Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 210 - Semua Jawaban


Satu pekan terlewati. Di pelabuhan yang padat dan sibuk, kapal-kapal berlabuh dengan tali-tali yang diikat erat, para pelaut sibuk memindahkan muatan dari kapal ke daratan. Suara deru ombak dan keributan nelayan bercampur menjadi satu.


Beberapa prajurit berkeliaran di sekitar, menjaga keamanan dan ketertiban. Mereka berpatroli dengan sikap waspada, menjaga agar tidak ada gangguan yang mengancam kedamaian pelabuhan seperti yang sudah-sudah.


Di antara keramaian, Xue Zhan tengah berbincang dengan salah satu warga setempat untuk mencari informasi sekaligus berbaur.


Xue Zhan menyimak dengan serius, mendengarkan cerita tentang perubahan cuaca yang tidak biasa yang terjadi di daerah ini. Mereka saling ber spekulasi awas rumor yang beredar tentang penyebab di balik fenomena tersebut


Ada yang mengaitkannya dengan kekuatan supernatural, sementara yang lain berpendapat bahwa ini adalah pertanda perubahan alam yang signifikan. Suasana di pelabuhan dipenuhi dengan diskusi-diskusi tentang rumor-rumor yang beredar, yang membuat orang-orang semakin khawatir.


Meskipun dalam situasi yang penuh dengan tanda tanya, kehidupan di pelabuhan tetap berlangsung dengan lancar. Kapal-kapal berlayar, penjual makanan keliling menjajakan dagangan mereka, dan suara tawa dan obrolan mengisi udara. Semua aktifitas di pelabuhan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, beriringan dengan rumor-rumor dan cuaca yang tidak biasa.


Xue Zhan sendiri mengenakan topeng putih yang baru saja dibelinya dari pedagang kaki lima, meskipun sedikit berbeda dari yang diberikan Xiang Yi Bai setidaknya masih bisa digunakan untuk menutupi wajahnya.


Melintasi jalur laut yang begitu rawan, Xue Zhan kini tiba di pelabuhan kecil yang berada di Teluk Ying. Tempat di mana seorang ahli informan yang diceritakan Nona Wen berada. Namun bukan perkara mudah mencari siapa dan di mana laki-laki itu tinggal. Wen Zhiqiang mengatakan jika laki-laki itu membaur di antara para nelayan.


Dengan alasan itu dia mulai menjelajah ke tempat-tempat di mana para nelayan berkumpul dan mengangkut hasil tangkapan dari laut. Melihat sibuknya tempat itu dari siang hingga sore menjelang, tetapi dia tetap tidak menemukan sosok yang ingin ditemuinya.


Jika sosok itu membaur di antara masyarakat biasa, penyamarannya sudah pasti begitu hebat. Xue Zhan sama sekali tidak bisa menemukan sedikit pun petunjuk.


Dia berputar arah, mencari tempat lain untuk menemukan petunjuk. Pikirannya buntu. Semua orang di sana mulai mencurigainya karena terus memperhatikan aktifitas mereka.


Di sisi lain dia tidak bisa sembarangan bertanya, apalagi Teluk Ying berada di tempat yang rawan. Informasi yang digalinya juga sangat sensitif karena berkaitan dengan Taring Merah. Xiang Yi Bai selalu menekankan padanya untuk tidak bertindak gegabah dalam menghadapi lawan seperti mereka.


Xue Zhan melalui jalan-jalan sibuk kota, melintasi berbagai kedai dan pemukiman, mencari jejak seorang ahli informasi yang dapat membantunya dalam mencari tahu lebih lanjut tentang Taring Merah. Dia sempat mengunjungi sejumlah kedai yang terkenal dengan pengetahuan dan jaringan informasi mereka, berharap salah satu pemilik kedai memiliki hubungan dengan ahli informasi yang dia cari. Namun setelah mengunjungi beberapa kedai, dia tidak berhasil menemukan petunjuk yang berguna.


Tidak ingin menyerah begitu saja, Xue Zhan mengubah strateginya dan memutuskan untuk mencari ahli informasi ini di sejumlah pemukiman yang diketahui sebagai tempat tinggal beberapa kelompok pengumpul informasi tersembunyi. Dia menjelajahi jalan-jalan sempit dan lorong-lorong gelap dengan harapan menemukan jejak yang dia cari. Namun, semakin malam turun, semakin sulit baginya untuk menemukan petunjuk yang dia butuhkan.


