
Xue Zhan berjalan menuju aula istana Kaisar Ziran, membawa Yin Jiao di belakangnya, di sisi kanan dan kiri para keluarga bangsawan berkumpul dan mencemaskan keselamatan Yin Jiao sampai mereka melihat gadis itu telah kembali dibawa seorang pemuda tidak dikenal yang memiliki aura tidak biasa.
Setibanya di istana, para bangsawan dan pengawal Kaisar Ziran yang sibuk berbicara segera teralihkan. Mereka terkejut melihat Xue Zhan, seorang pemuda misterius bertopeng putih datang membawa Yin Jiao yang masih dalam keadaan pingsan.
"Siapa kau?" tanya salah seorang pengawal.
"Aku hanya ingin mengantarkan Nona Yin."
"Kau menyelamatkannya?"
Xue Zhan tak menjawab. Tapi melihat bekas luka di tubuh Xue Zhan seharusnya pengawal itu sudah tahu jawabannya.
Para bangsawan dan pengawal merasa lega karena Yin Jiao berhasil diselamatkan. Mereka membuka jalan untuk Xue Zhan dan Yin Jiao menuju ruang istana.
Ketika mereka tiba di ruang istana, Kaisar Ziran segera bangkit dari kursinya, dia membuang napas lega melihat cucunya kembali, di saat bersamaan pula lelaki itu terkejut melihat pemuda misterius yang membawa cucunya.
"Siapa namamu?" tanya Kaisar Ziran dengan suara yang tegas.
"Namaku tidak sepenting keselamatan. Nona Yin, Yang Mulia." Xue Zhan menyatukan kedua tangannya sambil membungkuk. Di dalam pikirannya dia mulai memikirkan hal lain. Ziran Zhao terlibat dalam kejadian 20 tahun yang membuat Gurunya harus kehilangan segalanya yang dia miliki. Rasanya setelah bertemu laki-laki itu Xue Zhan ingin langsung menanyakan semua hal yang mengganjal di hatinya.
Tapi sayang ini bukanlah waktu yang tepat, Xue Zhan mengurungkan niatnya di dalam hati. Di sisi lain dia telah memastikan Yin Jiao selamat, Xue Zhan tersenyum di balik topeng.
Karena terakhir kali bertemu dengan gadis itu, Xue Zhan hanya bisa melihatnya sekarat oleh racun mematikan. Dia sebenarnya tak menyangka Yin Jiao masih bertahan sampai sekarang, meski terlihat kuat pada kenyataannya Yin Jiao selalu membutuhkan pertolongan. Xue Zhan hanya ingin menebus rasa bersalahnya dengan menyelamatkan Yin Jiao.
"Aku menghargai keputusanmu tak ingin mengatakan nama aslimu. Tapi setidaknya, beritahu dari mana kau berasal?"
Xue Zhan terdiam sejenak. "Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa mengatakan apa pun tentang identitas karena ini adalah larangan dari Guru."
Dia membungkuk dalam sebagai permohonan maaf. "Saya hanyalah pendekar pedang biasa, menolong sesama sudah menjadi keharusan. Saya tidak sengaja melewati sungai dan melihat Nona Yin diserang. Lalu mengikuti mereka sampai ke markas dan membunuh Ketua penjahat itu. Jika Yang Mulia menginginkan informasi tentang musuh yang menculik Nona Yin, saya tidak keberatan memberitahunya."
Kaisar Ziran terkejut dan merasa terkesan dengan keberanian Xue Zha. Dia berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Xue Zhan, meskipun tidak tahu siapa Xue Zhan sebenarnya.
Para bangsawan yang hadir di ruangan itu juga merasa terkesan dengan keberanian Xue Zhan. Mereka memuji Xue Zhan dan menghormatinya karena telah melakukan tindakan berani yang menyelamatkan cucu Kaisar Ziran.
Xue Zhan merasa sedikit canggung dengan pujian yang diberikan oleh para bangsawan, karena dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Lalu di hadapan semua orang Ziran Zhao berkata tegas.
"Pendekar Pedang, kau telah menunjukkan keberanian dan kebaikanmu dalam membawa cucuku kembali kepadaku. Aku berhutang budi padamu," ucap Kaisar Ziran dengan hormat.
"Tidak ada hutang budi yang perlu dibayar, Yang Mulia," jawab Xue Zhan dengan sopan.
"Ketika kau membutuhkan bantuan, katakan padaku dan aku akan membantumu dalam hal apa pun."
Xue Zhan tak pernah mengharapkan akan mendapatkan tawaran yang benar-benar sangat dinantikannya. Hanya dalam sedetik Xue Zhan langsung mengetahui apa yang ingin dimintanya pada laki-laki itu.
"Terima kasih, Kaisar. Aku akan mengingat kata-katamu," jawab Xue Zhan sambil membungkukkan kepala.
"Aku memang memiliki satu permintaan, Yang Mulia."
"Katakanlah."
"Aku tidak bisa mengatakannya di hadapan semua orang, tapi jika Yang Mulia berkenan, apakah Anda memiliki waktu untuk berbincang denganku?"
Ziran Zhao sama sekali tidak menaruh curiga, pemuda itu sudah menyelamatkan nyawa cucunya dan hampir mengorbankan nyawanya sendiri. Sudah sepatutnya dia membalas kebaikan tersebut.
