Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 144 - Serangan di Tengah Kota


"Guru, mereka siapa?" tanya Xue Zhan. Mereka ikut menepi di antara para penduduk lokal yang berlindung di kedai, toko bahkan penginapan. Penyerangan secara tiba-tiba itu nampaknya sudah direncanakan dari jauh hari.


"Hanya penjahat yang suka merampok. Kepala orang itu bisa mencapai harga seratus ribu koin emas bahkan lebih." Xiang Yi Bai acuh, lebih memilih melanjutkan perjalanan daripada mengkhawatirkan sesuatu yang bukan urusannya.


Saat Xiang Yi Bai pergi, Xue Zhan tiba-tiba menghilang dari belakangnya. Fenghuang mendecak, "Orang bodoh! Kenapa dia malah ikut campur!" kesalnya. Benar saja, ketika Xiang Yi Bai membalikkan badannya dia melihat murid bodohnya itu sudah terlibat pertarungan melawan enam belas perampok itu.


Dia salah bicara. Seharusnya Xiang Yi Bai mengatakan pada muridnya itu bahwa meskipun mereka adalah perampok bukan berarti mereka hanyalah penjahat kelas teri. Ada beberapa penjahat yang sudah dilatih sedari kecil untuk membunuh. Mereka berasal dari satu organisasi gelap itu, tempat di mana pemburu haus darah berasal. Meskipun baru asumsi Xiang Yi Bai yakin dugaannya tidak meleset.


Karena itu Xiang Yi Bai tidak mau ambil pusing dan terlibat urusan dengan mereka. Sialnya memang Xue Zhan berotak udang, selalu saja menambah keriput di wajahnya.


"Hissh! Apa yang harus kita lakukan? Dia akan-"


"Sejak kapan kau mengkhawatirkannya?" potong Xiang Yi Bai, Fenghuang membungkam mulut dengan wajah kesal.


Ketua perampok terkejut saat mendapati seseorang datang ke arah mereka melayangkan satu ayunan pedang dari atas. Kontan sepuluh orang langsung berdiri di depan lelaki itu untuk melindungi Fan Yuan dan pemimpin mereka.


"Siapa kau?!"


Lelaki itu tak bisa mengenal siapa musuhnya, dia mengenakan topeng putih. Namun melihat dari pedangnya yang harganya terbilang sangat mahal, laki-laki itu merasa terancam.


"Lepaskan laki-laki itu." Xue Zhan memberikan peringatan, dia tidak mau lagi terjadi pertumpahan darah. Sangat tidak etis dilihat, apalagi saat ini sedang merayakan festival. Bisa-bisanya musuh datang menyerang tamu, Xue Zhan mempertanyakan penjagaan di Kekaisaran ini.


Bagaimana mungkin sekelompok perampok menyerang di saat-saat penting seperti ini, kecuali jika salah seorang berkhianat dan membiarkan penjahat ini masuk, itu baru masuk akal.


"Lepaskan dia?" Lelaki itu maju ke depan dengan gaya petantang-petenteng, ekspresinya sangat congkak. "kau kira kau sendiri bisa menakuti kami?"


Dia tergelak cukup lama, napasnya terdengar berat, tubuh lelaki itu memang terbilang berisi dan dia dapat menghancurkan kepala musuh hanya dengan kapak di tangannya.


"Aku akan menghitung sampai tiga." Xue Zhan mengacungkan pedang, bersiap untuk bertarung melawan musuh-musuhnya.


Xue Zhan tidak bisa membiarkan tamu dari Kekaisaran Feng dibunuh, mengingat Kaisar Li memperlakukannya sangat baik dan bahkan menghadiahkan pedang yang saat ini dia gunakan. Baginya menyelamatkan laki-laki ini adalah caranya berterima kasih pada wanita itu.


Rasa khawatir Fenghuang semakin menjadi-jadi, dia berulang kali menengok ke arah Xue Zhan dan ketua perampok bergantian. "Monster Tua, sebaiknya pikirkan cara untuk menarik si idiot itu dari mereka-" ucapannya terhenti, gadis itu terhenyak dengan mulut terbuka.


Xiang Yi Bai malah asik mengemil jajanan yang ditinggalkan penjualnya. Laki-laki itu memasang tampang tak peduli, selagi dunia belum kiamat dia masih bisa memakan manisan gula, gratis pula. Begitu pikirnya.


"Kau sama saja, menyebalkan."


Fenghuang tambah kesal.


"Dua ..."


