
Malam hari itu keadaan di istana masih ramai, puluhan murid yang mengenakan jubah biru senada baru saja datang bergerombol. Namun satu di antara enam belas pemuda-pemudi itu memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang tanpa sengaja terus melihat dirinya.
Xue Zhan menarik tali dari kotak persegi panjang yang dikaitkan di pundaknya. Kotak itu berisi pedang pemberian Kaisar Li. Namun sesaat dia berhenti berjalan, menatap seorang murid yang sedang menghadap Kaisar Li yang baru sampai di singgasana. Mata kuning serupa emas itu mendelik ke arahnya. Lantas gadis dengan cepol dua di kepala itu bersorak sembari melambaikan tangan ke arah Xue Zhan.
Xue Zhan terhenyak. Dia melihat ke belakang tapi tidak ada orang di sekitar, dia sendiri tidak kenal siapa gadis tersebut, mana mungkin menyapanya dengan akrab seperti itu.
"Xue Zhan yaaa?!" Suara nan melengking seperti akan memecah kaca di istana Kekaisaran Feng, terlihat Guru para murid tersebut mulai menepuk jidat. Gadis hiperaktif itu kembali berulah dan membuatnya malu di hadapan Sang Kaisar. Mereka memiliki sejumlah urusan internal dengan Kekaisaran Feng dan mendapatkan undangan langsung dari Sang Kaisar untuk datang ke sana.
Jika bukan karena gadis itu yang diinginkan Li Jia Xing untuk datang, lelaki itu tidak akan membawanya ke sana. Si Gadis Cerewet nan Berisik yang suaranya mampu merobek lima lapisan langit, Lun Ning.
"Eh?" Xue Zhan makin bingung ketika Lun Ning dengan santainya datang ke tempatnya, dia baru saja berputar balik dari hadapan Kaisar Li. Membuat Xue Zhan cemas dengan sikap kurang sopan itu, apalagi sampai melibatkannya.
"Senang bertemu denganmu! Kau pasti kenal aku, kan? Aku ini rivalmu!"
Tatapan Xue Zhan seakan-akan mengatakan, "Memang kau siapa?"
"Heh! Seharusnya nama harumku sudah tercium jauh hingga pelosok Kekaisaranmu. Namaku Lun Ning dari Kekaisaran Guang. Kudengar kau memiliki kekuatan iblis dan mewarisi darah iblis yang sebenarnya sudah punah. Tentu saja kau pasti kuat dan aku sudah menganggapmu sebagai rivalku!"
Menyebut identitasnya sebagai iblis di tempat umum tanpa rasa bersalah, Xue Zhan mulai menangkap bahwa memang Lun Ning orang yang ceplas-ceplos.
Lun Ning menjabat tangannya dengan wajah ambisius. "Bagaimana, kau tertarik menjadi rivalku?"
Xue Zhan meringis. Tak disangka tangan gadis itu terlalu kencang mencengkram sampai dia mulai merasakan tulang jarinya berpindah dan akan remuk. Dia memiliki tenaga seperti monster.
Xue Zhan ingin melarikan diri tapi tidak ada yang sudi menyelamatkannya dari gadis itu, Lun Ning bahkan masih sempat-sempatnya berkacak pinggang dan mengusap hidung penuh bangga.
Xue Zhan menatap Guru dari perguruan gadis itu dan dia membuang muka.
Sambil menahan tawa.
Kaisar Li dan murid dari rombongan tersebut telah berjalan ke tempat lain. Lun Ning sempat diingatkan gurunya agar segera menyusul, gadis itu mengiyakan dan masih terus mengincar mangsa empuknya.
Beruntung detik itu Xue Zhan melihat Jiazhen Yan dari kejauhan, seakan sedang mengumpat sekaligus meminta pertolongan, Xue Zhan memelototinya dan berbicara tanpa suara.
'Bantu aku!'
Pemuda itu menertawakannya dari jauh sambil terbahak-bahak, seakan sudah tahu apa yang menimpa Xue Zhan. Tapi pada akhirnya dia tetap membantu.
"Nona Lun, temanku ini punya penyakit menular di tangannya. Hati-hati berjabat tangan dengannya. Nanti wajahmu cepat menua."
Namun Lun Ning yang belum sadar masih mencengkram tangan Xue Zhan sampai remuk.
"Benarkah? Memang apa hubungannya penyakit menular dengan penuaan?" Dia memeriksa tangan Xue Zhan dengan membolak-balikkan tanpa melepaskannya. Detik itu tulang di bahunya pun ikut bergeser. Jiazhen Yan memalingkan muka sambil tertawa tertahan.
"No-nona ... Aku-" Xue Zhan ingin memprotes.
"Kau menerimanya? Mau menjadi rivalku?!"
