
Kepulan asap putih keluar dari mulut seseorang yang tengah bermeditasi, embun membeku menjadi es di bulu mata serta alisnya. Dia duduk di atas kepala naga putih besar yang tubuhnya bersembunyi di dalam sungai sedalam ribuan meter ke bawah dan dihuni jutaan hewan laut mematikan.
"Hm?" Xiang Yi Bai baru bangun dan menadahkan tangan, mendapatkan butiran es salju tipis jatuh di telapak tangannya.
"Sebentar lagi mungkin akan masuki akhir tahun. Lagi dan lagi, satu tahun lainnya terlewatkan begitu saja."
Mata sipitnya melihat ke arah sungai, Xue Zhan berlatih tanpa beristirahat untuk melatih pernapasan dalamnya sebaik mungkin. Satu minggu yang lalu dia memang sempat membahas tentang pentingnya pernapasan dalam untuk meningkatan kekuatan dan pengendaliannya. Tak menyangka muridnya membawanya serius omongan itu dan terus berlatih setiap pagi untuk melatih pernapasan. Siang dia beralih mempraktekkan gerakan yang dia ajarkan.
"Dulu waktu berlalu begitu lambat saat aku sendirian. Sekarang aku kejatuhan satu kutu dari dunia atas, tak terasa sudah enam bulan sejak kedatangannya." Dia berhenti di atas batu datar, Xue Zhan sudah menyiapkan makan pagi dan minuman arak untuknya.
"Benar-benar murid yang berbakti. Tapi tetap saja menyebalkan. Muka bebalnya saja sudah minta dipukul." Xiang Yi Bai menenggak minuman tanpa melepaskan pandangan dari Xue Zhan.
"Oi, bocah busuk!" serunya. Xue Zhan membuka mata, naga putih di bawahnya keluar dari air.
"Ada apa Guru?"
Xue Zhan masih enggan turun dari sana, melihat wajah naga putih kesayangannya Xiang Yi Bai membuang napas pelan. "Lihatlah nagaku itu sudah kram mengangkatmu. Biarkan dia bermain."
Xue Zhan dan naga putih saling menatap, tak lama pemuda itu terkekeh, "Naga bisa encok juga, apalagi Guru."
Xiang Yi Bai melotot, "Kau bilang apa?!" Dia naik darah kurang dari satu detik, "Cih! Dengan gurumu saja kau tidak hormat apalagi dengan orang lain di luar sana, pantas saja manusia-manusia itu memburumu karena mulutmu yang tidak pernah disekolahkan itu!"
Xue Zhan gemetar di tempat, dia lupa lawan bicaranya siapa dan seharusnya tidak seenaknya bercanda dengan Monster Tua yang sensi itu.
"A-ampun Guru," ujarnya gemetaran.
"Ciri-ciri bocah busuk, sekolah cuma sampai gerbang!"
Hujatan itu menusuk hati Xue Zhan, masih sepagi ini Xiang Yi Bai sudah marah-marah. Lelaki itu mendengkus.
"Tidak ada makan pagi untukmu, langsung lanjut latihan gerakan kedua yang kuajarkan, jangan berani-beraninya berhenti kalau tidak mau kujadikan umpan memancing ikan hiu nanti."
"Siap, mengerti Guru!" Xue Zhan menunduk. Sialnya dia hari ini, perutnya memang mulai terbiasa untuk menahan lapar beberapa hari. Tapi jika terus-terusan begini tenaganya tidak cukup untuk berlatih dengan maksimal.
Xue Zhan menapak di pinggir sungai, berjalan di atas air yang bergelombang kecil di bawah kakinya.
"Sebenarnya untuk apa aku berlatih gerakan-gerakan ini? Gerakan Menangkap Kelinci, Musang Berlari dan Harimau Memburu Kijang. Kenapa tidak sekalian gerakan Kodok Menyembah Matahari saja?" gerutunya diam-diam, seharusnya si Monster Tua itu tidak mendengarnya.
Dia berputar 360 derajat, melompat tinggi ketika tiba-tiba Xiang Yi Bai keluar dari dalam air dan hampir mengenainya.
"Guru--"
Xue Zhan tak sempat berbicara karena setelahnya Xiang Yi Bai menyerang dari segala sisi begitu cepat. Xue Zhan mundur berkali-kali dan terkena pukulan di kaki, pinggang serta dada. Serangan vital itu membuatnya langsung terluka tanpa perlu menunggu sepuluh detik.
Sejauh ini Xue Zhan tidak pernah berduel langsung dengan Xiang Yi Bai, dia cukup tahu diri soal kekuatannya jika dibandingkan dengan laki-laki itu. Dan sekarang Monster Tua menyerangnya tanpa aba-aba, Xue Zhan yang tidak ada persiapan kelabakan dan mengakibatkannya langsung terpojokkan.
"Masih berani memprotes dengan kekuatan kelas teri seperti ini?"
