Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 40 - Kelahiran Pedang


Arc II - Kelahiran Pedang: Seleksi Pendekar Menengah


Musim gugur tiba, membuat bukit yang ditumbuhi pepohonan berguguran dengan daun berwarna kuning dan merah di permukaan tertutup sepenuhnya oleh warna-warni, terlihat sangat indah jika dilihat sekilas.


Namun di puncak bukit yang sepi itu tengah terjadi pertarungan sengit yang nyaris merenggut satu nyawa. Di bawah pohon rindang dihiasi taburan daun musim semi di tanah, seorang laki-laki sepuh dan pemuda saling berdiri berhadap-hadapan. Lelaki tua itu menggantungkan pedang miring di sisi tubuhnya, tetesan darah jatuh di atas salah satu daun berwarna kuning gelap. Tatap serius dan berwibawa itu diiringi dengan langkah kaki yang tegap.


Tak sekalipun terlihat takut di wajah tersebut ketika dia sedang menghadapi musuh.


"Kau menyerah?"


"Tidak akan pernah. Sampai jadi bangkai sekalipun!" teriak Xue Zhan yang kini memuntahkan darah, dia melepehkannya sembari menatap lurus ke depan di mana Zhao Xuyang masih berdiri tegap. Tidak sedikitpun terpengaruh dengan serangannya.


Laki-laki itu seribu kali lebih hebat dari yang Xue Zhan bayangkan. Kini dia percaya, Zhao Xuyang bukan hanya mengandalkan keberuntungan untuk membunuh petinggi Taring Merah, tapi juga memiliki kemampuan hebat dalam berpedang yang tidak bisa dibohongi lagi. Dia adalah seorang jagoan terhebat pada masanya.


Xue Zhan menenteng pedangnya, menariknya dari bawah dan langsung dihadapkan oleh tangkisan mutlak dari atas. Zhao Xuyang menghantam tangannya yang menggenggam pedang dengan gagang pedang miliknya. Melakukan tendangan keras, membuat Xue Zhan terpental menabrak batang pohon besar.


Puluhan daun berjatuhan mengikuti arus angin. Keringat mengucur di pelipisnya. Xue Zhan bangkit.


Dia tidak lagi merasakan sakit. Tiga bulan berlatih dengan Zhao Xuyang, Xue Zhan mulai terbiasa dengan luka dan kekalahan mutlak. Level kekuatan mereka juga jauh berbeda. Namun Zhao Xuyang mengajarkan banyak hal yang tidak didapatkannya, meski dari Kang Jian sendiri.


Kemampuan bertarung individualisme, bukan dengan kelompok. Ketika keadaan memaksanya bertarung satu lawan satu tanpa rekan, Zhao Xuyang memaksanya bertahan dengan teknik menakjubkan miliknya. Mengajarkan cara bertahan, menangkis, membaca celah dan hingga ke dasar-dasarnya, cara berdiri. Meski Xue Zhan mendapatkan ilmu itu pertama kali dari Kang Jian, tapi tetap saja, mempelajarinya dua kali memberikan perubahan signifikan terhadap kemahirannya.


"Katakan menyerah, aku akan mengakhiri latihan ini secepatnya. Kau terlihat sangat kelelahan. Ini sudah hampir dua hari kita bertarung tanpa henti. Aku mungkin masih sanggup, tapi kau tidak."


"Menyerah bukan pilihanku!"


Xue Zhan melepaskan jurus terkuat yang dia miliki, "Kitab Phoenix Surgawi - Napas Pemburu!"


Waktu seakan berjalan lambat di mata Xue Zhan, mata merah darah menangkap sosok Zhao Xuyang juga bergerak lamban. Dia melepaskan beberapa senjata kecil. Berlari maju ke arah Zhao Xuyang, tiga detik yang dimilikinya digunakan untuk menyerang lelaki itu dari balik punggung.


Mata Xue Zhan terbuka lebar.


Bahkan ketika kecepatannya diperlambat Zhao Xuyang masih bisa menangkisnya dengan tangan kosong.


"Bukan hanya kecepatan, tapi kemampuan membaca situasi adalah hal yang penting. Kau tahu Xue Zhan, aku melihat apa yang kau lihat saat ini dan di pertarungan-pertarungan berikutnya. Kapan kau menyerang, celah yang akan kau ambil, juga teknik apa yang akan kau gunakan. Aku membacanya dari matamu."


