
Guncangan besar datang menggetarkan langit-langit, beberapa mesiu di ruangan lain meledak dan akan terus meledak sampai bahan peledak itu habis.
Wei Li kembali melompat tinggi, kali ini dia naik ke atas lampu gantung berukuran besar di langit-langit goa. Xue Zhan terlalu lamban mengikuti pergerakan laki-laki itu, Wei Li yang bergantung di rantai lampu gantung memutar-mutar benda itu. Lalu memotong penahan dan menendangnya kencang ke tempat Xue Zhan berdiri.
Lemparan cepat dan berputar itu menyebabkan bunyi dentuman yang lumayan keras. Wei Li yang masih bergantung di rantai lampu gantung menunggu beberapa detik sampai debu yang menutupi musuhnya menghilang. Dia tak melihat apa-apa di sana dan mulai terlihat puas. Xue Zhan mungkin hancur bersama besi lampu tersebut.
Lagipula kecepatan yang barusan dia keluarkan memang merupakan kecepatan tertinggi. Keunggulan Wei Li terletak di kakinya. Dia memiliki kemampuan ilmu meringankan tubuh yang lumayan dan juga mampu mengalirkan jumlah kekuatan besar di kakinya untuk melepaskan tendangan yang sangat kuat.
Xue Zhan memang tidak terlihat. Tapi sesuatu muncul dari dalam kepulan debu dan mengejar ke arahnya.
Sepuluh cakram terbang melengkung dengan cara yang unik, satu memutuskan rantai di mana Wei Li bergantung. Delapan lainnya jatuh ditangkis laki-laki sepuh itu namun tanpa diduga yang satunya lagi datang dari bawah dan menggores bola mata Wei Li membuat sebelah matanya buta.
Darah mengucur di pipi pucat Wei Li, bola mata tersebut tak lagi berfungsi tapi jelas terlihat amarah dari mayat hidup yang seolah memiliki nyawa itu. Xue Zhan muncul saat kepulan debu menipis, dia terkena sebagian serangan Wei Li tadi dan mulai babak belur.
Saat ini keduanya berada di bawah panggung. Xue Zhan berjalan terpincang-pincang untuk kembali naik ke atas panggung Yin Yang. Begitu pun dengan Wei Li, laki-laki itu menggenggam tombak lebih erat dari sebelumnya bernafsu membalaskan dendam terhadap Xue Zhan.
Keduanya tiba di atas panggung dan saling menatap dalam diam.
"Pendekar Wei-atau Senior Wei, aku tak tahu cara memanggilmu seperti apa. Maaf atas kelancanganku karena baru memperkenalkan diri sekarang, namaku Xue Zhan, murid dari Guru Kang dan Guru Xiang."
Meskipun dia tahu percuma berbicara dengan mayat yang tidak bisa berbicara, Xue Zhan tetap melakukannya untuk menghormati pertarungan ini. Bagaimana pun Wei Li juga adalah manusia yang pernah hidup.
"Izinkan aku akan membantu membebaskan jiwamu. Dengan begitu kau bisa beristirahat dengan tenang." Setelah berucap demikian Xue Zhan mundur satu langkah dan kembali memasang ancang-ancang untuk bertarung. Seharusnya setelah membuat mata Wei Li buta sebelah kecepatan laki-laki itu akan sedikit berkurang.
Xue Zhan harus bisa mengalahkannya segera jika dia benar-benar menginginkan sumber daya itu.
Wei Li masih dalam posisi diam, dia tidak mengeluarkan suara. Namun terlihat kedua tangannya bergetar melawan kehendak tubuhnya, laki-laki itu menusuk pedang di telapak tangannya sehingga membuat darahnya bercucuran deras.
Dengan gemetar laki-laki itu menumpahkan darahnya di atas lantai Yin yang putih untuk mengukir sebuah kalimat.
'Terima kasih.'
Xue Zhan membungkukkan badannya seperti yang biasanya dilakukan para pendekar untuk menghormati lawan sebelum berduel. Tangan kanan menyentuh gagang pedang dan melihat pergerakan musuh terlebih dahulu. Dia membuka penutup gagang menimbulkan suara yang menjadi permulaan pertarungan hidup dan mati di antara Xue Zhan dan Wei Li.
Adu jurus terjadi, Wei Li menarik pedang dari sisi kiri dan memutar langkahnya yang seringan awan. Gerakan lembut dan mematikan itu berhasil ditahan Xue Zhan, dentingan pedang terdengar. Xue Zhan mendorong musuh saat adu kekuatan dan mengambil kesempatan itu untuk menyayat dada Wei Li.
Laki-laki itu termundur memegang dadanya yang berdarah namun dia masih mampu berdiri tegap tanpa merasakan sakit yang dirasakan manusia hidup. Tanpa basa-basi Wei Li menggunakan Jurus Tapak Harimau. Mengenai persis ke dada Xue Zhan, darah menyembur dari punggung Xue Zhan. Organ tubuhnya seperti dihantam oleh batu besar.
