
Sebelah tangan Xue Zhan memegang pilar batu, di belakangnya dua laba-laba berhasil menyusul dengan cepat. Dia berputar dengan berpegangan pada pilar tersebut, menendang tubuh dua laba-laba sekaligus dari belakang. Tak disangka dari belakang laba-laba lain muncul hampir mengenainya dengan tangan yang tajam.
Dengan mengandalkan kecepatan berlarinya Xue Zhan sampai ke dinding goa, dia berlari ke dinding dan melompat berputar. Tendangan telak menghantam kepala laba-laba tersebut hingga hancur bersama tanah di bawahnya.
Para laba-laba yang masih mengejar di belakang sesaat terhenti.
Xue Zhan memejamkan mata sembari menarik pedang dari sisi pinggangnya. Aura merah dari sosok tersebut semakin terasa mengecam dan membuat musuh tak berani maju untuk sesaat.
Kilat di bilah pedang putih memancarkan cahaya, pantulan wajah laba-laba terlihat di besi pedang tersebut.
Raja Laba-laba kembali mengeluarkan gelombang suara aneh yang menghipnotis para kawanannya untuk menyerang Xue Zhan. Pemuda itu mengeratkan pegangan tangannya pada pedang, pusaran angin di bawah kakinya terlihat sepintas. Lalu dia maju tanpa berpikir dua kali, menebaskan pedang secara cepat saat melewati kerumunan siluman tersebut.
"Tarian Pedang Angin!"
Bayangan cahaya putih muncul sedetik mengikuti gerakan pedang yang berputar berliku di dalam kawanan laba-laba. Xue Zhan berhenti di belakang lawan dengan pedang di atas kepala, mata merah itu kembali terbuka menatap Sang Raja Laba-laba yang berada tepat di belakang laba-laba kecil tersebut.
Raja Laba-laba mendesis terancam ketika Xue Zhan berjalan pelan ke arahnya tanpa memalingkan muka.
Tepat di belakang Xue Zhan air darah mencuat dari tubuh para laba-laba, ketujuh mata tersebut menatap Xue Zhan sedikit gentar. Kawanannya tewas seketika dalam keadaan terpotong-potong bersimbah darah.
Raja Laba-laba mendesis sangat kencang tapi kali ini tidak ada lagi yang mengikuti perintahnya karena semua laba-laba itu mati, hanya tersisa dirinya. Xue Zhan merentangkan pedang ke samping sambil berjalan ke arahnya. Siluman itu memutuskan untuk bertarung sendirian.
Energi kekuatan berkumpul di pergelangan tangan kanan pemuda itu, bahkan dengan mata telanjang pun masih dapat dilihat dengan jelas. Begitu besarnya kekuatan itu membuat angin di sekitarnya bergerak tak terarah. Laba-laba mendekat begitu pun dengan Xue Zhan yang mulai mempercepat langkah kakinya.
Keduanya saling mengejar satu sama lain, hingga akhirnya bertemu di tengah-tengah goa Air Terjun Panas. Raja Laba-laba kebingungan dan mencari ke segala arah, Xue Zhan menghilang tiba-tiba.
Dia langsung memeriksa ke bawah kaki karena yakin manusia setengah iblis itu akan muncul dari sana seperti sebelumnya.
"Kau salah! Aku di atasmu!"
Detik di mana Raja Laba-laba mengangkat kepalanya, di saat itu pula mata pedang yang tajam menembus matanya hingga menembus tulang. Xue Zhan memberikan tekanan yang besar, membuat mata pedang itu sampai menembus tanah. Dia menarik pedang ke belakang, berusaha mengoyak tubuh laba-laba itu menjadi dua.
Raja Laba-laba memberontak keras, dia masih memiliki keinginan untuk hidup yang besar. Xue Zhan tak memberikan kesempatan untuknya melepaskan diri sama sekali.
"Sifat alamimu yang suka membunuh itu merugikan siluman lain. Kau tidak bisa dibiarkan hidup."
Dia mengakhiri kalimatnya bersamaan dengan nyawa laba-laba itu, tubuh Raja Laba-laba terpotong menjadi dua. Darah hitam mengotori lantai batu goa, ratusan burung yang bertengger di langit-langit goa mulai kembali turun setelah marabahaya hilang.
"Sudah, sudah. Kalian aman." Xue Zhan tertawa ketika salah satu burung terbang cepat menubruk tubuhnya sampai terjungkal. Dia memeluk burung itu dan melepaskannya. Ribuan burung di atas kembali seperti biasanya, beberapa mulai turun untuk mencari ikan di air terjun panas.
Xue Zhan senang bisa membaur dengan mereka. Siluman di goa ini tak menganggapnya musuh sama sekali karena sejak awal Xue Zhan tak pernah menyakiti mereka. Mungkin ada beberapa siluman serangga yang menyerang satu sama lain tapi mereka masih bisa hidup berdampingan.
"Kukira kau sudah mati di dalam."
Suara itu milik Fenghuang. Xue Zhan lantas segera menyusul dan duduk di atas salah satu batu di bawah air terjun.
"Baru kutinggal sebentar sudah pening saja kau, ayam warna-warni."
Fenghuang menatap ke samping.
