
Tiga tahun terlewatkan sejak kepergian muridnya, udara dingin menyapa pipinya yang sedang berjemur di bawah terik matahari sore sambil menenggak arak, memperhitungkan berapa lama lagi waktu akan berlalu.
Xiang Yi Bai tidak ingin lagi menghitung, dia sudah terlalu bosan menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata, 'tidak lama lagi' dan berakhir kesepian. Hidup abadi yang didambakan semua manusia nyatanya lebih buruk daripada mati terpotong-potong. Rasanya seperti dipaksa sekarat selama berpuluh-puluh tahun di dalam sebuah kurungan yang dingin dan sunyi. Sampai akhirnya lelaki itu mulai merindukan kematian.
Pikirannya kembali ke masa lalu, masa-masa di mana dia menjalani hidupnya dengan indah. Teman, Guru, saudara seperguruan dan semua orang baik di Gunung Pohon Seribu yang dikenalnya. Xiang Yi Bai tak akan sampai ke titik tertinggi di dalam hidupnya dengan menjadi Ketua Agung Dunia Persilatan tanpa bantuan Wu Guang dan Gurunya.
Kini setelah mereka tiada dia hanyalah seorang gembel yang terjebak di dalam jurang sendirian.
Meskipun sudah terbiasa dengan kesunyian dia tetap tidak bisa berteman dengan penyesalan. Ada begitu banyak hal yang sepatutnya diluruskan, tapi mengingat saat dirinya terjun bersama mayat Wu Guang dan bersumpah untuk mengakhiri urusannya dengan dunia atas, Xiang Yi Bai memutuskan untuk tidak kembali lagi ke sana meskipun sempat terbersit keinginan itu.
"Selagi Batu Tanah aman aku tak akan keluar dari sini." Kalimat itu sudah diucapkannya ribuan kali. Xiang Yi Bai berusaha memaafkan masa lalunya, menerima takdir yang sekarang dia jalani dan menikmati sisa hidupnya bersama arak. Tanpa perlu merasa takut akan kehilangan saudara seperguruan, kehilangan martabat ataupun bertarung sesama manusia. Hanya ada dirinya sendiri.
Walaupun begitu dia sempat berharap bocah menyebalkan itu kembali.
Tawa miris hadir di wajah putihnya yang kaku. "Sekalinya bertemu dengan seekor kutu kecil, kutu itu tak pernah kembali. Hais, hais, aku termakan janjinya. Katanya akan kembali dan pergi ke dunia atas untuk mengembalikan nama baikku. Lihatlah sekarang, mungkin dia sudah mati dimakan ular atau tersedak racun Cicak Loreng."
Laki-laki itu bangun untuk menyiapkan sendiri makanan untuk makan malam nanti. Seperti biasa di setiap penghujung tahun, Xiang Yi Bai menyiapkan banyak makanan dan arak. Dia mempersiapkan sebuah api unggun besar untuk membantu menghangatkan tubuhnya ketika malam yang dingin turun. Membayangkan orang-orang yang telah tiada duduk bersamanya merayakan pergantian tahun, seperti yang selalu dilakukannya di Gunung Pohon Seribu.
Hanya dengan cara itu Xiang Yi Bai tidak melupakan mereka. Dia sempat menoleh ke samping ke arah di mana muridnya itu pergi.
"Kelihatannya memang tidak akan kembali." Xiang Yi Bai membuang napas berat, "orang baik mati muda, anak nakal hidup lama."
Matahari turun dari singgasananya, di dalam Jurang Penyesalan tak tersisa sedikit pun berkas sinar matahari meskipun malam belum turun. Xiang Yi Bai menatap lama api unggun yang mulai menyala, tanpa berkata-kata atau pun bergerak. Dia duduk bersila lalu memejamkan mata selama satu jam.
Sampai terdengar suara dari sisi lain jurang. Xiang Yi Bai menyipitkan matanya, membaca pergerakan yang semakin mendekat dari waktu ke waktu. Dia sempat mengira itu adalah Xue Zhan namun perkiraannya salah, mereka bergerombol dan yang lebih mengejutkannya ke seratus orang tersebut mengenakan topeng dengan bentuk yang sama, Topeng Silang Hitam.
