Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 92 - Kilas Balik II


Tetes darah mengalir di bilah pedang sang pemilik yang kini ditusuk menggunakan pedangnya sendiri.


Xue Zhan membuka mata lebar-lebar, keringat dingin membasahi wajahnya dan seketika kedua tangannya gemetar hebat.


"A-aku ... Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin!"


Saat Xue Zhan akan menusuk tubuh Yan Shumei laki-laki itu dengan mudah menghindar dan pedang itu menembus seseorang di balik Yan Shumei, Lin Yu Pei.


"Zhan'er ..." Lin Yu Pei menggenggam pedang yang menancap di perutnya, memuntahkan darah dari mulut sambil terbatuk. "Kau adalah anak yang pemberani."


Xue Zhan kecil menjerit, "Tidak, Ayah! Aku tidak melakukannya! Aku tidak berniat membunuhmu-!" Pemuda itu begitu panik dan ketakutan. Dia menangis sambil mengguncang tubuh Lin Yu Pei yang semakin melemah.


"Tidak mengapa, Zhan'er. Berjanjilah untuk menjaga adik dan kakekmu. Mereka sangat berarti bagiku. Dan ... sepertinya ini pertama kalinya kau memanggilku ayah. Aku begitu senang."


Dia menatap mayat istrinya yang tak begitu jauh. "Istriku akan begitu senang jika tahu hal ini ...."


"Tidak!!"


Lelaki itu tersenyum saat kematiannya bahkan ketika jasadnya dikebumikan. Yan Shumei pergi meninggalkan kediaman itu setelah sepasang suami istri itu tewas dan beberapa prajurit kenalan Lin Yu Shan datang untuk menyelamatkan keluarga tersebut.


Sejak saat itu Xue Zhan menyesali kematian itu dan terus mengutuk dirinya selama beberapa bulan, sampai meskipun dia melupakannya tanpa sebab, penyesalan itu akan tetap abadi dalam hatinya.


Xue Zhan yang sekarang menyadari peristiwa itu begitu sama dengan yang terjadi pada Lin Yu Mei. Gadis itu menoleh kepadanya dengan begitu kosong, ada rasa bersalah yang amat besar hinggap di hatinya dan membuat Xue Zhan berkali-kali menyalahkan diri atas kematian kakek dan adiknya.


"Bahkan ketika aku membunuh Ayah dia masih memberikan kemurahan hati dan memaafkanku. Mengapa? Mengapa saat Mei'er melakukannya aku memarahi dan membuangnya?" Dia memejamkan mata membiarkan air mata lagi-lagi membasahi kedua pipinya, takdir bermain dengan sangat keji. Atau justru dia yang tidak tahu diri.


Hanya ruang kosong yang terlihat saat ini. Namun Xue Zhan masih menggenggam tangan adiknya, keheningan melanda sejenak hingga gadis kecil itu berbicara, "Kakek berbohong. Bukan penjahat yang membunuh Ayah, tapi Kakak Zhan sendiri."


"Mei'er, aku minta maaf. Aku tidak tahu—"


"Lalu mengapa saat aku melakukan hal yang sama kau meninggalkanku?!"


"Kau boleh membenciku, tapi aku tak ingin ikatan persaudaraan di antara kita hancur," ujarnya berjongkok di depan Lin Yu Mei yang masih berumur 9 tahun.


"Persaudaraan apa?" Lin Yu Mei mengibaskan tangan kasar, saat dia bicara hal itu mengingatkannya pada ucapan yang pernah Xue Zhan lontarkan dengan begitu jahatnya pada gadis kecil tak bersalah itu.


"Aku dan kau tidak memiliki ikatan darah apa pun. Kita bukanlah kakak adik kandung! Kau hanyalah anak pungut dan keturunan iblis yang bisa membunuhku kapan saja! Kau adalah penyebab ibuku mati, pembunuh ayahku, membuat kakek jatuh sakit dan kehilangan pekerjaan dan menghancurkan rumah kami yang dulunya begitu damai!"


"Mei'er ...."


Xue Zhan setengah berlutut.


"Aku hanya ingin menyampaikan satu hal padamu," ujarnya menatap mata Lin Yu Mei yang terasa begitu berbeda, saat dia menyadari rambut gadis itu mulai memanjang dan tubuhnya sedikit lebih tinggi dari terakhir kali. Lin Yu Mei di depannya sama sekali berbeda, Xue Zhan nyaris tak percaya orang itu adalah adiknya.


"Sebenci apa pun kau kepadaku, aku akan selalu menyayangimu. Aku hanya memiliki kau sebagai satu-satunya keluarga yang kupunya. Dan aku berjanji pada ayah untuk selalu menjagamu walaupun pada akhirnya aku gagal menepatinya. Kau boleh membenciku. Ini adalah salahku."