"Lihatlah dirimu manusia rendahan. Sudah berapa lama kau tinggal di goa sampai tidak tahu ini sudah bulan ke berapa?"
"Hah? Apa maksudmu?" Xue Zhan mengernyitkan dahi heran. "Aku baru dua bulan di sana. Setelah ini aku akan kembali ke tempat guru untuk merayakan tahun baru. Kan sudah kukatakan padamu, aku akan membawamu ikut untuk bertemu dengan Guru."
Fenghuang mulai kesal, "dua bulan katamu?"
Dia mengeluarkan sebelah sayap dan menghantam kepala Xue Zhan.
"Ini sudah tiga tahun dua bulan!"
Xue Zhan awalnya biasa saja. Malah terlihat sangat anteng sebelum otak sebesar biji keledainya mulai bekerja dan mencerna apa yang dikatakan Fenghuang. Mata merahnya membesar, mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara.
Fenghuang bersuara kembali,
Baru detik itu Xue Zhan mengeluarkan reaksi paniknya, sampai-sampai memegang kepala dengan heboh.
"APAAA?!"
Dia mengguncang tubuh Fenghuang berulang kali, membuat phoenix itu mulai kehabisan kesabaran.
"Kau ini bodoh atau dungu?"
"Tidak mungkin!"
Tapi ketika Xue Zhan memerhatikan sekelilingnya memang goa itu berubah banyak dari yang terakhir kalinya. Dia masih tak percaya sampai Fenghuang menyuruhnya memastikan sendiri.
"Pergi lihat dirimu di pantulan air. Kau katai saja kenapa mahluk itu sangat idiot."
Xue Zhan menurunkan bola matanya untuk melihat pantulan dirinya di atas air terjun. Lantas matanya terbuka.
"Aaa siapa ini-!?" Xue Zhan sampai tidak mengenal dirinya sendiri.
"Nah, terlalu lama di goa sampai tidak tahu diri," ledek Fenghuang. Dia menunggu Xue Zhan selesai dengan kekagetannya beberapa menit sambil merentangkan sayapnya.
"Jadi selama ini kau menungguku latihan?"
Fenghuang tampak sangsi. "Mana mungkin. Ini memang salah satu sarangku."
"Jadi yang di laut dengan pohon raksasa itu?"
"Itu adalah tempat saat aku akan mati."
Xue Zhan bergidik ngeri. "Berarti kau ini apa? Mayat yang bisa terbang?"
Sebelah sayapnya mengenai wajah Xue Zhan yang bodoh.
"Aku bisa hidup berapa kali pun kumau. Bahkan ketika aku mati, aku akan bereinkarnasi di tubuh yang sama dengan takdir yang sama. Terjebak di Jurang Penyesalan." Dia memalingkan muka.
"Aku mengerti." Xue Zhan kembali penasaran dengan tubuhnya dan memeriksa denyut nadinya sendiri. Selama tinggal di dalam goa tak terhitung berapa lama dia berlatih, mengumpulkan daging siluman dan memakannya mentah-mentah, dan bermeditasi. Tidak ada siang dan malam. Tempat itu gelap gulita dan hanya diterangi cahaya dari bintik di tubuh Cicak Loreng yang mengeluarkan warna terang.
"Kau tumbuh begitu cepat, bocah. Sampai lupa waktu membantai para Cicak Loreng di dalam."
Xue Zhan mengangkat wajah sesaat sebelum menerima perubahan lain di tubuhnya.
Xue Zhan dapat merasakan perubahan kekuatan itu dengan sangat jelas. Seperti yang Xiang Yi Bai katakan, kekuatannya terasa penuh dan perkembangan kekuatannya begitu pesat. Tulangnya kian keras dan aliran darah dan pernapasannya jauh lebih stabil.
Xue Zhan tersenyum sepintas. "Aku tak sabar ingin bertemu Guru." Dia mulai merindukan laki-laki gila arak itu, Fenghuang berjalan menjauh.
"Aku akan tetap di sini."
"Hei ayolah, aku tidak bisa pulang sendirian."
"Bukankah kekuatanmu sudah cukup untuk bertarung melawan siluman-siluman di luar."
"Aku lupa jalan," dalih Xue Zhan sembari menyengir bodoh.
Fenghuang mengumpat, "Dasar bocah udik. Aku tidak mau menemui Monster itu, kau pergi sendiri sana."
"Hm ... Kau yakin? Yah, padahal aku ingin memberitahumu lebih banyak tentang dunia atas. Dan bertanya pada Guru tentang cara mematahkan segel langit. Dia adalah Ketua Agung Dunia Persilatan dulu, seharusnya tahu lebih banyak tentang teknik ini. Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin memaksamu."
Fenghuang tiba-tiba berbalik badan. "Dia tahu caranya?" Suaranya cepat.
"Mungkin saja. Kau ingin menyia-nyiakan kesempatan ini dan terus bereinkarnasi menjadi burung yang dikurung di dalam kandang?"
"Aku ikut." Fenghuang tak berpikir dua kali lagi. Xue Zhan menang. Dia sebenarnya ingin bertanya mengapa Fenghuang bisa disegel di Jurang Penyesalan. Namun pertanyaan tersebut akan disimpannya sampai kembali bertemu dengan Batara Pedang Suci itu, Xiang Yi Bai.