
Getaran di permukaan jurang terasa kuat, suasana tegang memenuhi udara. Ribuan orang berkumpul memandang dengan tajam ke pada laki-laki yang berdiri sendirian di hadapan mereka. Pakaian putihnya berkibar-kibar oleh angin kencang yang memburu di sekitarnya.
Dalam keheningan yang mencekam, laki-laki itu memancarkan aura yang kuat dan misterius. Tatapannya yang tajam menembus ke dalam jiwa setiap orang yang melihatnya. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun kehadirannya sendiri sudah menyampaikan pesan yang begitu kuat.
Getaran dari jurang yang tak berujung menambah ketegangan di udara. Orang-orang merasakan kekuatan alam yang berdenyut di permukaan tanah di bawah kaki mereka. Suara angin yang melintas dan suara jantung yang berdegup keras adalah satu-satunya suara yang terdengar.
Laki-laki dalam jubah putih tetap tegak, tak goyah sedikit pun di hadapan kerumunan itu. Membiarkan satu per satu dari mereka mencaci dan meneriakkan kata kematian untuknya.
Perebutan pusaka ini tidak akan pernah bertemu ujungnya. Xiang Yi Bai telah lebih dulu melihat ketika sikap tamak ini menewaskan ratusan ribu nyawa.
Nampaknya dunia tak akan bisa melawan takdirnya sendiri. Perang itu tak akan bisa dihindari meski Xiang Yi Bai berupaya sebisa mungkin.
Dia menggeleng sembari membuang napas berat dan masih tidak menyangka musuh mengikutinya ke tempat ini. Sebuah kesalahan besar baginya.
Pada malam itu, ketika bulan tersembunyi di balik awan gelap, ribuan pendekar dari aliran hitam yang dikenal sebagai Taring Merah membanjiri wilayah Jurang Penyesalan. Mereka bergerak dengan langkah berisik penuh nafsu.
Tujuan mereka adalah merebut batu pusaka langit yang sejak 25 tahun lalu berada di tangan Sang Ketua Agung Dunia Persilatan, Xiang Yi Bai.
"Aku tidak akan segan-segan padamu walaupun kau terpojokkan, Xiang Yi Bai."
Cahaya Taring Merah berujar serius dan ketus, dia bersedia dengan senjata di tangannya yang mulai mengeluarkan kilauan cahaya yang menerangi tempat gelap tersebut..
"Semuanya, bersiap!" Terdengar suara seruan dari musuhnya. Xiang Yi Bai menarik Bai Ye dari sarungnya. Pedang itu bersinar oleh pantulan bulan, ukiran di bilahnya terlihat jelas. Cahaya Taring Merah menarik senyum di balik topeng.
"Pedang legendaris itu, sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya. Sekarang semuanya sudah berbeda, aku sudah tahu kelamahan dan teknikmu, kau hanya akan menemui kematian di sini."
"Maju!!"
Gemuruh petir sesekali menyambar, memberikan cahaya kilat yang singkat namun cukup untuk memperlihatkan pemandangan menakutkan.
Kobaran api membara di sekitar Xiang Yi Bai, menciptakan bayangan yang menjulang tinggi di antara kegelapan. Api-Api itu menari-nari seiring gerakan cepat lelaki itu.
Dari kegelapan, terdengar gerakan cepat dan langkah para pendekar topeng silang hitam.
Sementara beberapa pendekar memegang pedang dan tombak, yang lainnya berperan sebagai pemanah yang memanfaatkan keahlian membidik mereka dengan panah berapi.
Panah-panah berapi dilontarkan dari busur para pemanah, melintas di udara dengan cepat dan membentuk garis-garis bercahaya. Mereka membidik Xiang Yi Bai dengan kejam, menciptakan gerbang neraka yang mematikan di sekelilingnya.
Para pendekar topeng silang hitam bergerak secara serempak, menyerang Xiang Yi Bai dari berbagai arah. Mereka mengatur formasi, memanfaatkan jumlah mereka yang melimpah untuk mengepung Xiang Yi Bai.
Serangan-serangan tersebut datang seperti gelombang, tak kenal ampun, dan menguasai sekitarnya dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa.
Xiang Yi Bai melindungi dirinya dengan perisai yang tidak terlihat. Setiap benturan dan hujan panah hanya memantul dari tubuhnya.
