Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 182 - Kekuatan Xiang Yi Bai


Ketika mereka memasuki bagian tengah Hutan Bambu Kuning suasana mulai menjadi semakin suram dan suhu turun drastis membuat udara makin dingin. Langit yang sebelumnya cerah dan terang menjadi redup dan gelap karena hamparan bambu di atas yang menghalangi cahaya matahari.


Mereka mulai merasa waspada saat kesunyian melanda, bersiap untuk menghadapi serangan yang menghadang tiba-tiba.


Xue Zhan mulai merasakan kehabisan tenaga karena terus menerus bertarung melawan Kelabang Ungu sejak empat jam yang lalu. Setiap langkahnya terasa berat dan hembusan nafasnya mulai terasa menyakitkan. Dia tetap berusaha untuk tetap tegak dan berjalan agar perjalanan tidak terhambat, tidak berniat melepaskan pedangnya hingga mereka sampai ke tempat tujuan.


Di sisi lain Hua Lian terlihat semakin lemah karena luka besar di lengannya akibat pertarungan sengit beberapa jam lalu. Darah mengalir deras, membasahi lengan bajunya sampai terus menetes membasahi tanah. Laki-laki itu berkata dia masih mampu untuk tetap berjalan.


Sementara itu Xiang Yi Bai mengawasi sekelilingnya dengan cermat. Dia memperhatikan setiap langkah yang diambilnya, mewaspadai jebakan di tanah dan mendengar setiap suara yang terdengar di sekitarnya. dia berjaga-jaga, untuk segala kemungkinan yang mengancam.


Ketika mereka melangkah lebih dalam ke dalam hutan, terdengar suara-suara aneh yang berasal dari balik pohon-pohon bambu yang besar dan lebat. Cahaya remang-remang membuat bayangan mereka semakin memanjang, sesekali muncul makhluk aneh yang berlari ke dalam kegelapan sebelum mereka sempat melihatnya.


Hua Lian mengalihkan perhatiannya pada sebuah jalan kecil yang tersembunyi di antara semak-semak bambu. Di sisi jalan kecil itu, dia melihat rangkaian bambu berwarna merah terang, yang memanjang sejauh mata memandang. Bambu-bambu merah itu terlihat mencolok di antara warna kuning pucuk-pucuk bambu yang lain. Hua Lian terhenti karena mereka telah menemukan petunjuk yang tepat.


"Berhenti, sebentar. Ini adalah jalan menuju kandang musuh. Bambu-bambu merah itu adalah tanda kita telah mencapai tujuan," kata Hua Lian sambil menunjuk ke arah jalan kecil itu.


Xiang Yi Bai dan Xue Zhan menatap bambu merah dengan heran. Mereka tidak pernah melihat bambu semacam itu sebelumnya.


"Apa artinya bambu-bambu merah itu?" tanya Xue Zhan.


"Itu adalah pertanda bahwa kita telah mendekati kandang musuh," jawab Hua Lian yakin.


"Tapi bagaimana kita akan menemukan Yue Linghe di antara semua ini?" sergah Xue Zhan kebingungan.


"Kita harus mencari petunjuk lainnya. Mungkin ada jejak atau tanda-tanda lain yang bisa membantu kita menemukan tempatnya," kata Hua Lian.


Mereka kemudian mulai berjalan di jalan kecil yang tersembunyi itu. Hutan bambu yang lebat dan rimbun disertai suara-suara aneh dari dalam hutan membuat mereka semakin waspada.


Saat berjalan, keadaan Xue Zhan dan Hua Lian yang mulai kelelahan sedikit mempengaruhi pergerakan. Keduanya berjalan di belakang Xiang Yi Bai yang sejak tadi tidak mengeluarkan sepeserpun kekuatannya dan itu membuat Hua Lian sedikit kesal walau pun pada akhirnya dia tidak bisa protes.


Mereka melanjutkan perjalanan melalui hutan bambu dengan hati-hati melangkah di atas jalan kecil. Warna merah dari bambu-bambu itu terlihat semakin jelas saat mereka semakin dekat dengan tujuan. Ketiganya mempercepat langkah, tahu bahwa setiap detik yang terbuang bisa berarti kehilangan kesempatan untuk menemukan Yue Linghe yang mungkin saja lari saat tahu kedatangan mereka.


Saat melewati jalan dipenuhi bambu merah besar, tiba-tiba Xue Zhan mendengar suara pergerakan ganjil. Benar saja, bambu-bambu itu mengeluarkan senjata bening tipis beracun dari balik buku-buku pohon bambu. Tidak ada siapa pun musuh yang terlihat. Hua Lian yang terlambat menyadari tidak melihat sebuah benda tipis tajam mengarah ke arahnya begitu cepat. Dia mundur dan terjatuh oleh Xue Zhan yang tiba-tiba menariknya.


Sialnya senjata bening tajam itu menembus bahu Xue Zhan, sebuah racun hijau mengalir bersama darah di lukanya. Xiang Yi Bai yang melihat dari kejauhan setengah mengumpat, "Bodoh! Kenapa kau sangat ceroboh?" geramnya. Xue Zhan berusaha untuk tetap sadar meskipun pandangannya mulai memburam karena efek racun.


