Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 231 - Cahaya Pertama dan Dewi Pelindung II


Cahaya Pertama meluncurkan serangan bertubi-tubi dengan memindahkan batu-batu besar, mencoba melumpuhkan Li Jia Xing dengan serbuan yang mengerikan.


Namun, Li Jia Xing dengan kekuatan pelindung anginnya mampu menghindari dan melawan setiap serangan dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa.


Li Jia Xing menggerakkan tangannya, dan angin berputar di sekelilingnya.


Dalam sekejap, putaran angin itu membentuk sebuah tornado yang membelah serangan Cahaya Pertama. Angin memukul dan memantul dari permukaan batu, menciptakan lonjakan kekuatan yang menghantam kembali ke arah Cahaya Pertama.


Cahaya Pertama tidak terpengaruh akan serangan wanita itu sama sekali. Dia menghindari dengan lincah dan menggunakan kekuatan perpindahan untuk berpindah posisi, mengelak dari serangan angin yang mematikan. Dia membalas dengan serangan balik yang cepat, memindahkan batu-batu yang ada di sekitarnya dengan kekuatan yang lebih besar.


Saling serang dan bertahan terus berlanjut, menghasilkan ledakan dan gempa yang mengguncangkan tanah di sekitar mereka. Debu dan puing-puing beterbangan di udara, menciptakan suasana yang kacau dan penuh dengan debu serta puing-puing berserakan.


Keduanya melampaui batas-batas kekuatan yang manusiawi, mempertaruhkan segalanya untuk mencapai tujuan mereka. Xiao Han menginginkan Batu Angin untuk menyempurnakan rencana mereka dan Li Jia Xing mempertahankan Kekaisaran Feng dan Batu Angin milik tanah mereka.


Matahari mulai naik ke atas kepala sejak pertarungan keduanya berlangsung, meninggalkan langit yang berwarna cerah berkabut yang dihiasi oleh cahaya merah yang misterius. memantul di atas genangan darah yang tercecer di medan pertempuran di bawah kaki mereka,


"Kau benar-benar cari mati. Manusia tidak berguna. Mengundang malapetaka untuk menghancurkan semua orang, sebenarnya berapa banyak orang yang menyakitimu sehingga kau menghancurkan hidup jutaan orang?!" pekik Li Jia Xing kesal. Kesabarannya telah habis detik itu.


"Aku tidak peduli siapa yang mati atau pun terluka. Aku hanya mencapai tujuanku. Kau juga memiliki tujuan sendiri, aku tidak menyalahkannya. Hanya saja kita saling bersinggungan."


Detik selanjutnya mereka terus bertempur dengan kuat,


Pertempuran mereka menjadi tontonan yang menakjubkan sekaligus menegangkan. Pertarungan itu akan menjadi sejarah bagi Kekaisaran Feng di saat Dewi Pelindung mempertaruhkan nyawa demi semua rakyatnya.


Dan di tengah kekacauan pertempuran ini, Batu Angin yang menjadi pusat perseteruan tetap menjadi target utama. Keduanya memperebutkan Batu Angin itu, memperjuangkan tujuan mereka dengan segala cara yang mereka miliki.


Pertempuran antara Cahaya Pertama dan Li Jia Xing berlangsung dengan kecepatan dan daya serangan yang terus meningkat. Terus menghancurkan kota hingga hampir mencelakai orang-orang di bawah sana yang ikut berperang melawan kelompok topeng rubah berjumlah ribuan.


Dalam suatu serangan yang tak terduga, Cahaya Pertama berhasil menghantam Li Jia Xing dengan kekuatan yang dahsyat.


Tubuh Kaisar Li terlempar ke udara dan terjatuh dengan kecepatan tinggi, menghantam tanah yang retak dalam.


Tanah gemetar di bawah dampak benturan yang kuat, menciptakan kawah besar di sekitar tubuh Li Jia Xing. Debu dan puing-puing beterbangan, menutupi pandangan nya sesaat akibat kabut tebal.


Beberapa saat terjadi keheningan, ketika semua orang menahan napas dan menunggu untuk melihat apa yang terjadi pada Li Jia Xing. Meskipun terkena serangan yang mematikan, Li Jia Xing memilih bangkit dari tanah, berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung, tetapi semangatnya tak menciut walau hanya seujung kuku. Dia mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Darah mulai mengalir dari luka-luka di tubuhnya, Li Jia Xing menatap Cahaya Pertama dengan mata penuh kebencian, dan masih siap melanjutkan pertarungan.


Pertempuran belum berakhir.


Walaupun terluka parah, Li Jia Xing tetap berdiri tegap dan tanpa kehilangan keseimbangan, mempertahankan kehormatannya sebagai Kaisar dan Batu Angin sebagai salah satu dari Empat Batu Elemen Penguasa Bumi yang masih bisa diselamatkan. dia bersiap untuk melanjutkan pertarungan dengan segala kekuatan yang tersisa.


Wen Ning yang dilanda dalam kepanikan, merasa seolah-olah dunia sekitarnya berhenti sejenak saat dia merasakan ada sosok yang menangkapnya. dia memalingkan kepalanya dan melihat seorang wanita dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Sosok itu adalah Xue Yan, seorang pendekar wanita yang telah lama mengabdikan dirinya dalam melawan kejahatan dan sekaligus pengikut setia Ayahnya di perguruan Alam Suci Surgawi, Wen Ning bernapas lega. Dia akhirnya menemukan Wen Ning di sana.


