Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 164 - Kepala Klan Jiazhen


Aula Leluhur Abadi memiliki langit-langit yang tinggi dan dinding-dinding yang terbuat dari batu alam yang dipahat dengan indah. Di dalamnya terdapat beberapa jendela besar yang menghadap ke luar, memungkinkan cahaya matahari untuk masuk dan menerangi seluruh ruangan.


Suasananya tenang dan hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus lembut di luar ruangan dan kadang-kadang terdengar suara kicauan burung dari luar halaman. meskipun suasana begitu tenang, namun di dalam aula ini terasa aura yang misterius dan seakan-akan memiliki kebisingan tersendiri yang tidak bisa dijabarkan.


Fenghuang menyentuh beberapa benda yang telah berdebu. Di ruangan terdapat beberapa patung-patung besar di setiap sudut ruangan, yang melambangkan para pendiri dan tetua-tetua yang telah berjasa dalam mengembangkan seni bela diri dan kebijakan para leluhur. Di sisi lain, terdapat juga beberapa meja dan kursi yang terbuat dari kayu yang halus dan dihiasi dengan ukiran-ukiran cantik.


Namun yang paling menarik perhatian adalah pedang yang terpasang di tengah-tengah ruangan. Pedang itu terlihat sangat tua dan unik, dengan gagang yang terbuat dari kayu yang halus dan dihiasi dengan intan permata yang sangat indah. Terdapat pula beberapa simbol yang terpahat pada bilah pedang tersebut, yang mungkin saja memiliki arti tersendiri bagi para tetua dan pendiri Aula Leluhur Abadi. Pedang itu adalah pedang yang dimiliki oleh Tetua ke-45.


Meskipun tetua ke-45 yang memilikinya telah tiada, namun pedang tersebut tetap tajam dan terlihat seperti baru, seolah-olah memiliki kekuatan spiritual yang membuatnya tetap seperti semula hingga saat ini. Pedang tersebut menjadi salah satu peninggalan paling berharga sekaligus peninggalan terakhir Tetua ke-45 di Aula Leluhur Abadi.


Xue Zhan, Xiang Yi Bai dan Fenghuang berada di dalam semak-semak yang tumbuh di dekat tembok luar Aula Leluhur Abadi. Mereka berusaha untuk merencanakan dengan hati-hati, mengingat bahwa masuk ke dalam Aula ini sangat berbahaya dan dilarang keras.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya melihat seorang pria keluar dari Aula tersebut. Pria tersebut terlihat sangat lelah dan kemungkinan besar telah selesai membersihkan ruangan. Xue Zhan memberi isyarat kepada temannya dan mereka mulai bergerak menuju Aula dengan perlahan-lahan.


Setelah sampai di pintu Aula, Xue Zhan mencoba membuka pintu menggunakan kunci yang ia ambil dari pinggang pria tadi. Setelah beberapa kali mencoba, pintu akhirnya terbuka dengan lembut dan mereka masuk ke dalam Aula secara diam-diam.


Xue Zhan teringat bagaimana Tetua ke-45 mati di tempat itu, detik di mana hari-harinya berubah kelam dan sangat mengerikan.


Pesan terakhir yang disampaikan Tetua ke-45 masih terus terngiang di kepalanya.


'Lindungi apa yang harus kau lindungi.'


Dia sempat menduga Tetua ke-45 sebelumnya mungkin sudah tahu bahwa hari itu adalah hari kematiannya, tapi bagaimana bisa misteri ini begitu rumit sehingga tak satu pun ahli dari Kekaisaran yang mampu mengungkap sebenarnya senjata seperti apa yang membuat lelaki itu terbunuh.


Di sisi lain Xiang Yi Bai sibuk mengamati seluruh ruangan. Ketika dia memeriksa dinding ruangan yang dihiasi lukisan bunga abstrak, tiba-tiba lelaki itu menemukan keganjalan di salah satu bagian dinding. Dia mencurigai ada sesuatu di balik dinding tersebut, dan segera mendekat.


Jarum itu terlihat samar-samar, tetapi Guru Xiang Yi Bai tahu persis bahwa itu adalah jarum beracun yang sangat mematikan.


