Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 229 - Pelindung Dewi Angin


Kursi Dewan Sembilan dihadiri oleh semua anggota yang nampak tegang.


Tao Liu yang memimpin rapat pagi itu terdiam beribu bahasa ketika sebuah cahaya merah memotong langit dan daratan beberapa kilometer dari istana. Dia tidak tahu pasti di mana serangan itu jatuh namun yang pasti adalah perang telah dimulai


Dengan berusaha bersikap tenang dia menyampaikan argumen terakhir.


"Perang adalah perang namun keselamatan juga yang utama. Kerahkan seluruh prajurit untuk mengevakuasi warga dan bawa mereka ke tempat yang aman-"


Kegaduhan terjadi di luar ruangan.


Prajurit Naga menggedor pintu dengan keras berulang kali sampai penjaga di luar terpaksa mengijinkannya masuk dan memotong rapat yang masih berlangsung.


"Mereka sangat banyak melebihi prajurit yang kita miliki! Evakuasi hanyalah omong kosong, prajurit-prajurit itu bukan manusia melainkan mayat hidup! Kita tidak akan bisa membunuhnya dengan mudah!"


Serbuan itu disusul oleh suara salah satu Pedang Suci lainnya di belakang Prajurit Naga, yaitu Mawar Kristal. Wanita itu jauh lebih panik lagi. "Berita darurat dari Kekaisaran Feng. Saat ini orang yang menyembunyikan Batu Angin sedang dalam kejaran anak buah Taring Merah yang menggunakan topeng silang hitam. Mereka sendiri kehilangan koneksi dengannya."


"Apa-?" To Quang berdiri kaget. "setelah Batu Air, Batu Api, sekarang Kekaisaran Feng juga ceroboh sehingga batu itu direbut? Hanya dua batu saja sudah cukup untuk membangkitkan Pusaka Matahari. Kau lihat cahaya merah yang membelah keempat Kekaisaran tadi?!"


Mawar Kristal mengumpat dalam hati, kenapa dirinya yang disalahkan.


"Jika dua saja sudah cukup untuk membelah gunung dan lautan maka empatnya bisa menghancurkan matahari dan bulan!"


"Lalu di mana batu milik kita berada sekarang?"


Batu Tanah yaitu Batu Elemen Penguasa Bumi milik Kekaisaran Diqiu sudah pasti menjadi incaran musuh dalam masa-masa ini. Mereka berperang untuk memperebutkan dua batu elemen lagi.


Tanya seseorang yang tiba-tiba memasuki ruangan, dia juga bagian dari 14 Pedang Suci dengan julukan Cakar Daun. Laki-laki kurus itu menapakkan sepatunya yang menggema di atas lantai tersebut. Pandangannya yang sinis disertai tekanan menambah ketegangan yang ada.


"... Batu kita-?" Lelaki itu tampak kebingungan. "Terakhir kali dia berada di tangan Batara Pedang Suci."


Dan setelahnya tidak pernah terdengar lagi kabar perihal keberadaan batu tersebut dan seolah-olah tenggelam di telan bumi. Keadaan hening beberapa saat di sela-sela mereka mencari jawabannya meskipun hanya berakhir buntu.


Prajurit Naga bersuara. "Prioritas kita sekarang adalah mempertahankan Kekaisaran, menyelamatkan warga dan mencari keberadaan Batu Tanah sebelum jatuh ke tangan Taring Merah. Mengerti?" Sebagai Pedang Suci pertama, semua orang langsung menyetujui usulannya.


Semua orang berpencar.


Di luar istana perang telah pecah dan menghancurkan ratusan toko dan pemukiman. Prajurit Naga yang saat itu bergerak ke timur melihat dengan jelas sebuah jurang dalam berapi akibat serangan cahaya merah dari Pusaka Matahari. Napasnya tertahan sejenak, tidak pernah terbayangkan baginya dia akan kembali melihat peristiwa yang sama seperti yang dilihatnya semasa kecil.


Pertumpahan darah di mana-mana, angka kematian yang tinggi dan penderitaan tak berkesudahan itu menjadi trauma menakutkan baginya. Prajurit Naga terkunci oleh seorang wanita renta yang mendekati Jurang raksasa itu dan segera menghentikannya.


"Nyonya, maafkan aku. Kau tidak boleh mendekati Jurang ini. Ini sangat berbahaya."


Dia sempat berpikir wanita itu sudah rabun akibat penuaan namun anggapannya salah, ketika wanita itu menjawab dia hanya bisa terdiam.


"Aku hanya mempercepat kematian ku, anak muda. Untuk apa berlama-lama menangis melihat perang ini. Aku sudah cukup kehilangan keluargaku, anak-anak ku dan bahkan cucuku. Mereka mati karena alasan yang sama, Perang."


