
Diam-diam Xian Shen menarik pedang sembari membalikkan badan, napasnya tercekat, jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat bayangan gelap berdiri atas kayu di pembatas sumber dari hawa pembunuh yang amat pekat itu. Pedang di tangannya bahkan masih meneteskan darah, Xian Shen mencium bau darah saat angin berhembus.
Pikirannya berkecamuk, ketakutan menggerayangi badannya, pemuda itu tak bisa bergerak untuk beberapa saat. Sosok itu memasang mantra yang membuatnya tak bisa menggerakkan badan. Kekuatannya juga sangatlah besar, Xian Shen bisa tahu itu hanya dengan melihat aliran kekuatan yang mengalir di bilah pedang berwarna merah itu.
"Siapa kau, bajingan? Apakah kau orang yang sama dengan yang telah membunuh keluargaku?!"
"Sebenarnya aku ke sini untuk membunuhmu."
Lehernya dingin seketika. Xian Shen gemetar sesaat tapi dia berusaha tak menunjukkannya. "Jawab pertanyaanku!"
Sosok itu melesat cepat ke arahnya, saat Xian Shen menyadari orang tersebut sudah berada persis di sebelahnya. Tangan kirinya melingkari leher Xian Shen. Pedang merah tersebut kini berada di belakang leher Xian Shen dan siap memenggalnya kapan saja. Musuh membuatnya tak bisa bergerak ke mana-mana dan langsung terpojokkan hanya dalam sedetik.
Ketika Xian Shen menoleh ke samping dia melihat kilauan yang familiar. Benda itu menggantung di telinga sosok tersebut seperti anting, sebelumnya dia tak dapat melihat jelas karena tertutup oleh topeng sosok tersebut. Namun Xian Shen yakin dia pernah melihat benda yang menggantung menjadi anting itu.
"Katakan, kau siapa?" nada bicaranya bergetar, dia takut tak mendapatkan jawaban sebelum nyawanya melayang.
"Ikut denganku. Kau akan mendapatkan jawaban."
"Tidak akan pernah!"
Bilah tajam pedang terasa di kulitnya, Xian Shen tetap bersikeras. Prinsip hidupnya adalah harga mati. Dia tahu laki-laki ini berasal dari kelompok jahat, dia tak akan menurut sekalipun nyawanya harus melayang.
"Baiklah."
Dengan mudah pedang itu mengiris kulit daging Xian Shen, dia melepas pemuda itu. Tubuh Xian Shen ambruk, darah bercucuran menjadi genangan di tempatnya tergeletak. Sekali lagi sosok itu menoleh ke belakang hingga akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.
**
Hantu dari Utara menyilangkan kaki, telunjuknya menyentuh dagu sembari berpikir keras. Sesekali terdengar helaan napas dari mulutnya. "Ini aneh ..."
Selama berbulan-bulan kelompok mereka berada dalam masa damai dan hanya menerima beberapa misi dari Para Cahaya, tak ada lagi anggota inti yang diserang.
"Apakah Pemburu itu sudah pensiun?"
"Kau bercanda." Hantu Sebelas Jari menanggapi ketus. "Teror tetap berjalan, kali ini daftar nama lain, besok mungkin giliran kau."
"Memang dia sehebat apa sampai bisa membuat mu ketakutan?" ejek Hantu Sebelas Jari sinis, Hantu dari Utara memasang muka sebal.
"Percaya atau tidak, seseorang yang mengotori tangannya dengan darah ratusan manusia tak lagi sama seperti manusia. Dia menyebut dirinya Pengganti Hukum Langit. Tapi aku lebih setuju memanggilnya malaikat pencabut nyawa."
Hantu Mawar Duri datang tergesa-gesa bersama lima wanita pengikutnya yang mengenakan jubah merah dan penutup kain tipis di wajah. Kedatangan Hantu Mawar Duri membuat kedua hantu tersebut memalingkan muka.
"Aku mendapatkan berita dari Cahaya Kelima, pesan dari Ketua Taring Merah."
"Mengapa kau tergesa-gesa seperti itu? Pasti hanya misi kelas teri membantai sekumpulan manusia idiot."
