
Tetes air jatuh satu per satu ke wajahnya, begitu dingin dan kian bertambah deras setiap detiknya hingga berubah menjadi hujan deras serta suara gemuruh.
Xue Zhan bangun dalam keadaan baik-baik saja, itu membuatnya sedikit mengernyit namun tanpa berpikir panjang langkah kakinya maju menyusuri sebuah lorong-lorong yang begitu familiar. Jalan yang selalu dia lewati selama bertahun-tahun dan mengantarnya pada sebuah rumah hangat yang menerimanya apa adanya.
Xue Zhan berlari kencang, dia tahu semua itu telah berlalu orang yang memberikannya rumah itu telah tiada. Namun untuk sesaat saja, walau hanya dalam mimpi Xue Zhan ingin bertemu lagi dengan orang itu.
Dia membuka pintu rumah dengan napas ngos-ngosan, mata menyapu seluruh bagian tanpa terkecuali tetapi tidak kunjung menemukan orang yang dicarinya, pundaknya luruh diselimuti kekecewaan. Hingga akhirnya terdengar keributan di belakangnya dan saat dirinya menoleh Xue Zhan tak percaya dengan yang dia lihat saat itu.
Lin Yu Mei adiknya menusuk pedang ke tubuh Kakeknya dari belakang dan bersorak bahagia.
Mata merah itu melotot. Emosi saat pertama kali melihatnya masih tetap sama dan tidak pernah berkurang. Dia begitu marah pada Lin Yu Mei, Xue Zhan setengah berlari ke arah gadis kecil itu dan memaki.
"Kau membunuhnya di depan mataku!"
Ucapan yang sama terlontar, Xue Zhan seperti sedang mengulang semua peristiwa itu di tanpa kendalinya. Dan suara hancur dan serak itu juga menangis dengan cara yang sama,
"Jangan pergi, Kakak Zhan! Aku tidak mau sendiri! Kumohon!!"
Xue Zhan terpaku, tidak ingin pergi, tidak ingin mengulangi apa yang terjadi di masa lalu.
Bagaimana pun Xue Zhan begitu menyayangi Lin Yu Mei, ketika dia tertidur dengan nyenyak Xue Zhan selalu mendoakan kebahagiaan adiknya itu. Pemuda itu berjongkok di depan Lin Yu Mei yang menatap nanar sambil terisak-isak.
"Aku tidak akan pergi, Mei'er. Kau satu-satunya yang kupunya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu ..."
Dia memeluk erat gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Aku menyayangimu lebih dari apa pun."
"Kakak ..."
Lin Yu Mei tiba-tiba ditarik dari pelukannya membuat Xue Zhan terkejut, seketika puluhan manusia bertopeng silang di sekitarnya berubah menjadi kobaran api berbentuk manusia. Xue Zhan mulai merasakan panas yang tak wajar, dia meraih tangan Lin Yu Mei tapi seseorang lebih dulu memenangkan hati adik kecilnya itu.
Di balik tubuh Lin Yu Mei, Xue Zhan melihat sebuah api yang membentuk wujud seorang wanita tersenyum begitu lebar sambil memeluk adiknya dari belakang.
Lalu dalam sekejap mata api itu melenyapkan adiknya.
"Mei'er jangan pergi ..." tahannya meraih sosok Lin Yu Mei yang berubah menjadi debu.
Dia menghilang menyisakan kehancuran di hati Xue Zhan yang tidak dapat terbendung lagi.
" ... Lin Yu Mei!!"
*
Suara gemuruh yang begitu besar membuatnya terbangun dari mimpi buruk.
Bukan hanya sekali ini saja mimpi itu datang dan terus menghantuinya, Kang Jian mengatakan bahwa dirinya hanya sedang merindukan adiknya.
Mata itu terbuka perlahan-lahan lalu terdengar desisan kesakitan dari mulutnya seperti baru saja bangun setelah dihantam dengan godam raksasa. Tulangnya mungkin patah setelah serangan terakhir yang terjadi antara dirinya dan gadis misterius itu.
Sejurus kemudian Xue Zhan hanya diam duduk di bawah derasnya hujan sementara isi kepalanya mulai berkecamuk hebat.
Ada perih di dalam hatinya yang tidak bisa dia jabarkan. Yang pasti Xue Zhan tidak bisa terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya dan mulai mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dia tidak sadarkan diri.
Bayangan sebuah cahaya kilat yang begitu cepat menghantamnya hingga terpental di atas puing-puing kayu terlintas, masih terbayang sakitnya sampai detik itu.