"Anda harus bertahan, Nyonya," dia membujuk iba. Di sekitar mereka juga keadaan semakin kacau setiap detiknya. Prajurit Naga mendengar penuturan itu seksama.


Tawa wanita itu terdengar kecil. "Tahu apa kau soal Pusaka Matahari," Dia menggeleng-geleng hingga membuat alis PrajuritNaga berkerut dalam.


"Di saat kekuatannya di bangkitkan, manusia dan seisinya akan musnah. Senjata itu adalah senjata yang diciptakan bangsa iblis untuk menghancurkan umat manusia."


"Apa maksud Nyonya?"


"Pusaka Matahari adalah wadah Iblis Dosa. Inangnya yang sesungguhnya. Dalam artian lain, wujud asli dari Iblis Dosa itu sendiri."


"Di saat kekuatannya diaktifkan, iblis dengan darah campuran akan berubah tak terkendali. Setiap satu batu elemen itu akan membuka tiga Segel mantra di tubuh jiwa iblis dosa bernaung. Saat dia telah lepas dan kehilangan kendali, jiwa iblis itu akan kembali ke tubuh aslinya dan menghancurkan seluruh dunia."


"Lalu mengapa orang yang menciptakan semua ini tetap melakukannya? Dia tahu dia juga akan mati!"


"Manusia dibutakan oleh keserakahan. Saat kau melihat tumpukan emas berlian di depanmu, karena begitu terpesona kau lupa melihat maut sedang mengintai di belakangmu. Itulah yang terjadi padanya. Dia berpikir bisa mengendalikan Iblis Dosa dengan kekuatan dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia."


"Namun pada dasarnya Iblis Dosa memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia. Dia juga memiliki jiwa yang utuh di dalam tubuh iblis yang membawanya. Iblis itu bergerak dengan penuh kesadaran, dia bukan entitas mau menuruti perintah siapa pun apalagi manusia yang lebih rendah daripadanya."


Senyum di wajah wanita yang telah berusia senja itu memperlihatkan kesedihan yang mendalam.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan anak cucuku."


Prajurit Naga tidak bisa menahan wanita tua itu saat dia menerjunkan diri ke dalam lahar mendidih di jurang tersebut.


Prajurit Naga menengadah melihat ratusan ribu gagak di atasnya melintas. Mereka tiba-tiba menukik ke bawah dan meledak.


Hujan ledakan menghabisi seluruh daratan. Gagak tersebut memiliki daya ledak kuat. Ribuan dari mereka berhasil membunuh banyak nyawa dalam satu detiknya. Melihat satu per satu korban jiwa mulai berjatuhan prajurit naga mulai mengambil tindakan.


Di tengah langkahnya yang terburu, Prajurit Naga terkecoh oleh tiga orang di dalam kerumunan yang nampak begitu panik. Mereka baru saja melintasi daerah Kekaisaran Feng yang jauh lebih hancur dibandingkan Kekaisaran Diqiu. Mendapati kekaisaran itu juga berada di ambang Kehancuran, dua orang yang menopang salah satunya mulai bertengkar panik.


"Tunggu ... Bukankah dia ..."


Matanya tidak salah melihat. Binar matanya melebar terancam dan tanpa kata-kata dia mengamati ketiga sosok tersebut.


Dia mengenal dua diantara ketiganya. Salah satunya adalah tangan kanan Kaisar Li.


Dan satunya lagi adalah sosok yang dibicarakan wanita renta tadi.


"Bagaimana bisa dia hidup? Bukankah hari itu dia telah jatuh ke Jurang Penyesalan? Apa karena dia masih bernapas kekuatan Pusaka Matahari itu bisa diaktifkan?" tanyanya menggumam pada dirinya sendiri.


Sebelum berpikir untuk mengamankan situasi di sekitarnya, lelaki itu merasa menemui Ziran Zhao dan memberitahukannya soal informasi baru ini adalah prioritas utamanya. Tanpa berpikir panjang laki-laki itu langsung beranjak pergi menuju istana.


*


Ribuan pasukan dengan pakaian jubah hitam membanjiri jalanan dengan ganas, gelombang mayat hidup memerangi manusia dengan dipersenjatai pedang dan panah. Mereka bertarung lebih baik daripada prajurit sendiri.


Jalanan kota yang dulu ramai kini dipenuhi oleh pasukan dalam pakaian jubah hitam. Mereka bergerak dengan penuh nafsu dan keganasan, tanpa ampun melawan pendekar Kekaisaran Diqiu hingga korban mulai berjatuhan.


