
Lelaki topeng rubah memerhatikan ketiga orang berbeda di depannya dengan senyum yang sama sekali tidak menghilang dari wajahnya.
"Mari mencoba senjata baru kita. Hm .. siapa yang bagus untuk dijadikan tumbal?"
Dia melihat keluar ruangan dan memanggil seratus orang dari Taring Merah untuk mendekat padanya.
Ketiga pendekar muncul dan membuat anggota-anggota Taring Merah terperangah dan tercengang melihat ketiga sosok yang mereka dulu anggap telah tiada kembali bangkit dari kematian.
Mereka melihat Mo Shuiyang, Dai Zhen, dan Wang Xin yang sekarang berdiri di depan mereka dengan kekuatan yang tak terbandingkan. Tatapan takjub dan ketakutan terpancar dari wajah para anggota Taring Merah.
Mereka terkejut melihat Mo Shuiyang yang telah mereka kenal sebagai pendiri dan petinggi Taring Merah, kembali dengan kekuatan angin yang mampu mengguncangkan segala sesuatu di sekitarnya. Kekuatan yang dia miliki begitu menakutkan, membuat mereka merasakan betapa berbahayanya sosok yang sekarang mereka lihat.
Dai Zhen, dengan kekuatan dan kecepatannya yang legendaris, kembali hadir dengan tubuh yang tampak lebih kuat dan perkasa dari sebelumnya. Dia melangkah maju tanpa sedikitpun ragu, mengikuti perintah topeng rubah di belakangnya.
Wang Xin, sosok yang dulu dihormati karena keahliannya dalam seni bela diri yang digabungkan dengan pengendalian kekuatan air, kini kembali dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.
Para anggota Taring Merah menyaksikan dengan kagum dan takjub.
Tak ada yang berani mendekati ketiga sosok yang telah kembali dari kematian tersebut. Rasa takut masih menciutkan hati mereka, menyadarkan mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan sosok yang jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Ketiga petinggi yang mereka kagumi itu kembali hadir dengan kekuatan yang melampaui segala ekspektasi.
Mo Shuiyang, seorang sosok yang tegap dan berwibawa, terlihat di medan pertempuran yang penuh kekacauan. Angin kencang berputar di sekelilingnya, mengangkat debu dan daun-daun yang terlempar ke udara. Kekuatannya yang luar biasa membuatnya mampu mengubah arah aliran angin dengan hanya melambaikan tangannya.
Dia berdiri tegak di tengah badai pasir yang memenuhi medan pertempuran, wajahnya tanpa ekspresi sedikit pun. Matanya menatap lurus ke depan, fokus pada lawan-lawannya yang berada di hadapannya. Meskipun tubuhnya tampak tenang, energi yang melingkupinya terasa sangat intens dan mengancam.
Mo Shuiyang menghembuskan napasnya dengan perlahan, dan tiba-tiba angin di sekitarnya berubah arah. Dalam sekejap, hembusan anginnya membentuk semburan yang mengguncangkan tanah di bawahnya. Bahkan gunung-gunung kecil di sekitarnya terasa goyah, seolah-olah akan terbalik dari akarnya.
Saat dia melangkah maju, langkahnya yang mantap membuat tanah berguncang di bawah kakinya. Setiap gerakan tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan yang menakjubkan, seperti sebuah badai yang tak terkendali. Lawan-lawannya terdorong mundur oleh gelombang kekuatan angin yang mematikan.
Tidak ada ekspresi di wajah Mo Shuiyang saat ia terus melanjutkan serangannya. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan, menghasilkan serangan angin yang tak terhitung jumlahnya. Benda-benda di sekitarnya terlempar ke udara dan pecah berkeping-keping, menjadi saksi dari kekuatan yang dimiliki oleh petinggi Taring Merah.
Di tengah kekacauan yang dihasilkan oleh Mo Shuiyang, para lawannya terlihat kewalahan. Mereka mencoba menghindar, tetapi serangan-serangan anginnya terus menghantam dengan kekuatan yang mematikan. Beberapa dari mereka terlempar ke udara dan terjatuh dengan keras, sementara yang lain terdorong mundur dengan kerasnya.
Meskipun tidak ada ekspresi di wajahnya, Mo Shuiyang terus melanjutkan pertarungan dengan ketenangan yang mematikan. Angin yang dia kuasai semakin kuat dan ganas, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Puing-puing bangunan dan reruntuhan berterbangan di udara, menciptakan pemandangan yang menakutkan dan mengerikan.
