
Kun Xiao dibawa ke ruangan lain tempat di mana peserta yang kalah akan kembali berduel dengan peserta lain di arena lantai dua. Berlaku sama untuk peserta lain yang telah kalah.
Sementara itu pertarungan di arena lantai satu tetap dilanjutkan, durasi pertarungan yang tak lebih dari lima menit membuat giliran tiap peserta tampil bergulir begitu cepat. Mereka hanya memiliki sedikit waktu beristirahat. Dua pasangan peserta telah tampil, mengeluarkan nama peserta-peserta yang akan kembali bertarung melawan Xue Zhan.
Tang Quan berteriak lantang untuk ke sekian kalinya. Tersisa lima peserta di dalam ruangan, sementara lima lain yang kalah dibawa ke arena lain. "Sekarang hanya tersisa kalian berlima, bersyukurlah kalian bukan termasuk lima orang tadi yang kemungkinan akan langsung gugur di babak pertama! Walaupun kalian kalah kalian akan tetap di sini dan bertarung sampai tersisa satu peserta dengan poin terendah!"
Xue Zhan mengangguk. Entah apa yang terjadi jika dia adalah peserta dengan poin terendah itu, yang pasti dirinya tak ingin dipindahkan ke arena lain yang tampaknya sangat suram. Ada kemungkinan mereka adalah orang-orang yang dimaksud sebagai lima peserta dengan poin terendah yang gugur tanpa syarat.
"Setiap satu peserta memiliki lima kesempatan bertarung! Pastikan kalian mengambil poin sebanyak mungkin karena penilaian ini akan berpengaruh untuk babak penyisihan kedua nanti!"
Kelima peserta termasuk Xue Zhan berdiri tegap. "Dalam sekali pertarungan empat peserta akan bertarung secara berpasangan sampai setiap peserta bertarung masing-masing lima kali dengan lawan berbeda. Tahap kali ini aku memberi kalian kesempatan untuk memilih lawan mana yang ingin kalian hadapi terlebih dahulu!"
Lima peserta itu, Xue Zhan, Lao Bao Li, Xian Shen, Ming Ming, dan Wang Chun Ying.
Lao Bao Li langsung berdiri di hadapan Xian Shen mengulurkan tangannya, diikuti Wang Chun Ying yang segera menantang Ming Ming.
Hanya Xue Zhan yang tidak memiliki lawan di pertarungan awal.
Dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Banyak orang dengan sengaja pura-pura tidak menyadari kehadirannya dan bahkan mengabaikannya. Lima menit Xue Zhan menunggu pertarungan selanjutnya dan tetap saja, keempat orang itu malah saling bertukar lawan dan tidak ada yang ingin bertarung dengannya.
Tang Quan menyadari situasi itu dan tersenyum kecil.
"Iblis yang malang," bisiknya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Melihat jalannya arus pertarungan yang kian sengit. Keempat peserta itu menunjukkan kebolehan mereka masing-masing.
Putaran ketiga, Wang Chun Ying berjalan ke arah Xue Zhan, tanpa mengulurkan tangan seperti yang dia lakukan kepada lawan lain.
"Aku akan menjadi lawanmu." Senyumnya memang terlihat ramah, tapi kelihatannya dia juga tidak begitu menyukai Xue Zhan. Dalam hatinya Wang Chun Ying berbicara.
'Cukup berikan aku 10 poin, dengan begitu keberadaanmu akan jauh lebih berguna.'
Xue Zhan yang telah menunggu gilirannya telah bersiap. Mereka berdiri saling berhadapan di sisi kanan Tang Quan yang menjadi juri dalam pertarungan itu. Di sebelah kiri Ming Ming yang sudah kalah sebanyak dua kali juga akan bertarung melawan Lao Bao Li.
"Waktu dihitung mundur dari tiga ...."
"Dua ...."
"... Satu!"
Bunyi tendangan dan tangkisan pedang terdengar di detik yang sama. Semangat keempat peserta yang bertarung terbakar berapi-api, menciptakan pemandangan menakjubkan di mana pendekar muda bertarung serius di satu arena. Mempertaruhkan impian di atas arena panggung tersebut yang akan menjadi penentu.
