Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 173 - Tetua dari Bukit Emas


Pintu terbuka mengeluarkan derit bunyi yang melengking.


Xue Zhan dan Xiang Yi Bai mengikuti Hua Lian itu masuk ke dalam ruangan. Di dalam, ada seorang tetua yang duduk di atas kursi. Dia tampak mengenakan jubah berwarna emas dan wajahnya dipenuhi keriput. Ketika Xue Zhan dan Xiang Yi Bai masuk, dia menatap mereka seksama sambil berusaha mengenali meskipun akhirnya dia tidak tahu siapa keduanya selain menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan yang besar.


"Salam kenal. Maaf, aku tidak bisa memberitahukan nama kami," kata Xue Zhan sambil memberikan hormat.


Sejenak laki-laki itu nampak heran Sebelum akhirnya memahaminya.


"Kalau begitu salam kenal," kata Hua Du sembari mengangguk kecil. "Saya Hua Du, Tetua Perguruan Bukit Emas. Maafkan kami hanya bisa menyambut seadanya."


"Anda terlalu sungkan." Xiang Yi Bai mengambil alih pembicaraan, di waktu-waktu seperti ini jika Xiang Yi Bai sudah turun tangan Xue Zhan memilih mengunci rapat-rapat mulutnya karena tahu ini bukan lagi ranahnya. Mereka sedang menghadapi permasalahan yang serius karena ini berkaitan dengan Kelabang Ungu dan Xiang Yi Bai lebih tahu resiko baik buruknya. Mereka bercakap-cakap ringan sejenak sebelum akhirnya masuk ke pembicaraan serius.


Awalnya Xue Zhan mencurigai Hua Lian yang begitu gegabah dan langsung bicara blak-blakan soal Yue Linghe. Namun nampaknya sekarang dia paham mengapa laki-laki itu tahu banyak tentang wanita Kelabang Ungu tersebut ketika Hua Du mulai bercerita.


Hua Du diam sejenak, seolah-olah sedang merenungkan masa lalu yang pahit. Dia kemudian mengangkat tangannya, membuka kain putih yang dililit di kepalanya dengan hati-hati. Ketika kain tersebut terbuka, terlihatlah bekas luka terbakar di dahi dan rambutnya yang tak tumbuh di sekitar luka tersebut.


Xue Zhan dan Xiang Yi Bai melihat dengan seksama akan bekas luka tersebut. Hua Du lalu memulai ceritanya dengan suara pelan namun tegas, "Saat itu, Yue Linghe datang ke perguruan ini dengan tujuan untuk membunuhku. Dia menyebarkan racun berbahaya di seluruh perguruan dan menyebabkan kehancuran. Aku berhasil mengalahkannya, tapi tidak bisa menghindari serangan racunnya."


Hua Du menatap mereka sedikit getir, "Bahkan dengan kekuatanku yang seharusnya mampu mengalahkan tiga pendekar sekaligus, luka ini saja bisa membuatku kehilangan lima puluh persen kekuatan. Yue Linghe bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng."


Xue Zhan terdiam menyimak pembicaraan tersebut dan menyadari betapa berbahayanya Yue Linghe dan Kelabang Ungu.


Di situ Hua Lian menimpali dan menjelaskan mereka kehilangan warisan leluhur yang merupakan satu dari 100 Pusaka Keajaiban Dunia, Cawan Es Bunga dan ingin mengambil kembali hak mereka.


Karena itu saat mengetahui informasi tentang keduanya yang ingin mencari keberadaan Yue Linghe, Hua Lian langsung mengejar mereka dan sengaja menabrak Xue Zhan agar dapat berbincang dengannya dan memastikan tujuan mereka.


Xue Zhan dan Xiang Yi Bai terdiam sejenak saat mendengar penjelasan dari Hua Lian tentang Cawan Es Bunga dan keberadaan Kelabang Ungu. Mereka saling berpandangan, di satu sisi Xiang Yi Bai enggan melibatkan diri dalam masalah yang bukan urusannya. Sejak dulu lagi, dia hanya akan membantu jika kerabatnya memaksa. Kali ini, tatapan Xue Zhan seolah mengisyaratkan dirinya ingin membantu perguruan tersebut.


Melihat kebimbangan tersebut Hua Du lantas berujar kembali untuk meyakinkan keduanya, "Sejak kehilangan Cawan Es Bunga, perguruan kami selalu dalam titik terbawah. Puluhan murid mengalami sakit parah dan meninggal. Kami tidak bisa berkembang pesat seperti dahulu, dan seringkali perampok datang ke tempat ini dan mengambil harta-harta yang tersisa."


Helaan napas panjang menjeda. "Cawan Es Bunga adalah pelindung perguruan ini. Kami percaya dia memiliki jiwa dan dapat memberikan keberuntungan dan kesejahteraan. Terbukti setelah kehilangannya, kami selalu menderita. Kami benar-benar membutuhkan itu agar bisa bertahan. Jika berkenan, aku sangat mengharapkan bantuan kalian terhadap perguruan ini. Kami berjanji akan memberikan imbalan yang setimpal untuk itu."


Xue Zhan menatap Hua Lian. "Tapi tadi Tuan Lian memintaku membayar 5000 keping emas agar memberitahu kami di mana Yue Linghe berada ..."