Kekuatan angin Mo Shuiyang terus berlanjut, tidak ada tanda-tanda kelemahan atau kelelahan. Dia seperti sebuah kekuatan alam yang tak tergoyahkan, tak terkalahkan oleh siapa pun yang berani melawannya. Lawan-lawannya terjebak dalam badai yang diciptakan oleh kekuatan anginnya, tak mampu keluar dari pusaran angin tersebut.
Puas melihat kekuatan angin Mo Shuiyang, Lelaki itu memerintah Dai Zhen untuk memperlihatkan kekuatannya.
Dai Zhen, sosok yang kini berdiri di hadapan anggota Taring Merah, memancarkan aura yang membara. Wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi mengisyaratkan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Tiba-tiba, dia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga api muncul dari telapak tangannya.
Api itu membentuk lingkaran besar yang semakin membesar, menghasilkan panas yang sangat menyengat. Anggota-anggota Taring Merah merasakan suhu yang meningkat drastis, seakan-akan berada di dekat tungku peleburan logam.
Lingkaran api yang terbentuk semakin membesar, memenuhi langit dengan cahaya merah menyala. Suhu di sekitarnya meningkat dengan cepat, menghilangkan segala sumber kegelapan. Pemandangan yang terhampar di depan mata mereka adalah lautan api yang terbakar. terlihat menyala dengan warna merah menyengat, memancarkan nyala api yang menyala-nyala dengan kuat.
Dai Zhen tidak bergerak, namun kekuatannya terus mengendalikan api tersebut.
Anggota-anggota Taring Merah hanya bisa memandang dengan takjub. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Dai Zhen memiliki kekuatan sebesar ini. Api yang dikuasainya membakar dengan jumlah yang tak terbayangkan, seolah-olah tidak ada yang dapat memadamkannya. Mereka merasa kecil dan lemah di hadapan kekuatan yang begitu dahsyat.
Lelaki topeng rubah sedikit berbaik hati tidak memerintahkan ketiganya untuk membunuh orang-orang Taring Merah tersebut.
Lingkaran api terus membesar, memenuhi ruangan dengan kehangatan yang menyelimuti seluruh anggota Taring Merah.
Namun, tak seorang pun terbakar atau terluka oleh api tersebut.
Ketika pertunjukan api akhirnya berakhir, semuanya kembali hening. Lautan api yang terbakar telah menghilang, meninggalkan kekaguman dalam di hati anggota-anggota Taring Merah. Mereka menyadari bahwa kekuatan yang dimiliki Dai Zhen sungguh luar biasa dan tidak boleh dianggap remeh. Dan bersyukur bergabung bersama Taring Merah sehingga melihat pemandangan menakjubkan tersebut.
Lelaki topeng rubah mengangguk puas sebelum mengganti pertunjukan selanjutnya yang menjadi tontonan gratis para anggota Taring Merah, yang tadinya hanya ratusan kini hampir sepenuhnya berkumpul demi menyaksikan pertunjukan kekuatan tersebut.
Wang Xin memulai dengan memanggil kekuatan alam, langit mendung perlahan terlihat membawa air hujan dalam jumlah yang banyak dan mulai jatuh membasahi bumi.
Wang Xin berdiri di tengah hujan deras yang membasahi tubuhnya. Wajahnya yang tenang dan tanpa ekspresi mengisyaratkan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Sejenak, dia memejamkan mata, dan seketika itu juga, air mulai bergerak di sekitarnya.
Butiran-butiran air kecil melayang di udara, membentuk formasi yang teratur dan harmonis. Suara gemercik air terdengar jelas di tengah hujan yang turun dengan deras. Wang Xin mengangkat tangan kirinya, dan seolah-olah terjadi keajaiban, air yang berada di sekitarnya seketika itu berubah menjadi sebuah gelombang yang besar.
Gelombang air tersebut meninggi dengan cepat, mencapai ketinggian yang tak terbayangkan. Wang Xin melambaikan tangannya dengan lembut, dan gelombang air itu membelah langit yang mendung.
Tampaklah jelas bagaimana kekuatan airnya mampu menguasai dan memanipulasi alam.
