Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 46 - Babak Penyisihan I: Duel Individu V


Ming Ming mendecakkan lidah dengan kasar, kelihatan tidak terima terhadap perlakuan Lao Bao Li yang seenaknya merebut lawan yang telah dia pilih, gadis itu menepis tangan Lao Bao Li, menjabat tangan Xue Zhan seraya berucap.


"Aku lebih dulu!"


"Aku yang duluan menjabat tangannya."


Sontak Ming Ming bertambah makin panas. Wajahnya memerah sampai ke telinga, kakinya dihentak cukup kuat pertanda dia tidak suka.


"Mundurlah Nenek Lampir, aku yang lebih dulu memilihnya-!"


Lao Bao Li menatap ke arah Xue Zhan yang kini panas dingin, mulai menduga apa yang hendak dikatakan oleh gadis dengan mata tajam itu.


"Kalau begitu biar dia yang menentukan siapa yang akan menjadi lawannya," cetus Lao Bao Li, menimbulkan gurat kepanikan di wajah Xue Zhan saat ini. Kedua gadis itu tampaknya tidak ingin mengalah satu sama lain, jika dia memilih salah satu, maka sudah pasti yang lainnya akan membencinya. Keputusan yang cukup berat, pikir Xue Zhan.


"Siapa yang kau pilih, Xue Zhan?" Ming Ming menautkan kedua alis menunggunya bersuara, memaksa Xue Zhan.


"Aku ..." Xue Zhan melihat Lao Bao Li dan Ming Ming bergantian.


"Siapa yang lebih dulu menjabat tanganku, aku akan menghadapinya lebih dulu," putusnya kemudian dan benar seperti dugaannya Ming Ming kelihatan tidak setuju. Dia mencebik, segera hengkang dari sana ke barisan belakang menonton pertarungan putaran ke lima. Xian Shen akan bertarung melawan Wang Chun Yang.


Tiga detik keheningan hingga akhirnya Tang Quan menurunkan tangan sembari berteriak lantang, "Pertarungan dimulai!"


Lao Bao Li tak hanya menguasai seni bela diri, kelebihan gadis itu terletak pada jenis kekuatan spiritual yang dikuasainya. Kekuatan berwarna ungu pekat keluar dari tubuhnya, walaupun dia sudah akan mencapai batas kemampuannya Lao Bao Li tetap mampu berdiri dan menangkis serangan dari Xue Zhan juga melepaskan serangan balik yang lumayan berbahaya.


Untuk sepintas Xue Zhan mengira Lao Bao Li memiliki kemampuan terbang seperti yang didengarnya untuk seorang pendekar tingkat atas. Dia membuat separuh wilayah arena lantai satu tertutup oleh kekuatannya. Dari balik kabut gelap Lao Bao Li muncul, persis di belakang Xue Zhan yang tak sempat menyadari pergerakannya. Padahal Xue Zhan baru saja melihat gadis itu berdiri di depannya.


Dia lebih lincah dari sebelumnya saat bertarung melawan Ming Ming. Xue Zhan berbalik badan, Lao Bao Li lagi-lagi menghilang. Ketika Xue Zhan melihat ke samping seketika tapak tangan gadis itu menghantam dada Xue Zhan, satu detik Xue Zhan terkejut lalu detik selanjutnya dia terlempar cukup jauh. Tulang punggungnya terluka, dia menabrak dinding arena hingga besi dinding penyok. Xue Zhan terjongkok memegang dadanya.


Itu bukan serangan biasa.


Ketika itu pula Lao Bao Li berjalan pelan ke arahnya, bunyi tumitnya menggema di telinga Xue Zhan. Pemuda itu menoleh ke depan, membalas tatapan gadis itu, terdengar kalimat sombong dari bibir merah Lao Bao Li.


"Sepertinya kau belum tahu sepenuhnya tentangku. Aku sengaja menyembunyikannya di awal, tanpa kekuatan ini aku tetap bisa mendapatkan poin. Namun aku tertarik dengan kekuatanmu, kurasa aku akan sedikit serius, yah ... Walau kelihatannya seriusku sedikit kelewatan."


Dia menutup mulut, mata lentiknya yang melotot menatap Xue Zhan di bawahnya sambil tertawa dengan cara yang menyeramkan.


"Aku telah memberi racun di dalam tubuhmu, itu tak akan membuatmu mati, paling tidak kau bisa lumpuh sampai tiga hari ke depan~"


Hampir tersedak Xue Zhan mendengar ucapan gadis itu.