Hua Lian pucat pasi tak berani menatap Kakeknya yang langsung mengerutkan alis dalam, Hua Du mengibaskan tangan dan sebuah tongkat cokelat melayang menghantam perut laki-laki itu. "Tidak perlu. Aku yang akan membayarmu dua kali lipat."


Xiang Yi Bai mengangguk pelan. "Kurasa ini kesepakatan yang sama-sama menguntungkan."


Xiang Yi Bai menjawab seadanya. "Karena banyak hal. Yang paling jelas adalah racun Yue Linghe adalah penyebab kematian seorang Tetua di Lembah Abadi."


Hua Du membuka matanya lebar-lebar. "Benarkah? Tetua Ke-45-!? Jadi dia adalah pembunuhnya ...?" Napasnya tercekat. "Semua orang mengatakan bahwa anak iblis telah membunuhnya. Aku tahu pasti ada kesalahan dan benar saja! Kaisar Ziran menjatuhkan hukuman mati padanya sehingga semua orang memburu nyawa anak muda tak berdosa itu ... Sungguh kejam. Kejam tidak ada ampunan ..." Hua Du menyesalinya dalam-dalam.


Xiang Yi Bai menatap Xue Zhan yang menundukkan wajahnya dengan kasihan. Dia melalui hari-hari yang berat di mana semua orang mengacungkan pedang padanya dan memakinya dengan kata-kata kotor.


"Itu sangat disayangkan."


Setelahnya Hua Du masih menyahut. "Kaisar Li tidak menyetujui keputusan Kaisar Ziran waktu itu. Dia yang pertama kali menentang. Tapi semua telah terjadi dan bencana mengguncang Kekaisaran Diqiu. Sudah mati pun masih ada saja orang yang mengaitkan kemalangan mereka dengan anak iblis itu." Dia menggeleng beberapa kali miris.


Xue Zhan memejamkan mata, berusaha mengalihkan pembicaraan yang mulai membuatnya terganggu, "Apa Anda memiliki informasi tentang Yue Linghe dan Kelabang Ungu?"


"Apa yang ingin kau ketahui, anak muda?" sahut Hua Du sembari mengarahkan pandangan kepadanya.


"Tentang racun Kelabang Jarum."


"Kau bertanya tentang sebuah racun yang bahkan bisa membunuh seorang Kaisar." Dia menjelaskan panjang lebar.


"Racun Kelabang Jarum adalah racun yang sangat mematikan yang digunakan oleh anggota Kelabang Ungu dalam praktik mereka. Racun ini dikenal karena efektivitasnya dalam membunuh seseorang hanya dengan sebuah jarum kecil. Dalam sekitar tiga detik setelah ditusukkan ke tubuh korban, racun akan menyebar dan mematikan korban dengan sangat cepat. Racun tersebut diletakkan dalam jarum kecil yang diperbuat dari bahan yang sangat kuat dan tajam. Anggota Kelabang Ungu yang ahli dalam penggunaan racun ini dapat menggunakannya dengan sangat presisi dan kecepatan yang luar biasa, membuat sulit untuk dihindari atau diantisipasi bahkan oleh pendekar elite sekali pun."


"Lalu? Memang tidak ada kesempatan hidup untuk orang yang terkena racun itu?"


Alis putih Hua Du menurun, terlihat gelengan, "Racun Kelabang Jarum sangat sulit untuk diobati. Ada beberapa obat yang dapat membantu meringankan gejalanya, tetapi efeknya terbatas dan hanya dapat memperpanjang waktu hidup korban, itu pun jika kau langsung meminum obat itu sebelum tiga detik sebelum kematianm. Karena alasan ini, racun ini sangat ditakuti oleh banyak orang dan sering dianggap sebagai salah satu racun paling mematikan di dunia persilatan."


Xue Zhan mengangguk, jelas sudah mengapa Tetua ke-45 yang sangat hebat sekalipun tidak bisa menghindari mautnya hari itu. Dan Xue Zhan kebetulan berada di tempat yang salah sehingga dirinya berada dalam masalah besar. Atau mungkin semua itu kebetulan yang disengaja, Xue Zhan berpikir keras selama beberapa detik.


"Hua Lian pernah mempelajari racun wanita itu dan menciptakan penawarnya, meski tidak seberapa aku yakin ini bisa membantu."


Hua Lian mengiyakan. "Karena itu, aku ingin membalas perbuatan wanita itu. Aku ikut bersama kalian. Tenang saja, aku sudah mempersiapkan hari ini selama bertahun-tahun."


Hua Lian mengajak mereka memasuki ruangan lain, memperlihatkan beberapa senjata yang ditempelkan di dinding, puluhan botol berisi obat-obatan dan perlengkapan senjata yang membuat Xue Zhan takjub. Hua Lian benar-benar berniat memburu kepala Yue Linghe. Kebencian terlihat di bola matanya yang sinis dan kejam. Meski begitu Hua Lian setidaknya masih tahu cara bersikap sopan.


Hua Du berhenti di pintu. "Cucuku akan mengawal kalian sampai ke tempat itu. Tolong jaga dia, dia adalah bocah besar yang ceroboh dan sangat bersemangat. Hanya dia yang tersisa sebagai penerus klan kami."