Langit yang tadinya mendung kini terbuka, memperlihatkan sinar matahari yang tersembunyi di balik awan. Wang Xin tetap tenang dan fokus, mengendalikan gerakan air dengan keahliannya yang luar biasa. Gelombang air yang tinggi terus menjulang, menghadirkan pemandangan yang luar biasa indah namun juga menakutkan.
Anggota-anggota Taring Merah yang menyaksikan pertunjukan ini hanya bisa terpana. Mereka melihat bagaimana Wang Xin mampu menguasai dan memanipulasi elemen air dengan begitu hebat. Gelombang air yang besar dan menghancurkan ini memberikan kesan kuat dan menunjukkan betapa tingginya kekuatan Wang Xin.
Saat gelombang air mencapai puncaknya, Wang Xin menggerakkan tangannya dengan cepat. Gelombang air itu tiba-tiba berputar dengan kecepatan tinggi, membentuk pusaran air yang besar dan mengagumkan. Pusaran air tersebut mengeluarkan suara deru yang menakutkan, memenuhi langit dengan gema berulang kali seperti berada di dalam permukaan air dalam.
Anggota-anggota Taring Merah menyaksikan dengan penuh kagum. Mereka menyadari bahwa kekuatan Wang Xin yang mengendalikan air sungguh luar biasa.
Ketika pertunjukan air akhirnya berakhir, langit kembali mendung dan hujan deras melanda. Markas dipenuhi dengan tetesan air yang jatuh dari langit. Wang Xin berdiri di tengah-tengah mereka, anggota-anggota Taring Merah yang masih terkesima oleh kekuatan yang mereka saksikan.
Dalam gegap gempita yang tercipta, mereka menatap Wang Xin dengan penuh hormat
Lelaki topeng rubah melihat anggota-anggota Taring Merah yang masih terpesona oleh kemampuan Mo Shuiyang, Dai Zhen, dan Wang Xin. Wajahnya yang tersembunyi di balik topengnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia mengambil nafas dalam-dalam sejenak, kemudian dengan suara serak dan tegas, dia melanjutkan percakapan.
"Kekuatan mereka sungguh menakjubkan, karena itulah mereka ada di siniz" ucapnya dengan nada rendah namun terdengar tegas. "Mereka adalah petinggi terdahulu Taring Merah yang telah di bangkitkan dari kematian. Mo Shuiyang, dengan kekuatan anginnya yang mampu membalikkan gunung. Dai Zhen, yang menguasai api yang dapat membakar lautan. Dan Wang Xin, dengan kemampuan airnya yang mampu membelah langit."
Anggota-anggota Taring Merah yang mendengarkan diam seribu bahasa. Mereka menatap lelaki topeng rubah dengan penuh rasa hormat. Kekuatan yang ditunjukkan oleh ketiga petinggi yang telah kembali dari kematian ini membuat mereka semakin yakin ketua mereka bukan orang yang sembarangan.
Mereka tahu bahwa ketua mereka memiliki rencana besar sehingga melibatkan kekuatan-kekuatan ini dan akan mematuhinya hingga akhir hayat.
"Mereka adalah senjata terhebat yang kita miliki untuk melawan musuh-musuh kita. Dengan kekuatan mereka yang bisa diandalkan, kita akan meraih kemenangan yang tak terbantahkan."
Anggota-anggota Taring Merah menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
Lelaki topeng rubah melanjutkan, "Pertempuran yang akan kita hadapi tidak akan mudah. Namun, dengan kekuatan dari Mo Shuiyang, Dai Zhen, dan Wang Xin, kita memiliki harapan untuk mengalahkan mereka. Kita akan bersatu dan melindungi apa yang menjadi kehendak kita. Tidak ada yang dapat menghalangi Taring Merah."
Anggota-anggota Taring Merah merasakan semangat yang menyala-nyala di dalam diri mereka. Mereka siap menghadapi tantangan yang menghadang, karena mereka tahu bahwa kekuatan yang dimiliki oleh ketiga petinggi yang telah bangkit kembali akan menjadi pilar utama dalam pertempuran mendatang.
Kepercayaan dan kesetiaanmereka kepada ketua mereka semakin membesar di dalam hati mereka. Karena itu tidak pernah ada yang berpaling dari laki-laki itu.
Lelaki topeng rubah melihat ke arah anggota-anggota Taring Merah, dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kalian menganggu pemandangan, sampah-sampah kotor," gumamnya kepada orang-orang yang bersorak memuji dan mengagungkan namanya.
