
Mata pedang bersinar terang ketika cahaya matahari pagi terpantul di lekuk tajamnya yang indah. Kekaisaran Diqiu tampak tenang seperti biasanya, suara kicauan burung dan aroma pepohonan yang menyejukkan hati selalu menjadi temannya saat berlatih sendirian di tepi bukit.
Seorang pemuda berdiri di atas satu monumen Kekaisaran Diqiu. Mempraktekkan gerakan yang cukup rumit, dengan hanya berpijak menggunakan satu kaki di atas ujung kepala patung raksasa tersebut.
Patung tersebut adalah salah satu patung sosok Pedang Suci terkenal di Kekaisaran Diqiu, yang menjadi lambang keberanian dan kemakmuran. Patung itu bisa menyamai bangunan tiga tingkat, berdiri menantang langit nyaris menyentuh awan serta pedang di atas kepalanya mengacung gagah berani. Tampak begitu indah sekaligus mengerikan, memiliki aura mistis yang amat kuat.
Jarang ada yang datang ke tempat itu selain penjaga, Xue Zhan melompat dari ketinggian. Berguling saat kakinya hampir menyentuh tanah, menghindari cedera di kaki. Kemudian berlari masuk ke dalam hutan.
Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya. Matanya bersinar merah, menatap lurus ke depan sambil melepaskan sepuluh senjata tipis berupa cakram tanpa melihat ke arah serangannya. Membayangkan saat ini dirinya sedang mengejar seorang musuh serta puluhan pengawal dan harus membunuh mereka di saat bersamaan. Xue Zhan menghentikan tapak kakinya hingga kepulan debu berterbangan.
Tubuhnya berputar di poros yang nyaris sempurna, menebaskan pedang dengan sudut paling efektif untuk membunuh langsung di leher. Tetesan keringat jatuh ke atas tanah, dia tetap berada dalam posisi itu dalam lima detik. Lalu tampak pemuda itu menghirup udara panjang berulang kali. Napasnya tersengal-sengal.
Xue Zhan melihat kanan kiri di mana sepuluh patung kayu buatan dengan satu titik merah dari kertas masing-masing tertancap oleh cakram miliknya. Delapan tepat sasaran, dua lainnya meleset.
Anggap saja Xue Zhan sedang mengincar satu orang dan sepuluh musuh lainnya mencoba menghentikannya.
Jika di medan perang sebenarnya dua musuh yang tersisa itu pasti akan menyerang Xue Zhan balik. Itu bisa menjadi kesalahan fatal. Xue Zhan harus mengulangi latihanya sekali lagi. Walaupun gerakan berputar dan menyerangnya sudah cukup bagus. Namun ketepatan lemparannya masih di bawah rata-rata.
Kaki Xue Zhan mulai kram.
Kang Jian sudah puluhan kali memperingatinya agar tidak terlalu berlebihan dalam latihan. Pendekar biasa saja bisa kehilangan kesadaran dengan latihan tujuh jam setiap hari tanpa henti. Apalagi sampai sepuluh jam. Namun Xue Zhan memiliki kemampuan spesial, sebagian dari tubuhnya terdapat darah iblis yang mengalir di dalamnya. Dia memiliki ketahanan lebih dari pada manusia biasa.
Berpikir berlatih sepuluh jam setiap hari tanpa henti masih kurang, Xue Zhan merasa dia harus melampauinya dan menetapkan ambang batas baru.
"Besok aku harus berlatih dua belas jam perhari. Ujian Pendekar Menengah tersisa tiga bulan lagi, sial. Guru bahkan mengatakan aku belum mencapai lima lingkaran!" Dia mulai frustrasi.
"Apa yang akan dikatakan Kaisar Li nanti? Kemarin dia bilang akan hadir di upacara penyambutan peserta, dengan keadaan diriku yang begitu menyedihkan begini. Guru pasti malu. Hah ... Kesal sekali."
Xue Zhan menengadah menatap langit.
Otot-otot di seluruh tubuhnya mulai terlihat karena latihan tanpa henti yang dilakukannya selama tiga bulan, tinggi badannya bertambah lebih cepat dari sebelumnya, beberapa kali Xue Zhan tidak tidur hanya demi menambah waktu berlatih. Dia tidak bisa tertinggal dari Jiazhen Yan apa pun yang terjadi.
Sedangkan temannya itu selama hampir dua bulan ini tidak menampakkan diri. Ada satu misi yang memaksa Jiazhen Yan pergi ke luar kota. Ada yang bilang sahabatnya itu bertambah semakin kuat dalam misinya dan juga musuh yang dihadapi Jiazhen Yan bukanlah keroco-keroco. Dia menumbangkan salah satu yang terkuat dan menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Membuat Xue Zhan begitu iri, merasa terpacu untuk semakin kuat.
