Legenda Sang Iblis

Legenda Sang Iblis
Ch. 196 - Teror Serigala Pembunuh


"Ka-kau serius? Dia musuh yang berbahaya, sebaiknya kau berhati-hati dengannya. Dia memiliki ratusan anak buah di seluruh desa."


Xue Zhan tahu tujuan utamanya adalah Teluk Ying, tapi dia tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Seperti kata Xiang Yi Bai, Xue Zhan selalu tergerak untuk mengurusi hal yang bukan kewajibannya. Dia khawatir kelak dua laki-laki itu akan mencelakai pelintas lain karena alasan yang sama.


Untuk beberapa alasan, dia curiga masalah-masalah ini berakar ke ujung yang sama dengan yang sekarang diseledikinya. Walau baru dugaan semata, firasatnya cukup kuat kali ini.


Mereka tiba di sebuah desa yang penuh dengan perumahan dan bangunan-bangunan kecil tua yang tersusun rapi. Di sana suasana yang menyelimuti desa begitu sunyi dan mencekam. Xue Zhan dan dua bersaudara terus berjalan menyusuri jalan yang lengang. Desa yang mereka masuki terlihat suram dan mencekam. Beberapa bangunan sudah terlihat tidak terawat dan hancur, sementara yang lain terbakar menghitam.


Tang Yun menempel erat pada Tang Yin, masih ketakutan akan munculnya Serigala Pembunuh.


Xue Zhan memperhatikan rumah-rumah yang terlihat kosong dan terbengkalai, tanaman yang tidak terawat dan jalan yang berlubang dan kotor. Dia prihatin melihat keadaan desa itu sekaligus merasa yakin bahwa memang dia harus segera menyelamatkan desa tersebut dari penderitaan.


Ketika mereka tiba di jalan desa, terlihat beberapa penduduk dikumpulkan dan berbicara dengan ketakutan. Xue Zhan memperhatikan situasi dengan cermat dan mendengar bahwa para penduduk desa diperintahkan untuk membayar pajak yang sangat besar dalam waktu singkat. Jika mereka gagal memenuhi persyaratan, mereka akan dibunuh secara sadis.


Melihat dari tempat lain, warga desa tampaknya enggan untuk berinteraksi dengan orang luar seperti Xue Zhan. Mereka menghindar dan ketakutan jika ada orang asing yang datang ke desa mereka. Tang Yin dan Tang Yun berjalan di sisi pemuda itu dengan raut muka ketakutan.


Xue Zhan memperhatikan dengan seksama keadaan desa tersebut. Dia merasa aneh karena warga desa terlihat seperti sedang menyimpan rasa takut dan diam-diam bergerak di balik rumah mereka. Suasana sunyi dan mencekam itu semakin membuat Xue Zhan merasa tidak nyaman.


Setelah berjalan beberapa saat, Xue Zhan bertemu dengan seorang warga desa yang sedang berada di depan rumahnya. Dia menghampiri warga tersebut dan mencoba memgorek informasi mengenai desa tersebut.


"Ada apa dengan desa ini? Kenapa semua orang mengunci pintunya?"


Namun orang itu hanya memberikan tatapan yang singkat dan terkesan tidak ingin berbicara lebih banyak. Xue Zhan semakin merasa bingung dan heran tentang keadaan di desa tersebut.


Tang Yin, Tang Yun, dan Xue Zhan terus melangkah di tengah keheningan desa yang mencekam. Mereka melihat bahwa hampir semua warga desa telah mengunci pintu dan mengurung diri di dalam rumah.


Tang Yin tiba-tiba tergagap ketika melihat sesosok laki-laki tinggi besar dengan tubuh gempal muncul di ujung jalan.


"I-itu dia ... Serigala itu ..."


Xue Zhan memandang ke arah jalan yang mereka lewati, di mana rombongan Serigala Pembunuh berjalan perlahan. Dia melihat wajah penduduk desa yang menunduk ketakutan ketika Serigala Pembunuh melintas, dan Xue Zhan bisa merasakan aura kegelapan yang begitu kuat dari orang itu.


