Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 162 - Menuju Lembah Abadi


Setelah memasuki dunia manusia ternyata Fenghuang mulai belajar cara memasak, meskipun di awal-awal dia tidak begitu menyukai makanan manusia tapi perlahan dia mulai terbiasa. Gadis itu baru saja memasak ikan, aroma harum tercium hingga ke tempat Xue Zhan dan Xiang Yi Bai berada. Mereka tersenyum.


"Ternyata tidak salah Fenghuang menjadi perempuan, aish. Akhirnya ada yang bisa memasakkan makanan."


Xue Zhan menghampirinya dan berusaha meraih ikan bakar, tiba-tiba saja Fenghuang menepis tangannya sambil berujar kesal. "Siapa yang menawarkan makanan padamu? Tidak ada!"


Xue Zhan tertohok. Fenghuang membalas perbuatannya tadi. Xiang Yi Bai tertawa-tawa, "Kalau aku boleh, kan?"


"Boleh," balas Fenghuang. "Boleh untuk kupatahkan tanganmu."


Fenghuang benar-benar ganas seperti singa betina.


Pada akhirnya mereka hanya menonton Fenghuang makan sambil sesekali melihat satu sama lain dengan miris. Disuruh mencari ikan di sungai pun mereka berdua sama-sama malas.


Memang Fenghuang pelit.


"Tapi Guru," sela Xue Zhan mendadak. "Apa kau tahu setelah keluar dari kelompok Kelabang Ungu, Yue Linghe bersekutu dengan kelompoknya lain?"


Xiang Yi Bai menggeleng tidak tahu.


"Aku tidak memiliki informasi tentang dua puluh tahun terakhir."


Muridnya mengangguk, tangannya meraba-raba tanah dan mendapatkan satu ranting. Dia meletakkan satu batu besar di atas tanah dan menarik beberapa garis ke batu lebih kecil untuk membuat beberapa gambaran informasi yang berhasil didapatkannya.


"Jika batu besar ini adalah si 'pengguna boneka' yang Guru maksud, maka batu kecil lainnya adalah kelompok seperti Taring Merah, Menara Giok Hantu dan mungkin saja Kelabang Ungu. Mereka semua adalah kelompok berbahaya, bagaimana bisa si pengguna boneka ini menyatukan kelompok yang saling berseteru satu sama lain."


"Kita tidak bisa langsung memastikan bahwa Kelabang Ungu juga bagian dari mereka. Untuk saat ini yang benar-benar bisa kupastikan adalah Taring Merah." Xiang Yi Bai menjelaskan, dia kembali melanjutkan.


"Coba pikir sendiri." Xiang Yi Bai sudah tentu memiliki jawabannya.


Detik itu Xue Zhan mulai terbenam dalam pikirannya sendiri. Dia sempat memiliki dugaan tentang tujuan yang dituju oleh Taring Merah. Mengingat penyerangan yang terjadi di Kekaisaran Feng, tujuan mereka adalah Batu Elemen Penguasa Bumi. Sudah jelas yang mereka incar adalah kekuatan besar yang tidak tertandingi.


Namun nampaknya jawabannya tidak sesederhana itu, apalagi melihat senyum penuh teka-teki Gurunya yang seakan menyuruhnya berpikir lebih keras lagi.


Misteri ini membuat kepalanya hampir pecah.


"Untuk mengambil pusaka langit dan menciptakan pusaka yang lebih hebat daripada pusaka langit?"


Xue Zhan padahal hanya menjawab sembarangan, tidak disangka dibalas anggukan oleh Xiang Yi Bai.


"Bahkan pusaka yang belasan kali lebih kuat di atas pusaka langit sendiri. Satu tingkat pusaka paling terkuat dari yang pernah ada, yaitu Pusaka Matahari."


"Pusaka Matahari?"


"Pusaka yang kekuatannya bisa menandingi kekuatan matahari." Xiang Yi Bai menatap matahari di atas mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sejenak Xue Zhan merasakan sedikit getaran aneh, seperti rasa takut akan kekuatan yang belum dia lihat dengan mata kepalanya sendiri namun dirinya bisa merasakan ancaman yang sangat nyata.


Xue Zhan berniat bertanya lebih jauh, Xiang Yi Bai sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Jika kau ingin bertanya apakah aku pernah melihat Pusaka Matahari itu, jawabannya tidak pernah. Tidak ada yang tahu bagaimana dan di mana pusaka itu. Bahkan Leluhurku sendiri belum tentu memiliki informasi tentangnya.."


