Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 69 - Pilihan Hidup atau Mati


Jiazhen Yan melompat ke arah mereka dan mengerahkan kekuatan untuk satu serangan terbuka dari depan, Hantu Penyair menarik senyum remeh dan mengeratkan benang tali di dan memaksa Xue Zhan ke samping. Menghindar dari Jiazhen Yan begitu saja.


Tetesan darah jatuh di atas dedaunan. Terdengar suara geraman dengan nada bicara kesal.


"Aku datang ke sini untuk menyelamatkan orang, bukan menjadi babu seorang Nenek Tua sepertimu."


Hantu Penyair mengeratkan pegangannya pada benang sembari melotot kuat, suara lengkingnya menyeru, "Bahkan kau juga memanggilku begitu? Dua bocah ini sama saja, sama-sama cari mati!"


Dia berniat menghabisi nyawa Xue Zhan dengan menarik benang tajam tersebut. Namun sesaat tali itu tertahan, tetesan darah semakin banyak jatuh.


Tangan pemuda itu berdarah sangat banyak menahan tajamnya tali tersebut, nyaris memotong tulang jemarinya. Untuk sesaat Hantu Penyair terkejut melihat kegilaan Xue Zhan, dia bisa memotong jarinya kapan saja dan tetap melakukan hal bodoh seperti itu.


Di tengah situasi yang mengecohkan itu Hantu Penyair melepaskan perhatiannya dari Jiazhen Yan, pemuda itu menyelip di antara mereka berdua dan berniat menebas kepala musuh dengan pedang berapi.


Hantu Penyair tak bodoh, meski harus melepaskan Xue Zhan itu lebih baik harus mengorbankan kulit wajahnya yang cantik tergores. Dia tersenyum, bukan hal sulit menangkap Xue Zhan kembali.


Lengan jubah kiri dia kibas diiringi seringai samar di wajahnya, musik dari alat kecapi mulai mengalun dengan irama berbeda. "Sepertinya yang satu ini sangat-sangat mengganggu. Aku akan menghabisinya lebih dulu."


Xue Zhan tersentak, melihat temannya mulai kehilangan kesadaran setelah mendengar irama yang berbahaya itu. Alunan Dewi Menenun adalah salah satu jurus manipulasi berbahaya dari wanita tersebut, di mana hanya dengan suara Hantu Penyair dapat mengendalikan musuhnya.


Mata Jiazhen Yan berubah menjadi merah pucat, tubuhnya bergerak kaku namun juga begitu cepat dan tak mudah ditebak. Teknik bertarung pemuda itu masih sama hanya saja kesadarannya sedang berada di titik nol. Xue Zhan mundur, Jiazhen Yan mengibaskan pedang berapi. Pedang itu dialiri kekuatan api murni dalam dirinya yang semakin membesar jika semakin juga nafsu membunuhnya.


"Oi, oi, lihatlah si pembuat masalah ini. Jangan kesurupan dulu sekarang, setan mana yang mau suka rela merasukimu-"


Xue Zhan menunduk nyaris telat karena pedang itu nyaris saja menggores lehernya. Api berkobar di pedang itu semakin nyala, gerakan Jiazhen Yan semakin cepat dan sulit dihindari. Apa yang bisa Xue Zhan lakukan adalah menghindari.


Jiazhen Yan sama sekali tak sadarkan diri. Itu akan membuatnya kerepotan, Hantu Penyair bisa membunuhnya kapan saja dan malah Jiazhen Yan berubah dari teman menjadi cobaan.


"Sepertinya kau sedang dirasuki leluhurnya para masalah. Aish. Kesal sekali aku. Oi setan, cepat kembali atau ku sayat-sayat bokongmu menjadi empat!"


Dia tidak bisa melukai temannya bagaimana pun. Hantu Penyair sengaja memaksanya untuk melukai temannya sendiri, dia tak akan mengikuti rencana busuk wanita itu.


Daripada menyerang Jiazhen Yan, Xue Zhan memilih berlari kencang ke arah Hantu Penyair yang masih terus memainkan alat musik tersebut. Dia tahu Alunan Dewi Menenun hanya dapat dipakai pada beberapa korban saja karena jurus itu membutuhkan tenaga dalam yang sangat banyak.