Xiang Yi Bai berusaha menebak dari mana kelompok itu berasal dan satu-satunya petunjuk hanya mengarah ke Taring Merah. Meskipun kelompok penjahat ini belum terlalu besar dua puluh tahun yang lalu, Xiang Yi Bai yakin mereka semakin berkembang pesat dan berpotensi untuk mengacaukan dunia.
Sesuatu bergerak cepat di atas kepalanya, Xiang Yi Bai memiringkan tubuh membiarkan sebuah kapak besar melintas di samping dan menghancurkan semua makanan yang dia persiapkan untuk menyambut perayaan tahun baru. Debu api dari api unggun berterbangan terbawa angin kencang.
Mata Xiang Yi Bai meneliti ke arah jalan di mana manusia-manusia ini datang, benar saja terdapat tali tangga yang menjulur tak jauh dari sana.
Xiang Yi Bai tidak tahu apa maksud dari Topeng Silang Hitam sendiri. Satu orang yang menyerang barusan mundur ke belakang laki-laki dengan porsi tubuh besar kekar dan kedua tangan yang penuh jahitan berdarah-darah. Dia yang paling kuat di antara 99 orang lainnya. Selain itu, bagaimana cara mereka tahu dengan pasti Batu Tanah tersebut?
Xiang Yi Bai mengamati sekitarnya dan melihat seekor hewan spritual yang merupakan jelmaan dari salah satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia, Serigala Cahaya. Dia adalah batu yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi adanya kekuatan besar, lebih sering digunakan untuk mencari barang-barang berkelas seperti pusaka langit dan bahkan Batu Elemen Penguasa Bumi.
"Benar dugaanku. Dia masih hidup. Ziran Zhao menyembunyikan laki-laki ini bersama Batu Tanah dan menyebarkan dongeng mengerikan agar tidak ada yang berani mendekati Jurang Penyesalan. Cara yang cerdik, namun apakah ini sebanding untuk seorang Ketua Agung Dunia Persilatan? Kau dibayar berapa sampai menyanggupi tawaran ini?"
Hantu Sebelas Jari mendekati Xiang Yi Bai yang masih diam tak bergeming.
"Kehilangan rumah yang kau cintai, saudara dan bahkan posisimu saat kau sedang berada di puncak. Apakah Ziran Zhao bangsat itu telah mencuci otakmu? Kurasa tak akan ada hal yang sepadan dengan penderitaan yang kau alami sekarang."
Xiang Yi Bai meletakkan sebelah tangan di gagang pedang.
"Pada akhirnya tempat paling aman pun akan berhasil dijangkau oleh anjin g Taring Merah seperti kalian."
"Aku selalu mendengar nama besarmu Batara Pedang Suci yang terkenal dengan kehebatan di atas para pendekar terhebat lainnya. Kau disegani semua orang. Aku yakin Ziran Zhao telah menghancurkan hidupmu. Bagaimana jika kau bergabung dengan kami?"
Mulut Xiang Yi Bai mendecih, "Kau tahu akan mati dalam satu detik melawanku dan mencari jalan keluar lain. Seratus orang ini tak ada artinya bagiku."
"Setidaknya kau akan terluka walau sedikit."
Xiang Yi Bai menarik pedangnya, mengangkatnya lurus hingga ke atas kepala.
Gerakan tersebut memang terlihat tidak bertenaga. Namun sebuah angin tajam dan amat kencang keluar mengikuti gerakan mata pedang, membelah kerumunan di depannya yang terkejut ketika tanah di bawah mereka terbelah menjadi dua hingga dua meter.
Sepuluh orang terpotong begitu saja, memperlihatkan organ dalam segar yang masih berdetak hingga ambruk.
"Ja-jadi ini kekuatan Batara Pedang Suci ...?!" pekik salah satu di antara mereka, yang lainnya ikut gempar karena merasa dibohongi oleh Hantu Sebelas Jari.
"Kekuatannya sama sekali tidak melemah setelah dua puluh tahun mengurung diri di dasar jurang, dia bahkan jauh lebih dari monster!" Semakin ribut anak buah itu, semakin ketakutan pula yang lainnya. Laki-laki berjubah putih gading itu berjalan pelan,
"Baguslah, kalian datang ke sini untuk mengantarkan nyawa. Setidaknya mayat-mayat kalian bisa digunakan untuk memancing ikan."
Hantu Sebelas Jari menyeringai di balik topengnya.
"Kau kira aku benar-benar datang ke sini tanpa persiapan?"