Namun tanpa Ketua, Menara Giok Hantu bagaikan harimau tanpa taring. Mereka kehilangan nama sebagai kelompok pembunuh dan kini hanya dikendalikan Taring Merah seperti boneka. Entah sampai kapan akan terus begitu, yang jelas para hantu ini tak akan bisa meninggalkan Menara Giok Hantu.
Karena mereka juga tak memiliki rumah selain tempat itu sendiri.
Hantu Mawar Duri berbicara dengan suaranya yang lembut, "Pesan dari Cahaya Pertama, lima hari lagi kita akan resmi bergabung menjadi bagian Taring Merah dan menjadi pemimpin kelompok baru di Taring Merah."
Hantu Sebelas Jari berdiri dari tempat duduknya, wajahnya begitu tak percaya. Dia sempat berpikir lelaki yang begitu menakutkan itu akan menempatkan mereka ke dalam Taring Merah mengingat Menara Giok Hantu mulai pasif dan menjadi incaran pemburu. Tapi tak menyangka akan memberikan kedudukan istimewa seperti ini.
Di dalam Taring Merah hanya ada dua kelompok. Topeng silang merah dan topeng silang putih. Topeng silang merah hanya dimiliki oleh Para Cahaya yang merupakan anggota inti. Identitas mereka sulit diketahui bahkan oleh anggota Taring Merah sendiri. Sementara Topeng putih sendiri dipakai oleh anggota biasa kelompok tersebut.
"Jelaskan, aku sangat ingin mendengarnya." Hantu Sebelas Jari menautkan kesebelas jarinya di atas meja, antusias mendengar apa yang akan disampaikan Hantu Mawar Duri.
"Topeng silang hitam akan dibentuk. Jika para anggota inti adalah cahaya, maka kita adalah kegelapan yang mengikuti cahaya. Ada Enam Kegelapan yang dibentuk, identitas kita akan disembunyikan rapat-rapat."
"Lalu? Apa tugas yang diberikan oleh Ketua?"
Seringai di wajahnya mengembang lebar, Hantu Mawar Duri menatap tatapannya dingin.
"Menemukan Batu Elemen Penguasa Bumi, Batu Tanah yang terjatuh bersama seorang pendekar hebat di Jurang Penyesalan."
Hantu Sebelas Jari tertawa terbahak-bahak sampai beberapa menit, membuat Hantu Mawar Duri dan Hantu dari Utara risih. Dia menarik napas berulang kali untuk menghentikan tawanya.
"Kau tahu apa? Lembah Abadi pernah mengutus lima tetua terhebat mereka untuk mencari keberadaan Batu Tanah itu, sampai sekarang mereka tidak pernah kembali. Ketua Agung Dunia Persilatan yang membawa batu itu belum tentu selamat. Bagaimana denganmu yang hanya bisa menggoda laki-laki? Di dalam sana hanya ada siluman, sebelum kau menggoda mereka kupastikan kepalamu sudah lebih dulu dimakan."
Hantu Mawar Duri menautkan alisnya merasa kesal. "Kau kira aku yang akan dikirimkan untuk mencarinya? Saat ini kita berjumlah tiga orang. Setiap orang mencari satu Batu Elemen Penguasa Bumi dan aku mengambil bagian di Kekaisaran Bing."
Hantu dari Utara lantas menyahut setengah gelisah. "Bagaimana denganku?"
"Kau Kekaisaran Guang."
Hantu Sebelas Jari menatap temannya bergantian, "Jadi aku Kekaisaran Feng?"
Hantu Mawar Duri tertawa sinis. "Sayangnya bagian itu diambil oleh anggota baru Taring Merah, dia akan bergabung bersama kita. Kau yang akan masuk ke jurang dan digoda oleh siluman di neraka bawah itu."
Hantu Sebelas Jari terdiam beribu bahasa tak bisa menjawab lagi.
"Tenang saja ... Tugas kita hanya menyelidiki di mana batu-batu itu berada. Untuk sisanya Taring Merah akan menanganinya sendiri. Pastikan kau bekerja dengan baik jika tidak mau mati mengenaskan."
Hantu Mawar Duri berlalu begitu saja meninggalkan tawa melengking yang bergema. Hantu Sebelas Jari yang tadi paling antusias sekarang paling tersudutkan, dia menghentakan tinjunya ke meja kaca dan membuat benda di atasnya bergetar.
"Sialan!"