
Xue Zhan berdiri di ambang pintu melihat seorang laki-laki di dalam kamar sedang bermeditasi.
"Apa yang terjadi pada si setan sialan itu? Mengapa dia begitu suram dan hawa pembunuhnya semakin kuat? Bahkan ketika menemui musuh setingkat Menara Giok Hantu dia tak pernah mengeluarkan aura penuh kebencian sebesar itu," gumam Xue Zhan.
Apa yang dilihatnya sejak tadi membuat isi kepalanya terus berputar, tadi Lin Yu Mei dan keluarganya. Lalu teman-temannya, kali ini ... Seseorang yang amat sangat dihormatinya.
Xue Zhan menatap punggung laki-laki itu dan hatinya seperti sedang ditusuk oleh belati. Rumor mengatakan bahwa laki-laki itu terluka parah dan berakhir bunuh diri di Sungai Terkutuk Lembah Abadi. Rasanya berita itu sama sekali tidak benar, Gurunya bukanlah orang seperti itu.
Dia benar-benar merindukan gurunya itu seperti sudah berpisah sepuluh tahun. Orang yang pertama kali menyambutnya dengan senyuman dan memberikannya kehidupan yang baik, siapa lagi kalau bukan gurunya, Kang Jian. Kini wajah laki-laki itu pucat pasi seperti patung manusia.
Ada beberapa alasan mengapa Kang Jian tak terlalu sering melatihnya. Lelaki itu selalu mengatakan dia memiliki kesibukan padat, tapi pada nyatanya setiap malam gurunya itu memiliki waktu yang cukup luang.
Namun waktunya habis untuk pernapasan dalam dan pemulihan, dia bisa bermeditasi hingga lima hari lamanya mengurung diri. Xue Zhan tidak pernah berani mengusik apa yang sedang berusaha disembunyikan laki-laki itu.
Jika Kang Jian menyembunyikannya itu artinya dia tidak siap Xue Zhan mengetahuinya, selama dua tahun Xue Zhan tutup mulut tanpa pernah membahas penyakit tersebut. Sebaliknya Xue Zhan mengunjungi perpustakaan, mempelajari kitab tenaga dalam dan langkah angin untuk mengiringi perkembangan ilmu bela dirinya.
Terkadang Jiazhen Yan berlatih bersamanya dan membantunya memahami teknik dan jurus yang diturunkan di perguruan Lembah Abadi. Hanya dengan cara itu Xue Zhan menutupi waktu latihannya yang kosong.
Di masa lalu Xue Zhan pasti tak akan berani masuk ke dalam kamar Gurunya dan bertanya. Dia terlalu lama berada di sana sampai tak menyadari sosok Kang Jian di dalam mimpinya berbalik badan dan menyadari kehadirannya.
"Zhan'er," panggil lelaki itu. "Apa yang kau lakukan di sana?"
"Guru," suara Xue Zhan balik, menatap wajah lelaki itu dengan penuh rasa bersalah. Dia lantas berjalan ke tempat di mana Kang Jian duduk dan memperhatikan wajah itu lama.
"Aku ..."
Xue Zhan ingin sekali bertanya tentang penyakit, kejadian yang dialaminya dan kenyataan di masa depan nanti dia akan mati dan Gurunya bunuh diri di sungai. Namun kalimat itu tertahan di ujung mulut dan justru pemuda itu bertanya hal lain.
"Apakah aku murid yang baik?"
Kang Jian sontak terkejut lalu tertawa kecil. "Kau adalah murid terbaik."
"Bukan karena aku satu-satunya murid yang guru punya?" Melihat tawa di wajah Kang Jian sedikit mengobati rasa sedihnya.
"Karena kau yang terbaik makanya aku memilihmu."
Xue Zhan menunduk, bahagia dan juga sedih. "Tapi aku selalu membuatmu kecewa, mendapatkan masalah dan bahkan membuatmu harus berkorban nyawa untukku. Aku murid yang payah, menjaga nama baikmu saja tidak mampu. Aku ... Meskipun aku tahu kau memiliki penyakit aku justru mengabaikannya dan tidak berusaha untuk menolongmu."
Sementara Xue Zhan meratapi penyesalannya Kang Jian justru menepuk kepala pemuda itu lembut, "Aku tidak peduli apa yang terjadi di masa depan dan bahkan bagaimana cara orang menganggapmu. Bagiku kau adalah satu-satunya murid yang hebat, itu tak akan pernah berubah. Hiduplah dengan baik, dengan itu penyesalanku terbayarkan," terang Kang Jian. Xue Zhan mengangkat wajahnya.
