
Sore yang cerah menemani perjalanannya menuju Teluk Ying. Xue Zhan memacu kudanya melewati bukit yang ditumbuhi rumput panjang dan bunga-bunga liar yang sedang bermekaran dan mata memandangi pemandangan yang indah di sekitarnya. Pemandangan indah itu tidak pernah ditemuinya di Jurang Penyesalan, bias cahaya matahari keemasan memantul di rumput-rumput dengan anggun. Tempat itu sempat membuatnya terpaku beberapa saat.
Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, menggerakan rambutnya membawa angin sejuk. Dia terus memacu kuda dengan cepat, meliuk-liuk menembus rumput tinggi. Sesekali melihat burung-burung yang melintas di atasnya mengikuti arah terbang mereka, Xue Zhan tersenyum tipis. Semakin mempercepat laju kuda.
Tak jauh dari situ, terdapat sebuah kuil tua yang dipenuhi oleh bunga-bunga merah. Xue Zhan tertarik dan memutuskan untuk mampir sejenak. Dia turun dari kuda dan berjalan ke arah kuil dengan hati-hati.
Xue Zhan sering mendengar bahwa dulu sekali sering dibuat kuil-kuil kecil yang di dalamnya dikuburkan mayat seorang pendekar. Dia memperhatikan ke bagian di mana sebuah pedang tertancap terbalik. Pemuda itu melihat ukiran di gagang pedangnya yang sedikit menghitam oleh darah pemiliknya semasa hidup.
Tempat itu terlihat sedikit istimewa. Di sepanjang jalan, dia melihat beberapa patung roh yang dipercayai menjadi pelindung kuil. Patung-patung itu berdiri sejajar seolah-olah mengantarkannya ke sebuah tempat yang lebih jauh. Xue Zhan mengikutinya, rumput-rumput setinggi betisnya bergerak pelan oleh angin sepoi-sepoi. Langkah pemuda itu terhenti di depan sebuah kuil yang seukuran kuil pada umumnya.
Ketika tiba di depan pintu masuk kuil, dia terpana melihat keindahan bangunan kuno tersebut. Kuil itu memiliki dinding-dinding batu kuno dan atap yang terbuat dari genting merah tua. Di dalam kuil terdapat patung yang besar dan indah, serta lampu-lampu lilin yang menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat.
Xue Zhan menghampiri patung yang tingginya menyentuh langit kuil itu sendiri. Di lantai terlihat beberapa bunga dan persembahan yang telah mengering. Telah lama semenjak adanya orang yang mengunjungi tempat tersebut, kini terbengkalai dan dipenuhi debu.
Xue Zhan tidak begitu mempercayai hal-hal mistis seperti mempercayai benda-benda mati. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia memiliki satu permintaan.
"Semoga Guru Kang baik-baik saja, itu saja sudah cukup."
Dia menyatukan tangannya, berdoa dengan tulus. Merasakan ketenangan dan kedamaian hatinya. Xue Zhan berbalik badan dan berjalan menjauh. Seketika angin masuk ke dalam kuil, menerbangkan kelopak bunga merah bersama suara bunyi lonceng kecil.
Xue Zhan meninggalkan kuil dan kembali memacu kudanya melalui bukit dan hamparan rumput tinggi yang masih hijau.
*
Xue Zhan memasuki hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi, terdapat jalan setapak yang dilalui oleh sungai kecil yang jernih dan segar. Beberapa pepohonan rindang menaungi jalan, membentuk bayangan teduh yang besar dan menyejukkan. Angin lembut bertiup dan menerbangkan dedaunan kering yang jatuh dari pohon-pohon yang tinggi.
Suara gemercik air sungai mengalir di dekat jalan menciptakan irama yang menenangkan.
Xue Zhan dan Zhongyi terus berjalan melalui jalan hutan sembari menikmati perjalanan hingga tiba-tiba, ketika Xue Zhan sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa, dia merasa terganggu oleh kehadiran dua orang pendekar yang berdiri di ujung jalan.
Mereka tampak berantakan, dengan wajah yang kurus dan mata yang tajam. Pakaian mereka tampak sederhana, namun keduanya begitu sinis saat menatapnya.
Xue Zhan menarik tali Zhongyi untuk memastikan kuda itu mengikuti langkahnya, sembari mengamati gerak-gerik kedua orang tersebut.
"Mereka tampaknya pendekar dari desa sebelah," pikir Xue Zhan dalam hati.
Sementara itu, kedua pendekar itu melirik Xue Zhan dengan tajam. Keduanya terlihat hampir-hampir mirip, memiliki rambut pendek berwarna hitam, kulit sawo matang, dan mata yang tajam seperti seekor burung pemangsa. Juga memakai baju besi yang terlihat kuat dan tangguh, sementara di pinggangnya terselip sepasang pedang panjang.
