
Note: kemarin ada sedikit kesalahan jadi episode sebelumnya kalian hanya baca setengah, coba dibuka lagi supaya nyambung dengan episode yang ini ya. (Kalo udah sampe ketemu sama Burung Phoenix bisa langsung skip)
Selamat membaca~
*
Xue Zhan kembali dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak, dia langsung diusir oleh Phoenix tanpa perasaan. Seharusnya Xue Zhan merasa beruntung karena tidak dibunuh hidup-hidup tapi mengingat ketusnya siluman itu kekesalannya semakin menjadi-jadi.
Tapi tempat yang dia temui tadi adalah tempat yang benar-benar indah. Udara di dalamnya sangat dingin masuk ke dalam paru-parunya seperti bercampur bau tanaman obat yang menyembuhkan. Kembali masuk ke dalam celah dinding tadi, Xue Zhan segera menyamping dan mencapai bagian luar. Pemandangan yang jauh berkebalikan dengan tempat Burung Phoenix tadi, Jurang penuh darah dan binatang buas. Xue Zhan menatap ke atas, cahaya matahari lebih samar dari sebelumnya dan angin sore terasa. Sebentar lagi sudah akan malam tapi Xue Zhan belum kunjung menemukan makanan.
Ini gawat. Xue Zhan berhenti di tepi sungai untuk melihat barangkali ada ikan di dalam air tersebut dan hasilnya nihil. Dia mendecakkan lidah kecil, mulai gelisah memikirkan cara untuk bertahan hidup.
Sesaat perhatiannya teralihkan oleh suara pekikan kecil dari seekor katak yang memiliki wujud sedikit unik. Bintik-bintik menonjol di kulitnya berwarna hijau dan menyala terang saat matahari mulai terbenam menyisakan gelap. Kaki siluman katak kecil itu terjepit reruntuhan longsoran membuatnya tak bisa bergerak ke mana pun.
Xue Zhan melihat sekitar dan tak menemukan bahaya, memutuskan menyelamatkan katak kecil nan malang itu, lagipula dia tidak mampu menyerang Xue Zhan dengan keadaan begitu. Setelah batu yang lumayan besar terangkat katak tersebut lantas kabur menyelamatkan diri. Xue Zhan meletakkan kembali batu itu, membuang napas panjang.
Sempat terpikirkan untuk memakan katak itu, Xue Zhan berbalik badan dan hampir melompat. Katak kecil itu menunggu di bawah kakinya dan memperhatikan dirinya, tak berniat pergi dari sana.
Xue Zhan menyingkir dan pergi dari sana sambil bergumam, katak itu mengekorinya. Xue Zhan mundur dia mundur, Xue Zhan lari dia ikut berlari. Begitu seterusnya sampai Xue Zhan kelelahan, katak itu benar-benar mengikutinya seperti induk semang.
"Oi!" Xue Zhan menunjuk katak itu kesal. "Berhenti mengikutiku kalau tak mau menjadi katak bakar!"
Kepala katak itu miring kanan kiri seolah-olah dia sedang memahami apa yang disampaikan pemuda itu dengan begitu semangatnya, lalu terdengar suara khas katak setelahnya. Meskipun sudah memperingati katak itu terus mengikutinya dan bahkan mulai melompat ke bahu Xue Zhan.
"Aaaaa kataaakk! Guru!!!"
Xue Zhan berteriak heboh, memegang bahunya geli sambil jejeritan tak karuan. Dia benci serangga dan termasuk katak di dalamnya. Kalau hanya melihatnya dari kejauhan mungkin Xue Zhan masih bisa bersikap normal tapi sampai bertengger di dekat lehernya, anak itu bisa pingsan sambil berdiri.
"Menyingkir dariku!" seru Xue Zhan setelah berhasil membuat katak itu jatuh, dia terdiam sesaat ketika melihat katak itu terpelanting menghantam batu. Xue Zhan merasa bersalah dan segera mendekat sambil menahan rasa geli.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja ..."
"Eh, eh, mau pergi ke mana? Hei!"
Sekarang malah terbalik. Xue Zhan yang mengekori katak itu. Dia tak tahu mengapa tapi sepertinya katak itu sedang berusaha menunjukkan sesuatu kepadanya. Hewan kecil itu berkali-kali berhenti untuk melihatnya di belakang, sampai cukup jauh berjalan di tepian anak sungai Xue Zhan mulai mendapati suatu tempat yang terlihat menarik.
Katak itu berhenti di sebuah tumpukan tulang belulang manusia yang usianya mungkin telah mencapai 30-40 tahun.
