Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 91 - Kilas Balik


"Kak Zhan ... Kak Zhan! Kau di mana?" tangis seorang gadis kecil pecah di dalam kamar, begitu bising memenuhi telinga.


Pemuda yang tadinya terbaring tiba-tiba melonjak bangun, napasnya ditarik begitu kuat hingga terdengar jelas. Xue Zhan memegangi tenggorokannya sendiri sambil melotot.


"Mei'er? Ini hanya bunga mimpi. Lagipula aku sudah mati."


Sejenak matanya teralih pada ruang tempatnya berada.


Ini kamarnya.


Dia menunduk melihat tubuhnya sendiri dan seketika terkejut, tubuhnya masih seperti terakhir kali saat jatuh dari jurang—bahkan jauh lebih hancur, darah membasahi sekujur tubuh dan penglihatannya tak dapat melihat dengan jelas.


"Kak Zhan! Selamat aku!"


"Mei'er!" teriak pemuda itu cukup keras, suara gadis kecil itu mulai menghilang. Ketika Xue Zhan menggerakkan tubuh semua rasa sakit membuatnya terjatuh kesakitan, dia bangkit dan mendobrak pintu kamar adiknya.


Lalu melihat seorang gadis kecil memeluk boneka jerami masih tertidur, dia selalu bermimpi buruk dan memanggil Xue Zhan dalam mimpinya. Xue Zhan berhenti di daun pintu, matanya sayu menatap sosok kecil yang amat sangat dirindukannya, terkadang gadis periang itu hadir di dalam mimpi atau tiba-tiba terlintas saat dirinya terdiam sendirian.


"Kak Zhan ..."


Tangis serak itu melemah, Xue Zhan berjongkok di samping ranjang Lin Yu Mei dan mengelus pelan pucuk kepala gadis itu. Sama seperti tiga tahun yang lalu ketika gadis itu menangis dan memanggil namanya tiap malam. Xue Zhan tak pernah tahu apa yang membuat Lin Yu Mei selalu bermimpi buruk, dia hanya bisa menenangkan anak itu sambil mengelus kepalanya.


"Aku di sini, Mei'er, tidak perlu takut. Aku tak akan membiarkan siapa pun melukaimu," bisiknya dengan lembut. "Aku akan segera bertemu denganmu. Tapi—" Tenggorokannya tercekat, dia menggeleng, "aku tidak tahu apakah aku masih punya muka untuk menghadapimu dan kakek. Aku adalah penyebab semua kesialan, siapa pun yang menerimaku selalu berakhir dalam petaka."


Sejenak hening melanda hingga akhirnya dia kembali bersuara.


"Kalian, guruku dan teman-temanku, aku hanya bisa mendatangkan musibah. Aku adalah pembawa sial seperti yang orang-orang lain katakan terhadapku. Aku sama sekali tidak berguna, aku sudah seharusnya mati sejak aku dilahirkan."


Xue Zhan memupuk semakin banyak kebencian terhadap dirinya sendiri. Sebelum bertemu Kang Jian kebencian itu memang telah bersemayam di dalam hatinya dan kini dia telah mati membawa beribu kebencian. Xue Zhan punya seribu alasan untuk membenci dirinya tapi tak memiliki satu pun alasan untuk menyayangi dirinya sendiri.


"Tidak ... Tidak!"


Lin Yu Mei semakin tenggelam dalam mimpi buruknya.


Berulang kali Lin Yu Mei menggerakkan kepala, menendang, dan menjerit. Xue Zhan berusaha membangunkannya tapi sama sekali tidak berhasil.


"Apa yang sebenarnya kau mimpikan selama ini, Mei'er? Kau tidak pernah mau mengatakannya padaku." Dia bersuara lemah, setiap kali Xue Zhan menanyakan pada Lin Yu Mei adiknya menggeleng dan tiba-tiba mengamuk. Seakan tak memberikannya ruang untuk tahu.


Xue Zhan menggenggam tangan gadis kecil itu. Namun tiba-tiba sekitarnya berubah menjadi gelap gulita. Hanya menyisakannya dan Lin Yu Mei yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.


"Apa ini?"


Xue Zhan menoleh cepat. Lin Yu Mei bangun dengan wajah hampa.


Saat ini Xue Zhan masih menggenggam erat tangan gadis itu yang kini jauh lebih kecil dari terakhir kali dia menggenggamnya. Tubuh Adiknya masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu dan Xue Zhan telah bertambah lebih tinggi.


Adiknya menunduk ke depan, saat itu juga Xue Zhan melempar pandangan ke sana.


"Kau adalah pelakunya," lontar Lin Yu Mei tiba-tiba.


Xue Zhan membeku.


Itu dirinya di masa lalu.


"Apa ini?" Xue Zhan tak bisa berkata apa pun lagi, kedua tangannya dingin sementara ingatan mulai membawanya melewati ruang waktu belasan tahun lalu.


