
Rumor menyebar begitu cepat bagai angin badai yang menyapu daratan. Lembah Abadi mendapatkan guncangan akhir-akhir ini, desas-desus tertuju pada perguruan terhebat itu.
Setelah mengirimkan dua muridnya untuk menjelaskan misi penting di luar Kekaisaran, kabar yang dibawa pulang dua murid tersebut perlahan menggores reputasi perguruan yang terkenal akan kehebatannya itu.
Halaman Lembah Abadi dipenuhi oleh murid-murid perguruan yang tengah berlatih untuk Ujian Pendekar Pemula dalam beberapa bulan lagi, empat orang pemuda berjalan bersisian di belakang salah seorang Guru di perguruan tersebut sambil menunduk, lelaki yang membawa mereka tampak begitu rumit wajahnya saat membawa empat pemuda itu menemui Tetua.
Seorang murid Lembah Abadi membukakan pintu Aula Leluhur Abadi di mana seorang tetua berusia 100 tahun tengah duduk tegap di dalam serta mata pedang ditancap ke lantai.
"Tetua, saya mohon untuk mendisiplinkan mereka, berikan mereka hukuman yang setimpal atas kelalaian mereka berempat."
Hentakan keras di lantai kayu menggema disambut dengan terbukanya mata putih pucat Tetua ke-45 itu. Ubannya sudah seputih salju tapi kematian belum juga menjemputnya, membuat lelaki itu gampang sensitif dan naik darah. Dia mengumpat di sela-sela pelototannya.
"Memang sudah sepantasnya aku mencambuk mereka semua! Tidak peduli dari perguruan atau Kekaisaran mana pun! Membelakangi peraturan dalam menjalankan misi adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan!" dampratnya keras sampai air liurnya terciprat ke mana-mana. Jenggot putihnya bergerak-gerak, marah betul laki-laki itu.
Semua permasalahan ini tertuju pada satu hal, Gadis bermarga Wen.
"Bagaimana bisa kalian melepaskan gadis itu begitu saja? Katakan padaku, anak bodoh mana yang pulang hanya dengan membawa badan setelah misinya?"
"Kami." Jiazhen Yan menyahut di saat yang tidak tepat, Xue Zhan lantas menarik kembali kepala temannya itu untuk kembali menunduk.
"Ampuni kami, Tetua. Semua ini terjadi di luar kendali. Setelah menyelamatkan Nona Wen lima siluman kadal menyerang, kami memang berhasil mengalahkan Hantu Penyair dan selamat dari Hantu Penggerogot. Namun Hutan Siluman Terkutuk memiliki ratusan siluman berbahaya, nyawa kami berada dalam ancaman dan seketika saja kami menemukan jalan keluarnya."
Pelototannya semakin garang, "Kalian meninggalkan gadis itu?"
Xiao Rong mengangkat wajah untuk berbicara, "Izinkan aku menjelaskan sebagai Ketua Tim, Tetua. Nona Wen mungkin sudah tak bisa diselamatkan karena saat itu satu dari empat siluman yang mengejar kami berbalik ke arahnya. Aku mendengar suara teriakan Nona Wen. Kami sudah sekarat dan juga dikejar-kejar, tidak bisa menyelamatkan Nona Wen.. maafkan kami."
Pemuda itu kembali membungkuk dengan kedua tapak tangan menyentuh lantai, bersungguh-sungguh meminta maaf atas kelalaiannya sebagai ketua tim.
Tetua ke-45 membuang muka, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Melihat murid berlalu lalang di sana, tampak kesal.
"Kegagalan dalam misi ini akan menurunkan reputasi Lembah Abadi di hadapan muka Kaisar Li. Kekaisaran kita banyak berhutang budi pada mereka dan hanya ini yang bisa kalian lakukan? Tidakkah kalian menganggap ini adalah kesalahan yang serius?"
Suaranya kian menggelegar. "Xue Zhan!"
Xue Zhan mengangkat wajahnya dengan pucat pasi.
"Katakan padaku yang sebenarnya! Di mana kalian menyembunyikan gadis itu?!"
Laki-laki itu tak mau banyak membuang waktu, kerutan di wajahnya makin terlihat sebab marah terus berkobar dalam dadanya. Xue Zhan tak berani menatap mata itu, dia berbisik ke samping.
"Bagaimana ini?"
Kelihatannya Tetua itu sudah lebih dulu mengetahui yang sebenarnya. Percuma mendebat laki-laki yang sudah hidup satu abad itu. Sampai matahari berganti bulan pun tidak akan ada habisnya.
