Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 108 - Rimba Para Siluman


Malam hari tiba. Xue Zhan menggores dinding batu dengan satu garis tempatnya menghitung hari selama tinggal di Jurang Penyesalan, dua minggu lainnya terlewati, Xue Zhan mulai berhasil menguasai tiga gerakan dasar dari Gunung Pohon Seribu.


Xiang Yi Bai sedikit tertawa, "Aku yakin kau tak akan menghitung seberapa lama kau tinggal di sini lagi nanti. Tidak ada gunanya."


Pisau tajam yang dia dapatkan dari mayat berhenti menggores dinding, Xue Zhan lantas membalikkan badan sambil menaikkan sebelah alis. "Memangnya Guru tidak? Oh iya, Guru kan sudah 20 tahun di sini."


Pemuda itu kembali menambahkan, "Tapi Iblis Dosa mengatakan dia mengenal Guru ... Aku ingin tahu, umur guru sebenarnya berapa?"


"Tebak sendiri, punya otak dipakai bukan dijadikan aksesoris."


Kalau Xue Zhan menusuk pisau itu ke jantungnya mungkin sakitnya akan sama seperti omongan Xiang Yi Bai. Anak itu merutuk dalam hati sebentar lalu berkata, "Lima puluh tahun?"


"Bukan."


"Enam puluh? Enam puluh lima?"


"Salah."


"Tujuh puluh?"


Xue Zhan tidak percaya jika Xiang Yi Bai mengiyakannya, untuk wajah semuda itu angka 50 tahun masih mungkin. Tapi 70 tahun setidaknya ada sedikit kerutan di wajah laki-laki itu.


Sejauh yang Xue Zhan lihat Xiang Yi Bai tak memiliki satu pun kerutan di wajahnya. Kulit itu seperti porselen seputih gading, bersih tapi kaku. Karena itu sejak awal Xue Zhan sempat mengira Xiang Yi Bai adalah manusia palsu.


"Lebih lagi."


Xue Zhan tercengang, "mana mungkin sembilan puluh tahun? Atau bahkan satu abad?"


"Entahlah aku juga sudah lupa."


Seharusnya sejak awal Xue Zhan lebih bersikap sopan pada Xiang Yi Bai, tapi laki-laki itu hampir sama seperti Gurunya Kang Jian yang tidak terlalu canggung seperti orang tua. Saat Xiang Yi Bai sibuk sendiri, Xue Zhan tenggelam dalam pikirannya.


Ternyata menguasai tiga jurus itu tidak terlalu berat, selama ini Xue Zhan memaksakan diri untuk mengikuti apa yang dicontohkan Xiang Yi Bai, gerakan itu mengikuti cara tubuh Xiang Yi Bai bergerak bukan cara tubuhnya bergerak. Alhasil latihannya tersendat-sendat hingga memakan waktu empat bulan lamanya.


Saat Xue Zhan mengikuti gerakan itu dengan caranya, dia menemukan gaya bertarungnya sendiri. Lincah tapi juga intens, berbeda dengan Xiang Yi Bai yang rapi dan terarah.


"Heh, serius begitu mukamu seperti monyet sedang menahan panggilan alam. Cepat makan ini."


Xue Zhan menoleh, Xiang Yi Bai memberikan makanan seperti bubur kematian yang dimasukkan ke dalam cangkang kerang besar sebagai wadah. Dia menahan mual saat bau menyengat menyerang hidungnya.


"Apa-apaan itu?! Arrgh baunya seperti tai ayam!"


"Bocah busuk, ini ramuan untuk menambah kekuatanmu yang berkembang seperti siput itu. Habiskan!"


Ada jamur hitam berbau menyengat yang dicampurkan dengan telur Kepiting Hijau sungai Jurang Penyesalan yang lebih busuk dari telur ayam busuk, ditambah lagi aroma buah-buahan aneh, buah tersebut hidup di dinding jurang dan memiliki racun yang bisa membuat sakit perut. Xue Zhan menutup hidung berniat kabur.


Sementara Xiang Yi Bai mengejar sambil membawa-bawa masakannya kepada Xue Zhan, dia merepet tiada henti.


Jika dilihat sekilas pemandangan itu seperti seorang ibu-ibu sedang memaksa anaknya memakan sayur.


Xue Zhan sudah pernah memakan hidup-hidup jamur hitam tersebut dan langsung pingsan.


"Bocah busuuuk!! Kemari kau, habiskan ini kalau tidak mau kutenggelamkan!!" marah Xiang Yi Bai.


"Tidaaak! Siapa pun selamatkan aku!!" Xue Zhan mencari pertolongan pada Bai Ye, tapi naga itu langsung mengubah wujud menjadi pedang—takut menjadi sasaran ramuan sakit perut itu.


Xiang Yi Bai menggerakkan kain kecil tipis dari jubahnya yang langsung mengejar dan melilit pinggang Xue Zhan, menyeretnya kembali ke sebelah Xiang Yi Bai. Anak itu menangis darah, Xiang Yi Bai benar-benar tidak memiliki hati dan membuatnya menelan habis semua makanan itu, mau muntah pun Xiang Yi Bai akan memarahinya.


