
Setelah dua bulan berlalu desas-desus tentang kematian sang iblis sedikit mereda karena tertutupi oleh berbagai penyerangan yang terjadi di berbagai titik Kekaisaran Diqiu. Hal itu menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa, sekali lagi ancaman dan teror menyerang masyarakat Kekaisaran Diqiu.
Sebuah syair menyebar luas di Kekaisaran tersebut dan sampai ke masyarakat pesisir yang berbunyi,
"Bunga salju dinodai bercak darah, Langit menyumpahi Sang Bayangan Kebajikan. Dewa Kematian murka dan bangkit. Angin dari Gunung Qin membawa kabar kematian untuk umat manusia ..."
Lao Bao yang sedang berjalan dengan teman-teman gadis seperguruannya terhenti sejenak di depan seorang pengemis dengan pakaian kotor menggenggam mangkuk kecil.
"No-nona, saya belum makan dua hari ini. Maukah kalian berbagi sedikit makanan untukku?"
Pengemis yang tadinya hampir terlelap tidur tiba-tiba terduduk tegap meminta iba.
Lao Bao kini telah menjadi pendekar menengah sedang ditugaskan untuk sebuah misi rahasia, dia setengah berjongkok memperlihatkan kantung kain kecil yang diikat.
"Kau mau ini?"
Teman-teman Lao Bao saling memandang dan menarik gadis itu paksa. "Jangan berurusan dengan pengemis sepertinya, dia bau dan tidak pernah mandi."
Salah seorang gadis menjepit hidungnya hampir muntah, Lao Bao tak ambil pusing dan menyatukan alis menatap laki-laki kumuh itu, membuat sang pengemis tergagap seraya mengangguk ketakutan.
"Te-tentu saja, Nona."
"Katakan dari mana kau mendengar syair itu?"
Pengemis sontak terdiam mengingat lagu yang telah menyebar selama beberapa pekan ini. "Anak-anak menyanyikannya ... Para musafir menulisnya dan ..." Dia mengangkat jari telunjuknya, ingatannya menguap begitu saja. "A-aku tidak tahu banyak, Nona. Maafkan aku. Bagiku segenggam nasi saja sudah cukup—"
Pengemis itu kelabakan menangkap kantung berisi koin perak itu, Lao Bao pergi begitu saja hingga teman-temannya memanggil.
"Kau mau ke mana?"
"Aku punya sedikit pekerjaan. Aku pergi dulu."
Kecemasan di hati Lao Bao semakin membesar. Dia harus segera menyampaikan ini pada Kaisar Ziran. Namun ketika mencari laki-laki itu Sang Kaisar sedang dalam urusan penting. Lao Bao justru berpas-pasan dengan seorang pelayan Klan Yin di lorong istana.
Lao Bao kenal betul wanita itu, dia adalah orang yang melayani Yin Jiao dan memiliki seorang saudara laki-laki yang juga adalah pelayan gadis itu.
"Bagaimana keadaan Nona Yin?"
Wanita itu mengangguk sebentar sebelum menjawab, "Beliau masih belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah lebih baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkannya, Nona Lao."
Lao Bao mengangguk dan melanjutkan jalan, beberapa meter di depannya sekumpulan pendekar dari perguruan Kabut Biru sedang berbincang-bincang. Dia mengenal beberapa dari mereka dan cukup terkejut melihat dua orang dari perguruan Pondok Kabut Putih dalam keadaan terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya gadis itu menatap dua orang terluka bergantian.
"Menara Giok Hantu kembali menyerang, ini sudah ke berapa kalinya semenjak teror terus terjadi."
Salah seorang pemuda menjelaskan, "Dua minggu yang lalu seorang murid mengatakan seseorang mengetuk pintunya beberapa kali, dia membawa beberapa temannya untuk menemaninya tidur dan setelahnya lima murid kami tewas mengenaskan. Sebagian tubuh mereka telah dimakan hanya menyisakan tengkorak dan isi perut."
Kengerian itu bukan hanya terjadi di Pondok Kabut Putih, melainkan di berbagai perguruan yang terlibat dalam pertarungan pemburuan iblis di Jurang Penyesalan. Menara Giok Hantu merajalela sejak disebarkannya syair aneh itu.
