Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 109 - Rimba Para Siluman II


Setelah mengajarkan tiga gerakan selanjutnya yang harus Xue Zhan pahami selama bermeditasi di air terjun nanti, Xiang Yi Bai menyuruhnya makan—kali ini sedikit layak tidak seperti sebelumnya. Jarang-jarang sekali Xiang Yi Bai memberinya umpan yang enak, anak itu kembali protes.


"Guru memberiku makan banyak untuk diumpankan pada siluman cicak itu kan?"


"Hahaha tau saja." Xiang Yi Bai tertawa puas, "mukamu takut sekali. Seperti cicak itu mau memakanmu saja. Mereka saja berpikir dua kali untuk memakan manusia kurang gizi sepertimu."


Masih menyantap makanannya, Xue Zhan menatap dongkol pada Xiang Yi Bai. Kadang dia terlihat hebat, kadang gayanya mirip preman pasar. Suka sekali menyakiti hati kecil Xue Zhan.


"Dulu dengan Guru lamaku, dia selalu memberikanku makan enak, walaupun sederhana tapi dia selalu memikirkan kebahagianku. Kadang saat aku bersedih dia memberikan manisan permen bunga."


Mulut Xiang Yi Bai mencebik, "Kenapa tidak kau susul saja gurumu?"


"Aku tidak percaya dia sudah tiada." Xue Zhan kembali mengingat masa lalunya, setiap kali mengingatnya dia berubah murung. Xiang Yi Bai mendecakkan lidah.


"Haish, haish, haish. Orang baik mati muda, bocah nakal hidup lama. Begitulah kehidupan." Niatnya dia ingin mengejek Xue Zhan, tapi bocah itu malah membalikkan kalimatnya.


"Berarti Guru bocah nakal ya dulu?"


"Kau ...!" Xiang Yi Bai mengangkat tangan memasang muka garang. "Bawa makanan dan minuman ini! Aku hanya mengantarkanmu setengah jalan, sisanya rutenya tidak terlalu berbahaya. Tapi kau bisa tetap mati kalau tidak berhati-hati. Cepat, cepat! Matahari sudah turun. Nanti kau kemalaman," perintah Xiang Yi Bai sambil menyodorkan buntalan kain putih berisi perlengkapan. Tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa barang penting.


"Jaga perlengkapan ini baik-baik kalau tidak mau mati sebelum bertemu air terjun itu," peringat Xiang Yi Bai, Xue Zhan tidak terlalu mendengarnya karena masih tenggelam dengan pikirannya sendiri.


*


Sekarang Xue Zhan menyesal setengah mati.


Hujan turun deras membasahi bebatuan jurang, terjadi longsor di atas sana yang menyebabkan jatuhnya pohon besar yang menutupi jalan. Udara lembab mengundang banyak siluman keluar, ada yang ukurannya lebih kecil dari jempol Xue Zhan, ada yang berkali-kali lipat lebih besar dari sebuah pohon. Xue Zhan dapat membedakan mana siluman yang berbahaya mana yang tidak hanya dengan merasakan auranya.


Saat ini ada lima titik di mana siluman berbahaya itu muncul, mereka seperti ular tapi kulitnya licin seperti lintah. Terakhir melihat ada seekor kijang liar berlari dan darahnya dihisap oleh siluman itu sampai kering meninggalkan kulit berbalut tulang yang mengenaskan.


Membayangkan dirinya yang menjadi kijang itu, Xue Zhan bergidik berulang kali dan memutuskan untuk berteduh dan bersembunyi di dalam goa kecil.


Namun ketika dia lalai seekor serangga kecil masuk ke dalam goa dan membawa lari buntalan kain pemberian Xiang Yi Bai. Lantas Xue Zhan panik dan mengejarnya, itu adalah persediaan makanan untuk beberapa hari. Ada banyak barang penting di dalamnya. Sialnya serangga itu berlari cukup jauh dan masuk ke dalam celah-celah bebatuan.


"Sial! Jangan bawa ke sana!" teriaknya mengintip di balik celah, mahluk aneh itu memakan makanannya tanpa sisa.


Tanpa sadar Xue Zhan telah menciptakan kegaduhan yang mengundang banyak siluman di sekitarnya. Ketika dia membalikkan badan sudah ada enam siluman ular jadi-jadian mengerubunginya.