Xiang Yi Bai bahkan tak menarik senjatanya tapi Xue Zhan sudah hampir pingsan. Lelaki itu berjongkok, kakinya berputar di atas permukaan air sungai dan menciptakan semburan air tinggi berbentuk lingkaran yang menghalangi pandangan Xue Zhan. Pemuda itu melompat sia-sia karena detik yang sama Xiang Yi Bai mengikutinya dan menghantamkan kepala muridnya masuk ke dalam air sungai yang dangkal.
Xue Zhan tercekik tidak bisa bernapas, air masuk ke hidung dan mulutnya.
"Enam bulan bukan waktu yang singkat tapi kau baru belajar tiga gerakan?"
"Jika kita adalah dua binatang, aku akan langsung membunuhmu karena mengganggu wilayah kekuasaanku. Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku benar-benar melakukannya?"
Xue Zhan merinding. Sisi kejam Xiang Yi Bai dan sisi jenakanya seperti dua sisi uang logam yang saling berkebalikan. Hal inilah yang juga menjadikannya sebagai Ketua Agung Dunia Persilatan dulu.
Gelembung air dari mulut Xue Zhan naik ke permukaan, tidak ada lagi sisa pasokan udara di dalam paru-parunya. Xue Zhan mulai pening.
"Sebelum itu aku akan memikirkan apa yang harus kulakukan," jawab Xue Zhan.
"Yaitu mencari cara untuk mengalahkanmu," lanjutnya lalu tersedak air.
Xiang Yi Bai tiba-tiba mengembangkan senyuman dan menarik kepala Xue Zhan dari air. "Nah begitulah muridku yang seharusnya."
Muridnya terbatuk-batuk mengeluarkan air dari hidung dan mulut, dia menopang kedua tangan di lutut. Xue Zhan berbicara, "Entah kenapa aku seperti sedang disiksa oleh ibu tiri ..."
"Teruslah mengeluh, aku akan menyiksamu sampai kau berpikir ibu tiri tak sebanding denganku."
"Memang. Kalau Guru dan ibu tiri diadu, aku yakin guru langsung menang. Ibu tirinya sudah kau telan duluan."
Xiang Yi Bai menjentik kepala Xue Zhan dengan jari telunjuk.
"Protes terus. Berlatih lagi, kali ini dengan Bai Ye."
Bai Ye adalah naga putih Xiang Yi Bai. Naga putih itu keluar dari sungai, aliran air deras turun dari tubuhnya yang besar dan juga panjang, sisik putih naga itu berkilat seperti mutiara. Dia begitu indah namun juga garang seperti pemiliknya.
"Tu-tunggu, berlatih dengannya? Bagaimana mungkin?"
Xiang Yi Bai memberikan isyarat pada Bai Ye. Cahaya putih muncul membuat mata Xue Zhan silau dan seketika naga itu berubah menjadi sebuah pedang putih. Mulut Xue Zhan terbuka lebar-lebar. Dia kenal pedang itu, pedang dengan ukiran nama Raja Muda Perang milik Xiang Yi Bai yang selalu dibawa lelaki itu di belakang punggungnya.
Pantas selama beberapa hari ini Xue Zhan merasa ada yang kurang saat melihat Xiang Yi Bai. Siapa sangka pedang itu sebenarnya adalah naga putih besar, Xue Zhan masih tidak percaya.
"Kaget kan?"
"Lalu-? Yang empat naga putih itu juga sebuah pedang? Apa mereka berbeda dengan yang satu ini?"
"Naga putih itu hanya perwujudan dari kekuatan, sedangkan Bai Ye adalah yang asli. Hati-hati dengannya, tidak ku kendalikan pun dia akan menyerangmu tanpa pandang bulu."
"Dia bergerak sendiri?"
Beberapa pedang pusaka langit sebenarnya adalah jelmaan dari siluman kuat seperti yang Xiang Yi Bai miliki, sebagai salah satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia, Bai Ye seringkali diperebutkan sebelum akhirnya jatuh ke tangan Xiang Yi Bai. Kekuatan pusaka langit memang tak bisa diremehkan sehingga selalu menjadi perebutan manusia.
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari jubah putihnya. Dan untuk kedua kalinya Xue Zhan terkejut.
"Itu-? Kitab Phoenix Surgawi?"
"Kau lupa pernah menjatuhkannya ke sini sebelum jatuh dari jurang?"
Muridnya mengingat kembali dan dia nyaris melupakan soal kitab itu, sebelumnya Xue Zhan berpikir Kitab Phoenix Surgawi telah hancur saat jatuh dari ketinggian. Namun Xiang Yi Bai menyimpannya dengan baik. Lelaki itu berbicara menantang.
"Dalam dua tahun, jika kau berhasil menguasai seratus gerakan dasar dari Gunung Pohon Seribu maka aku akan mengembalikan Kitab Phoenix Surgawi ini. Setelah itu baru kau bisa mempelajari 24 jurus elemen dari kitab ini."