**
Desir angin berubah tajam, Ming Dao merasakan sesuatu bergerak cepat dari bawah pasir dan langsung mengelak. Sebuah serangan tak terduga membuatnya kehilangan fokus untuk tiga detik yang menjadi kesempatan untuk Xue Zhan mengambil pedang sekaligus melepaskan diri. Badai pasir masih belum juga berlalu tapi Xue Zhan mulai terbiasa dengan pandangan terbatas.
Angin kencang berhembus membawa ribuan butir pasir yang terangkat tinggi di udara. Badai pasir melanda dengan kekuatan yang mengguncangkan seluruh medan tempat pertarungan. Di tengah hembusan angin dan debu pasir yang menyelubungi segalanya, Xue Zhan berusaha untuk lebih berkonsentrasi.
Kali ini dia hanya mendengarkan lewat suara, mengenali pergerakan lawan dan mengantisipasi setiap serangan yang masuk. Beberapa kali pedang putih di tangannya menghantam sesuatu yang tidak dapat dilihatnya sendiri. Xue Zhan hanya mengandalkan instingnya.
Tikus Pasir menggali ke bawah hingga ratusan meter, terdengar cukup dalam hingga Xue Zhan mulai curiga. Dia memutar badannya ke segala arah, mencoba mengenali arah datangnya lawan sebaik mungkin. Di saat itu pula badai semakin hebat, menutupi pendengaran dan mengacaukan pandangannya. Xue Zhan baru dapat menyadari adanya kekuatan besar di bawah kakinya beberapa detik sebelum Tikus Pasir keluar.
Tiba-tiba, suasana di dalam badai pasir berubah. Terdengar suara gemuruh yang memenuhi udara dan pasir yang beterbangan seakan merasakan adanya ledakan kekuatan yang muncul dari dalam. Dalam sekejap, ribuan butir pasir yang terangkat tinggi terlihat membentuk pusaran energi yang mengelilingi Xue Zhan dan Ming Dao.
Pusaran energi itu memancarkan cahaya yang terang, mengubah gurun pasir yang gelap menjadi arena bercahaya.
Saat ledakan kekuatan itu mencapai puncaknya, tiba-tiba pusaran energi meledak dengan kekuatan yang dahsyat. Terjadi gelombang kejut yang melanda area sekitarnya, menghancurkan pasir dan membelah badai pasir menjadi dua. Cahaya terang memancar dari ledakan itu, menciptakan kilatan di tengah kekacauan badai pasir.
Xue Zhan berdiri tegap dalam pusaran energi yang mengitarinya.
Kecepatan Tikus Pasir itu tidak main-main, kedua matanya putih bercahaya seperti monster. Xue Zhan terdorong keras hingga ke atas. Tanduk tajam mengenai tubuh dan nyaris melubangi perutnya. Dengan cepat dia menebaskan pedang miring, memotong tanduk itu dan menggenggamnya erat.
Lalu menusukkan ujung tanduk ke mata Tikus Pasir. Jeritan kesakitan menggema di tengah badai pasir. Xue Zhan mendarat dengan memegang perutnya yang mulai meneteskan darah. Tikus Pasir juga sama terluka sepertinya, tapi dia lupa bahwa musuh utamanya masih mengintai dari balik bayang-bayang.
Ming Dao sudah berada di balik punggungnya, melemparkan sebuah mantra yang langsung mengeluarkan ribuan jarum tipis mematikan yang dilumuri racun.
Dengan refleks Xue Zhan menangkis dengan bilah pedang, terdengar bunyi besi-besi kecil beradu dengan pedang selama sepuluh detik. Angin kencang menyapu dataran pasir, memperlihatkan Xue Zhan yang kini telah terluka dan berdarah. Ming Dao menarik seringai lebar.
"Bau darahmu membuatku lapar. Iblis."
Dia melebarkan pupil matanya dengan cara yang bengis. Ming Dao berlari kencang ke arah Xue Zhan. Pemuda itu tidak tinggal diam, dia sedikit merunduk mengambil sesuatu dari tanah. Melemparkannya ke dada Ming Dao. Laki-laki itu terhenti sejenak, dua buah jarum besi menembus jantungnya.
