yang digunakan Xiang Yi Bai berada di tingkat tertinggi dan Xue Zhan merasa jantungnya sedang menjerit-jerit di dalam sana.


Setengah hari akhirnya penderitaan Xue Zhan berakhir.


Xiang Yi Bai tertawa. "Kau masih muda, mana mungkin kalah dengan tenaga orang tua sepertiku."


"Orang tua memang. Larinya seperti orang dikejar setan."


Xiang Yi Bai menggeplak muridnya serampangan. "Kalau ada yang namanya setan, setannya itu pasti kau."


"Guru, seseorang pernah bilang. Murid itu cerminan Guru. Berarti Guru itu setan juga, benarkan?"


"Tutup mulutmu, murid nakal."


Mereka akhirnya tiba di perbatasan Kekaisaran Feng dan Kekaisaran Diqiu.


Xue Zhan dan Xiang Yi Bai melangkah perlahan menuju pintu gerbang besar kerajaan, dengan pakaian yang tampak kusut setelah melalui perjalanan panjang ribuan mil dan sempat berurusan dengan Badai Dewi Angin.


Di sekitar mereka, tampak taman yang indah dengan air mancur dan pohon-pohon rindang yang menghiasi sekelilingnya.


"Di sini informasi tentang Taring Merah lebih mudah terbaca, karena dari sinilah mereka berasal," ujar Xiang Yi Bai serius. "Tetapi Taring Merah adalah kelompok yang sangat berbahaya, dan kita harus berhati-hati."


Xue Zhan menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar yang mengalir ke paru-parunya. Setelah bertahun-tahun mengurung diri di Jurang Penyesalan, dia merasa segar kembali dengan keindahan alam yang menyelimuti Kekaisaran Feng.


Tujuan mereka saat ini adalah menemukan informasi Yue Linghe, mantan pendiri Kelabang Ungu. Sangat berbahaya mencari tahu tentang pendekar wanita itu, karena hal itu Xiang Yi Bai menyuruh muridnya untuk lebih berhati-hati, tidak semua informan bisa dipercayai.


Karena bisa jadi informan yang mereka tanyai adalah mata-mata musuh.


Kelabang Ungu, sebuah kelompok rahasia yang terkenal karena keahlian mereka dalam ilmu bela diri dan kemampuan mereka dalam menyembunyikan diri.


Kelompok penjahat Kelabang Ungu merupakan kelompok yang sangat ditakuti oleh seluruh dunia persilatan. Mereka terkenal dengan keahlian racun dan ilmu bela diri tingkat tinggi yang sangat berbahaya. Banyak pendekar hebat yang pernah mencoba untuk mengalahkan mereka, tetapi hampir semuanya gagal.


Orang-orang dari Kelabang Ungu sangat menutup diri dari dunia persilatan dan hanya sedikit yang mengetahui keberadaan mereka. Banyak yang mengatakan bahwa mereka hidup sampai 200 tahun lebih dan memiliki ilmu bela diri yang sangat sulit dikuasai.


Kelompok ini terdiri dari para pendekar yang sangat terampil dalam menggunakan racun sebagai senjata mereka. Racun-racun yang mereka gunakan sangat berbahaya dan sangat sulit diobati. Selain itu, mereka juga memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi yang memungkinkan mereka untuk melumpuhkan lawan dengan mudah.


Meskipun mereka hidup dalam kegelapan dan menutup diri dari dunia persilatan, namun begitu mereka keluar dan beraksi, mereka bisa mengguncang empat Kekaisaran sekaligus. Orang-orang dari Kelabang Ungu sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.


Xiang Yi Bai tahu sedikit tentang keberadaan Yue Linghe, salah satu pendiri Kelabang Ungu yang dikabarkan masih hidup di bagian selatan Kekaisaran Feng. Namun, informasi tentang wanita itu sangatlah terbatas, dan Xue Zhan dan Xiang Yi Bai harus mencari tahu lebih banyak tentang dia sebelum mereka dapat menemukannya.


Xiang Yi Bai memasuki sebuah penginapan yang nampaknya sudah sangat tua, dia berbincang dengan pemilik toko sampai akhirnya mereka berdua dibawa ke ruangan tertutup. Xue Zhan baru tahu satu hal yang tak pernah diketahuinya. Tidak semua pemberi informasi dapat ditemukan dengan terbuka. Beberapa dari mereka berpura-pura menjadi pemilik toko, petani dan bahkan pedagang.


Dari kabarnya, Yue Linghe, salah satu anggota Kelabang Ungu terakhir kali diketahui berada di sebuah desa kecil yang bernama Xinghua. Desa tersebut terletak di bagian selatan Kekaisaran Feng, di tengah-tengah pegunungan yang berhutan lebat.


Tak perlu waktu lama mereka segera pergi ke sana, Xue Zhan mengikuti langkah Xiang Yi Bai dari belakang. Namun sesaat pandangannya terperangkap di satu titik di sudut kota.


Pupil matanya membesar. Dia merasa baru saja melihat sosok yang begitu familiar. Ingatannya kembali pada sebuah kilat cahaya raksasa dan hantaman besar yang membuat seluruh tulangnya hampir patah.


Seorang gadis kecil dengan kekuatan monster dan tato cahaya di lengannya. Mereka pernah bertarung di Ujian Pendekar Menengah dan terakhir kali gadis itu meninggalkan satu pesan lewat ukiran pedang di kayu dan mengatakan dia akan membunuh Xue Zhan lain kali.


Karena pandangannya terhalang banyak pendatang, Xue Zhan kehilangan jejak sosok itu sebelum bisa memastikan dugaannya. Tiba-tiba dia tersentak saat seorang pendekar menyenggolnya.


"Hei, jalan pakai mata!!"


Sebuah tinju melayang, Xue Zhan menangkap dengan tangan kosong. Detik itu tiba-tiba puluhan orang menepi. Angin kencang menerbangkan pakaian Xue Zhan dan sosok lelaki berbadan kekar dan pedang panjang di punggungnya. Terjadi getaran sesaat, kekuatan lelaki itu begitu besar dan sekilas membuat kaki Xue Zhan terdorong ke belakang.


Xue Zhan membatin, "Apa-apaan kekuatan ini? Siapa dia sebenarnya-?"


Kemarahan terlihat jelas di bola mata laki-laki itu.


"Kau membuatku kesal. Cari mati, ya?!"


Di samping itu beberapa orang yang menyaksikan menggeleng kepala kasihan. Xue Zhan benar-benar sial harus berhadapan dengan orang tersebut.