
Satu pekan setelah insiden terakhir kali yang terjadi di pusat kota, kekacauan mulai reda dan keadaan ikut stabil. Hanya saja masih ada sisa puing-puing yang berserakan di jalanan.
Seperti yang dijanjikan oleh Fan Yuan, mereka mengikuti festival Kelahiran Dewi Angin dan menikmati berlangsungnya acara meski terjadi kekacauan. Laki-laki itu mengizinkan mereka pamit dengan wajah sungkan, mengingat banyaknya hal yang terjadi di luar dugaan. Dia meminta maaf dua kali sambil mengantarkan mereka hingga ke depan kediaman.
Xiang Yi Bai berjalan paling depan. Xue Zhan mengikuti dari belakang bersama Fenghuang yang sudah pulih sepenuhnya semenjak pertarungan terakhir. Kemampuan menyembuhkan diri yang luar biasa miliknya membuatnya bisa sembuh dari luka berat hanya dalam hitungan jam.
"Oi, Fenghuang," panggil Xue Zhan. Ayam warna-warni itu memalingkan muka kesal ke arahnya. "Apa?"
"Kau di mana saat penyerangan terjadi?"
"Aku hanya menunggu kalian selesai dengan pertarungan bodoh itu."
"Kau juga bertarung, 'kan?" Xue Zhan terlihat sangat curiga, dia melihat ke arah jubah Fenghuang yang sedikit terkoyak. "Kau kira aku rabun ayam sampai tidak melihat bekas koyak itu."
"Jeli juga matamu, ingin kucolok rasanya." Dia mengarahkan jari telunjuk dan tengah ke depan mata Xue Zhan. Pemuda itu tertawa. "Kupikir phoenix congkak dan menyebalkan sepertimu tidak akan terlibat pertarungan dengan manusia. Tidak kusangka, kau juga punya perasaan."
Ekspresi Fenghuang sedikit berubah, dia memalingkan muka segera. "Lebih baik aku, daripada Gurumu. Orang pontang-panting menyelamatkan diri, dia malah mengemil kacang polong. Kau hilang saja dia malah santai. Sialan."
Xue Zhan menggeleng. "Heh. Tidak boleh mengatainya di belakang."
Fenghuang menaikkan tinju ke atas sambil menatap Xiang Yi Bai yang membelakangi keduanya.
"Aku juga akan mengatainya di depan!"
Xiang Yi Bai membalikkan badan. "Siapa yang sedang menggosipkan ku?"
Fenghuang dan Xue Zhan saling menunjuk.
Xue Zhan menyerbu. "Dia."
"Dia," ujar Fenghuang.
"Kalian punya waktu untuk menggunjing orang lain, kenapa tidak memakainya untuk memikirkan apa yang kita makan siang ini?"
Xue Zhan mengumpat dalam hati. Monster Tua ini berubah menjadi Monster Makanan, naik ke dunia atas rasa-rasanya akan ditelannya satu galaksi karena begitu kelaparan, semua makanan diserobotnya. Xue Zhan memperhatikan kepingan logam perak di tangan, mereka harus berhemat untuk melakukan perjalanan jauh.
"Bubur beras merah juga tidak apa-apa."
Xiang Yi Bai dan Fenghuang menatap enggan. "Hihhh ..."
"Tidak boleh pilih-pilih makan kata Kakekku."
"Kau suapi kakekmu bubur beras merah itu sana. Aku tidak mau."
Fenghuang protes.
"Lagipula siapa yang menawarkan untukmu. Kau makan ulat bulu saja sana," balas Xue Zhan kesal. Fenghuang menghentakkan kakinya dan mulai mengeluarkan angin tajam dari telapak tangan untuk menyerang Xue Zhan.
Tanpa diduga Fenghuang tiba-tiba menyerang Xue Zhan dengan kekuatan besar, membuat dia terpental menghantam batang pohon besar. Xiang Yi Bai membuka mulut terkejut, kelihatannya Fenghuang sedang mudah naik tensi. Dia juga harus berhati-hati. Muridnya saja sampai langsung tepar begitu.
"Kasihan sekali, mana masih muda. Padahal semasa hidupnya dia orang yang baik dan berbudi pekerti. Semoga amal baiknya diterima di surga." Doa Xiang Yi Bai.
Mereka sepakat untuk mengunjungi satu tempat selanjutnya, tempat di mana semua misteri tentang kematian Xue Zhan berada. Setelah mengetahui semua yang terjadi 20 tahun lalu dan bagaimana kematian Xiang Yi Bai, kini Xue Zhan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di detik-detik terakhir kematiannya sendiri.