Terdengar sebuah kabar bahwa ada sekelompok pengumpul informasi yang beroperasi di sebuah pelabuhan yang jauh dari kota. Tanpa ragu, dia berangkat ke pelabuhan itu dengan harapan menemukan ahli informasi yang dia cari di sana.


Sesampainya di pelabuhan, Xue Zhan menyadari bahwa mencari ahli informasi di lingkungan yang begitu besar dan sibuk seperti itu bukanlah tugas yang mudah. Dia menghabiskan berjam-jam berkeliling, berbicara dengan para pelaut, pedagang, dan nelayan yang berinteraksi dengan berbagai orang. Namun, semakin malam tiba, semakin sulit baginya untuk menemukan petunjuk yang dia butuhkan.


Malam telah turun dan Xue Zhan merasa putus asa. Dia merenungkan langkah selanjutnya dan mencoba mengingat kembali informasi apa pun yang dia temukan selama perjalanan pencariannya, Xue Zhan hanya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa hasil. Andaipun Xue Zhan memiliki nama informan itu tentu dia sama kesulitannya menemukannya.


Orang seperti penjual informasi tidak sembarangan mengumbar nama dan keberadaan mereka apalagi mereka yang sudah memiliki koneksi luas seperti dengan para ketua perguruan, Kaisar atau pejabat tinggi lainnya. Xue Zhan harus berusaha mencarinya, kemungkinan terburuknya dia akan memakan waktu berhari-hari untuk menemukan orang itu.


Xue Zhan duduk di bawah sebuah pohon teduh, melihat jalan di depannya mulai lengang dan hanya diisi oleh suara-suara burung pelikan dari laut.


Xue Zhan duduk dengan tenang memperhatikan bagaimana jalan di depannya mulai sepi. Semua keramaian dan kegiatan kota itu seolah menghilang, digantikan oleh hening yang hanya diisi dengan suara-suara alam. Dia merasakan angin lembut yang menerpa wajahnya, membawa harumnya bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar.


Saat itu, dia mulai merenung tentang perjalanan panjangnya dalam mencari ahli informasi yang begitu dibutuhkannya.


Pemuda itu menghela napas panjang. Xue Zhan menikmati momen ini untuk melupakan kepenatannya sejenak. Dia merasa seperti tenggelam dalam ketenangan alam, di mana semua kekhawatirannya dan kecemasan seakan terbawa jauh oleh angin yang berhembus.


Keadaannya sedikit lebih membaik dari sebelumnya, meskipun Xue Zhan belum bisa memastikan apakah suatu saat kekuatan itu kembali tidak terkendali. Dia memperhatikan lamat-lamat dari ujung jalan, seorang laki-laki bersama putranya melewati jalan tersebut sambil membawa ikan hasil tangkapan. Terlihat begitu sederhana.


Senyum di wajahnya ikut terkembang saat melihat senyuman di wajah putra nelayan itu.


"Sepertinya tidak dilatih untuk menjadi pendekar, tapi kekuatannya lumayan," gumamnya tanpa sadar. Dengan matanya yang memiliki kemampuan khusus Xue Zhan sering kali membaca kekuatan seorang dari aliran di dalam tubuh mereka. Namun dalam beberapa kasus dia tidak bisa membacanya, salah satunya ketika orang tersebut menekan kekuatannya ke titik terendah sehingga sulit dibaca.


Matanya beralih menatap nelayan itu. Hanya laki-laki biasa dengan pakaian sederhana. Dia sedang bercanda riang dengan putranya.


"Sepertinya memang bukan dia. Ah ... Susah sekali menemukan informan itu." Xue Zhan melipat kedua tangan di belakang kepala. Sedikit berbaring dengan bersender pada pohon.


Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menatap kedua orang yang melintasi jalan di hadapannya kini. Tampak tidak begitu peduli dengan kehadirannya. Perhatiannya tersita pada anak kecil itu, "Porsi tubuh dan gerakannya berbeda dari anak kebanyakan.


Tapi ayahnya terlihat tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Ini aneh." Dia menggumam kecil. "Hanya ada dua kemungkinan. Ayahnya benar-benar orang biasa dan anaknya mendapatkan bakat kekuatan alami, atau nelayan itu adalah pendekar hebat yang menyembunyikan kekuatannya dan anaknya dilatih bela diri."


Selagi mereka belum menyadari kehadirannya Xue Zhan mengambil sebuah ranting kecil dan melemparnya ke arah anak kecil itu. Dengan menggunakan kekuatannya ranting itu bergerak lurus hingga puluhan meter.


