Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 188 - Ombak Tujuh Lapis


Kapal semakin mendekat, terlihat seorang laki-laki berdiri di anjungan kapal. Dia adalah Deng Yuan, seorang perompak yang lebih mengerikan dari yang pernah ada. Dia adalah salah seorang ketua Topeng Silang Hitam, bagian dari kelompok Taring Merah yang sangat berbahaya.


Deng Yuan dikenal sebagai sosok yang sangat kejam dan tidak memiliki belas kasihan terhadap siapa pun mau itu lawan atau kawan. Dia rela melakukan segala cara, termasuk membunuh atau menyiksa orang yang menghalangi ambisi dan tujuannya.


Deng Yuan sangat pintar dalam merencanakan aksi kejahatannya dan seringkali berhasil melakukannya tanpa terdeteksi. Dia memiliki jaringan informasi yang luas sehingga dapat mengetahui segala hal yang terjadi di sekitarnya, Deng Yuan juga sangat licik dan pandai dalam berbicara.


Dia sering memanipulasi orang dengan kata-katanya yang penuh rayuan sehingga dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk menguasai mereka.


Xue Zhan mendengar beberapa orang berbisik dari kejauhan, menyebut nama seorang laki-laki yang sedikit familiar baginya. Deng Yuan, begitulah nama yang mereka ucapkan. Xue Zhan merasa ada yang tidak beres ketika mendengar nama tersebut. dia merasa sudah pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi tidak dapat mengingat di mana pernah mendengarnya.


Beberapa saat dia mengingat bahwa Deng Yuan adalah buronan di Kekaisaran Diqiu akibat perbuatan jahatnya menenggelamkan sepuluh kapal penumpang. Ratusan nyawa melayang di tangannya pada saat itu.


Di tengah suara dentuman meriam dan raungan angin yang kencang, Deng Yuan berdiri tegak di atas kapal perangnya. Dengan ekspresi wajah yang dingin dan kasar, dia memberikan perintah untuk menembakkan puluhan peluru ke arah jembatan dan pendaratan pelabuhan Kota Kekaisaran Feng.


Sementara itu Xue Zhan berdiri di tepi pelabuhan dengan sebelah tangan memegang gagang pedang di pinggangnya, memandang tajam ke arah kapal perang yang semakin mendekat. Dia sudah bersiap-siap menghadapi serangan yang akan datang.


Penduduk yang melihat panik dan ketakutan, beberapa meneriakinya untuk segera kembali sisanya berusaha untuk menyingkir dari jangkauan tembakan. Sementara itu, puluhan peluru jatuh dengan suara ledakan yang menggelegar, jatuh ke jembatan dan air di depan pelabuhan.


Dalam kekacauan tersebut, Deng Yuan dan awak kapalnya terus menyerang dengan gencar. Ekspresi wajah laki-laki itu tidak berubah meskipun di sekitarnya terdengar suara gemuruh dan asap hitam bertebaran. Gerakan tangannya terampil memimpin kapal perangnya melawan musuh, seolah tak tergoyahkan oleh kehadiran para prajurit kota yang mulai membuat pertahanan di pinggiran pelabuhan.


Di saat yang sama Xue Zhan berdiri tegap, siap menghadapi serangan yang akan datang. Dia menunggu dengan tatapan mata yang fokus, mengamati setiap gerakan musuh yang semakin dekat.


Deng Yuan dan awak kapalnya menembakkan enam peluru ke arahnya, Xue Zhan tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah kekuatan yang bergejolak dari dalam tubuhnya.


Terlihat gelombang kecil yang bermunculan di dalam air, seakan-akan menandakan bahwa ada sesuatu yang sangat kuat sedang terjadi. Tiba-tiba saja, air itu menerjang dengan cepat dan memunculkan sebuah ombak besar yang membentuk tujuh lapis.


"Kitab Phoenix Surgawi - Ombak Tujuh Lapis!" ucap Xue Zhan, mengeluarkan kekuatan besar dari dalam dirinya.


Pelindung es naik hingga tiga puluh kaki ke atas, terlihat begitu tebal dan kuat. Enam peluru meledakkan es tersebut dari sisi luar, namun es itu tetap bertahan dengan kokoh. Deng Yuan dan awak kapalnya terlihat terkejut melihat kekuatan yang dimiliki oleh Xue Zhan.


Sementara itu, masyarakat yang berada di sekitar jembatan terlihat begitu kaget dengan kekuatan yang dimiliki oleh Xue Zhan. Mereka mengamati dengan penuh kagum dan takjub saat melihat kekuatan es yang biasanya hanya dimiliki pendekar Kekaisaran Bing dan menduga pemuda itu berasal dari sana.


