Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 104 - Dalang Tersembunyi


Li Jia Xing mengerutkan keningnya dalam menandakan dia kebingungan. Saat laporan datang sekelompok prajurit membawa bukti-bukti dari pertarungan yang terjadi di salah satu hutan di Kekaisaran Feng dan menduga bahwa benda itu adalah milik Menara Giok Hantu.


"Teror ini semakin merajalela, Yang Mulia. Kami tidak mencium adanya pembelot di dalam kelompok Menara Giok Hantu, tapi kehadiran pemburu ini telah mengancam banyak pihak. Dikatakan tiga perguruan di Kekaisaran Diqiu dibantai, dua di antaranya hancur sementara yang satunya lagi berhasil menyelamatkan beberapa penerus yang sekarang sedang berlindung di Paviliun Emas."


Li Jia Xing membuang pandangan jauh, di dalam pikirannya beribu dugaan mulai bermunculan. Ini tidak bisa dianggap sebagai permasalahan milik Kekaisaran Diqiu saja, karena Menara Giok Hantu sebenarnya berasal dari Kekaisaran Feng yang tak mampu menekan pergerakan kelompok tersebut sehingga merugikan pihak lain.


Di lain sisi berita yang didapatnya semuanya simpang siur. Ada yang mengatakan sosok misterius itu sebenarnya bukan berasal dari Menara Giok Hantu, ada yang mengatakan orang itu adalah Ketua Menara Giok Hantu lama yang kembali untuk membalaskan dendam, banyak juga yang menerka-nerka bahwa sesungguhnya masih ada kelompok jahat lain yang menggunakan nama Menara Giok Hantu untuk kepentingannya sendiri.


Kerutan di dahinya memudar saat dia membuka mulut untuk bicara, "Apa kau sudah menyelediki orang yang membunuh Hantu Penggerogot itu? Aku memiliki firasat dia bukanlah orang yang berada di pihak kita. Dia akan membunuh siapa pun, tergantung tujuannya. Permasalahannya di sini kita tidak tahu motif dan tujuan dia apa."


Prajurit itu menyatukan kepalan tangan di lantai, mengangkat wajah seraya menjelaskan, "Tentu saja Yang Mulia. Beberapa mata-mata kami berhasil mengikutinya dan menemukan bahwa orang tersebut bergabung dengan sekumpulan orang yang menggunakan pakaian sama. Kami tidak bisa memastikan kejelasan informasi ini karena orang yang mematai mereka langsung dibunuh di tempat."


Beruntung sebelum dibunuh mata-mata itu langsung mengirim surat lewat burung dan menyampaikannya padanya. Kabar mengejutkan itu sesaat membuat Li Jia Xing menegakkan punggung agar bisa melihat lebih jelas prajurit berzirah besi itu.


"Sekelompok orang?" Pikirannya semakin rumit, dia tak bisa lagi menebak siapa dalang di balik ini semua. Melihat Li Jia Xing tak mengeluarkan suara untuk waktu cukup lama, Du Xiaohua selaku pelayannya segera ambil suara.


"Kalian boleh pergi. Yang Mulia akan memberitahukan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya. Pastikan tidak ada yang mengikuti kalian ke sini."


"Baik."


Kuku cantik Li Jia Xing kembali rusak oleh wanita itu sendiri, dia memiliki kebiasaan menggigit kuku saat sedang berpikir keras. Du Xiaohua sudah berulang kali mengingatkannya namun kebiasaan itu tetap tak bisa diubah, Li Jia Xing bergumam dengan irama yang terasa familiar di telinga Du Xiaohua.


"Bunga salju dinodai bercak darah, Langit menyumpahi Sang Bayangan Kebajikan. Dewa Kematian murka dan bangkit. Angin dari Gunung Qin membawa kabar kematian untuk umat manusia ...."


"Anda perlu beristirahat, Yang Mulia. Anda sudah tiga hari tidak tidur, kesehatan Anda harus diutamakan."


"Bagaimana bisa aku tidur di situasi seperti ini?" Mata birunya menatap Du Xiaohua marah. "Iblis dari Gunung Qin ... Jangan bilang itu adalah mereka ... Kelompok pembunuh dua puluh tahun lalu yang telah membunuh Ketua Agung Dunia Persilatan dan ribuan nyawa tanpa belas kasih. Mereka telah terbangun, maka ini akan menjadi perang tak berkesudahan selanjutnya ..."


**


Setelah banyaknya terjadi kekacauan di Kekaisaran Diqiu, satu demi satu masalah lainnya berdatangan. Kabar melintas cepat lalu tenggelam digantikan berita lain, hal itu terus terjadi berulang-ulang. Jatuhnya perguruan Pondok Kabut Putih menjadi pukulan besar bagi Kekaisaran Diqiu.