Jika kematian Xiang Yi Bai, Xue Zhan tidak dapat berbuat banyak. Atas permintaan laki-laki itu dan keinginan Ziran Zhao, Xue Zhan tak akan pernah membongkar rahasia itu ke orang lain. Benar yang dikatakan Xiang Yi Bai, Batu Tanah adalah prioritas dan mereka tak ingin mengundang perhatian selama perjalanan.
Lagipula setelah berbincang dengan Ziran Zhao, Xue Zhan melihat perubahan sikap Xiang Yi Bai. Dia sedikit bersyukur, tak ada lagi penyesalan di kedua bola matanya. Xue Zhan ikut bahagia melihat Gurunya terlepas dari bayang-bayang masa lalunya.
Hanya saja kini Xue Zhan harus mencari tahu semua tentang yang terjadi lima tahun yang lalu. Tentang bagaimana dia tewas, fitnah, dan teka-teki sebelum kematiannya.
Di tengah perjalanan Xue Zhan mengalihkan perhatian sejenak, dia hanya iseng bertanya mengingat Xiang Yi Bai memiliki pengetahuan luas tentang ilmu bela diri dan segala jenis teknik serta jurus persilatan.
"Guru,"
"Oi." Xiang Yi Bai menyahut sekenanya.
"Guru pernah mendengar sebuah jurus yang bisa membunuh dalam tiga detik?"
Xiang Yi Bai berhenti berjalan. Mereka sedang melintas di jalan panjang yang menanjak ke area perbukitan. Lelaki itu mengajak untuk beristirahat sejenak sembari menikmati sejuknya angin siang itu. Sudah lama rasanya tidak merasakan ketenangan seperti yang selalu dirasakannya selama di Jurang Penyesalan. Xiang Yi Bai menyenderkan tubuh ke pohon sambil membuka kendi arak.
"Kalau kau bertanya ada berapa jurus, aku memiliki seratus jurus yang bisa membunuh dalam tiga detik. Belum dari jenis racun, senjata mematikan atau tanaman liar."
Xue Zhan menatap ke samping di mana laki-laki itu duduk bersila. Sedangkan Fenghuang tiba-tiba mengubah wujudnya menjadi phoenix dan mulai berburu ikan sungai.
"Aku tidak bisa memastikannya. Aku sudah menceritakannya pada Guru, pemicu kematianku adalah karena tuduhan bahwa aku membunuh Tetua ke-45 Lembah Abadi. Dan cara kematian laki-laki itu sangat di luar akal sehat ..." Pemuda itu membuang napas sembari menggelengkan kepala.
"Aku hanya memalingkan wajah tiga detik darinya dan tiba-tiba dia sudah menghembuskan napas terakhir. Aku sempat melihat seseorang di pantulan matanya, tapi tetap saja ini tidak masuk akal. Tetua ke-45 mati tanpa sedikitpun luka, racun atau jejak lainnya."
Dalam beberapa menit tidak terdengar tanda-tanda Xiang Yi Bai akan bicara, laki-laki itu malah melipat kedua tangan di depan dada dan tidur dalam posisi duduk.
Xue Zhan membuang muka ke arah sungai, melihat Fenghuang menangkap ikan dengan sangat cepat.
"... Saat dia mati, apa kau melihat sebuah jarum?"
Xue Zhan tertegun.
Lantas segera mengadakan pandangan ke Xiang Yi Bai yang masih memejamkan mata dengan tenang. Mulutnya hampir bergetar saat berkata, "Dari mana Guru tahu?"
"Kalau begitu hanya ada satu dugaan tentang racun itu."
Xue Zhan mengernyit. "Guru bisa langsung menebaknya?"
"Dia adalah si pemilik Racun Kembang Seribu yang sangat terkenal."
"Racun Kembang Seribu? Itu adalah racun yang sama dengan yang mengenai Nona Yin waktu itu!" Xue Zhan menyelutuk. Begitu teringat saat di mana Menara Giok Hantu menyerangnya dan memberikan Yin Jiao serbuk racun berbahaya tersebut. Namun hingga detik ini tidak ada satu pun orang yang tahu pasti siapa pembuat asli racun tersebut.
Dikatakan pemiliknya memiliki ilmu racun tingkat tinggi, tentu dia bukanlah orang sembarangan.
"Lalu siapa dia, Guru?"
"Yue Linghe. Dua puluh tahun yang lalu dia adalah pendiri kelompok ahli racun bernama Kelabang Ungu. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana rupanya, sekalipun kau memiliki kesempatan untuk melihatnya, kau akan mati. Begitu cerita yang kudengar. Entah dilebih-lebihkan atau memang berlebihan. Tapi memang racunnya harus sangat diwaspadai."