Dari jauh Xue Zhan melihat ranting itu pecah di udara dan menjadi debu. Anak kecil itu sama sekali tidak bereaksi apa pun, Xue Zhan menatap laki-laki yang terus berjalan seolah-olah tak peduli akan gangguannya.


Dia bangkit tanpa berpikir panjang, menghalangi jalan keduanya.


"Tunggu," panggil Xue Zhan. Laki-laki itu menoleh sebentar, sama sekali tidak mengungkit apa yang Xue Zhan lakukan melainkan berbicara hal lain.


"Gelombang di Teluk Ying akhir-akhir ini terlalu tinggi untuk diterjang, anak muda."


Ucapannya menyiratkan sesuatu. Dia beranggapan bahwa situasi di luar sana sedang kacau penuh bahaya, terdengar suaranya kembali. "Apa yang membawamu jauh-jauh datang kemari?"


"Angin badai, tuan."


Anak kecil itu menatap Xue Zhan dan ayahnya bergantian, mereka berbicara dengan bahasa yang sulit dimengerti. Nelayan di depannya mengembangkan senyum ramah. "Taring Merah, ya." Dia memelankan suaranya.


"Kebetulan istriku menyiapkan makan malam banyak hari ini. Ikutlah bersama kami."


Xue Zhan mengangguk dan mengikuti keduanya dari belakang. Tak disangka laki-laki itu sangat ramah. Ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakannya tapi Xue Zhan memilih untuk bertanya ketika mereka tiba di rumah laki-laki itu.


Hidangan sederhana disediakan di atas meja kecil, bau harum ikan bakar yang baru saja matang menyebar di sekitar mereka. Wanita itu menyediakan hidangan ikan segar yang dibakar dan sayuran hijau segar yang dipetik langsung dari kebun mereka sendiri di atas meja sambil mempersilakan mereka untuk makan.


keluarga tersebut berkumpul sambil bercerita. Nama laki-laki itu Qi Zhang. Selama dua puluh tahun dia menyamar di antara para nelayan dan hidup selayaknya masyarakat pesisir. Tidak pernah disangka laki-laki itu memiliki hubungan erat dengan orang-orang penting Kekaisaran.


Dia orang yang sederhana dan murah senyum. Qi Zhang juga menjamin identitas Xue Zhan terjaga baik, sehingga Xue Zhan boleh melepas topengnya untuk ikut makan malam bersama mereka.


Xue Zhan diam mendengarkan sambil sekali-sekali menimbrungi.


Melihat hangatnya keluarga itu sembari mengingat perasaan yang sama. Belasan tahun lalu bersama keluarga Lin. Keluarga pertama yang menerimanya dan berkorban banyak untuknya.


Gerakannya terhenti. Xue Zhan menatap masakan di mangkuk, tangannya sedikit bergetar.


Masakan itu hampir mirip dengan makanan yang dimasak kakeknya, Lin Yu Shan. Laki-laki tua yang begitu sabar yang pernah dia kenal.


"Kenapa? Apa makanannya kurang enak?" tanya Istri Qi Zhang. Xue Zhan menggeleng.


"Aku hanya sedikit merindukan masakan rumah ..." Suaranya terpotong.


"Jauh dari keluarga memang membuatmu sedih, itu wajar. Makanlah yang banyak."


Xue Zhan lupa dia tidak memiliki rumah ataupun keluarga. Xue Zhan sebenarnya ingin mencari tahu di mana keluarga aslinya, namun perjalanannya masih begitu panjang.


Usai makan malam, Qi Zhang meminta istrinya membawa anak mereka untuk segera tidur. Hanya tersisa mereka berdua di ruang makan.


"Biar kutebak, kau sedang memburu Taring Merah, bukan?"


Pembicaraan itu langsung ke intinya, Xue Zhan mengangkat wajahnya dan ucapan berikutnya membuat tengkuknya dingin.


"Aku tahu siapa dirimu. Kau adalah Xue Zhan. Kau menginginkan nama di balik pembunuhmu? Ke mana perginya sahabatmu? Dan apa yang diinginkan Taring Merah?"


Xue Zhan berkeringat dingin. Entah pertanda bahaya atau tidak, laki-laki itu mengetahui banyak tentangnya.


Dia sama sekali tidak bisa diremehkan.


Dilihat dari raut wajahnya, laki-laki itu memang seperti yang dikatakan Wen Zhiqiang; dia memiliki semua jawaban yang diinginkannya.


Xue Zhan menyatukan sepuluh jarinya di atas meja.


"Aku akan membayar berapa pun untuk itu."