
Sementara itu di berbagai arena dengan gedung berbeda juga telah memulai babak penyisihan pertama. Bahkan sudah ada peserta yang telah mengumpulkan 30 poin dengan kemenangan telak berturut-turut; Yun Mei berada di rantai teratas. Murid paling gemilang dari Kekaisaran Bing.
Di bangunan lain sempat terjadi kehebohan yang menyita perhatian. Dia adalah Lun Ning si pengguna elemen Pasir Debu yang menghancurkan tiang bangunan dan hampir merobohkan satu tempat dengan kekuatan dahsyatnya. Terjadi pertarungan sengit di antara Lun Ning melawan Xiao Rong. Kedua predator ganas saling bertemu di kandang yang sama.
Meski telinganya mendengar bunyi yang begitu mencekam dari berbagai sisi, Xue Zhan berupaya untuk tetap tenang. Giginya menyatu rapat. Di lantai atas Jiazhen Yan pasti sedang bertarung dan mungkin akan merebut ratusan poin dengan rakus. Dia tidak ingin kalah, itu begitu menyebalkan saat setan itu mengolok-oloknya.
"Peserta nomor 666 melawan peserta nomor 659! Kedua peserta harap maju ke depan dan bersiap!"
Tang Quan berteriak lantang, mengamati kedua pemuda yang akan tampil pada pertarungan kali ini.
Xue Zhan melawan Kun Xiao.
Orang yang akan menjadi lawannya memiliki ketangkasan dan pertahanan keras, seimbang dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. Dibandingkan itu di umurnya yang masih 15 tahun Kun Xiao memiliki otot seperti lelaki dewasa berumuran 22 tahun, wajahnya pun terlihat agak tua. Dia membawa pedang yang disangkutkan di sisi kanan pinggangnya, berjalan penuh sopan santun dan memberi salam perkenalan.
"Namaku Kun Xiao, ini hanyalah pertarungan, tapi ku harap kau tidak membenciku. Aku yang akan mengalahkanmu."
Kata-katanya yang sopan mengisyaratkan peringatan. Xue Zhan menarik senyum tanpa banyak membalas, "Mohon bantuannya."
Kun Xiao menarik kaki kirinya ke belakang, sedikit menunduk dengan sebelah tangan mengangkat pedang. Tangan satunya lagi berada di depan, memberi isyarat pada Xue Zhan, "Majulah."
Tangan Xue Zhan menggantung di sisi tubuhnya, enggan menarik pedang dari sana. Sementara pertarungan telah dimulai. Dia tidak bisa terus diam saja, namun ketika melihat ke depan di mana Kun Xiao berdiri memegang senjata dengan kuda-kuda tanpa celah hatinya mulai ragu.
'Pertama memanas-manasi kemudian menyuruhku untuk maju, apa dia sedang memancingku?'
Xue Zhan membatin, dia menarik ujung pedang sementara matanya dan sang musuh saling bertemu.
"Baiklah!" seru Xue Zhan. Tanpa memperdulikan kokoh tidaknya pertahanan musuh, satu-satunya cara untuk menang adalah melawan.
Kun Xiao menarik senyum licik.
"Mungkin kau memang kuat, tapi mudah sekali tertipu. Iblis yang polos."
Gerakan terkenal yang hanya diturunkan kepada keturunan klannya langsung dimunculkan. Kun Xiao mengeluarkan salah satu kartu terbaiknya di awal-awal. Ketika Xue Zhan berada dalam jangkauan serangnya pemuda itu merangsek maju ke depan.
Memutari Xue Zhan dan berpindah ke balik punggung lawannya dengan sebelah tangan mengangkat pedang yang berada tepat di leher bagian belakang Xue Zhan.
"Kau terjebak," tandasnya masih dengan raut wajah penuh kemenangan, pertarungan ini sudah dilihatnya dengan begitu jelas. Tidak sulit baginya melakukan tipuan untuk musuh sekelas Xue Zhan.
"Bukannya kau?"
Kun Xiao tidak sempat membalas, seharusnya di posisi ini dia memegang kendali penuh karena jika Xue Zhan bergerak dia bisa langsung menggoroknya. Namun sebuah angin tajam melesat naik ke atas, mengenai tapak tangan Kun Xiao sehingga pedang di tangannya terlepas.
Dia mengambil jarak sejenak untuk mempelajari apa yang baru saja terjadi.
Matanya terbuka, tidak menyangka dia melewatkan sesuatu.
Ada sebuah kekuatan tipis yang sejak awal sudah berada di atas arena bahkan sebelum dirinya memulai. Angin tipis berputar membentuk lingkaran di bawah kaki Xue Zhan, keberadaannya yang amat tipis membuatnya sulit disadari. Dan angin itu nyaris tak memiliki wujud. Bagaimana bisa Kun Xiao melihatnya dengan hanya menggunakan mata telanjang?
