Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 142 - Wujud Manusia Fenghuang


Fenghuang dari kejauhan berputar balik, hanya dalam tiga detik tepat sebelum punggungnya menghantam tanah Fenghuang menangkapnya. Xue Zhan di atas punggung Fenghuang mengomel marah.


"Kau mau membunuhku?"


"Hahahha rasakan! Ini adalah pembalasan dendam."


Xue Zhan hampir mencabut bulu Fenghuang lagi tapi dia tak mau bertengkar, mata keduanya menyisir sepanjang ujung jurang untuk mencari keberadaan Xiang Yi Bai dan benar saja laki-laki itu telah menunggu mereka.


Jika Xiang Yi Bai bisa memanjat dinding Jurang Penyesalan semudah itu, mengapa dia tetap bersikeras untuk tinggal di dalamnya? Sekarang Xue Zhan memahami betul bahwa Xiang Yi Bai sangat menjunjung tinggi tanggung jawab, dan tanggung jawab tersebut adalah menjaga Batu Tanah.


Fenghuang mendarat dengan bahagia karena akhirnya kembali bisa merasakan udara di luar. Xiang Yi Bai sempat terlihat canggung melihat dunia di sekitarnya.


Di dalam pikirannya Xiang Yi Bai yakin masih ada beberapa orang yang mengenal dirinya begitu pun dengan Xue Zhan, karena itu daripada harus menghadapi masalah ke depan dia memberikan sesuatu kepada Xue Zhan.


"Pertama-tama kita harus mengenakan topeng."


Topeng itu adalah topeng putih yang hanya memiliki lubang mata dan hidung, tanpa corak atau bentuk khusus sehingga tidak terlalu menarik perhatian. Xue Zhan segera memakainya.


"Bagaimana dengan Fenghuang? Apa tidak apa-apa membawanya ke kota?"


"Kau sendiri, sudah tahu apa yang ingin kau lakukan setelah keluar dari Jurang ini?" tanya Xiang Yi Bai balik, Xue Zhan mengangguk mantap.


"Tentu saja aku tahu."


"Bagus. Untuk Fenghuang kurasa dia bisa mengubah wujudnya menjadi manusia. Bukankah begitu, Fenghuang?"


Xue Zhan terkejut, seekor siluman berubah menjadi manusia? Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi ketika melihat Fenghuang tak merespon apa-apa, Xue Zhan yakin itu adalah jawaban iya.


Karena Fenghuang telah mencapai tahap tertinggi dalam perkembangan siluman, dia memiliki kemampuan berbicara, memiliki emosi dan bahkan mampu mengubah wujudnya menjadi manusia.


Xue Zhan menunggu hingga akhirnya Fenghuang benar-benar mengubah wujudnya menjadi sesosok yang membuatnya tak bisa berkedip. Xiang Yi Bai bersikap biasa saja, namun muridnya Xue Zhan kaget bukan buatan, dia bahkan memekik.


"Ternyata Fenghuang perempuan?!" Xue Zhan memegang kepala dengan dua tangan panik. "Ya ampun, apa-apaan ini. Apa-apaan!! Kukira kau jantan, tertipu aku! Kau pembohong!"


Sesosok gadis dalam jubah merah emas nan indah muncul, bibirnya merah dan matanya lentik. Begitu cantik tiada tanding, bahkan manusia asli sendiri sangat jarang yang memiliki kecantikan seperti ini. Dia membuka bola mata yang sama merahnya seperti Xue Zhan, terkesan anggun dan juga tidak ramah.


Siapa pun yang melihat Fenghuang saat ini pasti akan mengira dirinya adalah gadis bangsawan cantik yang sombong, padahal bodohnya sebelas dua belas dengan Xue Zhan.


"Berbohong kapan?"


"Kau benar-benar perempuan?" Xue Zhan lemas.


"Hahahha. Kaget sekali dia." Xiang Yi Bai menggelengkan kepala sembari melanjutkan omongannya.


"Phoenix dikenal sebagai Ratu Matahari. Dari situ seharusnya kau sudah tahu sedikit gambarannya. Fenghuang memang sedikit kasar seperti laki-laki, tapi dia bukan burung jantan."


Fenghuang mengalihkan tatapan mata tajamnya ke arah Xue Zhan, "kenapa? Kau kecewa tidak bisa berbuat kasar padaku lagi?" Dia masih menyimpan dendam karena Xue Zhan suka menarik bulu sayapnya. Xue Zhan mencebik.


"Tahu saja. Kalau kau laki-laki sudah ku buat kau terjengkang."


