Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 209 - Sosok dalam Kabut


Ruang tamu dengan meja kecil yang terukir dengan indah, menghadap jendela besar yang memancarkan sinar matahari ke dalam ruangan terlihat sunyi untuk beberapa saat.


Meja kecil itu dipenuhi dengan ornamen-ornamen mewah, seperti vas kristal berisi bunga-bunga segar yang memancarkan aroma harum. Di sekelilingnya, terdapat lilin-lilin kecil yang menyala dengan nyala gemerlap, memberikan cahaya lembut yang melingkupi ruangan. Beberapa patung perunggu yang indah dan ukiran kayu yang rumit juga menghiasi meja tersebut.


Di dinding-dinding ruangan tergantung lukisan-lukisan bangau yang indah. Lukisan-lukisan itu menggambarkan keanggunan bangau yang sedang terbang di atas danau yang tenang, melambangkan kebebasan dan kedamaian. Setiap detail dalam lukisan itu terlihat hidup, dengan sapuan kuas yang lembut menggambarkan bulu-bulu bangau yang tampak seperti betulan.


Selain itu, beberapa hiasan tambahan juga terlihat di ruangan tersebut. Sepasang lampu gantung yang terbuat dari kristal bergemerlapan di langit-langit ruangan, memantulkan cahaya yang menciptakan kilauan di seluruh ruangan. Karpet tebal dan lembut menutupi lantai, memberikan nuansa hangat dan nyaman saat melangkah di dalam ruangan ini. Tentu saja seseorang di dalamnya bukanlah orang sembarangan. Dia memiliki kekayaan berlimpah dan ribuan pengikut bersamanya.


Namun semua kemewahan itu tak pernah cukup untuk membuat hidupnya tenang. Tak sedetikpun dia terlihat bernapas dengan damai. Jarinya selalu mengetuk-ngetuk meja berulang kali sambil berpikir siang-malam.


Laki-laki dalam balutan jubah hitam dan topeng rubah menghela napas berat, merasakan kegelisahan yang sejak belakangan ini membuat tidurnya tidak nyenyak sambil bertanya-tanya di dalam hati, "Siapa gerangan pendekar itu? Apa yang diinginkannya? Kenapa semua orang membicarakan tentangnya?"


Hingga keresahan itu dilihat oleh sosok yang baru saja tiba di dalam ruangan pribadinya. Memperhatikan lekat-lekat gerak-gerik lelaki yang biasanya tidak pernah merasakan kegelisahan di dalam hidupnya.


Dia hidup dalam persiapan matang, tanpa ada celah, semuanya sempurna. Jalan pikirnya yang rumit dan penuh teka-teki membuat semua rencana yang telah dipersiapkannya berjalan begitu mulus.


Namun guncangan kecil akhir-akhir ini telah membuatnya terganggu.


"Apa ada yang bisa kubantu, Ketua?"


Dia menoleh ke belakang, mengibaskan jubah hitamnya yang besar sebelum duduk di depan meja rendah. Menikmati minuman hangat yang telah disediakan sembari berbincang dengan pemuda itu.


"Apa kau pernah mendengar tentang Pendekar Topeng Putih?" tanyanya langsung tepat sasaran. Lawan bicaranya tidak mengeluarkan tanggapan sejenak, mengingat dari sekian banyaknya musuh yang telah ditumbangkannya sebelum akhirnya mengeluarkan jawaban singkat.


"Tidak."


"Aku mendapatkan peringatan dari 'mereka' ... Dia adalah musuh yang harus diwaspadai."


Lalu dalam tiba-tiba suara derap langkah kaki yang amat terburu-buru memasuki ruangan tersebut, orang kepercayaannya bertekuk sebelah lutut dan menunduk patuh. Dia baru berbicara ketika laki-laki itu mengizinkan.


"Kabar buruk, Ketua. Kelompok yang anda dikirimkan ke selatan tempat markas lama kita menemukan kekacauan besar. Kekuatan dalam jumlah besar yang sangat pekat menghancurkan tempat masuk markas. Beberapa tempat tertimbun akibat retakan dan dalam satu hari itu kehilangan beberapa anggota yang mati dalam timbunan tanah."


Dia melanjutkan serius. "Kekuatan itu amatlah besar dan membuat ruang bawah tanah tertimbun. Sepertinya tim yang berada di bawah tanah tewas. Kami telah melakukan pencarian dan tak menemukan siapa yang menyebabkan kehancuran itu ..."


Lelaki topeng rubah menghentakkan kepalan tinju di atas meja. Membuat piring dan cangkir kaca bergetar menimbulkan suara berisik.


"Itu kau sebut sebagai kabar buruk? Kau ingin menambah beban pikiranku?"


