Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 143 - Festival Dewi Angin


"Dulu aku sering menghabiskan waktu di sini untuk berlatih, dari siang ke malam, malam ke siang, begitu seterusnya." Xue Zhan bercerita dengan memandang Patung Pedang Suci, kabut putih menutupi bagian kepala sang pahlawan yang berdiri kokoh penuh keberanian. Dia sempat berpikir untuk menjadi sosok seperti patung tersebut.


Namun itu dulu, sebelum permasalahan demi permasalahan menghampiri dan memaksanya untuk berpaling ke situasi yang lebih serius. Mereka melanjutkan perjalanan menuruni bukit, sesekali menemui rubah kecil yang tinggal di dalam hutan. Fenghuang berhenti melangkah sejenak membuat Xiang Yi Bai dan Xue Zhan menahan langkah.


Gadis itu berjongkok. Dia membuka semak-semak mendapati anak rubah terjebak dalam perangkap manusia. Fenghuang segera melepaskan tali yang mengikat tubuh hewan tak bersalah itu sembari berucap, "Aku penasaran bagaimana kalau si pembuat perangkap yang diikat begini. Tidak punya hati."


"Hm? Fenghuang ternyata berperasaan juga." Xiang Yi Bai hanya berbicara kecil, tapi gadis itu dapat mendengar dan marah-marah.


"Manusia tentu tidak tahu rasanya menjadi hewan buruan! Kau diikat semalaman, menahan lapar dan rasa takut. Kemudian dibunuh untuk keuntungan mereka sendiri, paling selamat diperjualbelikan." Dia melipat kedua tangan di depan dada. Xue Zhan memotong pembicaraan.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita segera berjalan. Ada beberapa siluman merepotkan yang keluar di waktu seperti ini."


Fenghuang mencebik.


Perjalanan menuju ke kota ternyata lebih cepat dari yang Xiang Yi Bai kira, Xue Zhan mengetahui seluk beluk pusat kota Kekaisaran Diqiu dengan baik sehingga mereka dapat melewati jalan pintas yang lepas pengawasan. Saat pertama kali turun ke kota, yang dapat mereka lihat pertama kali ada keramaian di setiap ruas jalan. Banyaknya pendatang baik itu musafir, pejabat, masyarakat biasa dan juga penjual buah tangan.


Xiang Yi Bai sempat berhenti berjalan.


Dia memperhatikan sekitar dengan sangat lama, seakan-akan tenggelam di tengah keramaian nan riuh. Matanya terus melihat ke segala arah dengan ekspresi yang sangat jarang Xue Zhan lihat. Antara canggung dan takjub. Telah lama dia tidak melihat orang sebanyak ini serta ada beberapa perubahan yang membuatnya membandingkan situasi Kekaisaran Diqiu sekarang dengan 20 tahun silam.


Banyak yang berubah, tapi Xiang Yi Bai tetap tak berubah.


Xue Zhan memperhatikan raut wajah gurunya sambil tersenyum, kelihatannya Xiang Yi Bai juga menyukai tempat ini terlihat dari rona wajahnya yang jauh lebih cerah.


Perhatian ketiganya terpecah sesaat ketika taburan kelopak bunga berjatuhan di sepanjang jalan, para gadis di lantai dua yang menghadap langsung ke arah jalan menumpahkan bakul berisi kelopak bunga mawar. Bau harum semerbak menyeruak di sepanjang jalan kota, kemudian iring-iringan kereta kuda melintasi jalan tersebut.


Para rakyat bersuka cita menyambut kedatangan Sang Kaisar dari Kekaisaran Feng dan ratusan tamu dari Kekaisaran Feng, hari itu adalah festival perayaan Lahirnya Dewi Angin yang sudah sejak ratusan tahun lalu ada. Namun tahun ini spesial karena Kaisar Li datang sendiri ke Kekaisaran Diqiu untuk memberikan 'Anugerah Dewi Angin' kepada Kekaisaran Diqiu.


