
Menara Giok Hantu adalah sekelompok pendekar berkekuatan hitam yang dikendalikan di bawah bendera kelompok penjahat terbesar Taring Merah. Ada sebuah kabar yang mengatakan bahwa ketua Menara Giok Hantu si Hantu Tangan Sebelah telah tewas digantung di kamarnya sendiri dengan tanda mengerikan berupa goresan silang berdarah di wajah, dada serta punggungnya.
Dua bulan semenjak kabar kematian pemimpin mereka sisa dari Menara Giok Hantu berlutut di bawah Taring Merah dan memulai aksi nekad mereka. Perampasan, penculikan dan pembunuhan hanya dalam dua bulan menjalar di mana-mana dan menyebabkan teror tiada henti di Kekaisaran Feng.
Mereka dari Menara Giok Hantu yang paling terkenal adalah Hantu Penggerogot. Dikatakan bahwa Hantu Penggerogot adalah pemakan bangkai manusia, suka meminum darah manusia dalam kendi arak. Rumor menyebar di kalangan masyarakat, mengatakan jika tengah malam ada bunyi ketukan seperti tiga kali ketukan cepat yang disusul ketukan kali pelan di pintu rumah mereka, itu artinya hantu itu telah datang untuk membunuh dan memakan jasad mereka.
Kemudian, Hantu Sebelas Jari. Tidak begitu jelas tentang identitasnya bahkan penjual informasi pun kesulitan mencari tahu tentangnya. Namun hantu itu memiliki keunikan di mana dia bisa melepas kedua tangannya, jari-jarinya mampu bergerak dan masuk ke tubuh manusia lalu membunuh organ dalamnya. Dia tidak memiliki rambut, gigi apalagi bola mata, hantu itu sama sekali tidak pernah segan mencabut nyawa korbannya.
Yang paling sering menampakkan diri, Hantu Penyair. Dia menggunakan alat musik seperti kecapi untuk membunuh melalui alunan suara petikan mematikan. Hantu dari Utara yang dikabarkan adalah seorang wanita pengantin yang dibunuh kekasihnya. Seseorang pernah berpesan, "jika kau mendengar suara tangis wanita cantik, pastikan yang kau ajak bicara adalah manusia bukan hantu."
Lalu yang terakhir, berita mengerikan tentangnya telah menyebar ke berbagai kota hingga orang-orang merinding setiap kali cerita itu dibincangkan. Dia adalah Hantu Mawar Duri. Seorang wanita penggoda yang anggun dengan pakaian sedikit terbuka, suaranya lembut dan halus namun kukunya lebih tajam daripada pisau.
Wanita itu dikatakan membaur dengan manusia dan sering terdengar kabar kematian dari orang-orang terpandang di mana mereka mati dalam keadaan tersayat-sayat dan juga sudut bibir robek hingga ke pelipis kepala.
Xue Zhan tiba-tiba menahan langkah kaki ketiga temannya, merinding sekujur badan ketika dia mendengar irama mengerikan dari dalam kastil itu. Lalu suara teriakan gadis menggema di dalamnya, dia sedang dibawa ke ruang bawah tanah dan mungkin disiksa oleh seseorang.
Suara melengking nan putus asa itu membuat Xian Shen tidak tahan.
"Apa lagi yang kau tunggu?! Gadis itu mungkin sedang sekarat dan membutuhkan pertolongan kita, aku akan segera menolongnya dan membasmi siapa pun yang menyakitinya!"
Tiba-tiba saja di penakut yang selalu meneriaki nama ibunya menjadi pemberani. Urusan perempuan, Xian Shen tidak bisa tinggal diam.
"Membasmi mereka? Aku lebih khawatir kau yang lebih dulu dibasmi mereka."
Xue Zhan bukannya tidak peduli dengan nasib gadis itu, tetapi dia mulai mempertanyakan semua kemungkinan yang saling beradu di dalam kepalanya.
Gadis itu tak mungkin bisa bertahan hidup di hutan belantara ini, pasti seseorang menculiknya. Dia adalah orang yang kuat pastinya, Xue Zhan membaca sebuah papan berisikan tulisan,
"Menara Giok telah runtuh, hantu akan berubah menjadi Iblis yang sebenarnya."
"Menara Giok Hantu-?"