Tang Yun tak henti-hentinya memperingatkan Xue Zhan tentang bahaya yang mengancam jika mereka berurusan dengan Si Serigala Pembunuh.


"Dia telah membantai seluruh keluarga besar dari salah satu keluarga terpandang di desa ini. Tidak ada yang selamat, bahkan anak-anak kecil tidak luput dari kekejamannya."


Laki-laki tersebut membawa lima belas pengawal yang mengelilingi jalan desa sambil berteriak, "Hari yang indah! Aku akan kembali lagi dalam tiga hari! Sebaiknya serahkan kewajiban kalian jika tidak ingin seperti tuan dan nyonya di gantungan ini!"


Dua orang yang membawa tongkat kayu panjang yang disambungkan dengan kawat besi menarik perhatian semua orang. Mereka meringis dan bergidik seram, bahkan ada yang muntah. Di kayu tersebut tergantung lima kepala tanpa tubuh yang penuh dengan darah. Mereka adalah orang-orang yang tidak sanggup membayar tuntutan Serigala Pembunuh.


Laki-laki itu terlihat seperti pemimpin kelompok yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Xue Zhan tidak ingin memperpanjang waktu di desa tersebut dan segera melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sekiranya aman.


Xue Zhan, Tang Yin, dan Tang Yun memasuki sebuah kedai arak tua yang terletak di tengah-tengah desa. Meskipun dari luar toko ini terlihat seperti akan roboh kapan saja, namun di dalamnya terasa hangat dan nyaman. Mereka disambut oleh pemilik kedai, seorang laki-laki tua yang dikenal baik oleh Tang Yin dan Tang Yun.


Setelah duduk dan memesan minuman, mereka memulai pembicaraan tentang keadaan di desa tersebut. Tang Yin mengungkapkan bahwa Serigala Pembunuh adalah seorang penjahat berbahaya yang telah menyebabkan kekacauan di desa itu selama satu tahun ini. Dia dikenal sebagai seorang pembunuh yang kejam dan gemar melakukan tindakan kekerasan seperti memperkosa dan merampok.


"Tidak ada yang bisa menghentikannya," pasrah Tang Yin dengan nada sedih. "Prajurit dari kota besar tidak mau turun tangan karena takut akan keselamatan mereka sendiri."


Tang Yun mengangguk setuju, "Dia juga memaksa setiap pedagang di desa untuk membayar uang kepadanya, bahkan jika mereka tidak mampu membayar."


Xue Zhan memandang kedua bersaudara itu kemudian bertanya, "Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan ini? Kalian sudah tinggal lama di sini pasti tahu celahnya."


Lalu, pemilik kedai memberitahu mereka tentang serangan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Serigala Pembunuh di desa seberang. Mereka menguasai dua desa sekaligus untuk mengumpulkan harta dari rampasan.


Beberapa hari yang lalu, seorang pedagang di desa tidak bisa membayar pajak dan dia ditemukan mati di jalanan di hari yang sama. Tubuhnya penuh luka dan kepala yang tersayat ditancapkan di atas tongkat. Semua orang di desa ketakutan luar biasa. Karena tahu mungkin nasib mereka akan berakhir sama seperti itu.


Xue Zhan merenung sejenak, lalu berkata, "Kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa membiarkan dia terus menguasai desa ini, merampok orang-orang yang tidak bersalah dan membunuh seenaknya."


Tang Yin dan Tang Yun memandang Xue Zhan dengan penuh harapan. Mereka merasa ada semangat dan tekad dalam kata-kata Xue Zhan yang tidak mereka temukan dalam diri mereka sendiri.


Namun sang pemilik kedai menggelengkan kepalanya. "Kalian harus berhati-hati. Serigala Pembunuh memiliki banyak pengawal yang setia padanya. Bahkan prajurit pun tidak bisa menangkapnya. Kalian akan menghadapi bahaya besar jika mencoba menghentikannya."