Xue Zhan tak pernah mau menyerahkan mimpinya pada siapa pun, bahkan untuk gadis semenyebalkan Lao Bao Li. Tawa mendayu-dayu dari bibir tipis Lao Bao Li mengoyak gendang telinganya, Xue Zhan ingin langsung membalas tapi seluruh tubuhnya tak mampu lagi digerakkan.


Hatinya mengutuk keras. Dia berucap dengan susah payah kepada Lao Bao Li yang berdiri di depannya.


"Dan sepertinya ada satu hal yang perlu kau ketahui tentangku."


Lao Bao Li menyatukan alisnya. Dia sudah tahu semua kekuatan Xue Zhan, tekniknya, caranya bertarung atau menghindar. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan tapi dia memilih untuk mendengarkan.


"Aku bertarung di sini bukan karena aku ingin menang, melainkan karena aku harus menang."


Mata merah itu berkobar oleh api dalam dirinya, Lao Bao Li melihatnya, api yang sama seperti yang ada di dalamnya. Jiwa ambisius yang selalu tergila-gila dengan kemenangan. Dia menarik bibir begitu lebar, wajahnya tak ubahnya pembunuh yang sedang berpesta dengan darah.


Lao Bao Li bersiap menghabisi Xue Zhan, awalnya dia berpikir untuk membiarkan pemuda itu kalah sampai durasi habis tapi kini dia berubah. Xue Zhan tidak tinggal diam, dia menyalurkan seluruh kekuatannya, menerapkan apa yang telah dipelajarinya dari Kang Jian. Tidak peduli seberapa banyak dia mengeluarkan kekuatan sekarang, Xue Zhan harus segera bangun.


"Kau hanya bangun untuk kembali diracuni?! Hahahahah lucu sekali!"


Lao Bao Li sudah bisa melihat bagaimana nanti dia mengenai Xue Zhan lagi yang sudah pasti kehabisan kekuatan untuk menekan pergerakan racun di dalam tubuhnya. Itu adalah jenis racun yang cukup sulit ditangani.


"Tidak perlu kekuatan, aku masih punya kepala untuk menghantam kepalamu dan sebuah pedang untuk menyayat mulut besarmu, Nona Nenek Lampir."


Ming Ming yang menyaksikan pertandingan di antara keduanya tersenyum tiada habis. Bahkan Xue Zhan pun memanggil gadis itu dengan sebutan Nenek Lampir, dia bersorak menyemangati, "Semangat Xue Zhan!! Aku yakin kau bisa mematahkan sapu terbang Nenek Lampir itu! Suruh dia meminum racunnya sendiri, hiahahaha."


Lao Bao Li memicingkan mata ke arah Ming Ming, tanpa disadarinya Xue Zhan telah berhasil bangkit walaupun terlalu sulit mengendalikan tubuhnya. Bibir merah gadis itu kembali merekah, dia bersiap menyerang dan langsung tiba di belakang Xue Zhan, memberikan serangan mengejutkan.


Pertarungan Xian Shen dan Wang Chun Yang telah selesai dengan Xian Shen menjadi pemenangnya. Mereka ikut menyimak jalannya pertarungan detik terakhir, tidak bisa menebak siapa yang akan menang. Tapi sepertinya Lao Bao Li memiliki keunggulan, dia bisa menang mudah melawan Xue Zhan dengan ilmu racunnya.


Lao Bao Li melakukan tindakan gegabah karena berpikir dirinya adalah pemenang. Dia masuk ke jarak jangkauan serangan Xue Zhan, seketika dua kali tebasan menerjangnya. Lao Bao Li melindungi diri dengan kedua tangan. Angin dari pedang itu membuat kedua tangannya tersayat sangat dalam dan mulai mengucurkan darah.


Tiga peserta beserta Tang Quan terkejut, lagi dan lagi Xue Zhan memperlihatkan kejutan.


"Sepertinya kau tidak lupa bahwa aku memiliki darah iblis. Racun yang kau anggap berbahaya mampu ku netralisir sebanyak lima puluh persennya dari manusia biasa. Aku masih punya sisa kekuatan untuk melawanmu ketika kau berpikir aku tidak mampu lagi melakukan perlawanan."


"Sialan... Pecundang sialan! Mati saja kau-!" Dia berniat melanjutkan pertandingan padahal tahu semuanya telah berakhir.


Tang Quan menangkap tangan Lao Bao Li, "Putaran lima selesai!"


Mata Lao Bao Li begitu nyalang menatap Xue Zhan, luka di tangan putih indahnya akan meninggalkan bekas yang menurutnya sangat memalukan sebagai keluarga bangsawan ternama, seperti aib yang tidak bisa ditutupi, dia berseru menantang. "Aku tidak akan memaafkanmu, biadab!"