"Bukankah gadis itu kemarin hendak membunuhku? Tapi aku masih hidup, lalu ke mana dia pergi?"
Tapi jika gadis itu kembali menampakkan diri Xue Zhan tidak yakin bisa menghadapinya tanpa terluka, menang saja rasanya sulit sekali menghindari satu serangan berkekuatan penuh itu.
Hal itu membuka pikirannya bahwa banyak pendekar muda yang jauh lebih kuat darinya, Xue Zhan mengepalkan tangan begitu kuat, ada rasa tidak terima akan kekalahannya tapi tidak ada yang bisa dia perbuat, saat menghadapi gadis itu dia nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangatlah kuat dan tidak bisa ditandingi dengan kekuatan Xue Zhan yang sekarang.
Ada semacam kekuatan spesial yang dia rasakan saat bertarung dengan gadis itu, sebuah 'anugerah' dalam bentuk kekuatan yang membuatnya begitu kuat.
Xue Zhan menyingkirkan beberapa puing kayu yang menimpa tubuhnya, terbatuk-batuk mengeluarkan darah dan berhasil menyelamatkan diri beberapa menit kemudian.
Pandangannya buram, kelopak matanya penuh oleh darah yang mengalir lewat dahinya, sesaat dia terpaku melihat satu gulungan dan petunjuk arah putih. Menyuruhnya menoleh ke dinding rumah.
Sebuah tulisan acak ditulis dengan darah dan dari lekuknya Xue Zhan dapat mengambil kesimpulan bahwa orang itu sedang dilanda kemarahan besar. Tulisan itu berbunyi,
'LAIN KALI AKU AKAN MEMBUNUHMU'.
Selintas Xue Zhan menarik senyum tipis, itu artinya dia akan bertemu kembali untuk bertarung dengan gadis tersebut dan membalaskan kekalahannya.
"Siapa pun kau, aku akan mengingatmu dan kekalahanku hari ini. Sampai saat itu tiba aku pasti akan mengalahkanmu dan merebut kembali pedang milik adikku."
Xue Zhan menatap sekilas gulungan itu dan meninggalkannya begitu saja tanpa berniat memungutnya.
Dia kalah, bukan haknya menerima gulungan tersebut. Meski harus berjuang mati-matian Xue Zhan akan mencari gulungan tersebut dengan usahanya sendiri.
Perutnya mulai berbunyi keroncongan, Xue Zhan belum menemukan satu pun makanan yang bisa dimakan sejak kemarin. Seperti yang dikatakan panitia para peserta tidak dibekali apa pun dan dibiarkan bertahan hidup selama tiga hari tanpa bantuan. Ini jauh lebih sulit dilewati ketika Xue Zhan menyadari bahwa kota ini telah ditinggalkan puluhan tahun-kurang lebih dan nyaris tidak ada sisa makanan yang tersedia.
Langkah gontainya membawanya ke sebuah sungai dengan air yang lumayan bersih, dia menampungnya di tangan dan meminumnya. Membiarkan air dingin membasahi perutnya yang kosong. Sejenak Xue Zhan dapat melihat sesosok gadis lain dari kejauhan, begitu familiar dengan mata teduh dan pembawaannya yang anggun. Gadis itu adalah Yin Jiao. Dia hanya sendirian di sana dan beberapa luka terlihat di tangannya.
Xue Zhan mendekat, gadis itu mengeluarkan pedang dan mengarahkan ke wajahnya. Keduanya sama-sama terkejut.
Xue Zhan mengangkat tangan menyerah. "Aku tidak bermaksud menyerang, hanya saja aku cukup lega melihat manusia lain ternyata berada di kota ini."
Gadis itu nampak gugup, dia menunduk, "Aku juga baru pertama kali melihat orang lain selama di tempat ini. A-aku pergi dulu!"
Secepat kilat gadis itu pergi dari hadapannya. Xue Zhan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sembari menggerutu.
"Apa mukaku semengerikan itu sampai dia terbirit-birit ketakutan? Aish, membuatku khawatir saja."
Langkahnya tertahan mendapati sebuah gelang berwarna biru dihiasi permadani tergelatak begitu saja di atas batu. Harganya mungkin bisa melambung sangat tinggi.
Xue Zhan tidak bisa membiarkannya ditinggalkan pemiliknya begitu saja namun Yin Jiao telah pergi. Dia mengantonginya dan berniat mengembalikan jika nanti mereka bertemu lagi.
"Ternyata Nona Yin gadis yang ceroboh juga."