
"Katakan yang sebenarnya, Zhan'er. Kesalahpahaman apa yang telah terjadi? Musuh bisa kapan saja menjebak, memecahkan persatuan ini, tapi kau memiliki kesempatan untuk memperbaiki ini semua."
Xue Zhan meredam keberisikan di sekitarnya dengan berbicara, "Bukan aku yang membunuhnya. Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi. Saat itu Tetua ke-45 sedang menasehatiku, ketika aku berpaling tiga detik darinya tiba-tiba saja dia telah kehilangan nyawa-"
"Tidak masuk akal!" sela Tetua ke-12 garang, dia naik ke tangga, menuju panggung di mana Xue Zhan akan dieksekusi.
"Tetua ke-45 adalah ahli ilmu bela diri tingkat tinggi, tak akan ada jurus yang mampu membunuhnya tiga detik. Kecuali kau merencanakan pembunuhan untuknya, tidak perlu menjelaskan alasanmu melakukannya. Iblis tetaplah iblis!"
"Membusuklah di neraka! Membusuklah di neraka!" seru puluhan murid berulang kali sambil mengangkat pedang mereka, meneriakkan kematian untuknya.
"Aku tidak berbohong-!" bela Xue Zhan lagi.
"Tetua, Tetua!" Seorang murid berlari menuju Tetua ke-12, memberi hormat padanya dan Kang Jian bergantian. Di genggaman tangannya dia membawa secarik kertas.
"Ada apa denganmu, tidak tahu situasi?"
"Kami telah menggeledah kamar Adik Perguruan Xue Zhan dan menemukan sebuah surat mencurigakan di atas mejanya." Pemuda itu buru-buru menyerahkan kertas dengan tetesan noda darah itu padanya, Tetua ke-12 dan Kang Jian membaca isi pesan dengan seksama.
Tetua ke-12 membaca surat itu keras-keras agar bisa didengar oleh ratusan orang di halaman Lembah Abadi.
"Kami telah membunuh Tetua ke-45 sesuai perintahmu, Tuan Muda Zhan. Ini adalah peringatan bagi Lembah Abadi yang telah menindasmu. Untuk rencana selanjutnya kami tunggu arahan darimu."
Kang Jian menatap Xue Zhan tidak percaya, kaget yang luar biasa itu nampak di wajahnya kini seolah-olah sedang mencari jawabannya dari wajah Xue Zhan yang pucat pasi. Tuduhan demi tuduhan menyerangnya beruntun. Teriakan semakin keras tertuju pada Xue Zhan yang kini membelalak tak percaya.
Dugaannya sejak awal sudah tertuju pada Menara Giok Hantu, Hantu Penggerogot. Laki-laki itu pasti akan membalaskan dendam, tapi Xue Zhan tak menyangka sebegitu cepat ini.
"Sangat disayangkan, murid Kang Jian adalah seorang iblis yang haus akan darah. Seharusnya Anda mendengarkan nasihat dari mendiang Tetua, Senior Kang. Kau telah membawa iblis ke dalam perguruan ini dan menyebabkan kematian Tetua ke-45. Ini adalah bencana besar."
Kata-kata itu menusuk Xue Zhan, dia gemetar hebat, mata merahnya menatap tajam pada Tetua ke-12. Dia dipojokkan oleh semua orang dan tak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan karena mereka sibuk memakinya.
"Bunuh iblis itu!"
"Iblis ini harus dihukum cambuk sampai mati! Seperti iblis pendahulunya yang dihukum mati dengan cara yang sama! Tidak ada tempat untuk iblis pembunuh seperti kalian selain kerak neraka jahanam!"
Xue Zhan berteriak, "Aku tidak membunuh siapa pun-"
Satu cambukan keras menghantam kulit punggungnya, Kang Jian menyaksikan itu semua. Masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, belum berani menentukan siapa yang salah atau benar.
Dia yakin Xue Zhan tak mungkin melakukan hal itu. Namun semua tuduhan mengarah padanya, juga tidak ada yang patut dicurigai selain Xue Zhan sebagai satu-satunya orang yang bersama Tetua ke-45 hingga dia mati.
Cambukan demi cambukan menghantam punggung Xue Zhan, darah merah keluar dari mulut pemuda itu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya menahan sakit. Bekas cambukan merah muncul di punggungnya. Xue Zhan berusaha untuk tetap berlutut tegap.
Cambukan ke-100 Xue Zhan mulai goyah, darah keluar dari hidung dan juga mulutnya. Dia menggenggam tali rantai dengan kedua tangan, berusaha tetap kuat meski tahu orang yang mencambuknya tak akan berhenti sampai dia mati.
'Benarkah hanya sampai di sini perjalananku? Aku telah membuat guru menanggung malu seumur hidup, aku bahkan tak bisa menepati janjiku pada Kaisar Ziran, malah membuat manusia semakin benci pada iblis ... Sebenarnya omong kosong apa yang selama ini aku teriakkan?!' batin Xue Zhan, dia berusaha menahan cambukan ke 103. Tubuhnya membungkuk, Xue Zhan memuntahkan darah banyak.
