Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 185 - Perpisahan Kedua


"Guru," panggil Xue Zhan.


"Ada apa?"


"Tidak, hanya saja aku ingin berbicara tentang Yue Linghe ..." Dia membuang napas berat, wajahnya terlihat gelisah.


"Walaupun Yue Linghe telah membunuh ribuan manusia, dia juga memiliki sisi manusia. Dia hanya ingin melindungi adiknya. Aku mulai tidak mengerti dengan mana yang disebut benar dan mana yang salah. Apa itu kejahatan, apa itu kebaikan ... Bagaimana jika sebenarnya aku adalah seorang penjahat karena aku ingin membalaskan dendam atas kematian orang-orang yang berarti bagiku?"


Xiang Yi Bai melihat kekacauan di kedua bola mata pemuda itu, dia dilanda kegelisahan.


Dia menepuk pundak pemuda itu untuk memberikannya jawaban.


"Kejahatan ada karena adanya kebaikan, begitu juga sebaliknya. Kebaikan dan kejahatan tidak dapat ada sendiri tanpa yang satunya dan kebaikan hanya bisa diukur dan dinilai karena adanya standar atau tolak ukur yang berlaku. Standar tersebut seringkali dibentuk oleh adanya tindakan yang dianggap jahat."


Xue Zhan mengernyit, berusaha memahami kata-katanya.


Xiang Yi Bai menepuk kepalanya. "Jika berpikir membedakannya itu sulit, kau cukup ikuti jalan kebenaran. Jangan menyakiti mereka yang tidak bersalah, gunakan pedangmu untuk melindungi bukan mencelakai. Ketika dunia berada dalam ancaman dan kau terpaksa menyingkirkan orang-orang yang akan merusak apa yang ingin kau lindungi, maka lakukanlah. Walaupun pada akhirnya kau menuai kebencian dan penyesalan."


Xiang Yi Bai melihat langit di atasnya dengan tatapan penuh arti.


"Ada beberapa orang yang hidup dengan tangan berlumuran darah dan tidak diizinkan hidup damai, karena dia yang bertugas untuk menciptakan kedamaian itu sendiri." Dia menatap pada Xue Zhan. "Dua orang di antaranya adalah kita."


Xue Zhan mengangguk. "Guru bisa menanggung semua penyesalan sendirian. Kupikir kesabaran guru lebih besar dari kekuatanmu sendiri."


"Aih, berhenti memujiku bocah. Aku tahu kau ada maunya."


"Tidak ada Guru." Xue Zhan tertawa, "lagipula sepertinya sekarang bukan waktunya Guru marah-marah," bisiknya sangat kecil.


"Kau bilang apa?"


"Aku hanya bicara dengan rumput." Xue Zhan bergidik, pandangannya jatuh ke jasad siluman kelabang yang tak lain adalah Yue Linghe. Kembali merasa iba dengan nasib yang diterima wanita itu.


"Dia pasti sangat merindukan adiknya." Pemuda itu tersenyum lemah, mengingatkannya pada Lin Yu Mei dan seberapa besar rasa rindunya pada gadis kecil cerewet itu. Mungkin saat ini adiknya sedang beristirahat tenang.


"Aku begitu merindukan adikku meskipun kami tidak memiliki ikatan darah. Aku paham apa yang Yue Linghe rasakan, Guru." ungkapnya. "Jika mereka tidak diizinkan bersama semasa di hidup, aku ingin keduanya bisa beristirahat bersama di rumah peristirahatan mereka."


Xiang Yi Bai mengangguk, berpikir Xue Zhan ada benarnya. "Aku saja yang membawa jasadnya ke Jurang Penyesalan untuk dimakamkan. Seharusnya di tengah tubuh kelabang itu masih tersisa mayat wanita itu."


"Tu-tunggu, Guru saja?" Xue Zhan mengulang.


"Kembali ke Jurang Penyesalan akan memakan waktu lama. Aku yakin kau murid yang mandiri, pergi sendiri ke Air Terjun Panas saja sanggup. Menemui Taring Merah sendiri tidak sanggup?"


Mulai lagi, misi tidak masuk akal yang membuat tenggorokannya terasa tercekik. Cukup sekali jantung Xue Zhan hampir copot saat pergi ke Air Terjun Panas dan menemui banyak rintangan maut dan berkali-kali hampir tewas. Kini Xiang Yi Bai menyuruhnya melanjutkan misi sendirian.