"Segitu saja cengeng, belum ketemu dengan cicak loreng, mungkin langsung melihat Gerbang Kematian." Omelan laki-laki itu seperti tidak ada habisnya, Xue Zhan mulai merasakan perutnya kesakitan.


"Cicak loreng?" Pemuda itu memegang perut. Sesaat dia menyesal sudah bertanya, pertanyaan itu mengundang malapetaka selanjutnya.


"Benar juga, Cicak Loreng. Satu tahun setelah kematian sahabatku aku bertapa di satu tempat tertinggi di Jurang Penyesalan, di sana Cicak Loreng hidup, mereka memiliki khasiat besar tapi juga sangat beracun. Jika kau mampu menetralisir racun tersebut aku yakin siluman itu akan membantu banyak perkembangan tenaga dalammu."


"Gu-guru aku tidak mau—"


"Cicak Loreng ini hanya hidup di tempat dengan suhu ekstrem, ada satu air terjun dengan air yang sangat panas di tempat ini. Mereka hidup di dalam goa di balik air terjun itu dan memiliki umur sangat panjang, bisa sampai lima puluh tahun. Yang paling besar bisa dua kali lipat dari tubuhmu."


Xue Zhan bergidik ngeri, memakan cicak biasa saja dia tidak sanggup. Ini memakan siluman cicak yang ukuran tubuhnya dua kali manusia biasa?


Di sisi lain Xiang Yi Bai masih menjelaskan panjang lebar, "Hanya satu tahun aku berada di sana dan kekuatanku yang terkuras habis kembali sangat cepat bahkan bertambah. Aku akan mengajarkan tiga jurus besok pagi, setelah itu kau langsung pergi ke sana dan berlatih. Sebelum malam tahun baru tiba usahakan kau sudah menguasainya dan kembali ke tempat ini. Jika belum, jangan berpikir untuk kembali."


Biasanya Xue Zhan selalu kelaparan karena Xiang Yi Bai tak membiarkannya makan dengan bebas. Tapi sekarang rasanya lebih baik tidak makan dua bulan dibandingkan setiap hari memakan cicak. Apa pun serangganya, Xue Zhan geli setengah mati. Lebih-lebih dengan kecoa.


Di dasar Jurang Penyesalan terdapat banyak tempat yang belum Xue Zhan kunjungi. Setelah Goa Es yang sangat dingin ada satu tempat yang jaraknya mungkin mencapai ratusan ribu meter mengikuti belahan jurang, medan tempuhnya berbahaya dan dihuni siluman ganas. Jika Xue Zhan pergi sendiri ke sana, Xiang Yi Bai yakin dia akan mati sebelum menyentuh jarak seratus meter.


Awalnya Xiang Yi Bai juga jatuh di tempat itu sebelum sampai ke tempat ini yang jauh lebih aman. Tempat itu panas dan menjadi surga bagi siluman berdarah panas. Buaya, ular, cicak, serangga atau hewan melata lainnya hidup beranak-pinak di sana.


"Kenapa begitu tiba-tiba ... Tahu begini aku akan berlatih lebih keras lagi ..."


"Kau sudah berlatih sangat keras, bocah. Aku menyuruhmu bukan tanpa tujuan. Mana tanganmu."


Xue Zhan membiarkan Xiang Yi Bai mengecek nadi darahnya, laki-laki itu mengangguk.


"Ada tanda-tanda Gerbang Keduamu akan terbuka. Kau bisa mempercepatnya dengan mengonsumsi Cicak Loreng itu. Melihat kemampuan pemulihan tubuhmu aku yakin kau masih bisa hidup setelah memakan siluman beracun itu walau kemungkinannya hanya 40 persen saja."


"Guru..." Xue Zhan memelas. Tidak sanggup dibiarkan hidup sendiri di dalam marabahaya. Dia terbiasa dengan cara mengajar Kang Jian yang seperti malaikat, Xiang Yi Bai ini seperti setan. Atau memang leluhurnya para setan.


"Tidak ada tapi-tapi. Siapkan peralatan bertahan hidupmu besok."


Xue Zhan seperti disuruh angkat kaki dari rumah ibu tirinya. Xiang Yi Bai kembali ke pondoknya dan berbaring, sebelum tidur dia masih sempat mengomel.


"Tiduur, bocah busuk."


Terima atau tidak, sekali Xiang Yi Bai berkata demikian sudah tidak bisa diubah. Xue Zhan hanya bisa terima nasib. Untuk beberapa minggu berikutnya dia harus bertahan hidup sendirian di rimba para siluman berbahaya dan melatih kemampuannya dengan mandiri. Tidak ada jaminan dia bisa selamat. Apalagi harus mengonsumsi racun setiap harinya. Baru membayangkannya, Xue Zhan mulai takut.


Tapi Xiang Yi Bai benar, jika dia ingin kuat tak ada yang namanya jalan yang mudah, ini adalah satu-satunya cara. Dia memiliki banyak musuh di dunia atas, semuanya kuat dan berkuasa. Jika ingin mengalahkan mereka, dia harus lebih kuat dari musuhnya.