Saat itu Xue Zhan hanya terdiam.


"Jika kau tidak mampu mengenaiku lebih baik lupakan saja keinginan untuk mengikuti Ujian Pendekar Menengah itu. Kau hanya akan mati konyol."


Zhao Xuyang memasukkan kembali pedangnya dengan kecewa.


Xue Zhan berbicara di belakang, setengah berbisik.


"Kau hanya melihat pemandangan yang kulihat bukan? Tapi tidak dengan insting yang menggerakkanku."


Zhao Xuyang jelas-jelas masih menatap ke arah Xue Zhan dan mewanti-wanti segala jenis serangan dari depan. Namun sebuah cakram besi yang terakhir digunakan Xue Zhan tiga bulan lalu muncul di balik selembar daun yang jatuh dari pohon. Tertutup olehnya dan menyambar ke arah muka Zhao Xuyang.


Dia mencoba mencerna apa yang terjadi.


Sebelum menyerang dengan teknik terhebatnya Xue Zhan sempat melakukan sesuatu yang dilewatkannya karena menganggapnya sepele, Zhao Xuyang fokus dengan serangan terkuat yang akan dikeluarkan Xue Zhan dan prediksinya benar. Anak itu menggunakannya.


Tapi yang tidak disangka, serangan sebesar itu hanya digunakan sebagai pengecoh, tidak lebih. Xue Zhan malah menggunakan serangan kecil, mencari waktu yang tepat dan melemparkannya saat satu daun jatuh. Membuat cakram itu tak nampak tertutupi oleh daun yang jatuh.


Cukup sampai di situ Zhao Xuyang terkesima.


"Hah ... Kau memang selalu membuatku terkejut, Xue Zhan." Dia menyeka pipinya, telah lama sejak dia bertarung dan tidak pernah mendapatkan segores pun luka.


"Ikutlah Ujian Pendekar Menengah itu, jika memang itu yang kau inginkan."


"Boleh aku meminta satu hal?" Xue Zhan bangun dan menghadap pada lelaki itu.


"Katakan."


"Aku masih ingin belajar banyak hal dari Kakek Zhao, tentu saja aku akan merahasiakannya dari Guru. Aku juga ingin berterima kasih Anda sudah membantu dan membimbingku sampai sejauh ini. Aku tidak akan melupakannya," tuturnya. Zhao Xuyang menepuk sebelah pundaknya.


"Kau masih ingin menjadi seorang pahlawan?"


Xue Zhan mengangguk mantap.


"Kalau begitu ingatlah pesanku. Jangan membuang orang-orang di sekitarmu apa pun yang terjadi. Bahkan sampai melupakan siapa dirimu sendiri. Jika kau tidak bisa menolong diri sendiri, bagaimana kau bisa mengulurkan tangan untuk menyelamatkan orang lain?"


Zhao Xuyang menyuruh Xue Zhan mengangkat pedangnya, "Aku sangat berharap ini adalah Kelahiran Pedang yang akan menyelamatkan manusia dari kehancuran berikutnya. Aku menaruh harapan banyak kepadamu, Xue Zhan."


Tatap matanya seolah sedang mengatakan perpisahan. Tiga bulan mengenal Zhao Xuyang, Xue Zhan mulai mengetahui banyak soal lelaki itu. Dia adalah orang yang humoris, sangat supel dan memiliki sisi bijaksana sendiri. Meski begitu kemampuannya berpedang tidak pernah tumpul dimakan usia. Itu membuat Xue Zhan menaruh kagum terhadapnya.


"Apa setelah Ujian Pendekar Menengah selesai aku masih bisa berlatih denganmu?"


Terdengar tawa pelan. "Masa jabatan ku sebagai Dewan Sembilan telah habis. Aku harus pensiun."


"Tapi-"


"Lain kali kita bertemu. Aku harap aku bisa melihatmu tumbuh lebih hebat lagi."


Xue Zhan terdiam memaku. Melihat Zhao Xuyang pergi begitu saja, dia berusaha mengejar. Akan tetapi lelaki itu lebih dulu lenyap di dalam hutan belantara, rimbanya hewan buas. Ketika Xue Zhan mencari dia tidak pernah lagi menemukan keberadaan Zhao Xuyang.


*


Saat ini Author sedang mumet, mau konsisten nulis 2 bab per hari ada aja kendala


🤦🏻‍♀️