Dengan sebelah tangannya Xue Zhan hendak mengenai tubuh musuh, telapak tangannya berhenti di depan wajah Hantu Penyair dan membuat helai rambut wanita itu beterbangan. Xue Zhan melihat tawa serupa hantu itu tengah meledekinya begitu puas.


"Rupanya suaramu lebih bertenaga dari pukulanmu."


Di belakang Jiazhen Yan menahannya dan dalam sekejap membanting tubuhnya di atas tanah, Xue Zhan melompat dan menendang kaki Jiazhen Yan sambil mengumpat kesal. Padahal nyaris saja dia bisa mengenai wanita itu. Temannya mundur sama sekali tidak terkena serangan.


"Bertarunglah, lagi dan lagi ... Kita lihat siapa yang akan bertahan hingga akhir."


*


Xian Shen membeku mendengar suara tersebut.


Tak pernah terbayangkan olehnya akan menghadapi situasi seperti ini. Xiao Rong mengatakan bahwa misi ini hanyalah misi tingkat C yang tidak terlalu sulit seperti misi tingkat B, A apalagi tingkat S. Hanya misi pencarian orang hilang, apalagi yang disebutkan adalah seorang gadis. Saat menerima tawaran misi itu Xian Shen tidak berpikir dua kali dan langsung menerimanya.


Tapi siapa sangka, di sini dia tengah meregang nyawa hanya dengan melihat sosok menakutkan di depannya.


Hantu Penggerogot, tak pernah ada orang yang bisa mendeskripsikan wajah sosok tersebut. Karena siapa pun yang melihatnya pasti akan mati. Kini hantu itu telah mengetuk pintu yang menjadi pertanda bahwa hidup mereka berdua akan berakhir di sana.


"Saudara Rong, kau dengar aku? Hantu Penggerogot berada lima belas kaki di depan kita dan akan memakan tubuhmu kalau kau tidak bangun segera-"


Hantu Penggerogot tiba-tiba saja telah berjongkok di hadapan Xian Shen, menyentuh dagu pemuda itu memperlihatkan wajahnya yang buruk rupa ditambah banyaknya darah dan luka sobekan. Gigi-giginya hitam dan tajam, gigi itulah yang mengunyah daging manusia mentah-mentah dan seketika membuat Xian Shen muntah di tengah ketakutan luar biasa yang melanda.


"Di-dia sudah ada di depan kita—"


Suara Xian Shen serak tenggelam, matanya tak henti menatap mata Hantu Penggerogot yang menyimpan kekejian bengis. Darah di telapak tangannya tak lagi mau mengalir, ketika Hantu Penggerogot hendak mencekiknya Xian Shen kehilangan suara untuk berteriak.


"Tolooong!!"


Xian Shen terbelalak, tangan Hantu Penggerogot yang hampir saja mencekiknya berhenti. Hantu itu menoleh ke belakangnya mendapati seorang gadis baru saja berteriak. Dia dililit oleh sesuatu yang membawanya paksa.


Gumpalan benang hitam menyatu dan berkejaran menghantam tubuh Hantu Penggerogot, Xiao Rong kembali ke tubuhnya dan segera menarik Xian Shen untuk mundur.


Hantu Penggerogot lenyap.


"Berhati-hatilah, dia adalah musuh yang berbahaya."


Ucapan Xiao Rong juga menyiratkan ketakutan, mereka terus mundur sementara gadis itu di bawa oleh benang hitam ke tempat lain dengan setengah penglihatan Xiao Rong.


Langkah mundur mereka terhenti, sesuatu memblokir jalan memaksa keduanya menoleh ke belakang.


Keduanya menengadah demi melihat postur tubuh tinggi kekar dengan senjata berduri dan wajah hancur itu, membeku di tempat sampai Hantu Penggerogot mengangkat senjata untuk menebas mereka sekaligus.


Xiao Rong mendorong Xian Shen ke dinding hingga terbentur, sementara tangannya tak cukup cepat menghindar dan terkena tebasan tersebut.


Darah mengucur deras, lengan Xiao Rong terluka parah. Hantu Penggerogot berhasil menangkap Xiao Rong setelah itu dan tiga anak buah Menara Giok Hantu datang membawa gadis tahanan mereka kepada lelaki itu.


Hanya tersisa Xian Shen yang dikepung musuh dari berbagai sisi.