
Ibu Jiazhen Yan berputar di udara dengan memegang bambu, kakinya menyepak kepala musuh dengan telak. Tendangan paling terkuat menghentam mengeluarkan darah yang cukup banyak, tapi tak hanya sampai di situ dia menarik kakinya ke atas lalu dengan tanpa halangan membuat putranya terduduk, wajah tertunduk serta mulut mengeluarkan darah.
"Kau kalah."
Satu jam sebelumnya ...
Jiazhen Yan melupakan sesuatu tentang wanita itu, dia adalah pencipta pertama serbuk es. Salah satu seni racun terunik yang pernah ada dan diciptakan dengan menggunakan kekuatan asli dari tubuhnya sendiri.
Karena begitu jarangnya melihat ibunya menggunakan serbuk racun Jiazhen Yan tidak mewaspadai serangan yang sudah lebih dulu lolos dari pandangannya. Sejak awal dia sudah menghirup serbuk racun dan dalam satu jam ke depan kekuatannya berkurang sampai delapan puluh persen. Akan semakin buruk jika dia tidak segera melepaskan diri, ada kemungkinan nyawanya tidak akan selamat karena seluruh titik tenaga dalamnya akan pecah. Jika itu terjadi untuk selamanya Jiazhen Yan harus meninggalkan jalannya sebagai pendekar dalam dunia persilatan.
Meski menghadapi pendekar terhebat sekalipun dia tidak akan bisa berkutik jika berhadapan dengan jurus mematikan ibunya. Beberapa titik di tubuh Jiazhen Yan telah dimatikan sementara, itu artinya dia tidak dapat menggunakan kekuatan tersebut.
Wanita itu melangkah tiga tapak, suaranya menyapa dengan intonasi licik.
"Aku juga melihat ingatanmu ... Seorang iblis? Kau begitu percaya pada temanmu? Bukankah kau telah bersumpah tidak akan bersekongkol dengan orang-orang yang telah membuatmu terpuruk?"
"... Dia memang sering membuatku marah, bodoh sampai ke inti bumi, keras kepala, miskin, banyak omong, hidup lagi. Tapi dia berbeda. Dia memiliki iblis di dalam dirinya sama sepertiku. Bahkan iblis pun tahu mana saudaranya sendiri."
Jiazhen Yan maju dengan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya, api murni keluar dari kedua tinju tangannya. Dia menghantam tangan ke tanah yang penuh oleh dedaunan kering dan seketika sekitarnya terbakar. Api memakan daun-daun, ibunya melompat di udara dan langsung berdiri di atas bambu muda yang tipis. Stabil tanpa sedikitpun bergerak.
Jiazhen Yan mengeluarkan darah dari mulut.
Mata pedang menyentuh dagunya, memaksa wajah Jiazhen Yan mendongak melihat tatap mata yang kian liar bersama hawa pembunuh pekat.
"Kalung itu pemberiannya, bukan?"
Orang itu tiba-tiba mengambil kalung di leher Jiazhen Yan, pemuda itu memberontak dan pada akhirnya tubuhnya ambruk berlutut.
"Kembalikan bajingan, kau bermain terlalu jauh. Urusan keluargaku bukan hakmu untuk mencampurinya!"
Geraman itu adalah peringatan terakhir dari Jiazhen Yan, wajahnya kentara menyimpan gejolak emosi yang meninggi dari waktu ke waktu.
"Kebetulan aku ingin mengatakannya," ujarnya dan dalam sesaat wajahnya amat serius. "Kau mungkin belum tahu siapa aku tapi aku bisa menjamin, teman yang kau percaya itu adalah iblis sebenarnya. Bukan iblis gadungan seperti kau. Matanya ... Darahnya ... Tanduknya dan segala yang dia miliki memiliki harga yang tinggi."
"Dia menjadi 'Buruan Emas' di mata para pebisnis pasar gelap. Dan kalung ini ..."
Dia menggantungkan kalung itu, bergerak ke kanan kiri dan akhirnya berhenti tak lama kemudian. Tidak ada sahutan dari Jiazhen Yan tapi terlihat dia masih memupuk kekesalan di matanya.
"Aku merampasnya dari sekelompok musafir yang telah mati dan menjualnya ke pasar gelap. Ibumu membelinya dariku dengan harga tinggi. Aku tahu betul tentang kalung ini, ia memiliki dua mata berlian seputih salju. Satu permata lagi telah diambil."
Lalu lelaki itu melemparkannya ke samping Jiazhen Yan yang telah mati rasa. Kabut Ilusi mulai mencekiknya. Napasnya terdengar berat, mulutnya mengeluarkan asap putih dingin yang berasal dari serbuk es yang dihirupnya.