Xue Zhan mampu melihat aliran kekuatan dan adrenalin darahnya terpompa sedemikan besar. Dengan bantuan penglihatannya sekarang Xue Zhan bisa mengetahui besar tidaknya kekuatan musuh yang sedang dihadapi.
Pemuda itu menunduk, sebelah kakinya memutar lurus hampir menyandung Xue Zhan yang melompat berputar ke belakang. Saat dia mendarat, Wang Chun Ying sudah berada di bawahnya dengan tinju dari bawah menanjak ke atas. Satu hantaman mengenai dagu Xue Zhan, dia mundur dengan tubuh limbung ke kiri. Di mana di saat bersamaan pula Wang Chun Ying berpindah tempat, menarik kaki kanannya dari atas menuju ke atas kepala Xue Zhan.
Pengguna tipe Serangan fisik memang bisa dibilang cukup berbahaya. Mereka cenderung memiliki kemampuan tubuh di atas rata, mulai dari pergerakan, tendangan dan pukulan. Mempunyai teknik bertarung tersendiri yang sulit ditebak. Wang Chun Ying mengembangkan senyum, tendangannya mengenai kepala Xue Zhan telak tanpa perlawanan.
"Pantas saja tidak ada yang mau mengajakmu bertarung. Kau sangat-sangat lemah. Karena aku butuh sepuluh poin lagi terpaksa aku memilihmu menjadi lawanku. Hahaha."
Xue Zhan mengelap darah yang menetes dari kepalanya, matanya menatap lurus ke depan. Ketika Wang Chun Ying memperhatikan bagaimana Xue Zhan menatapnya bulu kuduknya seketika berdiri.
Tatap mata kosong penuh hawa gelap itu seakan-akan sedang mencabiknya.
Xue Zhan bangkit, "Aku sudah mengerti caramu bertarung," ujarnya dan saat itu pula Wang Chun Ying bersiaga.
Tang Quan seketika menoleh ketika melihat alur pertarungan di sisi kanan mulai berubah menarik setelah sebelumnya Wang Chun Ying menguasai pertarungan tersebut.
Energi tidak biasa terasa pekat, Wang Chun Ying mulai menebak jenis kekuatan itu dan mengalami ketakutan luar biasa. Pemikiran bahwa iblis adalah makhluk keji menakutkan mulai menggerayanginya sampai ke badan-badan, pemuda itu terkunci sehingga tubuhnya kesulitan bergerak.
"Ju-juri tolong hentikan pertarungan ini- iblis ini akan membunuhku!" Wang Chun Ying yang tadinya sangat amat percaya diri seketika menciut, Xue Zhan berhenti sesaat melihat musuhnya ketakutan. Dia bahkan belum melakukan serangan apa pun.
"Nomor urut 656 mengundurkan diri! Nomor urut 666 mendapatkan sepuluh poin!"
Wang Chun Ying berteriak gelagapan, "ma-maksudku bukan menyerah kalah-"
"Tidak ada pembatalan!"
Antara kaget, lega dan kecewa. Xue Zhan kembali ke barisan tengah dengan tatapan menyesal. Jika begini terus dia tidak memiliki kesempatan untuk bertarung. Pertarungan antara Ming Ming dan Lao Bao Li berakhir, Ming Ming berhasil mengalahkan musuhnya dalam keadaan babak belur. Sementara itu Lao Bao Li juga kelihatannya mulai kelelahan.
Ketika sedang sibuk menyaksikan jalannya pertarungan, satu peserta yang sejak tadi hanya menonton maju ke depan Xue Zhan. Mengulurkan tangan.
"Aku tertarik menjadi lawanmu. Bertarung lah denganku."
Pemuda itu, Xian Shen. Memiliki wajah tampan yang menjadi idaman para gadis-gadis Kekaisaran Diqiu. Dia adalah murid sekte Lembah Abadi, tempat di mana Kang Jian berasal. Tak hanya tampan, pemuda itu juga memiliki kemampuan mumpuni yang membuatnya layak dijadikan satu dari dua puluh murid berpotensi dari Lembah Abadi.
Xue Zhan menyambut tangannya sambil mengangguk, "Tentu saja, dengan senang hati."