Festival ini sendiri awalnya hanya diselenggarakan di Kekaisaran Feng, namun dulu ketika perang sedang membuncah terdapat beberapa rakyat Kekaisaran Feng yang menetap di Kekaisaran Diqiu. Dalam festival ini dikatakan Dewi Angin akan turun dan memberikan keselamatan berupa anugerah untuk wilayah yang didatanginya. Dewi Angin sendiri dikenal sebagai Dewi Pelindung yang sangat kejam tapi juga baik.


Hiasan di kota begitu ramai, Xiang Yi Bai menatap sesosok yang duduk di dalam kereta kuda meski hanya melihatnya lewat jendela kecilnya. Kaisar Li tiba-tiba menoleh ke arah mereka, begitu cepat seperti orang yang kaget. Namun kereta berlalu sehingga dia kehilangan dua orang itu ditambah ada begitu banyak rakyat Kekaisaran Diqiu yang berdiri di tepi jalan untuk menyambut kedatangannya.


"Festival Kelahiran Dewi Angin, ya?" kata Xiang Yi Bai setelah rombongan kereta kuda itu melintas.


"Guru tahu?"


"Kaisar Kekaisaran Feng bahkan belum berubah, masih tetap sama. Tentu saja aku tahu karena Kaisar Li pernah datang ke Kerajaan Phoenix untuk memberikan anugerah."


Fenghuang menatap kereta kuda tanpa berkedip, dia tidak mengatakan apa-apa. Hingga ketika itu terdengar keramaian tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Mau lihat-lihat dulu?" Xue Zhan mengajak keduanya, Fenghuang dan Xiang Yi Bai sangat kaku ketika berada di keramaian dan hampir membuatnya tertawa. Xue Zhan mengurungkannya, takut nanti kalau dia mengejeknya mereka berdua langsung pulang ke Jurang Penyesalan.


Sebuah panggung bertaburkan kelopak bunga beraneka ragam diisi oleh lima gadis berpakaian merah muda, kipas di tangan mereka bergerak lembut diiringi tarian yang menghipnotis para penonton. Ketiganya ikut hanyut dalam pertunjukan tersebut.


Mendadak seorang prajurit terpental menghancurkan meja di sisi jalan, Xiang Yi Bai menoleh cepat dan menyadari penyusup datang dan menyerang seorang tamu penting dari Kekaisaran Feng.


Tamu itu bernama Fan Yuan, satu dari lima Penegak Keadilan dari Kekaisaran Feng, dia adalah pejabat tinggi yang dikhususkan hadir untuk mengawali jalannya upacara pemberian anugerah Dewi Angin.


Dalam sekejap jalan menjadi riuh, para masyarakat berlari menjauh dari marabahaya. Sedangkan pertarungan terjadi begitu cepat, enam belas pendekar dengan penutup wajah dan pakaian serba hitam membunuh pengawal dan kuda-kuda rombongan. Fan Yuan ketakutan di dalam kereta kuda, satu per satu pengawalnya tewas di tempat.


Xiang Yi Bai menyipitkan mata.


"Pendekar terlatih, cara mereka membunuh sangat rapi." Sayatan kecil di leher prajurit membunuh mereka dalam waktu cepat tanpa banyaknya darah. Xue Zhan memperhatikan seorang pendekar berputar di pinggir jalan sembari menebaskan pedang. Gerakan itu sangat mematikan, dia mulai membunuh tanpa pandang bulu.


Jeritan para gadis membuat suasana semakin ribut, satu prajurit terlempar menghantam dinding. Lalu musuh menancapkan pedangnya hingga menembus kayu.


Enam belas orang itu mengelilingi kereta kuda Fan Yuan, salah satunya berteriak lantang.


"Jangan berani-beraninya memanggil bala bantuan jika tidak ingin orang ini mati!" ancamnya serius. Anak buahnya mengeluarkan Fan Yuan dengan paksa dari kereta kuda. Laki-laki itu tidak bisa melawan, dia hanya pejabat biasa tanpa kemampuan bela diri. Hanya goresan tipis di leher saja bisa membuatnya langsung meregang nyawa.


"Mundur! Mundur! Mundur!" teriak pendekar tersebut, laki-laki pengawal kereta kuda Fan Yuan mundur sambil menggigil hebat, hanya enam belas dari mereka bisa menjatuhkan puluhan prajurit sangat cepat. Fan Yuan akan dibawa oleh orang tersebut.