
Xue Zhan melamun dalam keheningan, hati dan pikirannya dipenuhi dengan amarah dan dendam. Chao Mi, musuh lamanya sekaligus anggota Taring Merah yang telah kembali menampakkan diri. Kini kesempatan untuk membalaskan dendam terlihat di depan mata. Xue Zhan akan memastikan bahwa Chao Mi tidak akan lolos sehabis ini dan dia akan menghabisi wanita itu tanpa ampun.
Walaupun begitu Xue Zhan juga sadar bahwa dia tidak boleh lengah. Chao Mi adalah seorang lawan yang kuat dan licik, dan dia tidak akan memberikan kesempatan kedua. Selanjutnya mereka kembali bertemu mungkin pertarungan akan jauh lebih sulit dan wanita itu pasti sudah mempersiapkan diri untuk membunuhnya.
Untuk itu Xue Zhan harus berhati-hati dan mempersiapkan dirinya dengan baik jika ingin memenangkan pertarungan itu.
Dalam keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka, Xue Zhan bertekad pada dirinya sendiri bahwa dia akan menyelesaikan dendamnya dengan Chao Mi dan juga Taring Merah. Dia tidak akan mengizinkan siapapun menghalanginya termasuk Xiang Yi Bai sekalipun karena Xue Zhan telah bersumpah untuk membunuh mereka.
Di saat mereka berhenti di pinggiran aliran sungai jernih untuk minum, Xiang Yi Bai memperhatikan diamnya muridnya. Dia kemudian bertanya, "Tumben kau begitu diam. Apa yang sedang terjadi?"
Xue Zhan menatap ke arah sungai dan tidak segera menjawab. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengeluarkan napas panjang dan berbicara dengan suara rendah. "Aku hanya terganggu dengan Chao Mi," ujarnya.
Mendengar itu, Hua Lian yang juga ikut di dalam perjalanan itu terkejut dan bertanya hati-hati, "Chao Mi? Tunggu-beberapa orang mengatakan bahwa yang menyerang Perguruan Naga Emas semalam adalah salah satu dari petinggi Taring Merah dan dia adalah Chao Mi. Jadi kau adalah pendekar yang dibicarakan itu? Kau bertarung satu lawan satu dengannya?"
Xue Zhan ikut terhenyak. "Ada yang melihatku saat bertarung?"
Mulut laki-laki itu terbuka beberapa lama tanpa mengeluarkan suara sampai dia kembali sadar dan merespon. Berusaha untuk tetap tenang.
"Tentu saja, tapi jangan khawatir, tidak ada yang tahu kau siapa."
Sedetik Xue Zhan memasang wajah ambigu. Topengnya sempat hancur dan wajahnya mungkin dilihat oleh orang yang diam-diam melihat pertarungannya kemarin. Walaupun akhirnya Xiang Yi Bai memberikan topeng pengganti saat di penginapan agar tidak ada yang mengenali wajahnya.
Namun hal itu membuatnya semakin urung mengeluarkan suara. Semenjak melihat Chao Mi, amarah dan dendam di dalam hatinya kembali terbakar. Setelah lima tahun hidup damai bersama Xiang Yi Bai, kebencian itu kembali bangkit.
Dia tidak pernah berpikir melepaskan orang-orang yang telah membunuh Lin Yu Mei dan Kakeknya. Dendam itu adalah luka yang tidak akan sembuh baginya, satu-satunya jalan untuk meredamnya adalah dengan mengambil kepala musuh-musuhnya.
Xue Zhan telah melihat sendiri, anak kecil lainnya kembali kehilangan keluarganya dan hidup sebatang kara akibat ulah Taring Merah. Sama seperti dirinya. Itu membuatnya semakin yakin membunuh mereka adalah keharusannya.
Kembali terdengar suara Hua Lian. "Tapi mengapa? Dia adalah musuh yang berbahaya, sebaiknya kau serahkan masalah ini kepada pendekar terhebat Kekaisaran Feng. Takutnya wanita itu akan mengejarmu terus-terusan."
Dibilang seperti itu Xue Zhan sudah menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menceritakan banyak, tapi sejak awal dia sudah memburuku. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini adalah membunuhnya."
Xiang Yi Bai ikut menyahut. "Kekuatanmu masih sedikit di bawahnya. Andai kau sedikit ceroboh semalam, mungkin kau tidak akan kembali ke penginapan." cecarnya. "Jangan berpikir bisa menghadapinya dengan mudah hanya dengan mengandalkan kekuatanmu yang sekarang," lanjutnya disertai penekanan setiap kata-katanya.
Kenyataan itu sudah membuatnya begitu kesal. Hingga saat Xiang Yi Bai mencoba melihat kedua bola mata muridnya, yang terlihat adalah tatapan yang penuh kemarahan.
Lelaki itu mengeluarkan suara, "Lihatlah, bukan lagi darah yang mengalir di dalam tubuhmu. Melainkan kebencian."