Mereka mulai berjalan ke dalam hutan. Di tempat itu Xue Zhan mulai merasakan ingatan lima tahun yang lalu kembali. Di saat dirinya mengalami luka serius dan harus terpaksa berlari dikejar-kejar musuh. Musuh yang merupakan saudara dari Perguruannya sendiri. Atau mereka yang bersumpah untuk menegakkan keadilan di Kekaisaran namun pada nyatanya membelakangi sumpah mereka sendiri.


Xiang Yi Bai dan Fenghuang berhenti dan mengikuti pemuda itu.


Di penghujung jurang terlihat sebuah batu yang diikat kain, terdapat ukiran nama dirinya di sana. Seseorang sedang berdoa di depan makam sembari memejamkan mata.


Dari belakang, Xue Zhan tak mengenali siapa pemuda itu. Rambutnya memanjang dan pakaiannya tidak terurus, tubuhnya pun kurus tanpa gizi. Dari balik pepohonan Xue Zhan mengintip diam-diam, Fenghuang setengah berbisik.


"Siapa?"


"Entahlah. Tapi seseorang membuat batu nisan bertuliskan namaku di sana."


Mereka langsung menunduk ketika pemuda asing tersebut membalikkan badan, ketika Xue Zhan melihat lebih jelas sosok tersebut adalah Xian Shen.


Pemuda yang dulu begitu tampan dan cemerlang, dikagumi banyak wanita dan berasal dari keluarga bangsawan yang tanpa kekurangan kini terlihat layaknya seorang gembel kekurangan makan. Garis mukanya berkerut membuatnya terlihat lebih tua, pakaiannya kusut, kumis tipis terlihat di wajahnya yang tidak terurus.


Entah apa yang terjadi pada temannya itu, Xue Zhan ingin menemuinya namun Xiang Yi Bai menahan. Mereka harus merahasiakan identitas jika tidak mau berurusan dengan masalah.


Rasa kasihan menyergapnya. Xue Zhan tak berharap hidup Xian Shen akan sehancur ini. Meskipun demikian, paling tidak temannya masih hidup.


"Terima kasih selalu berkunjung, Tuan Muda Xian. Di antara kita kaulah yang paling peduli."


Dia bergumam sambil menatap punggung Xian Shen yang berjalan menjauh menuruni gunung.


"Taring Merah memiliki kaitan dengan penyerangan Batu Elemen Penguasa Bumi, mereka juga sempat mengatakan akan mengincarku." Xue Zhan menoleh ke arah Xiang Yi Bai. "Aku memiliki firasat bahwa mereka memiliki peran dalam semua permasalahan yang muncul."


"Ingin mencarinya?"


Xue Zhan menimbang sejenak.


"Aku ingin melihat ke sungai di Lembah Abadi dan mencari jejak Guru Kang. Apa boleh?"


Fenghuang yang ditatap oleh Xiang Yi Bai dan Xue Zhan mengernyit. "Apa lihat-lihat? Terserah aku mau ikut kalian atau tidak. Aku bukannya tidak punya kerjaan. Tapi ya sudahlah. Melihat kebodohan manusia dari dekat kelihatannya menyenangkan."


Xue Zhan menggeleng-gelengkan kepala. "Mau jadi siluman, mau jadi manusia, kadar menyebalkannya tetap tidak berubah."


Untuk terakhir kali Xue Zhan melihat makam di ujung jurang, mengingat semua yang terjadi di belakang. Teman dan Gurunya, dia ingin mencari mereka semua.


"Satu per satu ... Aku akan mengungkap kebenaran dan menyelesaikan tugasku. Tunggu saja." batinnya kemudian. Xiang Yi Bai memimpin jalan sambil bercerita banyak hal.


Begitu juga dengan Fenghuang, gadis itu sesekali mengejar kupu-kupu dan memakan buah hutan yang ditemuinya. Fenghuang amat menyukai dunia atas, dia tidak berhenti-henti mengembangkan senyum sejak mereka berjalan.


"Aku sebenarnya juga ingin melihat keadaan di pusat kota Kekaisaran Diqiu. Apa akses masuk ke dalam diperketat?"


"Seharusnya membutuhkan izin. Tapi aku tahu tempat di mana kita bisa masuk dengan bebas."


Xue Zhan menarik senyum bangga. "Ikuti aku," ajaknya sambil memutar arah ke utara. Tempat di mana dulu dia sering berlatih dan di tempat itu terdapat patung raksasa Pendekar Pedang Suci.


Cukup lama berjalan hingga akhirnya ketiganya sampai ke tepi bukit dan menyaksikan sebuah patung raksasa yang kepalanya menyentuh awan.