Pemuda itu menancapkan pedang ke lantai panggung Yin Yang agar tubuhnya tidak terpental jauh. Dia segera bangkit mengabaikan rasa sakit, menyadari Wei Li sudah lebih dulu ambil ancang-ancang untuk serangan terakhir, memenggal kepalanya.
Xue Zhan menangkap tombak lawan dengan tangan kosong, darah mengucur dari celah jari-jarinya. Untuk sesaat denyut menyakitkan menyerang tubuh Xue Zhan membuatnya muntah darah untuk kedua kali. Darah hitam menggenang di bawah kakinya, Xue Zhan yang dalam posisi berjongkok menarik sebuah belati yang terselip di pinggang Wei Li.
Ketika berdiri Xue Zhan langsung memenggal kepala Wei Li tanpa ampun. Mayat hidup itu tak lagi bergerak melainkan jatuh telentang dengan semburan darah cukup tinggi di leher yang terputus, hingga terjatuh pun darah tersebut masih tetap mengucur menciptakan genangan yang menutupi sebagian lantai putih dan menyamarkan tulisan Terima Kasih yang dibuat Wei Li sebelumnya.
Adil atau tidak, Xue Zhan tak lagi memikirkan soal itu. Dia sudah lebih dulu mengincar belati Wei Li karena pedangnya sendiri pasti sulit menembus leher Wei Li yang selalu mewaspadai senjatanya.
Xue Zhan terbatuk-batuk parah, darahnya semakin menghitam menandakan racun itu kian mengganas. Xue Zhan mengeratkan genggaman pedang, dia berbalik badan dan langsung berlari ke arah ruangan tempat peti mati berada secepat yang dia bisa.
Kakinya terasa hampir putus saat menyelamatkan puluhan pil dari kobaran api. Ada beberapa tanaman obat yang sengaja diawetkan di sana. Xue Zhan menimbunnya dalam satu buntalan kain besar dan membawanya kabur.
Saat berjalan Xue Zhan sempat melihat api itu mulai mendekati tong berisi bubuk mesiu. Bisa dipastikan satu menit lagi mereka akan meledak merobohkan satu goa. Xue Zhan mengambil semua barang yang bisa diambil termasuk kitab di dekat peti dan rak-rak, merasa sedikit serakah tapi juga tak mau barang-barang berharga itu lenyap. Xue Zhan berhenti menjarah saat melihat pilar hancur dan jatuh ke arahnya.
Langkahnya berlari semakin cepat. Saat kembali melewati ruangan Yin Yang di mana jasad Wei Li tergeletak tiba-tiba saja katak kecil di balik kerah jubahnya melompat. Xue Zhan kaget dan berhenti.
"Hei, kembali! Apa yang kau lakukan?!" bentaknya berniat menarik katak tersebut agar selamat dari ledakan.
Getaran dan guncangan terjadi, tak lama lagi langit-langit akan roboh menimpanya. Sementara katak kecil semakin menjauh. Rupanya dia mengejar tubuh Wei Li dan berhenti saat tiba di atas dada Wei Li. Xue Zhan tercengang untuk sesaat berusaha memahami apa yang terjadi. Katak itu memiliki energi spiritual yang dapat dilihat dari cahaya terang di bintik kulitnya. Bodohnya Xue Zhan baru menyadari hal itu sekarang.
Katak kecil itu kemungkinan besar adalah hewan spiritual milik Wei Li, dia ingin majikannya terbebas dan bisa sampai ke akhirat dengan tenang. Hanya dengan memanggil Xue Zhan tuannya bisa terbebaskan. Satu per satu ledakan terjadi, tong mesiu meledak. Xue Zhan menatap katak kecil itu sekali lagi, mungkin ini adalah perpisahan yang begitu cepat.
Sebelum ledakan api membakar katak sekaligus jasad Wei Li, Xue Zhan melihat hewan spiritual itu menyatukan kedua tangan seperti berterima kasih.
Dia langsung berlari sebelum ledakan api yang sangat besar membakarnya. Di belakangnya api tersebut mengejar dan membakar setiap ruangan tanpa terkecuali. Xue Zhan menggendong buntalan kain dan sampai ke celah dinding tempatnya masuk semula tepat waktu. Setelah keluar dari celah dan sampai ke perkemahan yang telah ditinggalkan semula ledakan dahsyat terjadi dan gempa bumi terasa.
Reruntuhan besar berjatuhan, goa itu kini tak bisa dimasuki lagi karena telah dipenuhi timbunan batu, bahkan katak kecil di dalamnya sudah pasti mati, antara terbakar api atau tertimpa reruntuhan.