Dia mengangkat sebelah tangan, di telapak tangannya muncul aura hitam pekat yang langsung membuat laki-laki itu menggigil.


"Bu-bukan, Ketua. Yang kumaksud bukan kematian anggota kita. Melainkan Cahaya Kelima, Chao Mi," ucapnya tertahan di ujung mulut ketika tiba-tiba lelaki itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya.


"Kenapa dia masih ada di sana? Bukankah tempat itu seharusnya sudah tidak beroperasi lagi? Aku sudah menyuruhnya untuk mengosongkan tempat itu," nada bicaranya meninggi. Suaranya menggeram dalam.


"Se-sepertinya Cahaya Kelima memang sengaja menunggu di tempat itu. Kami belum mendapatkan kejelasannya, Ketua. Apa yang harus kita lakukan?"


"Sampaikan pada Cahaya Pertama dan suruh dia mengurus anak buahnya sendiri!" sentaknya garang. Dia kembali duduk dengan gelagat yang lebih gelisah dari sebelumnya.


Tak lama lelaki dengan topeng rubah tersebut memerintahkan pesuruhnya untuk memanggil salah satu petinggi kelompok yang memiliki akses ke banyak informasi


Petinggi kelompok yang dimaksud memasuki ruangan tempat lelaki dengan topeng rubah menantinya. Petinggi itu membungkukkan tubuh dengan hormat, menghormati kehadiran lelaki dengan topeng rubah.


Petinggi dengan bijak menceritakan semua yang dia ketahui tentang kehidupan Chao Mi, termasuk koneksi dan musuh yang mungkin dimiliki. Dia memberikan petunjuk-petunjuk yang berguna dan saksi mata yang mungkin memiliki informasi tentang kematian tersebut.


Lelaki dengan topeng rubah mendengarkan dengan seksama, menyimak setiap kata dan menghubungkan titik-titik penting.


Setelah berdiskusi dengan seksama, petinggi kelompok akhirnya sampai pada suatu kesimpulan yang penting. Mereka menyimpulkan bahwa pembunuh Chao Mi masih berada di Kekaisaran Feng.


Dengan suara serius petinggi memberikan pesan, untuk membunuh pembunuh itu sendiri mereka perlu menyiapkan sebuah jebakan. mereka harus mencari musuh paling kuat yang ada. Dia sudah tahu siapa jawaban dari itu semua.


"Kurasa Cahaya yang satu itu akan sangat tertarik dengan berita ini..."


Petinggi tersebut mengangguk.


"Kau boleh pergi," ucapnya. Dengan hormat petinggi itu pamit, meninggalkan keduanya yang beberapa detik hanyut dalam keheningan. Lelaki itu berpikir keras dan mempertimbangkan banyak hal.


"Aku tahu dia saja sudah cukup tapi kurasa orang itu bisa jadi lebih berbahaya dari perkiraan."


Sejenak perhatiannya teralihkan pada pemuda di hadapannya dan memerintahkannya segera.


Pemuda itu mengangguk patuh, "Tidak akan ada satu pun nyawa yang selamat dari pedang ini, Ketua."


Kegelisahan lelaki itu sedikit sirna ketika melihat senjata tempurnya yang tak lain adalah pemuda itu sendiri. "Kau tidak pernah mengecewakanku."


Pemuda itu beranjak, namun tiba-tiba dia kembali menahan.


"Satu lagi," ujarnya, "Cari tahu soal Pendekar Pedang Putih itu dan bunuh siapa pun dengan topeng itu. Jangan biarkan dia hidup meskipun dia teman kita sendiri."


"Baik."


**


Lembah berkabut membawanya jauh memasuki tempat yang jarang dimasuki manusia.


Xue Zhan terpincang-pincang selama beberapa hari berjalan sendirian di dalam kabut dingin.


Topeng putih yang biasanya dia pakai telah menghilang entah ke mana dan sebagian pakaiannya penuh darah. Keadaannya yang buruk dan lusuh itu membuatnya terlihat seperti gelandangan.


Dalam tiba-tiba saja kekuatan di dalam tubuhnya membludak dan tidak dapat dikendalikan. Dia telah menghancurkan Dongyang hanya dengan kekuatan iblisnya, tak terbayangkan seberapa besar kehancuran yang dia perbuat beberapa hari yang lalu. Xue Zhan berkali-kali hampir kehilangan kesadaran dan Iblis Dosa mengambil alih tubuhnya.


Dia berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan aliran kekuatannya sampai melukai bagian penting tubuhnya.


Berpikir dengan cara itu dia dapat menghentikan pertumbuhan iblis di dalam dirinya. Namun itu justru melukai dirinya sendiri.