"Bagaimana pun semua orang di sini pasti ingin ketakutan di desa ini berakhir ..."


Lelaki pemilik kedai terdiam. Matanya menerawang jauh ke masa lalu dan bercerita.


Sebelumnya lelaki tua itu menghela napas berat. "Serigala Pembunuh merenggut anakku yang masih berumur 16 tahun. Waktu itu aku tidak bisa membayar pajak dan rumah kami menjadi sasaran pembalasan, anakku diambil dengan paksa. Sejak itu, aku menyesal seumur hidup dan selalu menangisi kepergian putriku."


Pantas saja semua orang di sini putus asa dan tidak mau melawan sama sekali. sebelum mereka bergerak, Serigala Pembunuh telah mematahkan harapan dan semangat hidup mereka. Membuat ketakutan di mana-mana hingga berakhir membuat mereka semua bungkam dan hanya menerima perlakuan itu.


Xue Zhan memperhatikan wajah sang pemilik kedai yang penuh luka lama dan bekas terbakar. Dia menebak tua itu pernah menjadi prajurit.


"Apa kau dulu pernah menjadi prajurit?" tanya Xue Zhan.


Lelaki tua itu menatap Xue Zhan dan tersenyum pahit. "Benar. Dulu aku adalah seorang prajurit yang berjuang untuk desa ini. Kami dihabisi oleh Serigala Pembunuh dan dipaksa untuk menyerahkan pedang kami kalau tidak mau dibunuh, aku tidak punya pilihan lain selain membuka kedai kecil ini. Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan tubuh yang penuh luka dan bekas terbakar. Karena keadaan seperti ini aku tidak bisa melawan mereka, aku begitu lemah dan payah sehingga membuat anakku harus menanggung penderitaan."


Nada bicaranya bergetar.


" Entah apa yang terjadi padanya setelah itu, banyak yang bilang dia tak akan selamat. Tapi di sini, aku selalu menunggu kepulangannya."


Xue Zhan menunjukkan bela sungkawanya.


"Aku turut berduka atas kehilanganmu."


Xue Zhan melanjutkan kembali "Tiga hari lagi Serigala Pembunuh dan pasukannya akan kembali menjarah desa ini, aku akan memastikan mereka menyesal pernah datang ke sini."


Tang Yin dan Tang Yun tampak tercengang mendengar keberanian Xue Zhan. Mereka tahu bahwa Serigala Pembunuh dan pasukannya merupakan musuh yang sangat tangguh dan kejam. Namun, pemilik kedai yang duduk di depan mereka tampak ragu dan pesimis. Dia sudah merasakan kekejaman dan kebrutalan Serigala Pembunuh serta pasukannya secara langsung.


"Aku mengerti kau ingin membantu kami, tapi jangan sia-siakan nyawamu untuk hal ini. Kami sudah banyak kehilangan orang-orang berharga karena keberanian mereka untuk melawan Serigala Pembunuh," kata pemilik kedai dengan nada sedih.


Tang Yin dan Tang Yun sesaat juga merasakan keputusasaan dan ketakutan yang sama seperti penduduk desa lainnya.


"Kalian harus melakukan sesuatu untuk melawan mereka. Jangan biarkan mereka terus menguasai desa ini dengan kekejaman mereka. Kita harus mengambil tindakan untuk membebaskan desa ini dari ketakutan dan penindasan," tegas Xue Zhan.


Pemilik kedai, Tang Yin, dan Tang Yun terdiam sejenak, mencerna perkataan Xue Zhan. Mereka terkesan dengan keberanian dan tekad Xue Zhan, namun mereka juga takut kehilangan lebih banyak nyawa penduduk karena perbuatan Serigala Pembunuh.


"Tapi bagaimana cara kita melawan mereka?" tanya pemilik kedai dengan nada ragu.


"Hanya perlu dua hal saja ..." jawab Xue Zhan tersenyum di balik topengnya. "Dengan keberanian dan sedikit kegilaan."