Xue Zhan menarik napas dalam-dalam. Dia tahu Xiang Yi Bai paling pantang dalam beberapa hal salah satunya memiliki hasrat membunuh yang kuat. Pemuda itu berusaha melupakan kemarahan di dalam dirinya dan kembali menenangkan diri.
"Maafkan aku, Guru."
Hua Lian menatap Xiang Yi Bai bergantian dan tidak bisa mengerti separuh percakapan mereka. Dia juga tidak begitu mengenal keduanya sejak awal. Bahkan hanya sekedar nama pun enggan mereka katakan. Yang dipercayainya adalah bahwa pemuda di sampingnya itu memiliki keinginan besar untuk menghapuskan keberadaan musuh-musuhnya.
Setelah empat hari berjalan mereka sampai ke Kota Xinghua.
Kota Xinghua terletak di pinggiran Kekaisaran Feng dan terkenal sebagai Kota Mati karena hanya beberapa yang bertahan di kota itu dan juga sering terjadi cuaca ekstrem disertai beberapa bangunan tua di setiap bagian kota. Kota ini menyimpan banyak cerita dan sejarah kelam. Kota ini dulunya adalah sebuah kota yang makmur pada masa lalu, namun seiring berjalannya waktu, wabah besar terjadi dan membuatnya runtuh hingga hanya meninggalkan bangunan-bangunan kuil dan menara yang berdiri megah.
Beberapa jam berjalan akhirnya mereka sampai di Hutan Bambu Kuning, tempat di mana Yue Linghe berada, terletak di luar kota, dikelilingi oleh pegunungan hijau dan lembah-lembah yang indah. Hutan ini terdiri dari ribuan batang bambu yang menjulang tinggi dan menyerupai semacam labirin.
Hua Lian memastikan bahwa mereka masih cukup aman untuk masuk ke dalam, Xue Zhan mengikuti langkah laki-laki itu dengan waspada sambil terus melacak hawa keberadaan di sekitarnya. Hutan ini memiliki hawa yang ganjil dan udara yang lebih dingin daripada musim dingin meskipun matahari masih terlihat di atas kepala mereka. Tak disangka di dalam Hutan tersebut masih terdapat beberapa bangunan kuil yang megah dan bersejarah. Hutan Bambu Kuning lebih luas daripada yang dia bayangkan.
Hua Lian menunjukkan satu tempat yang mereka lewati, yaitu sebuah Kuil besar bernama Kuil Raja Langit, dulunya digunakan untuk berdoa untuk meminta perlindungan dewa atas kematian yang terus terjadi di kota tersebut. Kuil itu memiliki atap hijau dengan ornamen-ornamen emas yang ditempatkan di berbagai sudutnya. Di dalamnya, terdapat patung besar Raja Langit yang terbuat dari perunggu dan batu giok, dianggap sebagai pelindung kota dan pemberi kemakmuran.
Menara lonceng tua juga terletak di muka kuil, dibangun lebih dari 10 tahun yang lalu. Menara ini memiliki 13 lantai dan setiap lantainya memiliki lonceng yang berbeda ukuran dan suaranya. Saat angin bertiup, lonceng-lonceng ini akan berdenting dengan suara yang terdengar di sekitar kuil tersebut.
Ketiganya masuk semakin dalam ke Hutan Bambu Kuning, Xue Zhan menahan dada Hua Lian agar berhenti berjalan dengan pandangan terkunci ke depan. Dia merasakan hawa keberadaan, lebih dari satu orang.
Benar saja, Xue Zhan, Xiang Yi Bai, dan Hua Lian langsung menghadapi masalah. Mereka dihadapkan dengan sekelompok penjahat yang menguasai wilayah Hutan Bambu Kuning tersebut. Lima preman datang dengan menenteng senjata dan meminta mereka membayar uang masuk sebanyak 300 keping emas per orang jika ingin selamat. Hal ini membuat mereka terhenti. Menurut Hua Lian, mereka masih cukup jauh dari bagian tengah Hutan Bambu Kuning yang dipenuhi oleh siluman kelabang. Dia tahu betul mengapa masih ada penjahat yang ada di hutan ini, mereka sedang berburu siluman dan mengambil racunnya untuk dijual ke pasar gelap.
Dikatakan memasuki bagian tengah Hutan Bambu Kuning hampir mustahil. Semakin ke tengah, maka siluman yang muncul akan lebih berbahaya dan bahkan tinggi mereka bisa melebihi tinggi bambu kuning itu sendiri. Selain itu semua orang juga tahu bahwa Kelabang Ungu di Hutan Bambu Kuning memiliki racun yang sangat sulit ditawar dan tidak ada obatnya sama sekali.
Hua Lian bertahan di tempat. Xue Zhan menentang tuntutan mereka, walaupun dia memiliki uang untuk masuk dengan mudah tapi dia tidak ingin orang-orang ini semakin merajalela dan merugikan orang lainnya. Lima laki-laki dekil itu memasang sikap berkuasa dan tak kenal takut.
Kedua kubu saling bersikeras sehingga pertarungan pun tidak bisa dihindarkan.