Lao Bao memutar balik badan dan menatap ke halaman istana, "Bunga salju dinodai bercak darah, Langit menyumpahi Sang Bayangan Kebajikan. Dewa Kematian murka dan bangkit. Angin dari Gunung Qin membawa kabar kematian untuk umat manusia."
Pendekar dari Pondok Kabut Putih terkejut, salah satunya menanggapi tergagap. "A-apa maksudnya, Nona Lao? Apakah itu sebuah puisi, mengapa begitu suram?"
"Itu adalah syair yang disebarkan oleh masyarakat. Entah siapa yang memulainya duluan. Bunga salju telah dinodai darah ... Itu artinya, sesuatu yang putih dihancurkan oleh kegelapan. Sementara Sang Bayangan adalah nama lain untuk panggilan Kaisar."
Lao Bao sudah memikirkannya sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Istana Kaisar dan tetap tak menemukan jawaban untuk bait selanjutnya.
"Dewa Kematian yang murka telah bangkit, angin Utara dari Gunung Qin ..."
Kepala gadis itu berdenyut sakit, salah seorang dari mereka membantu menenangkan Lao Bao. "Anda tidak perlu memaksakan diri. Kita semua pasti bisa menghadapi ini."
Lao Bao bergumam lemah, "Aku khawatir ini semua sudah terlambat."
*
"Siapa kau sebenarnya?!"
Salah seorang tetua berusia 70 tahunan mundur memegangi pundak kanannya yang terus mengucurkan darah, pedang dari tangannya jatuh tergeletak di atas tanah menimbulkan bunyi dentingan yang cukup keras.
Satu perguruan dibantai di malam berdarah itu dan hanya menyisakan dirinya sendiri ketakutan menatap seseorang dalam balutan pakaian Menara Giok Hantu dan pin ukiran besi tengkorak di jubahnya.
Ketakutannya bukan tak berdasar, dia menyaksikan sendiri bagaimana satu orang itu membantai seratus lebih manusia tanpa ampun. Dan setiap korban yang dibunuhnya memiliki cara mati yang sama; sobekan panjang di sudut mulut hingga ke pelipis membentuk senyuman menakutkan.
"Inilah balasan membunuh tuan kami."
"Kami tidak membunuhnya!"
"Aku melihat wajahmu di barisan paling belakang, menyoraki Kematiannya dan memanas-manasi situasi dengan omongan payahmu!" serunya sangat kencang, tetua itu menggigil dan hampir kencing di celana. Kemarahan sosok yang berdiri di atas atap perguruan itu saja sudah membuat mulutnya membeku.
Sejauh yang lelaki itu tahu pakaian yang dikenakan sosok itu adalah pakaian bawahan Menara Giok Hantu yang tak lain adalah manusia mati yang dihidupkan. Dia tidak memiliki akal seperti manusia. Tapi anehnya itu bisa bicara seperti manusia hidup.
"Ingatlah nama Menara Giok Hantu ini sampai kau mati."
Tetua itu baru saja mengedipkan mata dan sosok Menara Giok Hantu menghilang dari pandangannya. Hening melanda, lelaki itu memutar balik badan pelan-pelan dan memastikan orang itu sudah pergi. Setengah tak percaya dirinya adalah satu-satunya yang selamat dan dilepaskan begitu saja.
Sampai sebuah sayatan mengenai tenggorokannya dan langsung mematikan laki-laki itu. Sosok yang tadinya berada di atas atap menginjak kepala mayat tetua itu, menggunakan pedangnya untuk merobek kedua sudut mulut sampai ke pelipis kepalanya.
Dia membenarkan topeng yang menutupi wajah, lalu mengeluarkan selembar kertas bertuliskan sesuatu yang jatuh di tubuh mayat laki-laki itu.
'Bunga salju dinodai bercak darah, Langit menyumpahi Sang Bayangan Kebajikan. Dewa Kematian telah bangkit. Angin dari Gunung Qin membawa kabar kematian untuk umat manusia.'
***