"Diam," bisik Xue Yan, memastikan bahwa Wen Ning tidak membuat kebisingan yang dapat mengungkap keberadaan mereka.


Wen Ning menelan ludah, matanya masih penuh dengan ketakutan, tetapi


perlahan-lahan dia menenangkan diri. Mencoba mengerti bahwa dalam momen-momen seperti ini, dia harus tetap tenang dan fokus.


"Jangan takut. Aku di sini bersamamu. Kita harus tetap bersembunyi dan menunggu bala bantuan untuk mengeluarkan mu dsri sini. Bertindak sendirian sangat berbahaya untuk sekarang."


Wen Ning mengangguk setuju


Keduanya tetap diam, mengawasi pertempuran yang berkecamuk di depan mata mereka dan berharap dapat menemukan celah dan kesempatan untuk bergerak maju


Li Jia Xing, dengan kekuatan angin yang telah sejak lahir dimilikinya terus mengalirkan kekuatan yang mulai melingkupi satu kota, membentuk pusaran energi yang bergerak di langit-langit kekaisaran dengan bebas.


Di sekitar mereka angin menjadi semakin ganas, membangkitkan topan yang menerjang dari langit, menggulung awan hitam yang perlahan-lahan memenuhi langit. Petir menyambar dengan gemuruh menggelegar, menggetarkan bumi di bawah mereka. Kekuatan alam yang dahsyat itu berpadu dengan kekuatan Li Jia Xing.


Tubuh Li Jia Xing bersinar dengan cahaya hijau, dan matanya yang sejernih kristal bersinar di tengah Pertempuran. Aura hijau memancar menandakan bahwa kekuatan alam telah menyatu dengan dirinya secara sempurna.


Dengan gerakan yang gesit, Li Jia Xing meluncur maju, menghadapi serangan Cahaya Pertama di atas udara dengan menangkisnya menggunakan serangan angin yang mampu menghancurkan bangunan dan membelah tanah.


Cahaya Pertama sendiri terkejut oleh perubahan energi kekuatan Dewi Angin tersebut. Pertarungan mereka menjadi semakin sengit, dengan serangan bertubi-tubi dan pertahanan yang kian kuat. Gempuran angin melawan perpindahan batu dan benda menciptakan pertarungan yang tiada hentinya memenuhi langit kekaisaran.


Li Jia Xing mengimbangi kekuatan Cahaya Pertama dengan kekuatan alam yang dimilikinya. Tembakan cahaya dari Cahaya Pertama menyerbu Li Jia Xing yang berputar mengelilingi laki-laki itu untuk menjangkaunya, dia berhasil menghindar dan dalam satu serangan kejutan tiba-tiba wanita itu sudah berada di sisi belakangnya dan menghantamkan pukulan angin yang begitu keras.


Musuh termundur beberapa saat dan kembali berfokus pada jurus selanjutnya yang akan dia keluarkan. Li Jia Xing mengambil sikap waspada.


Di tengah panasnya pertempuran, Li Jia Xing dan Cahaya Pertama menjadi pusat perhatian semua orang yang menyaksikannya. Para menteri dan petinggi Kekaisaran menatap pias ke atas Langit. setelah kematian Kaisar Kekaisaran Guang, mungkin Kekaisaran Feng akan kehilangan pemimpin juga.


Sekali lagi dengan kekuatan angin yang bergelora di telapak tangan Li Jia Xing, dia melesat maju menuju Cahaya Pertama dengan kecepatan yang melampaui cahaya sendiri.


Saat jarak antara mereka semakin dekat, kekuatan angin yang memenuhi telapak tangan Li Jia Xing semakin melonjak. Kilatan hijau menyala memancar dari telapak tangan, kemurnian dan kekuatan angin yang berada di dalamnya sangat berbeda dari jenis kekuatan mana pun.


Musuh mundur, Li Jia Xing mengejar Cahaya Pertama, bersiap untuk melancarkan serangan mematikan. Cahaya Pertama melihat serangan yang menghampirinya.


telapak tangan Li Jia Xing mengenai topeng di wajah Cahaya Pertama. Dalam sekejap, angin mengentak wajahnya dengan kekuatan yang dahsyat, menciptakan ledakan yang menyilaukan.


Namun, kekuatan Cahaya Pertama tidak bisa dianggap enteng. Dia melancarkan serangan dengan segenap tenaganya, mencoba menghadang serbuan angin yang mengenai wajahnya.


Dalam sekejap, kekuatan bertabrakan, menciptakan ledakan yang mengguncang langit dan bumi. Gelombang kejut menerpa sekitarnya, memancarkan kekuatan yang begitu kuat sehingga menggetarkan tanah di bawah mereka.


Li Jia Xing berusaha dengan segenap kekuatannya untuk menekan Cahaya Pertama, memaksanya mundur dan mengalah.


Namun, pertempuran mereka belum berakhir. Cahaya Pertama, meskipun terdesak, tetap mempertahankan kekuatannya. Pertarungan yang intens dan sengit berlanjut, menciptakan pemandangan yang menakjubkan di tengah kekacauan pertempuran yang melanda Kekaisaran Feng.