"Maafkan aku, Guru. Aku sama sekali tidak melakukannya. Meskipun aku mati, aku tak mau mati dengan penyesalan ini. Aku-"
Cambukan itu semakin keras, Xue Zhan memuntahkan darah kembali. "Bahkan jika harus meregang nyawa sekalipun aku tidak akan mau mencoreng nama Guru dan membuat mu kehilangan martabat di dunia persilatan. Guru menanggung malu seumur hidup karenaku. Aku adalah murid yang buruk dan pantas menerima ini."
Kang Jian mengeratkan pegangannya pada gagang pedang. Sekilas matanya berair. Tak sanggup melihat muridnya mengalami nasib sepedih ini.
Di sisi lain tak mengetahui siapa dalang di balik ini semua. Xue Zhan tak memiliki kemampuan membunuh pendekar sekelas Tetua ke-45 dalam tiga detik. Situasi semakin memanas di sekitarnya. Lembah Abadi kini tak ubahnya seperti sebuah tempat sabung.
"Aku percaya takdir kita tidak sesingkat ini, Zhan'er," bisik Kang Jian meski kini muridnya mulai kehilangan indera pendengarannya karena sakit yang membuatnya mati rasa sekujur badan. Tubuh pemuda itu mulai kehilangan keseimbangan beberapa kali, tapi dia mampu berdiri tegap dan menerima cambukan itu walau mengatakan dirinya tidak bersalah.
Dua jam hukuman berlangsung dan Xue Zhan masih bertahan.
"Cambukan ke-200!" Teriakan dari salah satu Tetua itu mengobarkan semangat para murid yang menyaksikan hukuman mati Xue Zhan.
"Cambuk sampai mati!"
*
"Ada apa dengan suara ribut itu?"
Jiazhen Yan menoleh ke belakang, namun kepala perpustakaan Lembah Abadi mendecak kasar.
"Berhenti mengalihkan perhatian dan fokus dengan hukumanmu! Tulis salinan berisi penyesalan sebanyak 20 lembar kalau mau melihat kehebohan di sana!"
"Kau kerjakan sendiri kalau mau cepat!"
"Hei, bocah pembangkang. Senior Kang sudah berbaik hati membantu meringankan hukuman kalian dan hanya menyuruh kalian menulis 20 lembar kertas. Tunjukkan sikap terima kasihmu sedikit, bocah sialan!" Kepala perpustakaan itu benar-benar kesal dan kembali ke tempatnya, ketiganya saling menatap satu sama lain. Merasakan firasat buruk yang tak bisa dijabarkan.
*
Tali rantai dialiri oleh darah yang terus menetes ke lantai batu keramik berwarna biru muda pucat, genangan darah membesar. Tulangnya tak sanggup lagi menahan bobot tubuh yang hampir remuk, dua belas sobekan di punggungnya akibat cambuk berulang-ulang telah sampai mengenai tulang rusuknya. Xue Zhan miring, dadanya naik turun dan hampir tak bisa berucap apa pun lagi.
'Benarkah hanya sampai di sini perjalananku?'
Xue Zhan menyesalinya. Dia mengangkat wajah menatap puluhan wajah tua yang tadinya begitu muntab mulai kasihan melihatnya kini yang begitu menyedihkan.
Cambukan ke-250 itu telah meremukkan tubuhnya tapi iblis itu masih sanggup bertahan.
"Dia benar-benar monster. Lembah Abadi telah memelihara Monster menakutkan sepertinya, dia harus segera dibunuh."
Salah satu Guru Lembah Abadi bergidik ngeri menyaksikan pemandangan di depannya.
"Bu-bunuh saja aku dengan memenggalku. Cambukan ini ... Tak ada gunanya, tubuhku memiliki kemampuan memulihkan. Jika menungguku mati dengan cara ini kalian akan menunggu berjam-jam."
Semua orang tidak percaya iblis itu mengatakan sendiri kemampuan tubuhnya.
"Hei, iblis. Apa yang membuatmu begitu keras kepala? Kau memberitahu cara membunuhmu yang paling ampuh dan meminta dipenggal? Apakah kau terlalu putus asa dan meminta kematian yang lebih mudah? Kau telah membunuh seorang Tetua Lembah Abadi! Hukuman seperti ini lebih pantas untukmu!"
"Lakukanlah jika kalian mau sampai aku mati, aku tak akan mengakui ini sebagai kesalahanku. Meski harus menerima seribu cambukan sekalipun ..." geramnya dengan mulut mengucurkan darah.
Xue Zhan tertawa lemah dengan darah terus mengalir dari mulutnya, "Lagipula semuanya telah terjadi. Aku telah membuat malu Guruku. Masih pantaskah aku hidup di dunia ini?"