Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 80 - Gejolak yang Memburu


Dua hari setelahnya situasi di Lembah Abadi yang tengah dilanda kekacauan menimbulkan kekhawatiran di hati masyarakat, ini berkaitan dengan kaburnya seorang iblis dari perguruan tersebut. Kertas berisi pengumuman pencarian buronan bertebaran di jalan sempit yang dipenuhi oleh pejalan kaki, pedagang serta musafir.


Siapa yang tidak mengenal Tetua ke-45 dari Lembah Abadi, semasa hidupnya beliau adalah sesosok penuh kebajikan dan hidup damai tanpa banyak mencari masalah. Hubungan persahabatan adalah hal yang selalu dinomorsatukan olehnya dan hal itu membuatnya jarang mendapatkan musuh.


Kenyataan tersebut membuat dugaan semakin kuat tertuju pada iblis itu. Tidak ada pelaku yang lebih masuk akal selain dirinya.


Keberadaan Kang Jian sendiri sudah tidak diketahui. Usai pertarungan yang terjadi di panggung eksekusi Lembah Abadi lelaki itu dikatakan menghilang dan mendapatkan luka yang sangat berat.


Ada beberapa rumor mengatakan bahwa lelaki itu kabur ke satu tempat di Lembah Abadi dan mati bunuh diri di sungai deras tempat di mana para pendekar dari Lembah Abadi bunuh diri setelah melakukan perbuatan tak termaafkan dan berakhir mengenaskan.


Kabar itu menjadi topik pembicaraan yang tak ada habisnya terus diperbincangkan. Rumor aneh mulai menyebar luas. Xue Zhan masih dalam pencarian yang melibatkan ratusan pendekar dari Lembah Abadi turun untuk mengejarnya.


Ketidakstabilan tersebut terdengar hingga ke telinga Kaisar. Lelaki bermarga Ziran itu menghentakan tinjunya ke pegangan kursi amat keras. Dalam rapat yang digelar bersama Dewan Sembilan, mereka juga membahas tentang salah seorang yang sangat dihormati di Kekaisaran Diqiu, tak disangka-sangka orang kepercayaan Kaisar Ziran itu terlibat dan pergi tanpa menjelaskan apa yang telah terjadi, dia adalah Kang Jian.


"Aku tidak percaya Kang Jian benar-benar melakukan hal ini."


Lu Baiyi menggelengkan kepala tak percaya, embusan napas kasar terdengar seiring jalannya rapat itu. Hanya dia satu-satunya yang berbicara, karena semua dewan lain tahu seberapa dekat hubungan Ziran Zhao dan Kang Jian sehingga tak berani bicara.


Sebagai seorang yang memberikan kesempatan hidup itu kepada Xue Zhan, ini adalah tamparan memalukan yang membuat namanya hancur di muka Kekaisaran lainnya. Ziran Zhao tidak bisa menolerir lagi, dia berteriak menggema di seluruh penjuru.


"Kirimkan seratus prajurit untuk menangkap iblis itu dan bawa dia ke hadapanku! Kali ini ku pastikan! Aku tak akan berbelas kasih lagi padanya!"


Ujaran penuh kemarahan itu disambut dengan berpencarnya seluruh bawahan untuk menyampaikan perintah Sang Kaisar.


Sembilan Dewan mengangguk, permasalahan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


*


Seorang gadis terbangun dari duduknya, berjalan tergesa-gesa ke halaman kediaman melihat pendekar bergerak begitu banyak tidak seperti biasanya dan merasa telah terjadi sesuatu hingga ini terjadi.


Seorang pelayan wanita mendekat, "Nona, air mandi Anda sudah dihangatkan. Silakan."


"Ah Shu. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa ada masalah di Kekaisaran?" Yin Jiao terlihat cemas tanpa sebab, matanya tak lepas dari rombongan tersebut. Bahkan perguruan dari Gunung Awan datang jauh-jauh menuruni gunung ke pusat Kekaisaran dan berjalan ke dalam istana tergesa-gesa.


"Nona belum tahu? Murid Tuan Kang melakukan tindakan kejahatan yang fatal. Dia membunuh Tetua ke-45 dan kabur begitu saja. Gurunya pun dikabarkan telah bunuh diri di sungai terkutuk Lembah Abadi."


"A-apa?" sontak gadis itu terhenyak, dia mengangkat sedikit pakaiannya dan berlari secepat mungkin ke luar kediaman pribadinya. Mendapati kekacauan telah menyebar begitu cepat.


Terlihat seorang pendekar dari Kekaisaran Feng muncul. Tanpa basa-basi atau perkenalan diri langsung bicara, "Tampaknya Yang Mulia kelabakan menghadapi keputusannya sendiri. Sangat disayangkan iblis itu menorehkan luka teramat dalam untuk kebaikan langka yang diberikan Kaisar bertangan besi itu. Binatang tetaplah binatang, tidak ada yang bisa mengubahnya sifat aslinya menjadi manusia berbudi pekerti luhur."


