
Beberapa hari setelahnya disambut oleh upacara peresmian yang langsung dihadiri oleh Kaisar Ziran dari Kekaisaran Diqiu, 174 pendekar pemula diangkat menjadi pendekar menengah dengan terhormat. Xue Zhan berdiri di antara para pendekar baru itu, melihat puluhan pasang mata menatapnya tidak percaya.
Dia masih mengingat betul wajah rekan-rekan Gurunya yang kini berkumpul menatap tak percaya kepadanya, Xue Zhan menatap balik mereka tapi orang-orang itu segera membuang pandangan bahkan berpura-pura mengobrol dengan yang lain padahal jelas-jelas mereka baru saja memperhatikannya.
Dia baru saja menyadari ternyata alasan mengapa upacara peresmian dilakukan tiga hari setelah ujian selesai adalah karena menunggu tamu undangan dari empat Kekaisaran lainnya.
Para Kaisar dari semua Kekaisaran telah berkumpul dan duduk di kursi megah di hadapan para peserta. Salah satu di antara mereka dan yang paling anggun adalah Kaisar Li, wanita itu tak melepaskan pandangannya dari Xue Zhan dari sepuluh detik yang lalu, pemuda itu menarik senyum bangga.
Li Jia Xing yang angkuh menarik seutas senyum ke arahnya sebelum akhirnya memalingkan muka ke arah lain.
Hanya dengan senyuman itu Xue Zhan bisa melihat bahwa dia berhasil memenuhi ekspektasi wanita itu sebagai murid dari Kang Jian. Meski demikian mulai banyak bisik-bisik yang terdengar tertuju ke padanya. Bukan Xue Zhan tidak tahu, dia bisa mendengar dua kali lebih tajam dari manusia dan terkadang kemampuan itu membuat repot.
"Iblis itu diloloskan? Sial, dia membawa malapetaka. Kenapa tidak ada yang membunuhnya saja di kota tua itu, kudengar banyak yang mati selama ujian."
"Benar. Kalau begini jadinya dia mungkin bisa naik menjadi pendekar elit dan menghancurkan kestabilan negeri ini. Semoga saja Kaisar Ziran cepat sadar dan memberi hukuman mati padanya."
"Pelankan suaramu, iblis itu mungkin dapat mendengar kita."
Suara-suara itu berasal dari Tetua Penegak Hukum perguruan Lembah Abadi, pejabat Kekaisaran, dan orang penting dari perguruan besar lainnya.
Xue Zhan bisa kenal pasti salah satu dari mereka karena dia pernah melihat Kang Jian menggunakan jubah yang sama dengan lelaki paruh baya itu. Mereka saling membisik menutup mulut dengan kipas. Walaupun bicara diam-diam mata mereka tetap melirik sesekali ke arah Xue Zhan dengan sinis.
Xue Zhan tak ambil pusing. Orang yang membencinya akan selalu mencari keburukannya, tidak peduli dengan kebaikan dalam dirinya. Untuk apa dia terus-menerus menjelaskan pada orang yang sengaja tutup mata dan telinga itu. Mereka lebih senang mengorek sampah busuk daripada menikmati keindahan berlian. Lebih suka mencari kesalahan orang lain daripada mendengar hal baik tentangnya.
Upacara telah lama selesai. Para murid kembali pada guru dan teman seperguruan mereka, ada beberapa yang masih berduka atas kematian rekan sesamanya.
Xue Zhan tersentak kecil ketika tanpa dia sadari seseorang berada di belakang dan menepuk pundaknya. Ketika dia menoleh raut wajahnya berubah ceria, Xue Zhan setengah berteriak.
"Guru!!"
Persis seperti seorang anak yang bertemu setelah sekian lama terpisah dengan ibunya.
"Aish, jangan berteriak begitu. Kau ini." Kang Jian lantas mengeluarkan tawa, lagipula muridnya itu juga sedikit berlebihan, jadi dia tak perlu heran lagi. "Kau benar-benar melakukannya, Zhan'er. Aku bangga padamu. Kau bertambah semakin kuat setiap harinya, kurasa aku tak pantas menjadi gurumu. Kau tahu sendiri, waktuku banyak habis untuk kesibukan lain-"
"Guru Kang adalah guru terbaik yang pernah ada, mana mungkin guru tidak pantas membimbingku yang masih tidak seberapa ini?"
Kang Jian membuang napas sambil tersenyum, merangkul Xue Zhan yang hanya setinggi bahunya. "Hari ini aku traktir makan apa pun yang kau suka. Mau makan apa?"
Xue Zhan tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, tapi rasanya saat melihat cara Kang Jian berbicara dan menatapnya, dia seakan telah memiliki apa yang tak pernah dimilikinya sejak kecil itu.