Taring Merah menyerbu dengan serangan yang serempak, suasana di Jurang Penyesalan berubah kacau. Suara pedang yang bertabrakan, teriakan marah, dan desingan panah memenuhi malam yang sunyi.
Kekuatan besar Xiang Yi Bai meratakan tanah dan menumbangkan apa pun yang ada. Pertarungan berlangsung sengit, satu laki-laki itu meladeni musuh yang ribuan kali lebih banyak dari dirinya sendiri.
Saat Xiang Yi Bai tengah berada dalam pertempuran yang sengit, salah seorang pendekar topeng silang hitam melompat dengan penuh keberanian dari atas langit-langit Jurang Penyesalan. Dalam sekejap, Xiang Yi Bai merasakan hadirnya ancaman tersebut dan dengan cepat merespons.
Dengan gerakan yang cepat, Xiang Yi Bai menarik pedangnya dari sarungnya, berputar dengan lincah, dan menangkis serangan pendekar yang terjun dari atas.
Suara gesekan logam terdengar tajam ketika pedang Xiang Yi Bai bertemu dengan senjata pendekar itu, menciptakan percikan api yang menyala-nyala di dalam kegelapan.
Di saat yang sama Xiang Yi Bai juga memanfaatkan momentum serangan lawannya untuk mengeluarkan serangan balik yang mematikan. Dalam sekejap, dia mengarahkan tendangan yang kuat ke dada pendekar tersebut. Tubuh pendekar itu terhempas dengan kuat, melayang melintasi udara sebelum akhirnya menghantam puluhan pendekar topeng silang hitam yang berada di belakangnya.
Dampak benturan yang keras terdengar jelas saat tubuh pendekar terjatuh ke tanah dengan kekuatan yang mengerikan. Sentakan energi yang dihasilkan dari tendangan Xiang Yi Bai merambat melalui tubuh pendekar itu, seolah-olah memancarkan gelombang kejut yang menjalar ke seluruh pendekar di sekitarnya. Para pendekar terhuyung mundur, terkejut dan terbawa oleh kekuatan dorongan yang tak terduga.
Tawa dari mulutnya terdengar, "Hahahha aku tidak pernah menemui pertarungan segila ini. Satu lawan seribu? Kukira itu hanya pekerjaan orang bodoh. Ternyata hari ini benar-benar terjadi."
Tiba-tiba dalam situasi yang memanas itu, dari arah depan Xiang Yi Bai, seorang petinggi Taring Merah muncul dengan mendaratkan serangan kejutan yang menggetarkan seluruh udara di sekitarnya. Dalam sekejap menciptakan gelombang energi yang menghembuskan angin kencang.
Sinar cahaya yang memancar dari serangan tersebut menyilaukan mata semua orang yang menyaksikannya. Kilatan-kilatan terang yang memenuhi ruang menghiasi langit malam, menciptakan kontras yang tajam dengan kegelapan sekitarnya.
Xiang Yi Bai sedikit termundur menyadari Cahaya itu berhasil menjangkaunya.
"Kau terlalu bersemangat anak muda."
Dalam tiba-tiba sebuah kekuatan dahsyat membludak. Wanita itu mengeluarkan jumlah kekuatan yang tidak main-main dan nampaknya dia tidak segan-segan mengorbankan nyawa demi memperebutkan kemenangan. Hal itu sempat membuat Xiang Yi Bai terkejut dan mengambil langkah mundur.
Sinar cahaya naik hingga ke atas langit. Kekuatan yang luar biasa mengalir melalui tubuh wanita Taring Merah itu. Cahaya terang memancar dari pedangnya, semakin kuat dan memenuhi medan pertempuran. Sinar cahaya yang begitu terang terlihat, mencapai tinggi yang tak terhingga dan menyentuh awan-awan di langit.
Dalam sekejap, cahaya itu pecah menjadi debu-debu cahaya yang memudar, menyebar ke seluruh penjuru.
Xiang Yi Bai melihat wanita di depannya yang kini telah berubah wujud menyerupai manusia yang dialiri kekuatan setara dewa.
"Sudah kukatakan, aku tak bermain-main kali ini."
Ribuan pendekar aliran hitam menyerbu dengan kekuatan penuh ke arah Xiang Yi Bai. Ruang geraknya terbatas, dikelilingi oleh musuh-musuh yang tak kenal ampun. Dia berdiri di tengah lautan serangan, menghadapi setiap ancaman yang datang.