Lin Yu Mei di sebelahnya menangis, "Kakek berbohong ..." Dia tersedu-sedu mengelap pipinya. Xue Zhan terhenyak dan segera menarik Lin Yu Mei ketika di ruangan itu sesuatu berbunyi keras dan pecah.


Sekumpulan pendekar dan seorang laki-laki berseragam selayaknya tabib masuk ke dalam, menyandera kedua orang tua Lin Yu Mei dan menyayat kulit mereka sedikit demi sedikit setiap beberapa menit.


Xue Zhan kecil dan Lin Yu Mei yang masih sedikit balita dimasukkan ke dalam lemari oleh Lin Yu Shan—kakeknya. Dipaksa untuk tidak berbicara, Xue Zhan menjaga adiknya ketakutan setengah mati. Sementara kakek, ibu dan ayah Lin Yu Mei berusaha bernegosiasi dengan para penjahat itu dan setelahnya sesuatu yang tak diinginkan terjadi.


Orang-orang jahat itu membunuh ibu Lin Yu Mei dengan menggoroknya di leher, mayat ibunya terbaring di depan meja tempat Xue Zhan bersembunyi dengan daging serta kulit yang telah disayat. Dia mengintip dari celah-celah sambil menggigil, pupil mata merah membesar melihat aliran darah di lantai. Kemudian pertarungan di dalam rumah itu tak bisa terhindar lagi. Keluarga Lin terpojokkan. Namun Lin Yu Shan masih tegap berdiri sambil berteriak.


"Bunuh lah jika kau sanggup, aku lebih baik mati dengan melindungi iblis ini dari orang busuk sepertimu daripada menyerahkannya dan menerima uang-uang itu! Cuih!"


"Beraninya kau—!" Lelaki itu, Yan Shumei menggertak kencang, dia menebaskan pedang ke dada Lin Yu Shan yang seketika membuat laki-laki itu ambruk mengeluarkan darah hitam dari mulut.


"Ini ...!?" Lin Yu Shan terbatuk keras oleh racun mematikan yang masuk lewat sayatan pedang, dia terjatuh ambruk tak sadarkan diri sementara anak laki-lakinya, Lin Yu Pei mengambil pedang dan perisai besi.


"Kau membunuh istri dan mencelakai ayahku! Kau pantas untuk mati!" gertaknya mengangkat pedang, matanya memerah dan pandangannya kacau.


Xue Zhan yang melihat kejadian masa lalu itu menggelengkan kepala, dia melihat dobrakan kecil di dalam lemari itu. Sementara tangan dingin Lin Yu Mei di sebelah menggenggam tangannya semakin erat.


"Jika langit tidak bisa menghukummu maka biarkan aku yang menghabisi nyawamu!"


Dentingan pedang terjadi berkali-kali dan berkali-kali itu pula Lin Yu Pei mendapatkan sayatan demi sayatan di pundak dan dadanya. Dia memuntahkan darah ketika telapak tangan Yan Shumei mengenai dada, dengan tenaga dalam yang cukup kuat itu membuatnya terhantuk di dinding. Pedangnya terlempar ke depan lemari.


Yan Shumei mendekat ke tempat Lin Yu Pei terduduk tak berdaya, mengangkat ujung dagunya sambil menertawakan lelaki itu.


"Aku bukannya meminta anak kandungmu. Lihat, akibat kau mencoba menyelamatkan iblis itu anakmu mungkin akan mati. Kau salah menjadikannya anak angkatmu. Dia bukan seperti anakmu. Dia adalah Dosa yang selalu disertai kesialan. Seperti badai yang menyertai hujan. Kau sanggup menjaganya saat manusia di seluruh dunia ini mengacungkan pedang untuk membunuhmu?"


Lin Yu Pei menatap tajam mata Yan Shumei, tak berapa lama terdengar suaranya. Laki-laki itu melepehkan ludah ke muka Yan Shumei.


"Jika aku bersekutu dengan iblis seperti kalian, aku tak akan punya muka lagi untuk menghadap pada leluhurku!"


"Baiklah jika begitu keputusanmu. Aku bisa mencari anak itu dengan mudah, takdirmu berakhir di sini."


Yan Shumei menegakkan kepalanya arogan lalu mengeluarkan pedangnya, di satu sisi hantaman keras di lemari yang dikunci berbunyi keras dan di sana Xue Zhan kecil muncul dengan tanduk yang mengeluarkan aura merah. Kedua mata indah miliknya seperti genangan darah yang tak memiliki dasar. Yan Shumei tersenyum lebar melihat incarannya keluar.


"Kau membunuh ibu Mei'er dan menyakiti Paman Lin! Kau-! Aku akan membunuhmu!"


Xue Zhan yang masih begitu naif mengambil pedang Lin Yu Pei yang terjatuh, lalu berlari ke arah Yan Shumei sambil berteriak murka.


"Aku akan membunuhmu!!"


Lalu tetesan darah mengalir di bilah pedang sang pemilik yang kini ditusuk menggunakan pedangnya sendiri.