Racun itu bereaksi di tubuhnya. Dia tertohok, Ming Dao segera memulihkan tubuhnya sambil menatap tak percaya dengan Xue Zhan. Dia sama sekali tidak menunjukkan gerak-gerik kesakitan meski seratus jarum beracun menghujam tubuhnya.
Justru pemuda itu tetap berlari ke arahnya dan mulai menggerakkan pedangnya dari samping.
"Kitab Phoenix Surgawi Tahap Kedua - Pusaran Membelah Langit!"
Dalam gerakan yang begitu cepat, Xue Zhan melompat ke udara, melayang di atas pasir yang berkecamuk. Tubuhnya dipenuhi dengan aura yang membara, pedangnya bergerak dengan kecepatan kilat, menciptakan pusaran energi yang mengelilingi pedangnya.
Pusaran itu memancarkan cahaya yang memukau. Dalam sekejap, Xue Zhan meluncurkan serangan tersebut ke arah Ming Dao.
Serangan itu seolah mengoyak angin, membelah langit, dan menciptakan getaran energi yang melanda seluruh medan pertempuran. Cahaya yang menyilaukan memancar dari pusaran energi, menciptakan lingkaran kejut yang melingkupi serangan tersebut.
Ming Dao segera menyadari dia terpojokkan dan mencari celah untuk menyelamatkan diri secepat mungkin.
Lingkaran angin tajam menyerbu Ming Dao, di saat yang sama salah satu kertas mantra meledakkan jurus tersebut. Ming Dao selamat.
"Seranganmu tak akan pernah mengenaiku, bocah." Dia kembali menunjukkan ekspresi mengejek seperti sebelumnya.
Namun senyumannya luntur sesaat.
Satu angin tipis nan tajam melewati bahunya, Ming Dao memegang tempat di mana angin itu melintas dan merobek jubah putih hingga ke dagingnya. Matanya melebar lima detik lamanya, lalu meraba noda darah dari sana.
"Tidak salah aku mengundang kau ke sini. Kau memang lawan yang pantas untuk dibunuh." Alisnya bertaut tanpa dia sadari, suaranya berubah berat menahan murka. Namun dia masih berusaha untuk tersenyum walau terlihat semakin menyeramkan dari sebelumnya.
Xue Zhan mendecih, jurus itu dibelokkan oleh badai pasir sehingga hanya mengenai bahu lawan yang seharusnya mengenai dadanya. Dia tidak bisa menggunakan trik sama untuk yang kedua kali, Ming Dao sudah pasti akan lebih berhati-hati.
"Kita lihat bagaimana kau bisa menghadapi anak-anakku!"
Lelaki itu menghilang dari balik badai pasir, tapi setelahnya hal lain muncul di depan Xue Zhan. Dia mengeratkan pegangannya pada pedang.
Saat Ming Dao melihat Xue Zhan membuka celah, dia memerintahkan sepuluh siluman Tikus Pasir yang setia untuk menyerang dengan ganas. Tikus-tikus pasir itu muncul dari balik bukit pasir, melompat dan berlarian menuju Xue Zhan
Sepuluh tikus pasir itu menyusulnya, musuhnya bertambah lagi. Xue Zhan nyaris tidak bisa bernapas di tengah pasir ini, sekarang pertarungan menjadi lebih sulit. Xue Zhan menyadari ancaman yang datang padanya. Di saat badai pasir masih melanda gurun dengan keganasannya, dia harus menghadapi dua musuh sekaligus: sepuluh Tikus Pasir yang ganas dan alam yang tidak bersahabat.
"Orang ini, dia hanya menang di Tikus Pasir dan mantra saja."
Xue Zhan bisa mengatakan bahwa satu Tikus Pasir ini setara dengan satu Naga Putih milik Xiang Yi Bai, Bai Ye. Mereka memiliki keunggulan mutlak.
Xue Zhan melompat ke samping, menghindari serangan pertama Tikus Pasir. Dia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, menciptakan gelombang kejut yang membelah tanah, mencoba menjaga jarak dari serbuan musuh.
Namun, badai pasir yang masih berhembus dengan ganasnya membuat penglihatannya terbatas. Butiran pasir terus menerpa wajahnya, menyulitkan Xue Zhan untuk mengamati gerakan musuh dengan jelas. Dia menggunakan insting dan refleksnya yang tajam untuk menghindari serangan-serangan mendadak dari Tikus Pasir.