Enam dari mereka maju, Xue Zhan mundur hingga punggungnya terpentok dinding jurang. Merinding melihat pemandangan di depannya, serangga raksasa dengan lendir.


"Mimpi buruk apalagi ini?" batinnya menjerit-jerit, Xue Zhan yang masih merapatkan punggung ke batu perlahan berjalan menyamping, berusaha tak mengeluarkan suara dan pergi dari sana.


Sampai satu dari enam siluman tersebut mendesis kencang, membangunkan lebih banyak siluman ular seperti mereka. Xue Zhan ambil ancang-ancang.


"Tidak usah panik, aku bisa menghadapi mereka dengan satu jurus ...."


Satu siluman merayap ke arahnya, Xue Zhan menunduk sambil menjerit.


"Jurus Lari dari Kenyataan!! Aaaa! Guru, selamatkan aku!!" pekiknya ketakutan, apa pun serangganya Xue Zhan benci setengah mati. Mungkin sekarang Xiang Yi Bai sedang tertawa-tawa, tahu situasi apa yang akan dihadapi muridnya sekarang. Persediaan makanan dicuri, hanya bawa badan dan senjata, lalu dikejar-kejar siluman menggelikan.


Salah satu yang ukuran tubuhnya sebesar tubuh Xue Zhan menghadang jalan. Xue Zhan mencabut pedang, menembus kulit lembek tersebut. Matanya membelalak lebar, gumpalan darah binatang itu bergerak tidak normal.


Benar saja siluman itu seperti bom peledak, mereka bisa meledakkan diri. Jika terkena cipratan darahnya bisa menyebabkan gatal-gatal sampai kulit terasa terbakar, bisa tidak sembuh sampai berminggu-minggu.


Xue Zhan terkena cipratan itu di hidung dan mengumpat lagi dan lagi. Semakin ribut kejar-kejaran di jurang itu, semakin banyak siluman berdatangan memperebutkan makan malam mereka nanti. Hujan bertambah semakin deras membuat jalan licin sampai Xue Zhan berkali-kali hampir terjatuh.


Salah satunya melompat dari atas kepala Xue Zhan yang baru menyadarinya ketika dia mengangkat wajah, bayangan gelap menutup tubuhnya. Xue Zhan berguling ke samping dan menangkap ekor siluman itu. Dengan sekuat tenaga memutar-mutar siluman itu dan melemparkannya ke tiga siluman ular yang mengejarnya di belakang.


Lemparan kuat itu membuat keempat siluman meledak bersamaan, tanah bergetar mengakibatkan longsor yang kedua kali. Xue Zhan kabur, di depannya puluhan siluman ular dengan ukuran lebih besar menunggunya. Mulutnya terbuka lebar menampakkan susunan gigi taring yang berdarah-darah. Gigi itu mampu mengoyak makanan sekeras batu sekali pun. Xue Zhan tak mau menganggapnya remeh.


Sekali saja tangannya dikunyah oleh mereka pasti langsung putus. Selain siluman besar itu ada enam lainnya yang lebih kecil. Xue Zhan mencari-cari celah paling memungkinkan untuk menerobos. Dia langsung mengambil langkah tanpa berpikir dua kali.


Pemuda itu memutar tubuhnya tepat di saat yang bersamaan siluman ular menghantamkan ekor beratnya ke tempatnya semula. Beberapa lainnya mengerubungi Xue Zhan dan menyerang, dia menghindari dengan memperhitungkan setiap gerakannya.


"Tiga ke kiri, dua ke kanan ... Lalu ke atas, silang!" Xue Zhan mempraktekkan gerakan yang diajarkan Xiang Yi Bai, satu tebasan bertenaga membunuh siluman di depannya, yang lain datang dari samping. Xue Zhan menahan mulut makhluk itu dengan pedang tajam.


Dia mundur sejenak.


"Satu langkah ke belakang, jongkok, tebas setengah lingkaran, pernapasan tingkat dua!" Gerakan tersebut menggunakan pernapasan sebagai titik penting dalam menyalurkan kekuatannya. Pedang memotong tubuh siluman itu lurus, sebelum meledak Xue Zhan kembali mundur.


Ledakan tubuh siluman itu melukai Siluman lainnya yang lebih besar, lalu terjadi ledakan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Batu besar retak di atas kepala mereka. Longsor ketiga akan kembali datang, Xue Zhan melihat puluhan keping batu raksasa terjun dari atas dan akan memusnahkan mahluk hidup di bawahnya.