Sementara Xue Zhan sendiri menghabiskan delapan puluh persen waktunya untuk latihan. Tidak ada panggilan misi, itu membuatnya memiliki waktu banyak untuk fokus dengan mengembangkan kekuatan tubuh.
Xue Zhan menatap pedang di tangannya. Pedang itu memiliki sebuah nama yang diukir kecil di tepi besinya. Phoenix, selaras dengan bentuk sebuah burung di gagang pedang tersebut meski tidak begitu terlihat jika hanya dilihat sekilas.
"Siapa sebenarnya pemilik asli pedang ini? Apakah dia sudah tiada? Sayang sekali, pedang ini terlalu bagus dan seakan menyatu dengan tanganku. Dia menolak pedang sebagus ini?"
Untuk sesaat Xue Zhan mengangkat pedang itu di atasnya, sebelah tangannya dia lipat di belakang kepala sebagai alas tidur.
Sudah menjadi kebiasaannya menetap, berlatih, dan tidur di hutan. Rumah Kang Jian telah lama tidak dihuni, Gurunya juga sibuk dengan persiapan Ujian Pendekar Menengah. Membuatnya semakin merasa kesepian seharian di rumah dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya di hutan.
Banyak orang yang membencinya, Xue Zhan tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa iblis sepertinya masih menjadi momok menakutkan. Sesaat dia menyadari, perjalanannya masih begitu jauh. Dia bangkit dan berdiri di tepi bebatuan yang langsung menghadap ke kota luas di bawah sana. Matanya menatap jauh ke sebuah patung raksasa yang berdiri di pinggiran bukit. Cahaya matahari pagi membuat sosok tersebut begitu terang, Xue Zhan melihat sosok pahlawan dari patung tersebut. Pahlawan yang sesungguhnya.
"... Apa aku juga bisa sampai di titik itu?"
"Anda siapa?" tanyanya dengan sopan.
"Huh, hari begini masih belum kenal denganku?"
Xue Zhan yakin dia tidak melewatkan siapa pun, dia tidak pernah bertemu orang seperti lelaki tua itu.
"Tapi aku benar-benar tidak tahu."
"Aku penunggu pohon di sini!"
Xue Zhan merinding luar biasa.
"Ha-hantu?! Hiiii!" Pemuda itu bergidik ketakutan, hingga terdengar gelak tawa dari sesepuh tersebut. Tongkat di tangannya dia letakkan di sisi tubuhnya yang ikut duduk di sebelah Xue Zhan.
"Apa yang kau pikirkan ketika melihat patung itu?"
Xue Zhan melepaskan pandangannya dari lelaki itu, beralih ke patung.
"Sangat keren."
"Aku dulu juga berpikir demikian, saat masih kanak-kanak. Menjadi pahlawan adalah suatu kebanggaan. Aku ingin menjadi seperti itu suatu saat."
Sejenak terdengar lirih dalam kalimatnya. "Tapi itu hanyalah keinginan dari seorang anak yang belum mengenal dunia yang sebenarnya."
"Apa maksudnya? Apa tidak boleh menjadi Pahlawan?"
"Menjadi pahlawan bukan hanya sekedar menjadi idola, sosok kebanggaan, atau bahkan mendapatkan pujian." Dia menjeda, menatap dalam-dalam mata iblis di sebelahnya yang juga melakukan hal yang sama.
"Menjadi pahlawan artinya kau siap menodai kedua tanganmu dengan darah, musuh atau rekanmu. Demi tugas, kewajiban dan pengabdian. Menjadi pahlawan artinya kau siap mengubah dunia indah ini menjadi medan tempur. Melupakan keluarga, cinta, dan rumahmu. Sepenuhnya untuk Kekaisaran."
"Apa Anda pernah merasakannya? Maksudku ... Menjadi pahlawan yang kau maksud?"
Xue Zhan agak ragu bertanya.
"Sosok yang kau lihat di patung itu, adalah diriku di masa muda."
Xue Zhan terkejut, tak bisa mengeluarkan kata-kata, napasnya tersendat.
"A-anda masih hidup?!"
"Kau berpikir patung itu berumur tua? Tidak. Hahaha. Setelah perang sepuluh tahun yang lalu, namaku terkenal di seluruh penjuru sebagai seorang Penyelamat. Tapi pada kenyataannya, aku tidak mampu menolong diriku sendiri."
Dia tersenyum penuh arti pada Xue Zhan, seakan telah melewati ribuan kejadian menyakitkan. Bahunya tampak tegar, wajahnya pias.
"Mau mendengarkan ceritaku?"