"Bermain trik juga? Kurasa yang kali ini kau tidak mampu menghindarinya."
Xue Zhan mengantisipasi kanan dan kiri, merasa omongan lawannya mungkin saja berbahaya. Dia kembali menatap ke arah Kun Xiao, pedang pemuda itu tak ada lagi di tangannya meski sempat terjatuh karena serangan yang dia lakukan. Tapi Kun Xiao tampaknya bukanlah orang ceroboh yang dengan mudah melepaskan pedang sepenting itu, yang menjadi penentu kemenangannya di babak ini.
Namun tanpa diduga pedang itu tidak berhenti sampai di situ, dia mengincar Xue Zhan dan menebas selayaknya sedang berada dalam genggaman manusia nyata. Cukup sulit menghindar, Xue Zhan melihat ke arah Kun Xiao sepintas. Tapi kelihatannya pemuda itu tak mengendalikan pedang itu sama sekali.
"Pedang yang Memiliki Nyawa? Apakah ada yang seperti ini?" tanyanya heran, tidak terbiasa melihat pemandangan tersebut. Satu sayatan berhasil mengenai wajahnya, Xue Zhan menunggu pergerakan pedang itu melambat dan justru bertambah makin cepat. Benda itu pasti adalah pusaka mahal. Jika tidak mana mungkin memiliki kemampuan di luar akal sehat seperti ini.
"Kau takjub kan? Sudah kukatakan, aku yang akan mengalahkanmu! Mundur selagi kau punya waktu!"
"Aku bahkan belum menarik pedangku, kau saja yang pulang dan merengek pada ibumu meminta pedang baru!" Xue Zhan menendang gagang pedang tersebut, menarik pedang dan menahan tebasan yang menerjang lurus. Di sisi lain Kun Xiao mulai mendekat, tampaknya ingin menyerang dari titik lemahnya.
"Jangan terlalu berlama-lama! Setiap pertarungan tidak boleh lebih dari lima menit atau kalian berdua gugur!" Tang Quan berseru kencang, tanpa aba-aba memberikan peraturan tidak masuk akal. Dia adalah pengawas di tempat itu dan memiliki wewenang penuh dalam jalannya pertarungan.
"Aku berikan kalian waktu dua puluh detik! Jika tidak ada pemenangnya katakan selamat datang ke Ujian Pendekar Menengah satu setengah tahun lagi!"
Di tengah kepungan dari dua sisi Xue Zhan semakin kacau, Kun Xiao berubah agresif dan langsung menciptakan sebuah jurus. Keadaan tak terduga itu memaksa Xue Zhan untuk berpikir.
"Lima!"
Dari dua puluh detik tiba-tiba lelaki itu langsung menghitung mundur menjadi lima detik, kontan Kun Xiao berubah putus asa dan langsung menyerang gegabah dari arah depan. Pedang pusaka miliknya terbang jauh ke atas dan menukik tajam ke bawah, tepat di mana Xue Zhan berdiri saat ini.
"Empat!"
"Tiga!"
Xue Zhan berucap kecil, 'Berpikir seperti binatang egois, mempertahankan diri secara individualis, aku mengerti.'
"Dua!"
Xue Zhan menangkap pedang yang bergerak tajam di atasnya dan melemparkannya ke arah Kun Xiao yang tengah berlari ke arahnya. Pedang itu menembus ujung telinga pemuda itu, lemparan lurus bertenaga itu sampai meretakkan lantai tempat pedang itu tertancap.
Sedikit meleset, tapi masih mengenai musuhnya.
Darah menetes di telinga Kun Xiao. Matanya membelalak. Dirinya bahkan belum sempat menyerang Xue Zhan.
"Pertarungan berakhir! Nomor urut 666 mendapatkan lima poin, 659 nol poin!"
Xue Zhan terhenyak.
"Lima poin?"
"Apa peraturan yang kukatakan belum jelas?" Tang Quan menoleh padanya dengan sinis. "Sepuluh poin jika kau menang. Musuhmu tidak mengaku kalah, tidak sedang tak sadarkan ataupun menerima luka fatal. Lima poin lebih dari cukup untuk itu. Atau mau mendapatkan nol poin juga?"
"Aku mengerti. Tidak, terima kasih."
Ada kecewa di hatinya. Dengan begini Xue Zhan harus bertarung 3 kali dan harus menang. Lawannya menatap Xue Zhan penuh benci, dia bersuara,
"Ini hanyalah pertarungan, ku harap kau tidak membenciku karena aku yang telah mengalahkanmu."
Xue Zhan membalikkan kata-katanya sebelumnya. Cukup untuk membalas ejekan Kun Xiao sebelumnya. Meski keadaannya sendiri tak bisa dikatakan baik.