"Ti-"
"Tentu saja mau!" potong Lun Ning cepat, Xue Zhan pasrah. Tapi tangannya tetap tidak dilepas malah ditarik-tarik oleh Lun Ning yang masih bercerita tentang dirinya dan tempat asalnya.
Jiazhen Yan masih terus tertawa. Kasihan melihat temannya itu sudah meringis kesakitan dari tadi. Untung dia temannya dan bisa membantu. Bantu menertawakan.
"Hati-hati tulangnya pada bunyi," ucap Jiazhen Yan meski dia malah tertawa.
"Tulang? Tulang siapa?"
"Hahaha ... Badan tinggal angin sama tulang begini digeser sedikit langsung rontok, kasihan sekali temanku Xue Zhan ini."
Xue Zhan tidak terima justru temannya sendiri mengejeknya.
"Biar badan tinggal selembar gini aku masih sanggup memukul mulutmu sialan. Membantu tidak, tertawa iya."
Lun Ning baru sadar dia masih terus menggenggam tangan Xue Zhan, sedikit salah tingkah sambil tertawa canggung. Dia melepaskannya buru-buru. Terdengar suara Jiazhen Yan lagi.
"Hati-hati melepasnya, nanti kulitnya ikut lagi."
Dan dia tahu Xue Zhan detik itu memelototinya.
Lun Ning menjelaskan.
"Aku terlalu bersemangat sampai lupa, hahaha. Sebuah kebetulan bisa bertemu dengan kalian. Ah, aku juga mengenalmu. Jiazhen Yan Pengendali Api Murni, kan? Kau tahu, teman-temanku banyak yang tahu tentang kalian berdua."
Xue Zhan dan Jiazhen Yan saling menatap.
Kekaisaran Guang terkenal dengan banyaknya mata-mata serta pembunuh bayaran. Tidak bisa dielakkan lagi mereka memiliki segudang jenius yang sangat pintar. Dalam bertarung, mengumpulkan informasi dan bahkan membuat strategi perang. Di masa lalu di mana perang sedang panas-panasnya berkobar Kekaisaran Guang adalah salah satu yang paling hebat di antara Kekaisaran lainnya.
Karena itulah Kekaisaran Guang disebut dengan Sarang Para Jenius.
Mengetahui Lun Ning sudah tahu tentang jati diri mereka, keduanya tidak boleh menganggapnya remeh lagi. Tatap mata penuh ambisi milik Lun Ning juga mempertegas. Bahwa dirinya serius menganggap keduanya sebagai lawan.
"Setengah tahun lagi Ujian Pendekar Menengah akan dilaksanakan. Kuharap kita bisa bertemu di arena dan bertarung. Sampai waktu itu ... Pastikan kau sanggup untuk melampauiku." Ucapan itu ditujukan khusus untuk Xue Zhan yang mulai merasa tertantang.
Lun Ning melambaikan tangan seraya berjalan menjauh dari mereka berdua. Xue Zhan dan Jiazhen Yan saling menatap.
"Memangnya dia siapa? Sangat percaya diri, tapi memang benar, kekuatan dalam tubuhnya sangatlah unik. Aku jarang merasakan kekuatan yang seperti itu."
"Elemen Pasir Debu. Itu adalah jenis kekuatan yang cukup kompleks dan diturun-temurunkan dari nenek buyutnya. Dari hanya elemen tanah hingga menjadi elemen Pasir Debu. Kekuatan itu bisa sangat mematikan. Orang yang baru kita temui itu adalah lulusan terbaik Ujian Pendekar Pemula di Kekaisaran Guang dengan nilai yang nyaris sempurna."
Xue Zhan mengangguk. "Ternyata otakmu yang dangkal cukup kuat juga mengingat informasi tentang orang-orang ini."
"Bilang sekali lagi?!"
"Otak dangkal, seperti kolam renang bebek."
"Cumi-cumi sialan!!" teriak Jiazhen Yan mengejarnya.
"Lariii ada beluuut!"
Xue Zhan dan Jiazhen Yan tak sengaja menabrak Kang Jian yang tiba-tiba ada di depan mereka dan langsung menjewer keduanya.
"Waktunya tidur! Sudah kubilang jangan membuat malu dengan tabiat aneh kalian. Aish, susah sekali mengurus dua bocah bandel ini."
"Guru ada di sini?" Xue Zhan terkejut.
Kang Jian tersenyum sampai kedua matanya tertutup.
"Kenapa dia ada di sini? Bukannya tadi masih di kamar?!" Jiazhen Yan juga kaget.
"Karena ..." Kang Jian mendekatkan wajah sambil berkata horor. "Sudah peraturannya begitu. Cumi-cumi dan belut asin harus tidur cepat biar besok bisa di lempar kalian ke laut dan dimakan hiu."
"Ampuni kami ...!"