Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 179 - Sebuah Konsekuensi


Xiang Yi Bai membuka matanya dengan perlahan setelah menyelesaikan meditasi selama 12 jam. Tiba-tiba dia melihat Xue Zhan masuk ke dalam kamar melalui jendela dengan hati-hati. Tahu muridnya tidak pulang semalam dan mulai mengendus bau-bau masalah dari murid bodohnya. Langsung saja Xiang Yi Bai memasang muka garang. Xue Zhan yang ketahuan langsung menciut dan mengembangkan senyum bodoh seraya menggaruk belakang lehernya.


"Pa-pagi yang cerah, Guru, hehe."


"Cerah gigimu," balas Xiang Yi Bai kesal. Alisnya bertaut dan wajahnya seperti singa yang akan mengaum. "Tidak kau kau mendengar kebisingan di luar sana. Apa yang terjadi?"


Xue Zhan segera mengambil posisi bersila di depan gurunya dan memberi hormat. Tidak menjawab pertanyaan hingga Xiang Yi Bai mengulangnya kembali.


"Apa yang kau lakukan semalaman?" tanya Xiang Yi Bai menginterogasi.


Xue Zhan menggelengkan kepala berusaha untuk berbohong, "Tidak ada yang aneh Guru, aku hanya berjalan-jalan di sekitar perguruan."


Xiang Yi Bai terlihat curiga hingga Xue Zhan yang tidak bisa mengelak akhirnya menjelaskan bahwa semalam Perguruan Naga Emas diserang. Dia bertarung dengan seorang pendekar yang merupakan satu dari bagian Taring Merah. Xiang Yi Bai bukan terkejut akan pertempuran malam itu karena sudah mencium bau-bau pertumpahan darah, hanya saja dia tidak menyangka Xue Zhan ikut campur ke dalamnya.


Xiang Yi Bai melihat Xue Zhan dengan tatapan tajam. "Kau tahu betapa beresikonya ikut campur urusan mereka, dan kau tetap melakukannya? Kau lupa kita harus fokus dengan misi lain, kau lupa tentang Yue Linghe? Bagaimana jika ada yang mengetahui pergerakan kita dan akhirnya kita kehilangan jejaknya?" tanya Xiang Yi Bai dengan suara yang mulai naik.


"Aku tidak bisa membiarkan orang tak berdosa di perguruan itu mati begitu saja," jawab Xue Zhan.


"Kau seharusnya mendengar perintah ku tapi yang selalu kau lakukan adalah melanggarnya. Apa gunanya aku menjadi Guru kalau kerjamu selalu membangkangi Gurumu?" tanya Xiang Yi Bai dengan suara yang masih terdengar marah.


Xue Zhan merasa bersalah dengan Gurunya. Dia sadar kecerobohannya selalu membuat Xiang Yi Bai kesal. Dia tahu bahwa Xiang Yi Bai tidak suka dengan pembangkangan, tetapi Xue Zhan tidak bisa membiarkan orang tak berdosa terbunuh di sana sedangkan dia hanya diam saja. Apalagi sejak semalam Xue Zhan terus mencari tahu tentang kedua pendekar itu dan memastikan bahwa mereka adalah orang yang sama dengan yang menyerangnya di Ujian Pendekar Menengah.


"Aku tahu aku salah," kata Xue Zhan akhirnya, "tetapi aku tetap tidak bisa membiarkan mereka terbunuh begitu saja, Guru. Mohon maafkan keteledoranku."


Xiang Yi Bai memijit kepalanya dengan pusing ketika Xue Zhan menyelesaikan ceritanya. dia tidak habis pikir mengapa muridnya selalu ikut campur dalam masalah yang bukan urusannya. Xiang Yi Bai tahu betul bahwa Xue Zhan selalu ingin menolong orang lain, bahkan dalam situasi yang berbahaya sekalipun. Namun dia juga khawatir dengan terbongkarnya identitas mereka berdua. Ini sangat berisiko untuk perjalanan misi keduanya nanti.


"Kau selalu saja ikut campur dalam masalah yang bukan urusanmu, murid idiot," omel Xiang Yi Bai. Sepertinya dia akan bertambah tua lebih cepat dengan menghadapi murid seperti Xue Zhan terus.


"Aku minta maaf, Guru."


"Ada lagi yang kau sembunyikan? Sebelum ku jungkir balik satu penginapan ini. Katakan dengan jujur."


Xue Zhan menahan napas, rasa takut menjalar menggerayangi badannya ketika melihat wajah Xiang Yi Bai kembali dalam mode singa ganas. Dia terbata-bata ketika mengeluarkan suara, "A-ada, Guru, t-tapi janji jangan marah. Ya?"