Pendekar-pendekar aliran hitam bergerak dengan cepat, dan melancarkan serangan bertubi-tubi.
Namun, semakin lama pertempuran berlangsung, semakin terasa ruang geraknya mulai terbatas.
Pendekar-pendekar aliran hitam terus berdatangan, terus menerus menyerang dengan kekuatan yang tak terbendung.
Di sisi lain dia harus mengantisipasi serangan dari wanita Cahaya yang bisa datang kapan saja selagi dia lengah.
Seperti katanya barusan, kekuatan yang dia keluarkan tidak main-main dan Xiang Yi Bai akan kesulitan mengatasinya jika dia melakukan satu kesalahan kecil saja.
Hawa tegang melingkupi pertarungan di Jurang Penyesalan.
Dalam seketika sebuah Cahaya turun dari langit, menyinari seluruh Jurang Penyesalan yang gelap hingga ke setiap sudut.
Di tengah meledaknya kekuatan cahaya yang membutakan pandangan, suara nyaring menghentak di antara kerumunan. Suara pedang yang tajam dan menghunjam membelah keheningan, mengiringi angin kencang yang memburu melintas di sekitarnya.
Dalam keadaan tak bisa melihat karena cahaya yang membutakan, suara pedang terus beradu dengan kekuatan yang sama kuat. Dentingan logam dan desingan angin menciptakan ketegangan di udara. Setiap benturan mengirimkan getaran yang mengguncangkan tanah.
Meskipun tidak dapat melihat dengan jelas, Xiang Yi Bai masih bisa mengantisipasi serangan dari musuh tepat waktu.
Angin kencang membawa suara menderu dan memekakan telinga. Dalam cahaya yang menyilaukan, hanya suara pedang dan angin yang berkecamuk yang mengisi ruang. Mereka bertarung tanpa satu pun berniat untuk mengalah, mengandalkan insting untuk bertahan.
Meskipun tak terlihat oleh mata, namun atmosfer pertarungan ini terasa begitu intens. Suara pedang yang berdenting terus terdengar di tengah situasi itu. Bawahan Taring Merah bahkan tidak bisa melihat sama sekali apa yang sedang terjadi di depan mereka, bagaimana pun kekuatan dari Para Cahaya amatlah dashyat. Pendekar sekelas Batara Pedang Suci bahkan bisa kewalahan menghadapinya sendirian.
"Asal kau tahu, aku sudah menunggu hari ini lebih dari 20 tahun." Suara samar itu terdengar, Xiang Yi Bai sama sekali tidak terpengaruh.
Kekuatan cahaya meledak seperti akan meledakkan Jurang Penyesalan, Xiang Yi Bai terdorong beberapa puluh meter masih dengan menahan laju kecepatan pedang musuh.
Hingga pada akhirnya sesuatu yang membuat wajahnya memucat terjadi.
Kilau cahaya mulai menghilang.
Retak di tepi pedang Bai Ye merekah hingga akhirnya dengan satu hentakan kuat terakhir, musuh membelah bilang pedang tersebut tepat di tengah.
Setengah besi yang terpotong terlempar dan menancap di atas tanah.
Xiang Yi Bai menatapnya dalam keterkejutan yang telah lama menghilang dari wajahnya.
"Bai Ye ..."
Hatinya terhantam keras ketika melihat pedang kesayangannya, Bai Ye, retak dan hancur. Senjata itu bukan hanya sebatas logam yang melindungi dirinya di medan pertempuran, tetapi juga merupakan peninggalan berharga dari muridnya yang telah pergi. Rasa kehilangan dan duka mendalam melanda dirinya.
Dalam keheningan yang penuh dengan kekecewaan, Xiang Yi Bai menekan kemarahan yang memuncak di dalam dirinya. Ketenangannya yang biasanya melingkupinya seperti samudera yang tenang, kini menyimpan amarah yang membara, siap untuk meledak setiap saat.
Pedang itu telah menjadi saksi setia dari setiap pertempuran dan pencapaiannya. Kini, dengan kehancurannya yang tak terelakkan, Xiang Yi Bai merasakan kehilangan yang mendalam, dan itu menyulut bara kemarahan di lubuk hatinya.
Tatapan tajam dari matanya mengisyaratkan kemarahan yang terpendam. Kali ini bukan hanya lawannya, dia akan bertarung serius untuk membalaskan penderitaan Bai Ye.
***