Medan perang dipenuhi dengan suara dentingan senjata, teriakan, dan gemuruh tubuh yang jatuh. Darah mengalir seperti sungai di jalanan, menghiasi tanah dengan warna merah yang menyeramkan. Setiap sudut kota menjadi medan pertempuran, dengan ledakan dan serangan terus menerus terjadi.


Komandan Prajurit Kekaisaran Diqiu berdiri di garis depan perang. Di tengah kekacauan medan perang, terdengar teriakan-teriakan perang yang bergema di sekitarnya. Suara pedang beradu, panah melintas, dan ledakan mengguncang udara.


"Untuk Kekaisaran!" teriak Komandan Diqiu.


Serentetan suara teriakan perang dari komandan prajurit memenuhi udara, menciptakan semangat yang membara. Mereka berteriak dengan penuh semangat, untuk memenangkan pertempuran yang sengit. Teriakan-teriakan itu menjadi mantra keberanian di tengah kekacauan peperangan.


Pada saat yang sama, teriakan marah dari Taring Merah juga terdengar di antara kekacauan perang. Mereka yang menggunakan jubah putih dan topeng silang merah adalah manusia asli. Sementara orang-orang dengan jubah hitam serta topeng rubah hanyalah mayat hidup.


Komandan Diqiu dengan suara lantang berteriak. "Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos!"


Mereka terus maju, membentuk formasi yang kokoh, dan menyerang dengan kekuatan penuh. Teriakan perang mereka menggetarkan medan perang.


**


Laki-laki dengan Topeng Rubah duduk tenang di kursinya tanpa sedikitpun melunturkan senyumnya. Melihat kehancuran di mana-mana yang mengobati rasa sakit yang selama ini menggerogoti hatinya. Dendam itu telah terbayarkan namun dia merasa ada yang belum selesai.


Gadis di sebelahnya berdiri kaku seperti boneka, di bawah pengaruh mantra dia tidak dapat berbuat apa-apa.


Namun dari matanya kini bulir tetes air mata jatuh di atas lantai. Laki-laki itu tertoleh tanpa sengaja dan menyadari bahwa gadis itu sedang bersedih meski dia sedang berada dalam pengaruh kekuatan mantra.


"Mengapa kau menangis, gadis kecil yang malang?"


Dia membelai permukaan halus pipi gadis itu.


"Seorang anak perempuan yang dulu menangis paling keras, sekarang menangis paling diam. Kira-kira mengapa? Apakah hatimu terluka?"


Ukiran senyum meledek itu terlihat meskipun wajah laki-laki itu tertutup oleh topeng.


"Ah ... Aku tahu ..." Dia menjentikkan jari merasa mendapatkan jawaban.


"Teringat akan saudaramu, hm?" Dia mengelilingi gadis itu sambil memperhatikannya tajam.


"Kau menyesali keputusan mu hari itu? Bukankah kau yang merengek pada kami untuk meminta balas dendam?"


Jemarinya mengelus lembut rambut panjang dan halus gadis itu, memainkannya sembari melanjutkan pembicaraan di antara mereka-atau lebih tepatnya dia hanya berbicara sendiri saja.


"Kau bilang, kakakmu telah meninggalkanmu dan menghancurkan keluargamu. Kau memupuk kebencian yang besar kepadanya dan berjalan hingga sejauh ini demi pembalasan itu."


"Namun mengapa sekarang hatimu ragu?" Mata laki-laki itu mencoba mencari jawaban dari kedua bola mata gadis itu, hanya kesedihan yang dapat dilihatnya.


"Setelah ini aku akan menepati janjiku padamu dengan membunuh saudara angkatmu. Dia akan menjadi salah satu tumbalku juga. Bagaimana? Kau senang?" Lagi-lagi tangannya menyapu pipi gadis itu, menyingkirkan air mata yang masih mengalir tanpa suara di wajahnya.


"Kau terlalu bahagia sampai menangis bukan? Di dunia ini sepertinya hanya kau yang tidak ku khianati. Kau patut berbangga."


"Aku tak ingin mengkhianati mu karena aku tahu kita mengalami nasib yang sama ..."


Lelaki itu perlahan-lahan membuka topengnya. Gadis di belakangnya semakin kaku. Tubuhnya tak bisa bergerak namun ekspresi di wajahnya masih dapat berubah. Bola mata itu terbuka lebar, seakan-akan tak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang.


"Aku kehilangan keluargaku dan sangat amat membenci saudaraku. Balas dendam memang tak akan pernah cukup untuk membalaskan kebencian tapi dengan membalaskan dendam, mereka dapat merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan selama ini."


Sepasang mata nyalang menatap tajam ke depan, tidak ada belas kasih di dalamnya dan dia rela mengorbankan segalanya demi menghancurkan orang-orang yang dibencinya.