Jantungnya berdetak lebih cepat menahan rasa sakit yang mulai membakar setiap sel dan kulitnya. Wajah Xue Zhan pucat pasi dipenuhi keringat dingin. Hua Lian menopang tubuh pemuda itu masih kaget.


"A-apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?"


"Sudah jelas dia kenapa-kenapa! Bawa dia dari tempat ini segera!" Xiang Yi Bai memberikan perintah keras. Dia tahu seberapa berbahayanya racun Kelabang Ungu karena itu dia terus memperingati Xue Zhan agar berhati-hati.


Xue Zhan dan Hua Lian bergerak dengan hati-hati menuju tempat yang aman, waspada dengan setiap gerakan dan suara di sekitar mereka.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak lalai. Kau harus terluka karena melindungiku."


Xue Zhan hampir sesekali kehilangan napasnya, dia menekan jarinya di dada berusaha menyembuhkan diri. Mengobati racun itu secara terus-menerus, dia bisa saja mati jika melewatkan satu hal kecil. Sesekali terdengar erangan kecil dari mulutnya karena tidak sanggup lagi menahan sakit yang luar biasa.


Xiang Yi Bai telah siap sedia untuk menghadapi bahaya yang mungkin muncul. Mereka dikejutkan oleh suara gemerincing yang tiba-tiba terdengar, seperti suara senjata yang saling bertabrakan.


“Hati-hati!” teriak Xue Zhan kepada yang lain, sambil mengambil posisi siap bertarung. Hua Lian menahannya. "Jangan bergerak! Keadaanmu sedang sekarat!"


"Biar aku yang mengatasi kecoa-kecoa kecil ini." Xiang Yi Bai akhirnya memutuskan turun tangan ketika melihat muridnya sudah tidak mampu bertarung.


Dari balik bambu-bambu merah, muncul sepasang mata merah menyala. Mata itu terus menatap mereka dengan penuh amarah. Mereka menyadari bahwa itu adalah siluman kelabang ungu yang lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya.


“Dia datang!” teriak Xue Zhan, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah siluman itu.


Xiang Yi Bai sudah lebih tahu dan mewanti-wanti serangan yang datang. Terdapat corak merah di sekitar kepala siluman Kelabang Ungu itu. Jika Xiang Yi Bai menebak, dia yakin siluman itu sudah berumur lebih dari puluhan ribu tahun.


Hanya hitungan detik semenjak memunculkan diri, siluman itu langsung meluncurkan serangan dengan duri-duri tajam di kakinya. Dia bergerak sangat cepat mengincar Xiang Yi Bai.


Xiang Yi Bai dengan cepat menghindari serangan tersebut dan menapakkan kaki di atas sebuah bambu tipis yang sedikit miring.


Sementara itu, Hua Lian berusaha untuk menyembuhkan luka Xue Zhan yang cukup parah dengan menempelkan kedua tangannya di punggung Xue Zhan. Kekuatan yang disalurkan tidak bisa dibilang banyak tapi itu cukup membantu Xue Zhan menghadapi rasa sakit akibat racun kelabang ungu yang kemungkinan adalah salah satu bahan utama racun Yue Linghe.


Terpaksa Hua Lian tidak bisa mengambil bagian dalam pertarungan karena karena harus merawat Xue Zhan, ditambah lagi dia juga terluka dan hanya akan menghambat gerakan Xiang Yi Bai.


Xiang Yi Bai bergerak seperti bayangan, mengambil posisi di belakang siluman kelabang itu namun siluman itu dengan mudah membaca pergerakan dan mengayunkan ekornya ke arah Xiang Yi Bai.


Xiang Yi Bai berhasil menghindari serangan ekor tersebut dan kemudian meluncurkan serangan yang sebenarnya terlihat biasa saja.


Namun detik itu Hua Lian bergidik seram ketika baru pertama kali melihat Xiang Yi Bai mengeluarkan kekuatannya. Xue Zhan ikut melotot.


Satu tebasan biasa dilepaskannya dan langsung mengarah ke arah siluman kelabang ungu terbesar yang berdiri di depannya.


Angin dari tebasan itu terasa sangat kuat hingga mampu membelah tubuh siluman kelabang terbesar menjadi dua dan menembus tanah hingga beberapa puluh meter jauhnya. Sebuah kekuatan luar biasa yang mampu menghancurkan ratusan bambu di sekitarnya dan mengangkat tanah dan batu-batu ke udara.


Sekarang Hua Lian mendapatkan jawaban mengapa Xiang Yi Bai tidak terpengaruh saat kakeknya bercerita akan begitu hebatnya Yue Linghe. Dalam waktu sekejap saja dia membereskan satu siluman raksasa sendirian.


Mereka tidak bisa langsung menarik napas lega karena tepat saat itu terdengar suara lengkingan tawa dari balik bambu-bambu merah.


"Akhirnya ...! Akhirnya kau datang juga padaku! Aku bahkan masih bisa mengenali aroma tubuhmu, Yi Bai."


Sepasang mata ungu bercahaya mengintai di balik hutan bambu yang gelap.


"Kau sebegitunya merindukanku, huh?"