"Hmm. Keluarkan dulu barangnya."


Xue Zhan menarik napas berulang kali, lagipula Xiang Yi Bai sudah berjanji tak akan memarahinya. Dia mengeluarkan Permata Giok Putih dari balik lipatan kain lusuh dan di detik itu juga Xiang Yi Bai marah tak kira-kira.


"Sudah kuduga ini pasti akan terjadi! Entah apa yang merasuki otakmu yang hanya sebutir debu itu sehingga membawa Permata Giok Putih itu ke sini padahal jelas-jelas kau tahu bahayanya barang itu jika sampai jatuh ke tangan yang salah tapi kau malah menambah beban masalah tidak henti-hentinya sampai rasanya ingin sekali kupatahkan tanganmu supaya berhenti melakukan hal-hal bodoh yang akan merugikanmu!" teriak Xiang Yi Bai tanpa jeda.


Xue Zhan terkejut.


"Membawa pusaka langit sama dengan menempatkan nyawamu dalam bahaya! Kau sudah lihat apa yang kualami sebelumnya, bukan? Aku menolong orang lain, membawa benda pusaka milik orang lain dan mati menyedihkan seperti seorang penjahat. Padahal tujuanku hanya untuk melindungi tapi seisi dunia memusuhiku seperti penjahat. Letakkan benda itu ke tempat semula, Xue Zhan!"


Xue Zhan diam bergeming. Menatap dalam-dalam mata Gurunya yang masih terbuka lebar. Dia mencari sesuatu di dalam tatapan mata itu. Xiang Yi Bai masih terluka dengan apa yang terjadi di masa lalu dan tak ingin muridnya mengalami nasib yang sama.


Xue Zhan paham dan tersenyum kecil. "Terima kasih karena Guru masih mengkhawatirkanku."


Xue Zhan menunduk dan berusaha menjelaskan, "Guru, aku menemukan Permata Giok Putih di lokasi pertempuran dan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Hanya ada satu orang yang selamat dan dia hanyalah seorang bayi kecil, aku justru tahu bahaya apa yang akan dideritanya jika membawa benda pusaka ini dan memutuskan membawanya bersamaku. Aku hanya khawatir kelak dia tewas karena melindungi pusaka ini dan benda ini akan dicuri dan dipakai untuk tujuan yang tidak baik."


Xiang Yi Bai melemparkan pandangan ke arah jendela. Terlihat masih marah dengan Xue Zhan. "Buang ke mana pun, sekalian buang dirimu ke laut. Terkadang kau lebih berguna menjadi santapan ikan duyung daripada menjadi muridku."


Xue Zhan tertawa kecil.


"Aih, minta maaf rupanya tidak cukup." Xue Zhan menggerutu, dia mengeluarkan dua kendi arak kecil yang dibuat dengan keramik putih. Dia membelinya lumayan mahal di pasar. "Aku membawa ini untuk Guru."


Setelahnya Xiang Yi Bai menoleh. "Mau menyogokku?"


"Kurang lebih, lebih kurang. Haha." tawa Xue Zhan langsung mendapatkan jitakan. Dia mengelus-elus kepalanya yang panas. Tangan Xiang Yi Bai sudah seperti rotan dengan lima jari, pukulannya terasa sakit sampai rasanya otaknya ikut bergeser.


"Lain kali kulihat kau membawa pusaka lainnya bersamamu ..."


"Tapi bukannya Guru juga membawa pusaka langit? Kenapa aku tidak boleh?"


Xiang Yi Bai yang perkataannya terpotong menghembuskan napas berat.


"Kau belum bisa melindungi pusaka itu, Xue Zhan." Dia melanjutkan tenang sembari meminum arak. "Aku sering kali menemui situasi sulit karena benda-benda ini. Kau mempunyai banyak tujuan di depan, jangan karena melindungi pusaka ini kau kehilangan kesempatan untuk melakukan semua itu dan kembali menyesali kematianmu."


Xue Zhan mengangguk paham.


"Aku akan mengingat itu baik-baik, Guru."


Hua Lian melangkah masuk ke ruangan dengan terburu-buru dan kegelisahan terlihat jelas di wajahnya. "Di luar sangat ramai," ujarnya cepat, "Para prajurit kota turun tangan mencari pelaku pembunuhan di Perguruan Naga Emas. Terjadi pembantaian semalam."


Xiang Yi Bai mengangkat alisnya, tidak terkejut dengan berita itu. "Sudah kuduga ini akan terjadi," gumamnya.


Xue Zhan menimbrungi, "Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Hua Lian menghela napas panjang. "Kita harus segera pergi sebelum penjagaan di sekitar sini semakin ketat dan sulit dilewati," katanya sambil mengemas barang secepatnya.