Deru angin kencang naik ke atas langit, menerpa wajah Xian Shen yang hanya diam sejak satu jam lalu tanpa berbicara dan hanya menatap batu nisan di tepi jurang. Matanya terlihat berkaca-kaca, kepalan tangannya erat. Dia menyatukan giginya amat kesal. Empat bulan sudah berlalu tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain datang ke nisan itu dengan tangan kosong.


"Saudara Zhan, kau mendengarku?" tanyanya sambil menjawab sendiri. "Kuharap begitu." Cara bicaranya nampak tak yakin untuk melanjutkan apa yang membuatnya datang ke tempat ini lagi. "Sudah beberapa bulan kulalui tapi sekeras apa pun aku mengulur benang yang kusut, aku tetap tidak menemukan ujungnya."


"Aku ingin membuktikan kau tidak bersalah di mata semua orang, tapi-!" Omongannya terpotong, tangannya menumbuk batu di bawahnya emosi. "Semua teka-teki ini seperti sudah dibuat oleh musuh yang berdiri di dalam bayangan kita. Kita hanya melihat seseorang yang ada di depan, tidak sadar saat bayangan itu tiba-tiba menusuk dan menghilang dalam kegelapan. Sebenarnya siapa dalang dari semua ini?!"


Teriakan Xian Shen menggema keras, dia telah lama memendam masalah ini sendirian dan tidak ada yang peduli akan kebenaran yang sebenarnya setelah Xue Zhan tiada. Pemuda itu menggemerutukkan gigi membuat rahangnya mengeras. Keringat berjatuhan di pelipisnya bercampur air mata. "Nona Yin sudah bersaksi bahwa kau bukan orang yang mencelakainya dan dia juga berjanji akan membantuku menyelesaikan permasalahan ini, tapi sekarang kami berada di titik buntu. Jika Menara Giok Hantu bukan pelaku utamanya, maka siapa yang hari itu membunuh Tetua ke-45 dan membuat kau dihukum cambuk?"


"Bagaimana dengan Senior Kang Jian? Bau mayatnya saja tidak tercium! Ditambah lagi munculnya penjahat baru, ini semakin rumit. Dengan otak udang seperti ini kau pikir aku bisa berbuat sesuatu?!"


Saat mengatakannya Xian Shen begitu putus asa, batu nisan bertuliskan nama Xue Zhan di depannya dingin sekaligus bisu. Tak ada satu pun pertanyaan yang bisa dijawab benda mati itu, tidak ada. Percuma saja, pada akhirnya Xian Shen menertawakan dirinya sendiri.


"Saudara Zhan, seandainya hari itu kau berusaha lebih keras lagi untuk membela dirimu semua tidak akan serumit ini. Dan dua teman kita ..."


Pandangannya kembali jatuh pada batu nisan itu, membayangkan ketika Xiao Rong dan Jiazhen Yan sedang perang dingin dan dia mengandalkan Xue Zhan untuk menenangkan mereka berdua. Sekarang Xue Zhan sudah tidak ada. Xiao Rong dan Jiazhen Yan mulai saling menjauh dan membenci setelah apa yang terjadi terakhir kali—Jiazhen Yan melepaskan tangan Xue Zhan dan menyebabkan pemuda itu jatuh ke dalam jurang.


Di dalam hatinya Xiao Rong masih menyalahkan Jiazhen Yan, Jiazhen Yan juga memikirkan hal yang sama dan pergi begitu saja.


Xiao Rong menepati omongannya, dia tak pernah lagi berkunjung ke Kekaisaran Diqiu. Sementara Jiazhen Yan, orang itu tak pernah lagi muncul sejak kematian Xue Zhan.


Xian Shen berdiri menggenggam gagang pedangnya dengan tangan kanan. "Kawanku, aku sudah bersumpah untuk membuktikan kau tidak bersalah. Walau nanti malam mungkin nyawaku akan terenggut ..."


Keputusannya sudah bulat. Xian Shen tidak akan mundur meski musuh yang dihadapinya akan lebih hebat darinya, di pikirannya saat ini jika bukan dia tak ada lagi yang mau mencari tahu kebenaran ini. Jiazhen Yan dan Xiao Rong telah pergi dan hanya tersisa dirinya sendiri. Dan Xian Shen hanya bisa mengandalkan dirinya untuk misi berbahaya ini.


"Aku lebih memilih langsung menemuimu di akhirat dan menampar wajahmu daripada duduk diam di sini seperti orang bodoh yang membiarkan temannya mati. Kau tidak selemah itu sampai terbunuh oleh fitnah tak berdasar. Pasti ada sesuatu, jika firasatku benar maka aku tak akan menyesal mengorbankan nyawaku untukmu."


**