Tak hanya itu, Xue Zhan berhasil menahan serangan dari kapal perang Deng Yuan yang sangat besar.


Namun, di tengah kerumunan penduduk muncul sosok misterius yang berdiri diam di antara orang-orang. Dia memperhatikan Xue Zhan dengan seksama dan bergumam, "Lumayan juga kekuatanmu yang sekarang."


Sosok misterius itu mengenakan jubah hitam dan menutupi wajahnya dengan tudung hitam yang mencuat dari belakang jubahnya. .


Setelah mengucapkannya, sosok misterius itu berbalik badan dan dengan cepat menghilang dari kerumunan orang, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadirannya atau kepergiannya. Namun Xue Zhan merasakan ada yang aneh dalam pertarungannya, seakan-akan dia sedang diawasi oleh seseorang yang tidak terlihat. Dia berusaha menoleh di tengah gencarnya serangan yang datang, berpikir kekhawatirannya sedikit berlebihan.


Xue Zhan masih berdiri di tepi jembatan menghentikan puluhan peluru meriam dengan teknik Ombak Tujuh Lapis. Beberapa orang terselamatkan dan memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Kekuatan yang dihasilkan dari jurus tersebut membuat air terus menciptakanmenjad tebing es dan memunculkan gelombang di sekitarnya yang terlihat indah namun menakutkan.


Semua orang yang memandang aksinya dengan takjub, namun juga khawatir tentang bahaya yang mungkin terjadi. Terlebih dengan musuh tak diundang yang datang di siang itu.


Kapal perang Deng Yuan semakin mendekat dan menimbulkan keresahan di antara warga. Xue Zhan bertarung paling depan untuk menghentikan Topeng Silang Hitam, dia benar-benar harus menyelesaikan mereka bagaimana pun caranya. Meski bukan bagian dari Kekaisaran Feng namun Xue Zhan merasa bertanggung jawab untuk melindungi warga dan menjaga perdamaian di kota tersebut.


Dari jarak yang lumayan dekat dia melihat kapal perang Deng Yuan membawa hampir 200 orang, nyalinya sempat gentar.


Topeng Silang Hitam bukanlah pendekar sembarangan. Mereka terlatih dan terbiasa membunuh. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan mereka selain kata berbahaya.


Dia mengumpulkan kekuatannya dan menenangkan diri, mengingat latihan yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun. Tak ingin membuat Gurunya kecewa. Dia memperkuat tekadnya dan mempersiapkan diri untuk melawan Topeng Silang Hitam.


Tidak lama kemudian, kapal perang Deng Yuan sudah hampir mencapai pelabuhan. Xue Zhan mengambil posisi siap bertarung dan memperhatikan setiap gerakan musuh.


Xue Zhan dan para pendekar Topeng Silang Hitam bertemu di jembatan pelabuhan. Kedua pihak saling menatap dengan tatapan tajam, sunyi di antara kedua kubu mulai membekuk seperti es.


Detik-detik menegangkan itu membuat semua orang mulai cemas.


Xue Zhan berdiri sendirian sementara di hadapannya berdiri ratusan pendekar Topeng Silang Hitam yang siap menyerangnya kapan saja . Suasana menjadi semakin mencekam saat mereka semua menarik pedang mereka dan mengangkatnya ke atas.


Bayangan mereka terlihat menyeramkan di atas permukaan air, satu orang melawan ratusan orang. Pertarungan itu mulai terlihat tidak masuk akal.


Dalam diamnya Xue Zhan mengambil napas dalam-dalam dan memfokuskan pikirannya untuk menghadapi pertarungan ini. Dia tahu dia tidak bisa mundur juga tidak bisa melarikan diri dari pertarungan ini. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya terbunuh oleh pendekar Topeng Silang Hitam.


Wajah mereka tidak terlihat di balik topeng yang mereka kenakan, namun mata mereka memancarkan aura yang menyeramkan. Dalam sekejap, angin laut berhembus kencang, mengibas kain putih yang dikenakan Xue Zhan dan membuat rambutnya bergerak mengikuti arus angin.


Pada saat itu, Deng Yuan pemimpin penyerangan itu turun dari kapal perang yang berada di belakang para pendekar Topeng Silang Hitam. Deng Yuan memandang Xue Zhan dengan tatapan dingin dan mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat untuk menyerang.


"Besar juga nyalimu, anak muda."


Tiba-tiba, pendekar Topeng Silang Hitam mulai bergerak maju. Suara langkah mereka terdengar berat dan memenuhi seluruh pelabuhan.