Xue Zhan ingin menemukan Xiang Yi Bai, namun dia sendiri tidak tahu di mana laki-laki itu dan mereka sudah terpisah sangat jauh. Yang dapat dilakukannya sekarang adalah bertahan.


Chao Mi telah tewas. Xue Zhan kini sekarat oleh kekuatannya sendiri. Kakinya terasa mati rasa, darah berceceran di tanah yang dilewatinya hingga akhirnya pemuda itu terjatuh di atas rerumputan tanpa daya.


Dia telentang menatap langit berkabut. Merasakan dinginnya tiupan angin membelai wajahnya yang lelah. Dadanya naik turun tak karuan. Xue Zhan tidak dapat berdiri.


Tiba-tiba terasa sebuah kekuatan yang begitu kuat dan berbahaya. Hampir mirip seperti kekuatan yang dimiliki Chao Mi. Xue Zhan terancam mengingat dia masih berada di wilayah Dongyang tempat markas lama Taring Merah. Lembah kabut ini seharusnya menjadi pembatas antara Dongyang dan wilayah setelahnya.


Kekuatan es yang luar biasa itu membuat Xue Zhan merasa tertekan dan kesulitan bernafas. Setiap langkahnya terasa berat seolah ditahan oleh kehadiran hawa yang kuat. Angin berhembus kencang, membawa rasa dingin menusuk hingga tulang.


Ketika dia melangkah lebih jauh ke dalam lembah, kekuatan es semakin intens. Dia merasakan tekanan yang semakin kuat, seperti beban yang diletakkan di pundaknya. Tubuhnya membeku sedikit demi sedikit, sementara setiap nafasnya terasa seperti terhenti oleh kehadiran kekuatan es yang melingkupinya.


kekuatan itu semakin terasa, mendekat ke arahnya. Jantung Xue Zhan berdetak kencang. Dia benar-benar tidak punya kekuatan untuk bertarung dan sekarang tubuhnya juga penuh luka.


Suara derap kaki berhenti di depannya. Sepertinya hari ini adalah hari sial Xue Zhan. Karena ketika dia sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat siapa gerangan yang berhenti di sana dia melihat sesosok gadis dengan topeng silang dan pakaian serba putih.


Adrenalinnya berpacu cepat. Tamat riwayatnya hari ini. Gadis itu adalah murid Chao Mi, tidak salah lagi. Dia telah membunuh Gurunya.


'Apa dia sudah tahu hal itu dan mencariku? Bagus, setelah Iblis Dosa musuh merepotkan lainnya kembali datang di saat yang tidak tepat.' batinnya mengumpat.


"Menyedihkan," tutur gadis itu dengan hina.


Xue Zhan tidak memakai topeng sama sekali, sudah pasti gadis itu mengenalinya.


Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya selain suara embusan napas berat. Gadis itu bisa saja langsung menggunakan kekuatan cahaya dan membuatnya terpental jauh hingga patah tulang. Mengingat lima tahun yang lalu saja dia sudah memiliki kekuatan yang dahsyat, sekarang kekuatannya sudah pasti lebih gila dari yang terakhir kali.


Entah keberuntungan apa yang menyelamatkannya, gadis itu berlalu begitu saja meninggalkannya sambil menggerutu, "Gembel bau, jelek, semoga mayatmu cepat dimakan belatung. Masih beruntung suasana hatiku sedang sangat baik, kalau tidak sudah kupatahkan lehermu."


Gadis itu pergi begitu cepat dari pandangannya, terdengar nyanyian riang yang semakin jauh.


Xue Zhan merinding.


Memang wajahnya penuh dengan lumpur dan darah, ditambah kabut tebal yang menghalangi pandangan yang membuatnya tidak bisa mengenali Xue Zhan.


Xue Zhan terpaku hingga beberapa menit karena begitu kagetnya. Dia baru bisa menarik napas setelahnya.


"Sepertinya dia belum tahu Gurunya sudah tewas. Aku harus segera pergi sebelum mereka mengejarku."


Xue Zhan memulihkan diri dan memutuskan melanjutkan perjalanannya ke wilayah yang bersebelahan dengan Dongyang, menyamar di antara masyarakat di tempat itu.


Tepat setelah malam turun puluhan orang mencurigakan berkeliaran di mana-mana seperti mencari seseorang. Xue Zhan berhasil menemukan tempat di sebuah rumah dengan berpura-pura menjadi gelandangan, pemilik rumah yang merupakan juragan yang baik hati membiarkannya tinggal di kandang kuda untuk sementara waktu.


Setidaknya sampai bawahan Taring Merah berhenti mencarinya dan Xue Zhan mendapatkan cara untuk mengatasi kekuatan iblis di dalam tubuhnya.