
"Apa yang bisa kulakukan selain meminta maaf padamu, Guru? Aku hanya bisa mengacaukan semuanya. Sama seperti ketika keluarga Lin Yu Mei menampungku. Aku membawa bencana pada mereka dan membuat mereka kehilangan nyawa. Aku benar-benar anak yang sial." Tawa pahit terdengar darinya, di bawah tetesan hujan itu Xue Zhan sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk bertarung. Mau bagaimana pun juga dia pasti akan mati. Tapi dia tetap akan bertarung, sampai titik darah penghabisan.
Ratusan suara derap kaki mengarah padanya sambil mengacungkan senjata. Di belakang para pendekar itu, Ziran Zhao bersama pengawalnya menyaksikan hari di mana iblis terakhir itu dimusnahkan. Dia mengangkat wajahnya, Xue Zhan menatap balik wajah itu.
"Terima kasih sudah pernah mengampuniku, Yang Mulia. Aku telah mengecewakanmu. Aku pantas menerima ini semua."
Puluhan mata pedang menyayat tubuh Xue Zhan, belasan lainnya memukul dan menendang hingga dia terseret cukup jauh menuju tepi jurang. Xue Zhan menahan sekuat tenaga. Dia mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Telinganya berdenging, pandangannya kabur karena darah terus mengalir dari ubun-ubun kepalanya memasuki kelopak mata. Dirinya tidak bisa mendengar jelas lagi suara-suara sumbang di sekitarnya.
Xue Zhan jatuh merangkak di atas batu, darahnya mengalir pada puluhan pedang pendekar yang menghabisinya saat itu. Pemuda itu mandi dalam genangan darahnya sendiri, tapi masih mampu bertahan.
Tetua ke-12 Lembah Abadi datang dan menancapkan pedang ke perut Xue Zhan. Membuat pemuda itu terlonjak sesaat sampai pedang tersebut kembali di tarik.
"Matilah!!!"
Teriakan itu menggema di seluruh penjuru dan disambut oleh gelegar petir yang sangat dahsyat. Genangan darah bercampur oleh hujan deras. Xue Zhan mulai kehilangan kesadarannya, jari-jarinya yang tadi masih berusaha menyeret tubuhnya mulai berhenti bergerak.
"Berhenti kalian semua, bajingan!" teriak seseorang di saat Xue Zhan mulai sekarat.
Jiazhen Yan menggunakan kekuatan api terbesarnya untuk membuat para pendekar itu mundur. Disusul oleh dua temannya yang berdiri di belakang pemuda itu sembari menatap seluruh wajah tersebut.
"Apa-apaan kalian ini?"
Salah satu dari mereka mempertanyakan, lagi-lagi iblis itu memiliki pembela yang rela mengorbankan dirinya seperti yang dilakukan Kang Jian. Padahal mereka yakin ketiga pemuda itu tahu konsekuensi yang didapatkan jika berpihak pada pembelot seperti Xue Zhan.
"Jangan melakukan pengorbanan bodoh pada orang yang akan mati ... Kalian hanya akan mati konyol," ringis Xue Zhan tak sanggup memikirkan jika suatu saat teman-temannya kehilangan segalanya karena membantunya hari ini. Bukannya sadar, mereka malah semakin keras kepala.
"Kawanku, kita memang belum mengenal lama. Tapi aku menganggapmu sudah seperti saudara yang kukenal sejak lahir."
Xian Shen tidak peduli dengan nama baik keluarganya, "Sebenarnya aku juga dipaksa datang ke sini."
Xue Zhan berusaha bangun menatap langsung pemuda-pemuda di depannya, wajahnya lebam sana sini dan sebelah matanya kesulitan melihat karena membengkak biru.
"Kembalilah, Tuan Muda Shen. Aku tahu kalian adalah teman yang baik. Jadi berhenti-"
"Aku bukan dipaksa oleh siapa pun. Aku dipaksa oleh hatiku sendiri. Mungkin dulu kita hanya mengikuti Ujian Pendekar Menengah. Tapi sekarang adalah ujian yang sebenarnya. Ujian Pertemanan di antara kita berempat."
Xiao Rong menimbrungi. "Masih ingat dengan kata-katamu dulu? Jika satu dari kita gagal, maka semuanya akan gagal. Dan jika salah satu dari kita menderita maka kita semua akan menderita."