Xiao Rong berubah begitu panik tidak seperti biasanya, wajahnya yang memang putih semakin memucat tanpa darah. Dia melihat Xue Zhan yang sudah lebih dulu melihat apa yang disadarinya.
Mereka menahan langkah, berubah ragu, hingga Xue Zhan menjelaskan apa yang diketahuinya.
Jiazhen Yan nampak setuju. Matanya menyipit, "Ini hanya dugaan sementara tapi pasti ada sesuatu yang mereka cari dari gadis itu. Jika memang ingin membunuhnya sudah mereka lakukan sejak dua hari lalu. Kurasa ini ada alasannya dengan mengapa Tuan Putri Wen melakukan bunuh diri di hutan. Sayangnya, lepas kandang harimau dia malah terjebak di kandang singa."
"Ja-jadi bagaimana kita akan menyelamatkannya? Kalian tidak bilang akan pergi begitu saja dan meninggalkannya, bukan? Lalu kita di sini untuk apa? Hah?" Xian Shen sedikit takut setelah mendengar cerita Xiao Rong dan Xue Zhan, lantas berulang kali melihat ke kastil dan temannya gelagapan.
"Simpan napasmu. Mengapa kau berbicara berbelit-belit?"
Pemuda itu menatap lurus ke depan, tidak bisa memastikan jelas berapa musuh yang akan mereka hadapi. Matanya terbuka lebar, Xue Zhan mendorong teman-temannya mundur kembali ke semak-semak, puluhan lelaki berbaju hitam senada keluar dan berpencar menggunakan ilmu meringankan tubuh, begitu cepat hingga Xue Zhan tidak sempat melihatnya dengan jelas.
Beruntung mereka sudah lebih dulu bersembunyi. Tapi sekarang dia buntu.
"Tuan Wen juga tidak mengatakan mengapa putrinya memberontak. Ini menjadi semakin aneh. Aku mendengar bunyi kecapi dan nyanyian dari dalam, dia pasti adalah Hantu Penyair."
Xiao Rong menatapnya, "Adalagi yang kau tahu tentang musuh yang akan kita hadapi?"
"Jangkauan suara kecapinya akan melukai kita jika berada lima meter di dekatnya, sedangkan dalam jarak dua puluh meter akan mengganggu pernapasan dan kejiwaan. Sebaiknya kita berhati-hati. Dia juga bisa menyerang lewat udara dan langsung memenggal hanya sekali gerak."
Xiao Rong mengangguk dan menatap mereka bertiga penuh harap.
"Ini mungkin bukan misi pertama kita lagi sebagai pendekar menengah, tapi mungkin ini akan menjadi misi terakhir kita jika tidak berhati-hati. Pendekar hantu terkenal sangat sadis dan berbahaya, mungkin dia sekarang hanya sendirian tapi jika kita bekerja sama aku yakin kita bisa menyelamatkan gadis itu dan membawanya kembali pada orang tuanya."
Xiao Rong mulai menjelaskan rencana penyergapan dan penyelamatan yang akan mereka lakukan. Xian Shen dan Xiao Rong akan menyelamatkan gadis itu, Jiazhen Yan dan Xue Zhan akan bertarung dan mengecohkan lawan. Mereka tidak perlu bertarung sampai titik darah penghabisan, karena itu jika mereka bisa segera kabur mencari jalan keluar, mungkin masih ada kesempatan untuk selamat.
Xiao Rong mengakhiri penjelasannya, "Paham? Ada yang ingin ditanyakan atau keberatan?"
Tidak ada yang menyahut. Kedua alisnya menyatu, berusaha untuk yakin mereka berempat bisa menangani misi ini.
"Baiklah, seperti saat ujian dulu ...."
Dia mengangkat tangan di tengah-tengah mereka, ketiga temannya mengikuti dengan sedikit tidak senang. Ketika itu tengkuk Xiao Rong dingin, satu tangan dengan pergelangannya yang seolah-olah terputus dan dijahit ikut berada di atas telapak tangan mereka berempat.
Ketiga temannya diam melotot tak berani melihat siapa gerangan yang berada di balik tubuh Xue Zhan dan ikut meletakkan tangannya di tengah mereka. Xue Zhan yang paling kaget. Dia tidak merasakan apa-apa. Tapi terdengar suara dari belakangnya, begitu rendah dan menakutkan.
"Mari bertarung bersama-sama."