Hanya beberapa detik, Xue Zhan akhirnya berpikir bahwa Xiang Yi Bai benar. Dia harus bisa melakukannya sendirian bahkan sekalipun tidak ada Gurunya. Satu musuh telah tumbang di tangan Xiang Yi Bai. Xue Zhan ingin sekuat Gurunya agar dapat membasmi orang yang lebih hebat dari pada Yue Linghe kelak.


"Aku paham, Guru."


Hua Lian kembali saat Xiang Yi Bai berbicara dengan membawa satu peti berisi cawan emas yang terlihat mahal dan antik serta memiliki energi magis di dalamnya.


Keduanya berbincang sebentar, menjelaskan mereka bertiga akan berpisah di jalan.


Xue Zhan tertahan sejenak.


"Tapi kapan kita akan bertemu lagi?"


Xiang Yi Bai tidak menjawab melainkan mengalihkan pembicaraan. "Ingat tentang jalan kebaikan, jangan sampai kau salah langkah. Sampai jumpa, murid bodoh."


"Sampai jumpa," ucap Xue Zhan sambil melambaikan tangan dalam ketidakpercayaan.


Lagi-lagi dia ditinggal. Namun terakhir kali, Xue Zhan merasa apa yang didapatkannya jauh lebih banyak dari itu semua. Dia menemukan teman baik, Fenghuang. Melatih kekuatannya mati-matian dan semua itu adalah untuk apa yang akan diperjuangkannya sekarang. Mana mungkin dia menyerah begitu saja.


Pada akhirnya Xiang Yi Bai pergi bersama Hua Lian menuju jalan pulang sedangkan Xue Zhan tersisa di belakang. Dia membalikkan badan, menempuh jalannya sendiri dan terus melanjutkan perjalanannya dalam kesendirian.


Ketika Xue Zhan kembali membalikkan badan, Hua Lian dan Gurunya sudah tidak terlihat.


Xue Zhan perlahan mengembangkan cengiran lebar sambil melambaikan tangannya.


"Kita pasti akan bertemu kembali!"


*


Xue Zhan terus berjalan melintasi hutan yang gelap, di mana tiupan angin saja terasa menusuk tulang. Matahari turun. Langit semakin gelap dan seolah-olah memberi tanda akan segera turun hujan. Setiap langkah yang diambil semakin terasa berat dengan genangan air yang semakin dalam dan meluas di bawah kaki.


Xue Zhan terus melangkah dan mulai mencari tempat perlindungan sebelum malam benar-benar datang.


Tak lama berjalan di tengah hutan belantara, Xue Zhan menemukan sebuah gubuk kayu yang tampaknya sudah lama terbengkalai dan terabaikan. Namun dalam situasi terdesak ini gubuk itu menjadi tempat perlindungan terbaik.


Xue Zhan bergegas mendekati gubuk dan meraih gagang pintunya yang berkarat. Dia mendorong pintu kayu itu dan masuk, tidak melihat siapa pun di dalamnya dan merasa aman.


Air hujan yang deras mengalir deras dari atap gubuk yang sudah rusak, membuat suara gemerisik yang tidak menyenangkan.


Xue Zhan duduk di sudut gubuk yang kering sembari memikirkan tujuannya, Taring Merah yang masih jauh.


Pemandangan luar gubuk tampak semakin parah. Angin kencang membuat ranting-ranting pohon bergoyang dan suara hujan semakin keras. Suara gemuruh petir semakin dekat dan cahaya kilat memenuhi langit malam. Xue Zhan bersyukur dia bisa menemukan tempat perlindungan di tengah badai.


Dia merenung sejenak, mengingat semua hal yang telah terjadi selama perjalanan. Dia bertemu begitu banyak hal.


Tiba-tiba dari arah halaman belakang seseorang datang, Xue Zhan mulai was-was, menduga bahwa kemungkinan besar orang itu adalah pemilik tempat ini. Dia bersiaga dengan pedang di pinggangnya sampai akhirnya terlihat seseorang sedang menenteng bakul berisi sayuran, dia sepertinya sehabis mengambilnya di kebun. Xue Zhan mematung beberapa detik, seperti mengenali gadis berparas cantik di hadapannya.


"Kau ... " suaranya terpotong. " ... Nona Wen?"