Dia tersenyum sedikit merunduk. "Aku pergi dulu."


Yin Jiao mengabaikan orang asing itu dan berlari ke arah kakeknya yang berjalan diiringi pengawal dan dua Sembilan Dewan. Serius terlihat di wajah mereka semua.


Tentu ini bukan hanya permasalahan sepele karena Kekaisaran lain mungkin sudah mendengar kabarnya. Xue Zhan adalah ancaman bagi seluruh Kekaisaran dan kini dia telah menunjukkan taringnya. Tidak menutupi kemungkinan dia akan menjadi bencana yang kelak menggemparkan dunia.


"Kakek, apa berita itu benar?"


"Kembalilah ke kamarmu dan jangan biarkan iblis busuk itu membunuhmu."


"Tapi—"


"Tidak ada pembangkangan!"


Yin Jiao menunduk berusaha mengerti, "Baik, Kakek."


Yin Jiao kembali dengan hati yang tidak menentu, wajah cantik nan lembut itu begitu murung terlihat. Dia tanpa sadar berjalan ke sebuah rumah singgah yang hampir tidak terurus, matanya menatap lama ke tempat itu.


Langkahnya menuju ke arah pintu, Yin Jiao masuk ke dalamnya. Debu dan bau kayu menyapa hidungnya seketika, sudah lama tempat ini tidak ditinggali.


Terakhir kali tamu tidak penting sempat tinggal, sekitar tiga tahun yang lalu. Gadis itu tersenyum tipis. Dia mendekat ke arah meja dan tak menyangka dia tidak sendirian di sana.


Seseorang dengan pakaian serba hitam, penutup kepala dan kain tipis yang menutupi hidung hingga dagunya juga sama terkejutnya seperti Yin Jiao. Dia baru saja menggeledah kamar itu dan mendapatkan beberapa barang.


Yin Jiao refleks mengeluarkan pedang dan menyerang orang asing tersebut, sosok tersebut segera menghindar setelah mengambil barang-barangnya dan kabur begitu saja.


Yin Jiao mengejar sosok itu sampai dari arah lain musuh lain datang ke arahnya dan segera mengepung gadis itu.


Situasi kacau di Istana Kekaisaran membuat penjagaan melemah dan mengundang banyak penjahat masuk. Yin Jiao seharusnya sudah tahu itu karena kakeknya selalu memberi peringatan agar dirinya segera mengurung diri di situasi seperti ini.


Namun Yin Jiao melakukan kesalahan dan berakhir terjebak. Ziran Zhao pasti tidak akan memaafkannya.


Kaki Yin Jiao tertahan. Tujuh belas lelaki mengepungnya secara bersamaan, membuat lingkaran di mana dia tidak bisa kabur ke mana pun lagi.


"Tangkap gadis ini secepat mungkin, jangan biarkan dia lari!" seru salah satunya, Yin Jiao bersiaga sambil menerka-nerka, saat dia melihat sebuah pin ukiran besi tengkorak diselipkan di jubah mereka, gadis itu tahu siapa musuh yang dihadapinya saat ini.


Menara Giok Hantu.


Pertarungan terjadi begitu cepat, Yin Jiao merunduk dan mengayunkan pedangnya. Dia berhasil mengenai satu musuh dan mendorongnya hingga mereka terpecah. Ketika berusaha melarikan diri Yin Jiao tertangkap.


"Bawa dia-!"


Lemparan besi tipis tembus ke leher seorang musuh yang baru saja berteriak, lelaki itu membeku dan langsung ambruk meregang nyawa dengan lubang kecil di lehernya. Yin Jiao yang dipegangi tiga pria membulatkan mata. Melihat musuh yang dia kejar tadi berbalik arah dan menyerang orang-orang dari Menara Giok Hantu.


Tidak hanya sampai di sana, sosok itu juga menyelamatkannya dari tiga orang yang memeganginya. Menariknya ke sebelahnya sambil berkata, suara pemuda itu terasa tak asing. "Larilah sebisamu."


"Kau siapa-?" Yin Jiao nampak bingung. Pemuda itu meluruskan sebelah tangannya, memperlihatkan pedang putih tajam yang siap menumbangkan puluhan musuh. Sosok itu melompat dan masuk ke lingkaran musuh, bertarung satu melawan tujuh belas sekaligus tanpa ragu.


Yin Jiao tak berniat meninggalkan orang yang bertarung menyelamatkannya sendirian. Dia menarik senjata, meskipun hari ini harus membangkangi perintah kakeknya untuk tetap di rumah, Yin Jiao tidak peduli.


Baru saja menarik pedang, seseorang menangkapnya dan meletakkan pisau di leher gadis muda itu.