Siapa sangka selain Xiang Yi Bai, orang lain juga pernah terjebak di tempat ini walaupun pada akhirnya mereka tak bisa bertahan hidup seperti Xiang Yi Bai. Dari belasan tulang belulang itu terdapat banyak persediaan makanan dan peralatan, kelihatan seperti mereka sudah mempersiapkan diri untuk bertahan hidup di tempat suram seperti Jurang Penyesalan.
Pertanyaan Xue Zhan, memang apa yang sedang mereka cari di tempat yang hanya menawarkan kematian seperti ini. Itu menimbulkan teka-teki di kepalanya. Xue Zhan berjongkok di depan tumpukan mayat dan katak kecil itu melompat di bahunya kembali. Xue Zhan gemetar sesaat, menahan rasa takutnya dan membiarkan katak itu bersamanya agar lebih aman dari incaran binatang buas.
Selagi itu tangannya mulai memilah-milah barang yang sebagian telah dimakan rayap atau hancur oleh perubahan cuaca hujan serta panas. Hanya besi, aksesoris dan tengkorak mereka yang masih bertahan. Xue Zhan melangkah lebih jauh ke perkemahan itu dan mendapati sisa-sisa kehidupan. Bekas api unggun yang telah hancur hanya menyisakan arang, pagar tombak yang melindungi mereka dari hewan buas serta terdapat sebuah terpal membentuk tenda di atas bebatuan yang agak tinggi.
Xue Zhan tak berharap dia akan mendapatkan makanan di sana. Tapi dia cukup penasaran dengan sekelompok manusia ini. Mereka terjebak di Jurang Penyesalan pasti bukan sebuah ketidaksengajaan. Benar saja, ketika dia masuk ke dalam tenda itu dia menemukan sebuah celah lumayan besar yang mengantarkannya ke dalam goa yang lumayan kering dan telah disiapkan untuk tempat tinggal 10 orang lebih.
Terlihat dari pilar, rak-rak buku, tungku batu dan masih banyak lagi. Bahkan puluhan karung-karung berisi gandum masih ada di sana dan sebagian telah koyak dirobek tikus pengerat. Membuat gandum itu jatuh berserakan di atas lantai berbatu. Xue Zhan mulai waspada, hawa di dalam goa tersebut terasa ganjil. Dia merasa tidak sendirian di sana
Derap kakinya perlahan-lahan menuju ke ruangan sebelah, tempat di mana terang bulan purnama bisa tembus ke Jurang Penyesalan. Cahaya itu menyoroti sebuah panggung batu tinggi di mana sebuah peti mati berada di atasnya. Di peti tersebut terdapat banyak kertas mantra dan segel berdarah. Xue Zhan tak merasakan hawa apa pun dari peti itu dan merasa dia masih aman jika hanya memeriksanya.
Xue Zhan naik ke atas panggung itu menemukan mayat seorang laki-laki sepuh terbaring di dalam peti mati dan masih utuh. Kulitnya masih bersih seperti semula dia menghembuskan napas terakhirnya. Hanya saja banyak abu dan jaring laba-laba di sekitar kotak kayu peti. Tidak ada tanda-tanda akan bergerak, Xue Zhan berniat mengecek suhu tubuh mayat itu untuk memastikan kapan dia mati.
Ketika tangannya hendak menyentuh pipi dingin sang mayat tiba-tiba saja tangan kurung kering yang pucat menangkapnya. Mayat itu bangun dalam posisi duduk, sepasang bola mata pucat menatapnya tajam. Dia membuka mulut, menghentakkan tubuh Xue Zhan ke dinding hanya lewat suaranya yang menggema keras.
Tampaknya Xue Zhan telah salah mencari masalah. Dia baru membaca sebuah tulisan di dinding goa.
"Manusia jejadian yang gagal, jangan dibuka." Xue Zhan mengeja sembari menelan ludah berat, baru tersadar dia baru saja membuka segel peti mati mayat itu.
Sekarang di depannya lelaki sepuh yang telah mati kembali hidup. Alasan mengapa manusia jejadian itu dikatakan gagal adalah karena dia sama sekali tidak bisa dikendalikan, justru menyerang buas dan masih memiliki kekuatan aslinya selama hidup di dunia.
Mau tak mau Xue Zhan harus bertarung. Dia menyadari di ruangan ini terdapat banyak pil penambah kekuatan dan obat-obatan yang seharusnya awet lama sehingga masih bisa dikonsumsi. Dia harus mengambil sumber daya itu tapi pertama-tama yang harus dilakukannya adalah bertarung dengan mayat hidup ini.