"Aku makan-"
"Telur rebus dan sup jamur," potong seseorang muncul dari samping. Xue Zhan mendecih, lagi-lagi ada saja yang mengganggu mereka.
"Ahahaha, rupanya kalian berdua lolos bersama. Biar ku tebak, pasti kalian menghancurkan lokasi ujian dengan kehebohan kalian bukan? Aish, bikin malu saja kadang-kadang. Kulit wajahku ini berseri setiap guru lain bertanya, 'hei apakah itu muridmu yang sedang bertengkar dengan seorang Tuan Muda Jiazhen?' mereka seperti akan menelan Kekaisaran ini ketika sedang berdebat."
Xue Zhan menggaruk belakang kepalanya, temannya memalingkan muka seraya berkata, "Aku lapar."
Melihat wajah dua bocah itu Kang Jian semakin tergelak.
Mereka mengikuti langkah Kang Jian sambil sesekali melihat ramainya jalan karena festival perayaan di kota sedang berlangsung, kelopak bunga berterbangan sepanjang jalan, bahkan beberapa lampion dilepaskan ke atas udara, pemandangan yang indah.
Jiazhen Yan tiba-tiba berhenti di depan lukisan seorang pahlawan Pedang Suci yang dipajang dan diperjualbelikan, si pedagang berdiri menyambut, "Apakah ada lukisan yang menarik perhatian Anda, Tuan?"
Pemuda itu mengerutkan dahi, Xue Zhan ikut berhenti dan melihat apa yang tengah ditatap setan itu. Hanya lukisan lelaki yang lumayan tampan, mungkin berusia 30 ke atas. Tampak jelas dia tidak begitu suka dengan lukisan itu.
"Oi, kau lihat apa?"
"Matamu pindah ke tulang ekor sampai tidak bisa lihat apa yang kulihat?"
"Seorang pahlawan yang tampan? Kenapa mukamu masam begitu?" dengkus Xue Zhan, dia menaikkan telunjuk mendapatkan jawaban, "Nah aku tahu. Kau pasti iri kan dengan wajah tampan pahlawan ini? Dia pasti diidolakan gadis-gadis. Tidak seperti kau diidolakan nenek-nenek jompo. Tapi tenang sahabatku, kau ini adalah monyet tertampan yang pernah kulihat. Tidak perlu berkecil hati."
Jiazhen Yan hampir saja memukulnya, dia mengeluarkan peringatan. "Jika kau bertemu dengan orang dalam lukisan ini sebaiknya kau berhati-hati, dia adalah orang yang berbahaya."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusul Kang Jian yang berada cukup jauh di depan. Kang Jian tak sengaja berpas-pasan dengan guru lain dari Lembah Abadi dan berniat mengajaknya makan di salah satu warung makan kesukaannya. Sementara dua cecunguk itu masih berdebat tiada henti.
"Kenapa kau mengatur-atur, lagipula orang itu terlihat baik dan berpendidikan. Dia juga seorang Pedang Suci, mana mungkin sejahat yang kau katakan. Tidak masuk akal, tidak masuk akal." Xue Zhan mengibaskan tangannya tak percaya.
Temannya menoleh kesal. Wajahnya seakan tengah mengumpati seribu kebodohan di dalam otak Xue Zhan.
"Kau tidak tahu, berurusan dengannya adalah bencana."
Xue Zhan membalas lempeng.
"Kau sendiri adalah bencana."
Kali ini tangan Jiazhen Yan tiba-tiba menjedot kepalanya ke sebuah gerobak di pinggir jalan, membuat pemiliknya heran dan hampir meminta ganti rugi. Xue Zhan memekik, meminta maaf pada pemiliknya dan menjitak kepala Jiazhen Yan lebih keras.
Dia kabur sebelum setan itu kesurupan mahluk sebangsanya.
"Suruh siapa menjedot jidatku, ini aset berharga asal kau tahu."
"Kemari kau, Zhan sialan!!"
"Ke sana? Mana ada orang mau mengantarkan nyawa cuma-cuma. Sogok malaikat pencabut nyawa dulu kalau mau menangkapku, hahahah!"
Api besar membludak dan meledakkan satu toko, Jiazhen Yan mengamuk, Xue Zhan ambil langkah seribu dan Kang Jian menepuk jidat. Teman Kang Jian mengelus punggung lelaki itu agar tetap sabar memelihara dua cecunguk heboh itu.
Seorang pedagang bertanya pada Kang Jian, "Tuan Pendekar, apakah mereka kenalanmu?"
Kang Jian dan temannya menutup muka sambil menjawab, "Tidak, tidak kenal."