Gelap.


Xue Zhan tersentak, Lin Yu Mei telah hilang dari pandangannya dan tiba-tiba saja dia sudah berada di sebuah kedai makanan di mana tiga pemuda duduk di depannya sambil bersenda gurau. Ini adalah ingatan sebelum mereka pergi ke Kekaisaran Feng untuk misi penyelamatan Nona Wen, Xue Zhan begitu mengingatnya.


"Apa ini? Ke mana Mei'er? Kakek? Paman Lin? Lalu Bibi?"


"Hah? Sedang mengigau apa bocah ini di siang terik begini? Hei, apa kau baru saja kejatuhan bulan di kepalamu sampai meracau begitu?" Xian Shen tertawa setelah mengejek, menuangkan teh di gelas kecil dan menyodorkan padanya.


Xue Zhan termangu. Ini hanyalah mimpi, tapi mengapa terasa begitu nyata. Dia menatap Jiazhen Yan yang masih sama seperti biasanya. Mengingat betapa murka temannya saat semua kebenaran terungkap.


"Hei," panggilnya membuat pemuda bermarga Jiazhen itu tertoleh. "Apalagi?"


"Kalungmu itu ... Apakah dia memiliki dua permata dengan sebuah nama yang sama di setiap kepingnya?"


Jiazhen Yan terdiam. "Bagaimana kau tahu?"


Dia mengepalkan tangan.


"Aku memiliki kepingan satunya lagi yang berwarna merah dan kau begitu marah saat mengetahuinya. Lebih baik kau hajar aku sekarang daripada kelak kau mengetahuinya sendiri, aku akan menerima semua konsekuensinya meski harus membayar dengan nyawaku."


Xiao Rong dan Xian Shen saling menatap kebingungan, Xue Zhan melamun dan berkata hal yang sangat tiba-tiba.


"Saudara Zhan, sepertinya bukan bulan lagi yang menimpa kepalamu. Mungkin terjedot matahari sampai isi otakmu terbakar. Kasihan sekali, Saudara Rong, bantulah teman kita itu."


"Daripada dia kau lebih cocok disebut sebagai orang sinting." Xiao Rong malah meledek Xian Shen yang membuat pemuda itu memelototinya geram.


Jiazhen Yan mengabaikan dua bocah yang sibuk bertengkar itu, tanpa menoleh pada Xue Zhan dan membuka suara.


"Kau itu temanku," jawab pemuda itu begitu anteng, sampai-sampai Xue Zhan tak mempercayainya. Meski ini hanya mimpi dia yakin Jiazhen Yan tak akan menanggapi ini dengan setenang itu.


"Kau satu-satunya teman yang paling kupercayai. Tapi aku pernah berjanji akan membunuh siapa pun yang telah membunuh ibuku. Jika pembunuh itu adalah kau, aku hanya akan menceburkanmu ke laut untuk menjadi santapan hiu."


"Nyawaku tidak lebih berarti dari sumpahmu, kawan."


Jiazhen Yan menoleh padanya sambil tertawa, "Jika aku membunuhmu aku tidak akan mendapatkan apa-apa, masa lalu tetap tidak akan berubah, bodoh." Dia melanjutkan murung, "Tapi aku kehilangan satu-satunya temanku. Bukankah justru aku yang rugi?"


Lagi dan lagi ruang di hadapan Xue Zhan berubah selayaknya labirin ingatan yang memunculkan satu per satu ingatan di dalam kepalanya, dia terperangkap. Namun Jiazhen Yan kini berdiri di hadapannya. Sama seperti Lin Yu Mei tadi, sosok Jiazhen Yan yang biasa terlihat arogan dan pemarah kini berubah total sampai Xue Zhan kebingungan.


Temannya itu tak lagi mengenakan jubah merah api berlambang klan Jiazhen. Jiazhen Yan mengenakan jubah putih yang biasanya dikenakan untuk berduka atas kematian seseorang. Tatap matanya dipenuhi beribu kekecewaan dan penyesalan, di saat itu entah mengapa Xue Zhan melihat pemuda itu telah kehilangan dirinya sendiri. Pedang di tangannya berlumuran darah ratusan manusia. Tak ada lagi sisa kemanusiaan tersimpan di hatinya.


Saat Jiazhen Yan mengangkat wajah yang terlihat hanyalah sepasang mata pembunuh yang haus akan darah.


"Oi Setan Sialan, apa yang terjadi padamu-"


Ketika tangannya hendak meraih pemuda itu lagi-lagi semuanya berubah.