Saat dia berjalan mendekati jarum itu, muridnya Xue Zhan dan Fenghuang ikut mendekat untuk melihatnya. Namun, Guru Xiang Yi Bai segera menepis kasar tangan Xue Zhan yang hendak memegang jarum itu.


"Jangan sentuh jarum itu!" ujarnya tegas. "Jarum itu masih beracun bahkan setelah lima tahun menancap di sana."


Setelah berhasil memindahkan jarum beracun dari dinding, Guru Xiang Yi Bai menyimpannya ke dalam sebuah botol kaca kecil dengan hati-hati. Kini mereka memiliki bukti yang dapat membuktikan bahwa muridnya, Xue Zhan, tidak terlibat dalam kematian Tetua ke-45.


Namun, mereka masih belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk mengungkap siapa pelaku di balik pembunuhan tersebut. Mereka perlu mencari tahu tentang keberadaan pemilik racun Kelabang Jarum, Yue Linghe.


Sejenak ketiganya terdiam saat terdengar suara derap kaki dari luar. Dua orang berlalu sambil berbincang dengan tertutup. Xue Zhan mendekat ke arah jendela dan mendengar apa yang mereka omongkan diam-diam.


"Mereka cek-cok lagi?"


"Kau tidak tahu, kepala klan Jiazhen semakin berani. Kemarin dia menuduh Kaisar kita telah membunuh Petir Merah, Kang Jian. Sekarang dia juga mengatakan bahwa Kaisar telah membunuh anaknya karena terlibat pembelotan lima tahun yang lalu! Sungguh disayangkan, padahal aku sangat kagum dan menghormatinya. Selama putranya masih ada, dia tidak pernah segegabah ini."


Lelaki yang satunya menanggapi dengan simpati. "Kehilangan seorang anak bahkan bisa membuat laki-laki sepertinya kehilangan akal sehat. Kudengar dia tidak takut dihukum mati atas perbuatan ini. Jika dia tidak segera minta maaf ... Aku tidak tahu lagi, mungkin saja dia akan dihukum mati. Semua keputusan ada di tangan Sembilan Dewan."


Xue Zhan membuka matanya. Dia begitu ingat dengan sosok tersebut. Sosok yang selalu memakai pakaian berwarna merah api yang terbuat dari kain sutra yang berkualitas tinggi, dengan motif dan warna yang sederhana namun elegan. Jiazhen Wu adalah seorang kepala klan yang sangat terhormat dan berkharisma, dan hal itu tampak jelas dari sikapnya yang tenang dan penuh penghargaan.


Meskipun terlihat kaku dan garang pada awalnya, Jiazhen Wu memiliki hati yang lembut dan baik. Dia sangat dihormati oleh anggota klannya dan dihormati oleh banyak orang di dunia persilatan.


Xue Zhan mengingat pertama kali melihat Jiazhen Wu, sempat takut dengan wajah seramnya. Namun di balik sikap kerasnya, ada kebaikan yang sangat dalam di dalam hati laki-laki itu.


Xue Zhan tidak bisa membiarkan satu-satunya keluarga temannya yang tersisa dihukum mati seperti itu. Tangannya terkepal erat. Andaikan dia tahu di mana Jiazhen Yan berada saat ini, dia pasti akan langsung memberi tahu laki-laki itu. Yang Xue Zhan tahu baru sang pembunuh Tetua ke-45.


Kehilangan ibunya saja sudah membuat Jiazhen Yan terpukul sedemikian berat. Temannya itu sudah membantunya dalam banyak hal salah satunya dalam latihan. Dia tidak ingin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya.


Xue Zhan menatap ke belakang. "Aku ingin bertemu dengan Tuan Jiazhen. Dia berani mengatakan bahwa Kaisar Ziran adalah pelaku di balik ini semua, aku yakin dia telah menyelidiki lebih lama dan mempunyai sejumlah informasi rahasia."


"Kalian ikut?" Xue Zhan sempat canggung, padahal ini adalah urusannya tapi Fenghuang dan Xiang Yi Bai juga ikut kesusahan.


"Lalu apa? Tinggal di sini menunggu dicambuk?" Fenghuang menjawab ketus.