"Aku akan menjelaskan yang sebenarnya. Aku tak mau karena ini kau dan Jiazhen Yan dihukum olehnya," bisik Xiao Rong balik.
Dia menatap Tetua ke-45 yang sepertinya sudah membaca apa yang akan disampaikan Xiao Rong.
Kang Jian dan Tetua ke-45 terdiam. Sejak satu Minggu setelah kepulangan mereka dalam misi dan mengatakan telah gagal menyelamatkan Wen Zhiqiang, terjadi gejolak yang tak terlihat di Kekaisaran Feng.
Ini menyebabkan banyak masalah yang tak pernah mereka pikirkan. Gadis itu jauh lebih berharga dari yang mereka ketahui.
"Kami tidak diberitahu tentang apa yang dialami Nona Wen, dia bunuh diri di Hutan Siluman Terkutuk dengan harapan terlepas dari semua penderitaan. Dirinya dikurung, dirantai dan dijadikan objek percobaan selama enam belas tahun dan hampir gila karenanya."
Tetua ke-45 masih menunggu Xiao Rong menyelesaikan kalimatnya.
"Setelah kami mendengarnya, kami sepakat untuk memberi kebebasan pada Nona Wen. Kami tidak membelakangi aturan. Di dalam perintah misi tugas kami hanyalah menyelamatkan Nona Wen. Kami berhasil membawanya keluar dari Hutan Siluman Terkutuk. Dan ... Setelah itu, dia pergi ke mana pun dia pergi dan kami tak akan menahan kebebasannya."
"Kau—" seruan Tetua ke-45 tertahan.
"Nona Wen mengatakan dia akan kembali ke rumahnya saat dia sudah menenangkan diri. Dia tidak akan kabur karena tahu adiknya akan menjadi bahan percobaan jika dia melarikan diri begitu saja. Hanya itu yang bisa kusampaikan. Jika ada yang harus dihukum, maka itu adalah diriku yang sangat payah sebagai ketua. Maafkan keteledoranku."
Xiao Rong menunduk. Bersiap menerima hukuman apa pun.
Lembah Abadi terkenal akan peraturan ketat yang sangat mencekik. Tempat di mana Kang Jian tumbuh itu adalah perguruan di mana Jiazhen Yan dan Xue Zhan bernaung saat ini, salah satu perguruan terbesar yang makmur dan juga menyumbang ribuan pendekar jenius dan hebat ke Kekaisaran Diqiu. Banyak tetua yang sempat menyayangkan keputusan Kang Jian mengangkat Xue Zhan sebagai murid pertamanya.
Beberapa murid juga terang-terangan menampakkan sikap ketidaksukaannya pada Xue Zhan. Saat ini mereka masih bersikap sopan karena Kang Jian adalah gurunya, dia adalah orang yang sangat dihormati di Lembah Abadi.
"Itulah jawaban yang kucari dari kalian, anak-anak nakal. Akhirnya kalian melunak juga. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Kaisar Li saat menunjuk kalian mengerjakan misi ini. Sungguh tidak habis pikir ..."
Sudah berapa kali empat pemuda itu diinterogasi, pada akhirnya mereka menyerah.
Perubahan ekspresi itu disertai suaranya yang perlahan melembut.
"Aku masih tidak percaya bahwa Hantu Penyair telah ditumbangkan. Ini adalah berita yang besar. Angkat kepala kalian."
Xue Zhan, Xian Shen, Jiazhen Yan dan Xiao Rong melakukan perintah itu.
"Ini adalah kabar baik dan juga kabar buruk," ujarnya terpotong. "Xue Zhan, kau boleh tinggal di sini. Dan untuk kalian bertiga, Kang Jian akan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan kalian. Kaisar Li yang menyampaikan sendiri padaku untuk mendisiplinkan kalian semua."
"Hukuman? Hukuman apa?" Xian Shen panik.
"Cambuk 30 kali."
Jawaban enteng itu membuat Xian Shen lemas. "Lalu Xue Zhan? Dia tidak dihukum?"
"Dia akan menerima dua kali lipatnya."
Giliran Xue Zhan kaget. Mulutnya terbuka, Kang Jian segera menyeret tiga pemuda itu keluar dari ruangan untuk memberikan ruangan Tetua ke-45 berbicara pada muridnya itu. Ternyata mereka di bawa ke sini bukan hanya karena permasalahan Nona Wen saja.
Sejenak suasana di sekitar berubah muram, Xue Zhan menatap cukup lama Tetua ke-45 yang masih urung mengeluarkan suaranya.
"Aku melihat ketakutan di matamu," gumam laki-laki itu sangat kecil, seperti sedang berbisik.