"Hitunglah, aku tidak peduli! Hahahahah!" Tawanya menantang lawan, di saat yang bersamaan pula ke empat belas pendekar berdiri di hadapan Xue Zhan. Tanpa berpikir dua kali langsung mengeroyoknya karena memang cara mereka bertarung seperti itu, tidak peduli adil atau tidak yang penting adalah siapa yang menang.


Dalam sekali waktu Xue Zhan dikepung dari berbagai sisi, bunyi tangkisan pedang terdengar beruntun dari pusaran kematian tersebut. Para gadis yang menonton di lantai dua perumahan menjerit takut, sudah jelas akan jatuh korban jiwa lagi. Sementara itu bantuan benar-benar tidak datang tanpa alasan yang jelas.


Xue Zhan menunduk ketika sebuah pedang panjang berukuran satu meter lewat di atas kepalanya, dia menggunakan kaki mengenai pundak lawan. Lelaki itu terlempar ke samping saat tendangan kaki tersebut menghantam pipinya. Musuh lain datang dari arah belakang, Xue Zhan menapak ke dadanya dan melompat berputar. Dia mendarat dengan tebasan pedang yang seketika memenggal kepala laki-laki itu.


Musuh datang lagi, Xue Zhan menyepak tubuh tanpa kepala itu ke dua orang yang berada di belakangnya. Mereka berdua terjatuh sesaat, Xue Zhan berbalik badan lagi dan menangkis pukulan tangan musuh yang diam-diam menyerang dari belakang.


Pertarungan sengit tanpa jeda berlangsung cepat, tanpa diduga Xue Zhan berhasil menumbangkan empat orang dengan luka fatal. Pertarungan di tempat terbuka seperti ini cukup beresiko, Xue Zhan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu sadis membunuh musuhnya. Selain itu jika dia terkena masalah sudah pasti Xiang Yi Bai yang repot.


Dia melumpuhkan lawan dengan tendangan atau pun pukulan, kalaupun terpaksa dia akan memenggal kepala musuh. Satu dari 100 teknik yang diajarkan Xiang Yi Bai melatihnya untuk membunuh dengan rapi tanpa meninggalkan noda darah.


Satu orang yang dipenggal tergeletak begitu saja, dua orang mati karena patah rusuk dan yang lain terbentur mengenai otak.


Xue Zhan menarik perhatian para petarung di Kekaisaran Diqiu. Pertarungannya membuat banyak orang kagum, gaya berpedangnya sangat berbeda dan terampil. Bahkan salah satu Guru Perguruan yang sengaja tak mau melibatkan diri dalam pertarungan memujinya.


"Kelihatannya dia masih muda tapi sudah memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Apakah dia salah satu jenius dari Kekaisaran Diqiu?"


"Sangat menakjubkan, aku jadi ingin mengajaknya untuk bergabung ke perguruanku jika memungkinkan," puji yang lain tanpa mengalihkan pandangan dari pemuda itu. Pertarungan tetap berjalan dan Xue Zhan menguasai jalan kota tersebut.


Dua belas orang berjatuhan tak bernyawa, Xue Zhan menghabisi sisanya. Namun gerakannya terhenti saat musuh hanya tersisa tiga orang.


Ketua perampok itu sangat panik sampai pisau di tangannya gemetar, dia meletakkan bilah pedang di kulit leher Fan Yuan.


"Bergerak sedikit saja akan kugorok orang ini!" Teriaknya menarik mundur Fan Yuan, dua orang lain mengacungkan pedang ke arah Xue Zhan.


"To-tolong ... Tolong aku ..." Fan Yuan memelas dengan suara parau, dia terlalu ketakutan sampai tidak berani bergerak walau hanya sesenti.


Berada di dalam situasi yang rumit begitu membuatnya tak dapat bergerak, Xue Zhan mencoba berpikir tapi sejenak dia tak menyadari bahwa salah satu musuh yang tadinya tumbang kembali bangkit.


Pendekar itu mengejar Xue Zhan dari belakangnya sambil mengangkat belati beracun dengan sangat cepat, Xue Zhan telat menyadarinya. Ketika dia membalikkan badan orang itu sudah berada tepat di belakang dan mengarahkan ujung belati ke dadanya.


Namun seketika hempasan angin kuat membuat laki-laki itu terlempar jauh, belati yang tadinya mau dia gunakan untuk mencelakakan Xue Zhan bergerak sendiri di atas udara. Di saat laki-laki itu menabrak dinding toko belati tersebut menancap tepat di batang tenggorokannya dan langsung merenggut nyawanya.