Langkah mereka masih tertinggal jauh dari musuh sebenarnya di balik ini semua. Xue Zhan mengepalkan tangan dengan geram, dia tak akan membiarkan musuh bertindak seenaknya. Dia akan mengejar mereka sampai ke kerak bumi sekalipun. Xue Zhan ingin menemukan semua kepingan yang mengantarkannya pada titik terakhir; si pengguna boneka itu. Sang pengendali yang bergerak dalam bayangan dan mengancam seluruh manusia.


Tiba-tiba Xue Zhan menganggukkan kepala. Xiang Yi Bai melirik heran.


Di dalam hatinya, Xue Zhan sudah bertekad. Dia akan menyelesaikan semua ini hingga akhir. Siapa pun musuh yang akan ditemuinya nanti, Xue Zhan harus selalu siap dan tetap bertahan untuk melihat orang itu sekaligus mengakhiri semua kekacauan yang telah diperbuatnya.


Muridnya tiba-tiba berdiri. "Waktunya bergerak!"


"Oh, ada satu biji yang terinspirasi. Hei, hei, tenanglah. Makan dulu. Kau tidak akan bisa bertarung dengan perut kosong seperti itu."


"Mau makan, memang makan apa?" Xue Zhan mendadak kehilangan semangat.


Xiang Yi Bai menjawab lempeng. "Makan angin."


**


Dalam peraturan yang ditetapkan untuk semua perguruan, terkhususnya perguruan besar di Kekaisaran Diqiu, tidak sembarangan orang bisa berkunjung. Mereka harus membawa pelat baja-sejenis lempengan logam yang menjadi tanda izin masuk resmi. Untuk mendapatkan pelat resmi ini tentu sangatlah sulit.


Maka dari itu ketika Kang Jian mengurus segala macam administrasi agar Xue Zhan bisa masuk ke Lembah Abadi saja memakan waktu berhari-hari. Tidak mengherankan, mereka menerapkan peraturan ketat dan pengawasan 24 jam. Xue Zhan sudah tahu banyak seluk beluk perguruan itu karena memang tempatnya berlatih dulu.


Hanya saja saat mereka bertiga sudah tiba di dekat perguruan, tidak ada yang memiliki cara paling aman untuk masuk ke dalam.


Fenghuang menyelutuk, "Kita terbang lewat atas dan masuk. Sederhana. Yang rumit itu kalian."


"Ya ... Habis terbang lewat atas, nyawamu juga melayang ke atas. Yang lain, yang lain," protes Xue Zhan.


Xiang Yi Bai tidak terbiasa dengan misi penyusupan seperti ini. Seumur hidupnya dia adalah pendekar yang selalu berjalan di arah kebenaran dan menjunjung tinggi kejujuran. Dia berulang kali menyesali keputusan keluar dari Jurang Penyesalan dan mengikuti murid bodohnya ini. Mungkin sekarang para leluhur sedang menggunjingnya di akhirat. Benar-benar perilaku yang tidak terpuji untuk seorang Ketua Agung Dunia Persilatan dan Batara Pedang Suci yang terkenal penuh kehormatan.


"Guru, kau punya ide?"


Dan si anak titisan setan itu malah meminta pendapatnya.


"Kau kira aku seburuk itu sampai tahu cara menyusup ke dalam perguruan orang? Aku tidak tahu."


"Wajah Guru lebih gahar daripada preman, pasti punya ide jahat. Mana mungkin tidak punya. Lagipula berpikirnya sama-sama pakai otak ..."


"Berisik, murid sesat. Meminta gurunya melakukan perilaku tidak terpuji. Tidak bisa dimaafkan."


Xiang Yi Bai memalingkan muka.


"Ini baru menyusup belum lagi yang lebih parahnya. Kalau mau mundur juga sudah terlambat, Guru. Jurang Penyesalan sudah sangat jauh dari sini dan di sana pun Guru tidak bisa menemukan kacang polong dan arak paling enak, 'kan?"


Kening Xiang Yi Bai sampai berurat-urat, pening sekali mendengar ceramah muridnya itu. Sudah seperti bunyi jangkrik yang terus berulang-ulang. Dia mencebik. "Aku punya satu cara yang paling aman."


Xue Zhan tersenyum lebar. Fenghuang menggeleng tidak habis pikir.


'Mereka akan melakukan hal gila apalagi habis ini,' batinnya.