"Penyesalan? Maksud Guru? Guru tidak pernah mengatakan pernah memiliki penyesalan, lalu apa hubungannya denganku? Guru-!"
Kang Jian memudar menjadi butiran cahaya, saat hendak menarik lelaki itu yang mampu ditangkapnya hanyalah udara kosong. Xue Zhan berteriak.
"Guru!"
**
Ratusan kepingan ingatan berjatuhan di atas sebuah kotak kayu, melengkapi setiap bagian yang kosong, beterbangan di hadapan pemuda yang kini berdiri tercengang masih mengepalkan kedua tangan.
Semua yang dilihatnya itu sama sekali tidak pernah ada di dalam pikirannya. Mulai dari kematian Ayah dan Ibu Lin Yu Mei. Xue Zhan tidak pernah bertanya lebih lanjut tentang bagaimana kedua suami istri itu tewas, Kakeknya baru memberitahu itu sebelum akhirnya dia juga tiada.
Lalu teman-temannya, Jiazhen Yan yang memiliki satu kalung yang sama dengan yang dia miliki. Xue Zhan tidak pernah melihat lebih detail tentang kalung pemberian ibunya. Dia mengabaikan hal-hal kecil dan sekarang justru itu adalah hal terpenting yang dia lewatkan.
Ketika Lin Yu Shan memberikan kotak peninggalan terakhir ibunya yang dia temukan saat Xue Zhan masih bayi, Xue Zhan belum sanggup untuk mengetahui semua kebenaran. Tentang iblis di dalam dirinya dan sesuatu yang orang katakan sebagai Dosa. Dia takut dirinya adalah seorang monster dan tidak memiliki harapan hidup bersandingan dengan manusia.
Gurunya sendiri ...
Xue Zhan menatap satu keping ingatan dengan pantulan wajah Kang Jian mengambang di atas udara, dia mencoba meraih kepingan itu namun itu justru pergi menjauh darinya.
"Guru!"
Saat Xue Zhan mengejar kepingan itu langkahnya tertahan begitu saja. Kepingan itu terbang dan membawanya ke suatu tempat yang memiliki aura kekuatan begitu dahsyat. Tubuhnya hampir terhempas oleh angin kencang, Xue Zhan melindungi mata dengan lengan tangan berusaha melihat apa yang ada di depannya.
Dia mundur demi melihat sesuatu di dalam kegelapan itu dan perlahan-lahan mulai menangkap sebuah siluet raksasa yang tingginya mencapai hampir seratus meter, memiliki tanduk, dua belas kertas mantra ditempel di seluruh tubuh dan terikat oleh rantai yang mengunci sosok mengerikan itu.
Ada dua segel mantra yang terlepas bersama rantainya. Ketika sosok itu membuka mata baru Xue Zhan dapat memastikan bahwa memang ada sesuatu yang memiliki ukuran tubuh sebesar ini dan hinggap di dalam tubuhnya. Mengetahui itu kedua tangannya dingin seketika.
"Kau-" mulutnya bergetar, "Kau siapa?"
Ketika melihat sepasang mata merah itu Xue Zhan seperti melihat matanya sendiri, dia berusaha menepis semua pikiran. Monster di depannya menyerupai iblis yang jika di dunia asli memiliki tinggi yang bisa menyamai awan.
"Siapa lagi," ujar iblis tersebut sengaja ditahan.
Mata Xue Zhan seakan-akan tidak percaya, bagaimana mungkin dia mempercayai bahwa sesuatu sebesar dan sekuat ini telah bersemayam di dalam tubuhnya sejak dia lahir? Dia merasakan kedua kakinya lemas seketika dan jatuh berlutut, tak dapat menggerakkan barang satu jari pun dan rasanya hampir pingsan akibat besarnya dominasi kekuatan di tempat yang seharusnya adalah ruang hampa miliknya. Ruang di dalam tubuhnya yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
Apakah ini yang selama ini ditakuti oleh manusia? Yang membuatnya selalu dibenci dan ditakuti. Dulu Xue Zhan tak mengerti apa yang membuatnya berbeda dari anak-anak yang lain sehingga perlakuan orang begitu buruk terhadapnya.
Namun sekarang Xue Zhan paham apa yang selama ini mereka takuti. Dirinya tidak percaya, meski Ziran Zhao mengetahui semuanya dia masih berbelas kasih membiarkannya hidup. Seharusnya Xue Zhan berterima kasih seratus kali pada Kaisar Ziran, tapi semuanya sudah terlambat, iblis itu mengeluarkan suara yang menggema seluruh penjuru.
"Aku adalah Sang Dosa."
**