Xue Zhan bergerak dengan lincah, melompat dan berputar di udara, menghindari gigitan dan cakaran Tikus Pasir yang mencoba merobeknya.
Namun, situasinya semakin rumit ketika badai pasir terus meningkatkan intensitasnya.
Angin kencang memperlambat gerakan Xue Zhan, dan butiran pasir yang terus menerpa tubuhnya mulai menyebabkan gesekan yang tidak nyaman. Penglihatannya semakin terhalang, membuatnya harus mengandalkan pendengaran dan perasaannya untuk mengantisipasi serangan Tikus Pasir.
Xue Zhan tidak bisa sembarangan menyerang mereka, delapan puluh persen bagian tubuh tikus itu dilapisi kertas mantra berbahaya yang tidak boleh disentuhnya.
Sekarang sepuluh Tikus Pasir mengerubunginya, Xue Zhan berada dalam lingkaran berbahaya. Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang diisi oleh bunyi siulan angin, hingga akhirnya guncangan besar terjadi. Xue Zhan menyorongkan tubuhnya membiarkan cakar tajam melewati dadanya. Melompat dan merunduk ketika ekor-ekor tikus itu berusaha melibasnya. Tikus Pasir mulai mengejarnya dan melepaskan tembakan kekuatan cahaya.
Jumlah Tikus Pasir membuat situasinya semakin sulit. Mereka terus menyerang dari segala arah, mencoba mengepung dan mengalahkan Xue Zhan. Setiap gigitan dan cakaran mereka menyebabkan luka-luka kecil yang mempengaruhi ketahanan dan fokus Xue Zhan.
"Aku harus mencari orang itu, mereka tidak ada habisnya jika dihabisi satu per satu ..."
gumamnya ketika mencoba menghindari kejaran para Tikus Pasir. Xue Zhan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya sampai terdengar suara tipis dari samping
"Mencari aku? Aku di sebelahmu." Lantas Xue Zhan segera menoleh ke samping hanya untuk mendapatkan tendangan keras tepat di topeng wajahnya. Sebelum Xue Zhan bisa bereaksi, Ming Dao tiba-tiba meluncurkan tendangan yang menghantam topeng putih yang melindungi wajah Xue Zhan.
detik itu juga Xue Zhan terpental di atas pasir dengan kecepatan yang tinggi, meluncur berpuluh-puluh meter sebelum akhirnya dia menghantam pasir dengan keras. Gumpalan pasir terangkat tinggi dan berserakan di sekitarnya Xue Zhan segera bangkit secepat yang dia bisa sebelum Ming Dao menguncinya.
Saat badai pasir masih berkecamuk dengan ganasnya di sekitar mereka, Xue Zhan mencoba mengumpulkan tenaganya dan berusaha bangkit kembali. Wajahnya terluka dan topengnya hancur. Dia tahu bahwa pertempuran ini masih jauh dari selesai, dan dia harus menang dengan cara apa pun jika ingin sampai ke markas Taring Merah.
Laki-laki itu benar-benar langsung mengincarnya. Ming Dao adalah lawan yang tangguh. Gerakan-gerakannya meliuk-liuk, kadang tajam dan cepat, membingungkan lawannya untuk menemukan celah untuk menyerang. Dia menggabungkan kecepatan dengan kekuatan, menciptakan serangan-serangan yang mengancam Xue Zhan.
Lelaki itu menyerang dengan pukulan yang tajam dan gerakan yang cerdik, mencoba mengecoh Xue Zhan kembali. Pedang mereka saling beradu dalam serangkaian serangan dan pertahanan yang cepat. Kilatan-kilatan sinar logam terdengar ketika pedang mereka bertabrakan, menciptakan dentingan yang menggetarkan udara.
Xue Zhan bergerak cepat ke belakang laki-laki itu dan menusuk pedang ke punggung Ming Dao. Laki-laki itu berhasil mengelak dan membalas balik dengan menyikut tulang rusuknya dari samping.
Untuk kedua kalinya, Xue Zhan terpental oleh tinju yang menyusul dan membuat seluruh topengnya hancur berkeping-keping. Darah mengalir dari sudut bibirnya, Xue Zhan terbatuk-batuk memuntahkan darah.
"Aku sudah menawarkan cara paling mudah, kau menyerah dengan baik-baik. Tapi sepertinya kau meminta kematian yang lebih sulit, bocah iblis. Baiklah, aku akan menuruti keinginan mu."