"... Penderitaan dan kesengsaraan."


*


"Yang Mulia, Yang Mulia!"


Seorang laki-laki dengan pakaian pelayan berlari di lorong-lorong istana dengan sangat tergesa, dia tiba di hadapan Sang Kaisar dan langsung berlutut sambil memohon ampun.


"Wen Ning, Yang Mulia! Wen Ning ditangkap!!"


Mata lelaki itu berair, seakan-akan baru saja melihat maut di depan matanya dan membuat tenggorokannya tercekik sehingga bicaranya terbata-bata.


Li Jia Xing berdiri dari kursi singgasananya dan melotot, riak wajahnya yang begitu tenang telah berubah sangat kaget. Lelaki di hadapannya menyatukan tangan gemetaran.


"Bagaimana bisa?! Bukankah aku sudah menyuruh pendekar terhebat untuk menyelamatkannya?" seru wanita itu.


"Yang Mulia, mereka terbunuh oleh salah satu Cahaya Taring Merah. Musuh kita ... Mereka seperti ledakan dahsyat yang menghancurkan kota. Orang itu adalah orang yang juga menghancurkan pusat Kekaisaran Guang dan membunuh Kaisar."


Gigi Li Jia Xing menggeram marah, tanpa sadar tangannya menghentak apa pun yang ada di sekitarnya.


Seharusnya Wen Ning adalah yang paling harus dilindungi saat ini. Adik dari Wen Zhiqiang, anak kedua dari Perguruan Alam Suci Surgawi. Tanpa perlu dijelaskan lagi Wen Ning sudah pasti dijaga ketat di Perguruannya dan puluhan utusan kepercayaannya telah menjaga area di sekitar perguruan demi menghindari pergolakan.


Namun Li Jia Xing tak pernah menyangka di situasi seperti ini, pertahanan mereka dapat ditembus. Ratusan tahun batu itu di tangan mereka baru kali ini Batu Angin jatuh ke tangan yang salah. Berita yang menggemparkan ini membuat menteri dan para petinggi pucat pasi. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa di tiga Kekaisaran juga mengalami krisis yang sama dan berita tentang Batu Angin semakin mengacaukan semuanya.


Jari telunjuknya mengetuk sandaran tangan di kursi, Li Jia Xing menarik napas cemas.


"Kekuatan yang melebihi batas kemampuan manusia hanya bisa dilawan dengan kekuatan yang sama juga. Kita tidak bisa mengerahkan semua pendekar terhebat untuk menyelamatkan Wen Ning. Mereka juga harus melindungi Kekaisaran dari penyerangan. Untuk itu, aku tugaskan Xiao Rong dengan batas penggunaan kekuatan Kegelapan nya hanya boleh di bawah delapan puluh persen."


Lelaki pelayan itu menyela. "Tapi Yang Mulia-"


"Tuan Xiao sedang tidak ada di Kekaisaran Feng."


Lagi-lagi Li Jia Xing dibuat pusing. "Bagaimana bisa? Aku tidak pernah memerintahkannya untuk keluar Kekaisaran dan dia juga tidak sedang dalam misi. Di mana dia sekarang?"


Lelaki pelayan itu menggerakkan matanya, terlihat berpikir keras menghadapi pertanyaan tersebut sehingga Li Jia Xing yang menunggu mulai curiga.


"Jawab dengan jujur!"


"Yang Mulia ... Tu-tuan Xiao-" Ucapannya terhenti sejenak ketakutan, kedua telapak tangannya dingin ketika melihat tatapan mematikan dari Li Jia Xing.


"Dia membantu Burung Phoenix itu kabur dan dari kabar terakhir yang saya dengar dia sudah tak ada lagi di Kekaisaran Feng."


Li Jia Xing membatin. Ternyata tangan kanannya sendiri bersekongkol meninggalkan Kekaisaran di saat-saat seperti ini.


Lalu dia bangkit dari kursi singgasananya, rambutnya yang tergerai diikat sembari berjalan. Jubah luarnya yang besar dia lepaskan sehingga hanya menyisakan pakaian yang lebih sederhana. Orang-orang keheranan.


"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?"


"Anda tidak boleh meninggalkan kursi, Yang Mulia!"


"Kami mohon Yang Mulia, jika terjadi sesuatu pada Anda kekaisaran kita akan ..."


Li Jia Xing tidak memedulikan ucapan orang-orang di belakangnya selain fokus menatap ke depan.


Sebagai Dewi Angin yang melindungi Kekaisaran Feng sudah tugasnya untuk melindungi masyarakatnya.


"Biar aku sendiri yang menghadapi Cahaya Pertama."