Xue Zhan terlihat kebingungan, dia sama sekali tidak tahu di mana letak aula tersebut, Ziran Zhao segera bertanya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarkanmu ke Aula Teratai Biru."
Seseorang menyelutuk, "Tidak perlu, Yang Mulia."
Xue Zhan, Ziran Zhao dan yang lain menoleh ke sumber suara bersamaan.
Sosok itu adalah Fan Yuan, laki-laki itu memasang senyum yang sama lebarnya seperti saat Ziran Zhao menatap Xue Zhan.
"Orang ini juga telah menyelamatkanku saat penyerangan di alun-alun kota, dia mengalahkan enam belas orang sekaligus dengan gagah berani," ungkapnya yang semakin membuat tamu di istana terkesima.
Xue Zhan menunduk sekali. "Anda terlalu berlebihan, Tuan Fan."
"Oleh karena itu biar aku sendiri yang mengantarkannya besok, sebelum itu kebetulan Kaisar Li mengatakan ingin bertemu dengannya setelah mendengarkan ceritaku semalam. Tentu jika Tuan Pendekar tidak keberatan untuk bertemu dengan Kaisar Li Jia Xing ..."
Fan Yuan bersikap hormat, Xue Zhan sempat menahan napas beberapa saat.
Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali bertemu dengan Li Jia Xing. Wanita itu mengingatkannya pada dua orang, Gurunya dan juga Xiao Rong. Xue Zhan yakin jika Xiao Rong masih hidup dia akan ikut bersama Li Jia Xing ke tempat ini. Tanpa ragu-ragu Xue Zhan mengiyakannya.
"Tentu aku bersedia."
"Baiklah. Kami sangat menantikannya, Tuan Pendekar. Jika berkenan aku juga ingin mengundang Guru dan temanmu yang satu itu."
Xue Zhan mengangguk lalu segera pamit setelah beberapa saat walaupun Ziran Zhao mengajaknya duduk sebentar. Besok adalah hari yang dinantikannya. Kebenaran tentang semua hal yang terjadi di masa lalu akan terungkap, semua jawaban kini berada di tangan Ziran Zhao. Xue Zhan tak akan segan menanyakan hal itu meskipun dia akan membuat laki-laki itu tersinggung dan memburunya untuk menghapus informasi.
Dan juga setelah lima tahun lamanya dia bisa kembali melihat sahabat lamanya. Xue Zhan dan Xiao Rong merasakan hal yang sama dan terus diperlakukan seperti monster. Dia hanya berharap dunia tidak memperlakukan Xiao Rong seperti yang dialaminya.
Namun langkahnya segera tertahan saat mendapati seorang laki-laki berjubah putih yang sedang menunggunya di sebuah taman luas dengan hiasan patung dan tanaman hias. Dia adalah Xiang Yi Bai, lelaki itu terlihat berbeda dari biasanya.
"Kau benar-benar ingin menemui orang itu?"
Xue Zhan tahu yang dimaksud Xiang Yi Bai adalah Ziran Zhao.
"Tentu saja, Guru. Bukankah aku sudah mengatakannya, aku akan mengorek semua hal yang terjadi di masa lalu dan membuktikan kau tidak bersalah."
"Aku khawatir kau justru membuat situasi memburuk dan ikut menyeret dirimu ke dalam masalah yang lebih besar. Lupakan saja. Aku juga tidak lagi mempermasalahkan masa lalu."
Xue Zhan menyatukan alis dengan kesal.
"Guru bisa bilang sudah melupakan semua yang terjadi. Tapi penyesalan di wajahmu tidak akan bisa kau palsukan, Guru Xiang."
Xiang Yi Bai jauh lebih marah.
"Kau tahu? Berurusan dengan permasalahan ini jauh lebih rumit dari yang kau bayangkan! Ini semua berurusan dengan Batu Tanah, sekali saja kebenaran terungkap, maka kupastikan, Kekaisaran ini akan rata dengan tanah! Tidakkah kau gunakan otakmu untuk berpikir, Xue Zhan?!"
Xiang Yi Bai naik pitam. "Aku mengorbankan nyawaku, kehormatanku, dan keluargaku untuk melindungi semua orang yang ada di sini. Tetapi hari ini kau akan mengumumkan semua kebenaran yang sengaja ditutupi, bahwa batu ini masih ada dan aku masih hidup sampai sekarang!" Napasnya memburu, Xiang Yi Bai menurunkan intonasinya. "Xue Zhan, untuk mendamaikan satu perang dibutuhkan jutaan nyawa yang berkorban."
Xue Zhan sempat terdiam membiarkan keheningan menjeda di antara keduanya.
"Maksud Guru, Guru sanggup menahan penderitaan yang dirasakan semua orang sendirian?" Xue Zhan mengeratkan kepalan tangannya. Dia sudah berjanji pada Xiang Yi Bai dan laki-laki itu menyetujuinya. Meski Xiang Yi Bai menghukumnya seberat apapun, Xue Zhan tak akan melepaskan janjinya.
"Percuma saja meski guru melarangku. Aku akan tetap menemui Kaisar Ziran besok."