"Ini berbeda! Apa kalian mau mati dengan nama tercoreng, jika bisa hidup pun selamanya kalian tidak bisa kembali sebagai pendekar yang dihormati. Ini bukanlah harga yang setimpal!"
Xiao Rong menarik kerah baju Xue Zhan, urung memukul temannya karena Xue Zhan sendiri terlihat seperti akan pingsan jika saja angin badai menerpanya.
"Jangan banyak omong saja! Gunakan ototmu untuk bertarung!"
Xue Zhan mencebik, dia mengatur pernapasan dalam sebaik mungkin. Di tengah situasi genting ini tak diduga tiga brengsek itu malah memperlambat kematiannya. Xue Zhan tak bisa membiarkan teman-temannya mati dibunuh orang yang memang berniat membunuhnya.
Asap putih tipis keluar dari mulutnya, Xue Zhan mengerahkan kekuatannya untuk membantu proses pemulihan diri. Meski tak banyak membantu tapi setidaknya dia masih mampu berdiri dan sekedar menangkis serangan lawan.
"Jadi ... Kalian bertiga, Tuan Muda Shen, Tuan Muda Jiazhen dan Pendekar Muda Rong sudah sepakat menjadi seorang pembelot seperti teman iblis kalian, Xue Zhan?"
Ziran Zhao memastikan dengan suara tegas. Ketiganya mengangguk sambil berkata, "Kami tidak keberatan."
"Kalian akan menerima hukuman yang paling pedih usai ini. Jangan berharap keluarga kalian akan menolong setelah ini semua selesai." Lelaki itu mempertegas balik dan berseru.
"Serang mereka semua!"
Api menjalar ke delapan penjuru mata angin, di tengah hujan deras itu Api Jiazhen Yan masih bisa menyala dengan panasnya. Benang-benang hitam milik Xiao Rong melilit dan membunuh lawan dengan cepat, Xian Shen sendiri menggunakan pedang untuk menangkis seluruh serangan yang masuk dari berbagai sisi.
Satu pedang meluncur deras di depan wajah Xue Zhan. Pemuda itu merasakan denyut sakit yang begitu menyakitkan hingga jatuh berlutut. Tak melihat sebuah senjata sedang mengincar kepalanya.
Seketika sebelum pedang itu jatuh membelah tempurung kepalanya, Xian Shen menahannya dengan pedang, Xiao Rong melilit tubuh Ketua Chang dari Lembah Abadi yang akan mencelakakan temannya dan Jiazhen Yan menghadang semua pendekar yang mendekati Xue Zhan.
Posisi itu membuat beberapa tetua tercengang. Ikatan persahabatan di antara keempat pemuda itu cukup menakjubkan, mereka tidak percaya iblis seperti Xue Zhan mampu menciptakan hubungan erat di mana orang-orang rela mempertaruhkan nyawa untuk membelanya.
Namun kesalahan tetaplah kesalahan, Xue Zhan telah membunuh dan mencelakai manusia. Dia pantas menerima kematian yang sepadan.
Tebasan pedang tidak berhasil mengenai Xue Zhan tapi berhasil memotong satu kalung yang terselip di balik jubahnya. Kalung itu terlempar cukup jauh hingga ke bawah kaki Jiazhen Yan yang menoleh perlahan-lahan.
Beberapa saat yang lalu ketika Xue Zhan mampir ke rumah singgah untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di sana, Xue Zhan menemukan kembali kotak peninggalan ibunya dan beberapa barang berharga di sana. Salah satunya adalah kalung dengan permata berwarna merah tersebut. Dia belum sempat melihatnya karena terburu-buru dan dikejar Yin Jiao.
Jiazhen Yan memungut benda itu, raut wajahnya perlahan berubah dan sulit diartikan. Xue Zhan tak pernah melihat ekspresi itu di wajah Jiazhen Yan, satu kali pun. Wajahnya tampak pias, pucat pasi. Namun juga diliputi amarah terpendam.
"Kalung ini ..." Jiazhen Yan mengeluarkan kalung permata salju miliknya. Di dalam permata bening itu ada sebuah tulisan nama transparan yang hanya bisa dilihat jika mengamatinya teliti.