Jarak di antara Xue Zhan dan kedua pendekar itu semakin dekat hingga ketika Xue Zhan melewati mereka salah satunya mengancam.
"Turunkan senjata dan berikan uang serta kuda itu."
Xue Zhan terhenti, menoleh sambil menggendikan bahu. "Tidak apa-apa, ambillah," ucapnya ramah.
Dia mengulurkan pedangnya ke arah musuh yang terkejut bingung penuh teka-teki. Mata di dalam lubang topeng itu berkilat merah, seketika membuat sekujur tubuh keduanya merinding.
"Ambil kalau kalian merasa punya dua nyawa."
Perampok Dua Bersaudara terkejut dengan sikap tenang Xue Zhan. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan dari seorang pemuda yang berjalan sendirian di hutan dan mulai mengukur kekuatan pemuda itu. Namun, mereka tidak mau kehilangan peluang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan melepaskan Xue Zhan.
"Kau berani mempermainkan kami, pemuda bodoh?" teriak salah satu dari mereka sambil mengayunkan pedangnya. Xue Zhan tersenyum di balik topengnya. Perampok Dua Bersaudara mengayunkan pedang bersamaan dan menyerang Xue Zhan dengan cepat dan tiba-tiba.
Namun, Xue Zhan dengan cepat mengelak dan menghindar dari serangan mereka. Dia bergerak dengan lincah menghindari serangan ceroboh musuh dengan mudah kemudian menyerang balik dengan pedangnya dan berhasil melukai salah satu dari perampok tersebut.
Hanya beberapa detik saja, perampok itu langsung mundur sejenak dalam kepanikan. Melihat temannya bertarung sendirian melawan Xue Zhan tanpa pedang.
Pedang miliknya dipatahkan oleh tebasan lurus Xue Zhan. Pemuda topeng putih itu menangkap tinju yang dilayangkan ke arah mukanya mentah-mentah, memutar tangan laki-laki itu ke bawah hingga terdengar jeritan dan bunyi tulang bahu yang sangat nyaring.
Tidak terima, yang satunya lagi berlari kencang dan mengacungkan senjata dari belakang Xue Zhan. Dia menyeringai ketika melihat Xue Zhan sama sekali tidak menyadari serangannya.
Angin tipis berlalu.
Dalam tiba-tiba pedang di tangannya telah berada di tepat di kulit lehernya. Tangan Xue Zhan mengunci sebelah tangan laki-laki itu sedangkan yang satunya lagi mengarahkan tangannya untuk menggerus lehernya sendiri.
"Ada kata-kata terakhir?" ucap Xue Zhan tepat di belakangnya.
"Ma-maafkan kami!!" Laki-laki di depannya bersujud ketakutan, kedua jarinya gemetar hebat tidak sanggup membayangkan rekannya terbunuh oleh Xue Zhan.
"Cepat sekali kau balikkan kata-katamu, tadi mengejekku pemuda bodoh. Sekarang meminta ampun."
"Aku sama sekali tidak bermaksud-!" Bola matanya bergerak liar, mencari jawaban untuk menyelamatkan laki-laki yang ditahan Xue Zhan, tak lain adalah saudaranya sendiri.
"Kami sangat membutuhkan uang itu. Aku bersumpah demi apa pun tak akan melakukan kejahatan kecuali jika nyawa kami berada dalam ancaman. Kalau tidak mendapatkan uang, kepala kami akan dipenggal oleh ..." Mulutnya terbungkam dengan ketakutan, Xue Zhan tidak melihat kebohongan dari tutur katanya. Laki-laki itu benar-benar ketakutan sehingga lidahnya kesulitan untuk berbicara.
"Oleh siapa?" tanyanya.
Dia menatap saudaranya ketakutan seolah meminta pendapat, Xue Zhan mengeratkan cengkramannya dan membuat pedang itu mulai menggores kulit laki-laki itu.
"Katakan."
Lelaki itu makin panik dan terburu-buru menjawabnya.
"Seorang pria yang menyebut dirinya Serigala Pembunuh."
"Aku tidak pernah dengar."
"Tu-tuan, aku sama sekali tidak mengarang cerita ... Dia meneror para penduduk di sini, kami harus menyetor sepuluh keping emas setiap dia datang agar bisa tetap hidup dengan aman. Kami tidak bisa pergi ke mana-mana atau anak buahnya akan membunuh kami, kumohon ampuni kami ..." pintanya mengiba dan hampir menangis.
Xue Zhan tampak berpikir sejenak. Menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk melepaskan mereka dengan sebuah syarat.
"Aku bebaskan dengan satu syarat. Beritahu aku di mana Serigala Pembunuh itu."