"Akan kubunuh kau sialan!" pekik Jiazhen Yan teramat kesal, sosok itu menarik senyum dan tertawa merendahkan. Dan yang terjadi berikutnya lelaki itu melompat dan berputar hanya berpegangan pada bambu dan menyerang Jiazhen Yan hingga dia tidak sadarkan diri.
"Sungguh bocah yang malang," bisiknya, wajah dan tubuhnya berubah ke wujud aslinya-seorang lelaki berumur 30 tahun dengan kumis tipis serta mata sipit. Dia berjalan mendekat hendak membopong pemuda itu namun langkahnya tercegat saat mendapati siluet bayangan gelap dari dalam kabut putih muncul. Bayangan kecil itu mulai membesar dan akhirnya berhenti, sepantaran dengan Jiazhen Yan.
"Oh, temannya sudah datang."
Dia ingat jelas siapa sosok itu setelah menyelami ingatan Jiazhen Yan. Senyum getir terlihat. Xue Zhan sama sekali tidak terpengaruh oleh Kabut Ilusi.
"A-apa?" gumamnya yang hanya bisa dia dengar sendiri. Sejauh ini tidak ada yang tidak pernah terjebak dalam jurusnya, sekali lagi dia menatap pemuda itu. Orang yang termakan ilusi adalah orang yang menyimpan kegelapan di dalam hatinya.
Namun pemuda itu tidak. Ada kegelapan di hatinya tapi juga ada cahaya yang menyinari.
"Orang yang tidak memiliki kelemahan? Ini pasti akan cukup sulit."
"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya, "Kembalikan setan itu, kita tidak perlu bertarung jika tidak perlu."
"Kau sungguh tidak mempunyai orang-orang yang kau sayangi?" Justru dia menghiraukan omongan Xue Zhan dan masih dalam pertanyaan di kepalanya sendiri.
Xue Zhan diam sesaat sebelum menjawab, "Aku mempunyai orang yang aku sayangi, tapi ada waktunya melepaskan kepergian mereka adalah satu-satunya pilihan untuk membahagiakan mereka. Aku akan tetap pada jalanku dan berikrar untuk sumpahku."
"Kau iblis yang egois. Kau bisa saja mengorbankan temanmu dan membiarkan mereka mati untuk tujuanmu."
Xue Zhan tertawa singkat.
"Kita bisa saja melihat ribuan orang berlalu lalang di depan, namun ketika memejamkan mata, kita hanya akan tetap sendirian." Dia melanjutkan, "Tapi aku sudah bersumpah untuk tidak membunuh manusia yang tidak bersalah. Jika ada yang harus dikorbankan, maka itu adalah nyawaku."
Percuma saja mendebat, lelaki itu tidak menemukan satu titik temu yang menjelaskan jati diri iblis itu. Dia bersiap dengan jurusnya.
"Kau adalah seorang iblis. Kupastikan aku akan memenjarakanmu selamanya di neraka."
"Hati-hati terpeleset, nanti kau yang terjun ke neraka, bukan aku."
Balasannya membuat laki-laki itu menggemerutukkan gigi keras sampai terlihat tulang rahangnya tercetak di wajah, sesaat kemudian Xue Zhan dan pengguna Kabut Ilusi bertarung.
Detik pertama lelaki itu cukup unggul tapi dia tidak bisa mengatasi lagi Kabut Ilusi dan akhirnya melepaskan teknik itu untuk menyimpan tenaga dalamnya. Sayangnya hal itu membuat Xue Zhan untung, penglihatannya yang sempat terganggu terselamatkan.
Entah hanya perasaannya atau tidak, mata merah itu sempat bersinar. Xue Zhan maju melesat ke sampingnya, daun-daun beterbangan mengikuti arus angin begitu juga dengan cipratan darah yang keluar dari punggung lelaki itu.
Dalam hal bela diri Xue Zhan jauh lebih mahir dibanding pengguna jurus ilusi, mereka memliki fisik yang lebih lemah.
Lelaki itu mengeluarkan darah, tangannya memegang dada yang koyak oleh tebasan melingkar di dadanya. Dia jatuh bersimpuh sampai akhirnya mati dalam keadaan telungkup.
"Nah sekarang lihat siapa yang meminta pertolongan. Yang benar saja Raja diangkut rakyatnya? Mana selir dan pengikutmu Tuan Raja?" ejek Xue Zhan, sesaat melihat sebuah kalung yang sempat dilihatnya beberapa hari lalu, menyimpannya di saku. Walaupun mengomel dia tetap membantu Jiazhen Yan untuk pergi dari sana.
Matanya sempat menoleh ke belakang melihat jasad musuh, menunduk memikirkan ulang ucapan lelaki itu.
"Aku tidak akan menjadikan mereka sebagai kelemahanku, karena mereka adalah sumber kekuatanku, alasan agar aku tetap hidup dan berjuang sampai napas terakhirku." Pikirannya tertuju pada adik dan lelaki renta yang menganggapnya sebagai keluarga, tersenyum kecil.